Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Di DP


__ADS_3

" Nah, udah selesai. " ucap Bryan sambil mencabut kabel hairdryer.


Pipit memegang rambutnya, berdiri dari duduknya, dan tersenyum manis ke suaminya, " Terima kasih banyak suami buleku. " ucapnya, lalu berjinjit dan mengecup pipi kanan Bryan sekilas.


Baru saja Pipit hendak berlalu menuju ke ranjang, tangan Bryan telah melingkar sempurna di pinggang Pipit, membuat tubuh Pipit terkunci.


Terkejut, tentu saja. Pipit membelalakkan matanya menatap Bryan , dengan kedua tangan di depan dadanya. Bryan tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


" Boleh nggak aku bertanya? " tanya Bryan.


" Apa? " tanya Pipit balik sambil mengerjabkan matanya beberapa kali dan membuat Bryan semakin gemas di buatnya. Bulu lentik nan panjang itu terlihat semakin menggoda.


" Sebelum berciuman denganku, sudah berapa laki-laki yang mengajakmu berciuman? " tanya Bryan dengan tatapan tajamnya.


Pipit terkejut dan membelalakkan matanya. " Baru satu kali. Dan itupun sama Abang bule. "


Bryan mengernyitkan dahinya seperti tidak percaya dengan jawaban Pipit .


" Benarkah? Yakin kamu? "


" Beneran bang...Abang nggak percaya? Sumpah, demi Allah, ciuman sama Abang waktu ada bibi di rumah Abang dulu itu, adalah ciuman pertama Pipit. Itu aja kalau Abang bukan suami Pipit, Pipit mana mau, meskipun cuma akting. " ujar Pipit meyakinkan Bryan.


" Tapi sepertinya kamu sudah mahir melakukannya. Kamu bahkan bisa mengimbangi aktivitasku. Kamu seperti seorang yang sudah berpengalaman. " ujar Bryan.


" Emang ciuman butuh pengalaman ya bang? Berarti Pipit dapat pengalamannya dari film-film Hollywood yang Pipit tonton. Sekali-sekali juga dari drama Korea, Thailand. Sekali-sekali juga dari hasil baca novel romantis online. "


" Yakin? " tanya Bryan meyakinkan kembali.


" Nggak percaya ya udah. " sahut Pipit sambil berusaha melepas pelukan Bryan, tapi Bryan tidak membiarkan Pipit lepas.


" Gitu aja kok ngambek. "

__ADS_1


" Siapa yang ngambek coba. Abang di kasih tahu nggak percaya. Bang, Abang yang jelas-jelas udah nggak orisinil aja Pipit nggak permasalahin loh ya. Lah ini cuma karena Pipit udah pinter kissing, Abang bawel. " gerutunya.


Bryan mencubit bibir Pipit yang sedikit manyun. " Iya..iya... sorry..Jadi pengen nyomot kalau bibirnya di monyongin gitu. " godanya.


Sungguh di luar dugaan, Pipit berjinjit, lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan, dan menarik kepala Bryan, kemudian ia menautkan bibirnya ke bibir Bryan. Melu*** bibir seksi milik sang suami sesaat.


Rasa kehilangan menyerang Bryan kala Pipit menyudahi aksinya. Ia seperti tidak rela melepas tautan itu meskipun ia cukup terkejut mendapati istrinya begitu berani.


" Jangan salahkan aku kalau aku terpancing dengan apa yang kamu lakukan, honey. " ujar Bryan. Lalu tanpa basa-basi, ia langsung melu*** rakus bibir Pipit. Bibir mereka saling bertaut, saling melu**". Bryan menarik tengkuk Pipit untuk memperdalam ciumannya.


Lidah mahir milik Bryan berusaha masuk ke dalam mulut Pipit, dan tanpa banyak bicara, Pipit membuka mulutnya sedikit. Membuat Bryan tersenyum tipis di sela-sela kegiatannya. Ia melesatkan lidahnya masuk ke dalam mulut Pipit. Lidah mereka saling berbel**. Ciuman mereka semakin memanas seiring naiknya suhu tubuh keduanya.


Bryan menggiring Pipit mundur ke belakang. Tap. Saat tubuh Pipit sampai di ranjang, Bryan mendorong tubuh Pipit hingga tubuh mereka terjatuh di atas ranjang dengan saling menind**. Masih belum menghentikan aktivitasnya, Bryan semakin memperdalam ciumannya.


Satu tangan Bryan ia gunakan untuk menopang tubuh sehingga tubuh kekarnya tidak menindih penuh tubuh mungil milik istrinya. Dan satu tangannya lagi, sudah tidak tinggal diam. Ia yang sudah beberapa bulan lamanya tidak naik gunung, saat ini ia seperti merasakan udara sejuk di pegunungan.


Tangan Bryan mulai menyusuri leher Pipit, lalu turun ke bawah, hingga sampai di dua gunung itu. Meskipun Pipit baru beranjak dewasa, dengan usianya yang belum mencapai 19 tahun, tapi Bryan yakin, ukuran gunung itu adalah 34b. Lumayan berisi untuk ukuran gadis Indonesia dengan usia segitu.


Bryan mere*** gunung itu perlahan. Memberikan sensasi yang belum pernah Pipit rasakan sebelumnya. " Uh...." tanpa sengaja Pipit meleng**.


" Apa kita akan melakukannya sekarang? " tanya Pipit setelah matanya dan mata Bryan saling bertatapan.


" Apa kamu mau melakukannya sekarang? Apa kamu menginginkannya, honey? " tanya Bryan sambil menelusuri wajah Pipit dengan jemarinya.


" Apa Abang menginginkannya? Jika iya, katakanlah, Setidaknya, biarkan Pipit mempersiapkan mental dulu. Baru kayak gini aja, Pipit udah pengen teriak. " ujar Pipit dengan polosnya.


" Ha...ha...ha..." Bryan terbahak mendengar ucapan polos sang istri. Lalu ia menggeleng. " Hari ini kita hanya akan pemanasan. Aku hanya memberikan DP dulu. Setelah kita resmi menikah secara hukum nanti, baru aku akan membayarnya lunas. " ucap Bryan dengan seringai godaan.


" Di kredit dulu nih. Ih, nggak asyik dong. Enak langsung cash. " sahut Pipit.


" Akan aku kasih cash sekaligus bunganya. Berapapun kamu minta. Nanti setelah kita benar-benar resmi. Bahkan seandainya kamu tidak meminta bunga, aku akan tetap memberikannya dengan cuma-cuma. " sahut Bryan sambil mengerlingkan matanya. Lalu ia bangkit dari atas tubuh Pipit. Dan hal itu berhasil membuat Pipit merasa di kacangin.

__ADS_1


Seringai senyuman jahil tiba-tiba muncul di otak Pipit. Ini anak, sepertinya ingin di terkam singa.


" Yakin nih bang, nggak mau di bayar cash sekarang? " tanya Pipit menggoda sambil bangkit dari rebahannya. Bryan hanya menoleh sekilas lalu kembali berjalan menuju mini bar.


Pipit berdiri lalu berjalan mengikuti Bryan. Saat Bryan berdiri menghadap kulkas untuk mengambil air minum yang dingin, Pipit tiba-tiba memeluknya dari belakang. Pipit melingkarkan kedua tangannya hingga kedua telapak tangannya berada di atas dada bidang Bryan. Menggambar abstrak di sana, dan hal ini berhasil membuat Bryan menahan nafasnya.


" Honey, jangan begini. " protes Bryan sambil menjauhkan tangan Pipit dari dadanya.


" Beneran cuma mau DP bang? " tanya Pipit kembali dengan suara menggoda.


" Honey...." ucap Bryan.


Tapi sepertinya Pipit benar-benar ingin melakukan apa yang ada di dalam otaknya. Ia tidak mengindahkan protesan Bryan sama sekali.


" Tapi sepertinya si Merryll tidak hanya menginginkan DP. " ujar Pipit lagi.


" No, honey. Merryll itu namaku. "


" He em. Kalau Bryan itu ini. " sahut Pipit sambil mengelus pipi Bryan dari samping. " Tapi kalau Merryll itu, ini. " lanjutnya sambil menaruh tangannya di atas tongkat komando milik Bryan. " Kalau Bryan masih bisa berdusta. Tapi kalau Merryll, dia akan selalu jujur. " lanjut Pipit lagi sambil mengelus tongkat komando yang telah berdiri tegak. Pipit bisa merasakannya karena saat itu, Bryan sedang memakai celana bahan.


Bryan memejamkan matanya, merasakan si Merryll semakin berdiri dengan kokoh saat pipit menyentuhnya. ' Sh**! ' umpat Bryan dalam hati sambil memegang botol minuman yang ia ambil dengan kencang.


Sesaat kemudian, Bryan membuka matanya, tidak ingin terlalu terlena oleh godaan sang istri. Ia sudah berniat akan melakukannya ketika sudah benar-benar resmi. Dan ia pastikan, akan melakukannya.


Bryan mencengkeram tangan nakal istrinya, lalu menjauhkannya dari tubuhnya. Lalu tanpa berkata apa-apa, Bryan meninggalkan Pipit sendiri dan masuk ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintunya. Entah apa yang ia lakukan di dalam kamar mandi, yang pasti, saat ia keluar, istri kecilnya yang nakal itu sudah berada di balik selimut dan telah masuk ke alam mimpi.


Bryan menghampirinya. Ia ikut masuk ke dalam selimut, lalu mengecup kening Pipit lembut.


" Good night, my little wife. Semoga mimpi indah, istriku yang nakal. " ucapnya sambil tersenyum tipis. Lalu ia ikut masuk ke alam mimpi bersama sang istri.


***

__ADS_1


bersambung


Maaf ya kakak-kakak semua yang keceh badai.....hari ini, othor cuma bisa update satu episode... othor lagi ngurus anak-anak, baru habis di vaksin ini tadi....jadi harus di kasih perhatian ekstra... Sekali lagi, maaf ya...🙏🙏🙏


__ADS_2