Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Gesrek


__ADS_3

" Roy, menurut kamu, Naomi gimana orangnya? " tanya Pipit.


" Gesrek. Kayak otaknya. " jawab Roy sekenanya.


" Ck. Serius ini Roy....." cicit Pipit.


" Terus maksud kamu apa, tanya kayak gitu? " tanya Roy setelah ia menenggak juice nya.


" Ya menurutmu, menurut pendapatmu, Naomi itu orangnya gimana? "


" Ya kayak gitu. Kan malah kamu yang sahabatan lama sama dia. "


" Baik nggak? "


" Baik. "


" Supel nggak? "


" Supel. "


" Enak di ajak curhat nggak? "


" Enak. "


" Manis nggak? "


" Manis. "


" Bohay nggak? "


" Bohay. "


Tawa Pipit tertahan.


" Mantep nggak? "


" Mantep. "


" Cantik nggak? "


" Cantik. "


Pipit semakin susah menahan tawanya.


" Mau jadiin dia pacar nggak? "


" Mau. " Roy masih dengan santainya menjawab semua pertanyaan Pipit yang bagai super trap itu.


" Yes. " sahut Pipit berlonjak. " Jadian ya? "


" Maksudnya? " tanya Roy dengan wajah cengonya.


" Kan tadi aku tanya, cantik nggak si Naomi? Kamu bilang cantik, manis, bohay. Terus aku tanya, mau jadiin dia pacar nggak? Kamu bilang mau. " jelas Pipit sambil menahan tawanya.


Hah. Roy menghela nafasnya kasar. Ia terjebak mulut lemes mantannya itu.


" Nggak semudah itu juga kali Fit. " ucap Roy.


" Kok nggak mudah? Semua yang bisa di bikin simpel itu, jangan di bikin rumit. Bikin pusing. " sahut Pipit.


" Ini masalah hati. Masalah perasaan. Yang nggak bisa kita anggap enteng. "


" Naomi itu orangnya saaaaaaaangatttt baik. Saking baiknya, aku terkadang sampai heran. Dia menganggapku seperti saudaranya. Bukan hanya sahabatnya. Yah, meskipun dia memang anak tunggal. " Jelas Pipit. " Tapi....aku sudah mengenal banyak orang yang namanya teman. Baru dia...baru si Naomi inilah yang membuat aku benar-benar tahu dan merasakan yang namanya sahabat. " lanjutnya sambil menerawang.

__ADS_1


" Kamu juga sahabat aku. Jadi aku ingin dia sahabatku yang sama-sama jomblo ini bersama. Biar nggak jomblo lagi. " ujar Pipit dengan wajah memelasnya.


" Tapi kamu tahu sendiri hatiku bagaimana... Kepada siapa hatiku bertaut. " ujar Roy sambil menatap manik mata Pipit dalam-dalam.


Membuat Pipit menjadi tidak enak hati. " Roy...Maaf..." ujar Pipit lalu ia menunduk sesaat.


" Semua sudah berlalu. Semua sudah berubah. Sudah tidak mungkin bagi kita untuk bersama. Aku sekarang adalah istri seseorang. Bahkan sebentar lagi, aku akan menjadi seorang ibu. " lanjutnya.


" Ya...siapa tahu..kamu berpisah dengan suami bulemu itu. Aku akan dengan senang hati menerimamu meskipun kamu menyandang status janda. Bahkan aku rela menjadi ayah dari anak kamu. " jawab Roy dengan santainya.


Pug


Pipit memukul wajah Roy dengan bantalan sofa.


" Kamu doa'in aku jadi janda? " seru Pipit sambil menatapnya tajam. Tidak ada aura candaan lagi dari sorot mata Pipit. Membuat Roy menggosok tengkuknya. Ia telah salah berbicara. Ia telah membangunkan singa betina yang sedang tidur nyenyak.


" Sorry...Becanda doang kali. " sahut Roy mencoba menyelamatkan diri.


" Becanda sih becanda...tapi ngga usah doa'in aku jadi janda juga dong...Lagian meskipun kalau sampai itu terjadi, aku nggak bakalan ngijinin orang lain jadi bapaknya si dedek. Bapaknya cuma Abang bule aja. " lanjutnya dengan nada yang tegas.


" Iya...Iya...Jangan emosi gitu...Entar dedeknya besok juga jadi gampang emosian. " sahut Roy santai.


" Habisnya kamu sih yang bikin darahku meningkat. " decak Pipit.


" Jadi gimana sekarang? " tanyanya.


" Apanya yang gimana? " tanya Roy.


" Naomi gimana? "


" Ya nggak gimana-gimana. "


" Ck. " Pipit berdecak. " Roy.. beneran loh ..Naomi itu baik anaknya. Nggak neko-neko. Dia itu anak orang terpandang. Anak seorang dewan, meskipun dewan daerah. Tapi dia nggak suka aneh-aneh meskipun orang tuanya kaya. Dia gadis yang sederhana, apa adanya. Lagian, kalau di lihat dari materi, orang tua kamu pasti merestui kalian. Kalian sama-sama anak orang terpandang dan kaya. Aku tuh, daripada kamu sama cewek lain, lebih ridho kalau kamu sama dia. " ujar Pipit panjang lebar memberikan nasehatnya seperti emak-emak.


" Jangan cuman hah, hoh, hah, hoh dong. Di jawab atuh a' kalau neng ngomong teh. " ujar Pipit.


" Terus aku harus jawab apa? " tanya Roy datar.


" Ya jawab atuh, kamu teh mau nggak sama si Naomi? " tanya Pipit.


" Fit, perasaan seseorang itu nggak bisa di paksain. Kalau nggak cinta, mau gimana? "


" Ya .. belajar mencintai atuh. Pipit teh yakin, nggak bakalan susah buat mencintai seorang seperti Naomi. "


" Tapi sayangnya, aku tidak ingin belajar mencintai. Sakit tahu, mencintai sebelah pihak. Nyesek...Capek..."


" Kok gitu? "


" Ya kan aku udah ngerasain gimana capeknya mencintai kamu yang ternyata tidak mencintaiku. Dan aku tidak mau itu terulang lagi. " jawab Roy tegas.


Jawaban yang membuat Pipit merasa bersalah. " Ya maaf atuh Roy..Kamu teh datang di waktu yang kurang tepat. Waktu masih SMA kan Pipit udah pernah bilang sama kamu...Pipit teh belum mikirin serius pacaran. Kalau cuma sekedar jalan mah hayuk. " ucapnya mengenang masa itu.


" Iya, aku tahu. Akunya aja yang nggak tahu diri. Aku pikir, dengan berjalannya waktu, kamu bisa serius sama aku. " sahut Roy.


" Tapi aku yakin, itu tidak akan terjadi sama Naomi. Kalian sudah sama-sama dewasa. Naomi juga pernah bilang ke aku, kalau dia nggak mau main-main sama laki-laki. Dia nggak mau lama-lama juga berpacaran. Dia pengennya satu untuk selamanya. Jadi asalkan kamu bisa membuatnya jatuh cinta sama kamu, kalian pasti bahagia berdua. "


Roy mendengarkan setiap perkataan Pipit sambil sesekali melirik ke arah kolam renang yang terlihat dari ruang tengah.


" Entahlah. Lihat aja entar. Biarkan takdir saja yang menentukan. " ucap Roy sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


" Bicaramu....sok puitis !!!" ledek Pipit. " Kalau nggak ada usaha, gimana takdir bisa menentukan? Usaha dong Roy .. Deketin dia...Jangan ajakin berantem mulu. Aku bantuin deh.."


" Nggak usah macam-macam kamu. " ancam Roy.

__ADS_1


" Siapa yang macam-macam. Aku mah kalau macam-macam cuma sama Abang buleku doang. " songong Pipit, membuat Roy teringat kejadian di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.


Dan selanjutnya terus berlanjut lah percakapan mereka. Setelah selesai berenang, Naomi juga ikut ngobrol bersama mereka. Mereka terus ngobrol ngalor dan ngidul. tapi hanya Naomi dan pipit yang mendominasi percakapan itu. Tidak dengan Roy dia lebih banyak diam sambil sesekali melirik ke arah samping, yaitu ke arah Naomi yang berada di sebelahnya.


Setelah percakapannya dengan Pipit beberapa waktu yang lalu entah kenapa Roy menjadi sedikit canggung saat berada di dekat Naomi. rasanya mata Roy selalu ingin melihat ke arah samping.


Percakapan terus berlanjut. Mereka bercerita, bercanda, bahkan obrolan absurb dan unfaedah juga ada. Sampai saat makan siangpun, Pipit mengajak mereka makan siang di rumahnya. Ia sama sekali tidak membiarkan Roy dan Naomi pergi dari rumahnya sampai sebuah suara menyela obrolan mereka.


" Assalamualaikum..." suara bariton seseorang menggema dari ruang depan.


" Waalaikum salam..." jawab Pipit. Dan senyum manis Pipit langsung terpampang setelah ia melihat siapa yang datang.


" Abaaang...." seru Pipit sambil hendak berdiri dari duduknya.


" Nggak usah berdiri, honey. I Will come to you. " larang Bryan.


Bryan segera berjalan menghampiri Pipit. Pipit langsung merentangkan kedua tangannya, " Peluk..." pintanya manja.


Bryan dengan senang hati merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Ia bahkan mengecupi puncak kepala Pipit.


" Hah. Ngontrak kita coy...." seru Naomi. " Nyok Roy...Kita cabut. Daripada kita kayak orang ngontrak di sini. " lanjutnya sambil menarik tangan Roy dan di bawa keluar dari rumah Pipit.


" Heh, TAMU nggak punya sopan!!" pekik Pipit. " Pamitan dulu kek. " lanjutnya sambil berteriak.


" Assalamualaikum. " suara Roy dan Naomi terdengar bersamaan dari ruang tamu. "


" ROY....Jangan lupa omonganku tadi ya..." teriak Pipit. " Titip sohib aku...Pulangin dengan selamat. " lanjutnya.


" Honey, jangan teriak-teriak. Kasihan baby. Nanti dia kaget. " ucap Bryan sambil mengelus perut buncit istrinya.


" He...he...he..." Pipit tersenyum manis. Lalu mengecup sekilas rahang tegas suaminya.


" Apa yang kamu omongkan ke laki-laki setengah matang itu? "


" Ck. Roy Abang namanya....Bukan laki-laki setengah matang. "


" Iya. Itulah pokoknya. Dia tidak macam-macam kan di sini? "


" Nggak. Dia cuma duduk aja di sini. Terus beralih bentar ke meja makan buat makan siang. Terus kembali duduk di sini lagi. "


" Hm. Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu ngomong apa ke dia? "


" Pipit teh ngomong ke dia, biar dia mau membuka hatinya buat Naomi. "


Bryan mengerutkan keningnya. " Emang Naomi naksir sama dia? "


" Nggak. "


" Nah, kok...Kamu suruh dia membuka hati sama Naomi? "


" Ya kan kalau dia mau membuka hatinya sama Naomi, terus bisa bikin Naomi juga jatuh cinta ke dia, bagus kan? "


" Kamu mau comblangin mereka? "


Pipit mengangguk mantap.


" Jangan mencampuri kehidupan pribadi mereka. Dan jangan memaksakan sesuatu yang tidak seharusnya. "


" Ya kan siapa tahu mereka berjodoh bang. Kan bagus tuh. "


" Hm. "


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2