Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Cinta pertama??


__ADS_3

" Bryan, dan kamu Fitria, kemarilah. " panggil sang paman dengan suara berat.


Pipit menoleh ke arah Bryan, dan Bryan mengangguk, lalu menyuruh Pipit duduk di kursi yang ada di dekat ranjang. Sedangkan dia, duduk di tepi ranjang dekat sang paman.


" Paman sebaiknya istirahat saja. " ujar Bryan karena ia melihat pamannya begitu lemah.


Sang paman menggeleng lemah. " Aku harus bicara dengan kalian sekarang. Aku takut, tidak mempunyai waktu banyak. Bryan..." panggil sang paman sambil memegang tangan Bryan.


" Maafkan paman ya nak. Paman berdosa kepada kedua orang tuamu. Bukannya mengurusmu dengan baik, tapi paman malah menyengsarakan hidupmu." sang paman menjeda omongannya untuk bernafas. " Maafkan juga bibimu. Paman sebenarnya tahu semua yang bibimu pernah lakukan kepadamu. Tapi selama ini, paman malah sengaja berpura-pura tidak tahu. " setitik air mata mengalir dari sudut mata sang paman.


" Sudahlah paman. Tidak usah di bahas. Toh sekarang Bryan sudah bahagia bersama istri Bryan. " sahut Bryan sambil mengambil tangan Pipit dan menggenggamnya. " Bryan juga akan segera melupakan kenangan pahit yang pernah bibi torehkan dalam hidup Bryan. " lanjutnya.


" Paman tidak perlu khawatir. Fitria akan selalu berada di samping Abang untuk menghapus kenangan buruk itu. " tambah Pipit.


" Fitria, paman menitipkan keponakan paman satu-satunya kepadamu. Terus dampingi dia dalam keadaan apapun. Berbahagialah kalian. " ujar sang paman.


" Iya paman. Kami pasti akan berbahagia. " jawab Pipit dengan seulas senyum.


Lalu paman mengambil sesuatu dari bawah bantalnya. " Bryan, ini surat-surat penting perusahaan. Paman tahu, perusahaan itu sudah berada dalam ujung tanduk karena paman yang tidak becus menanganinya. Tapi tolong, usahakan jangan sampai perusahaan itu gulung tikar. Perusahaan itu adalah peninggalan ayah kamu. Perusahaan itu juga masih menanggung nasib hidup orang banyak. Sekarang, paman kembalikan semuanya ke kamu. Surat-surat kepemilikan juga sudah paman ubah dengan namamu. "


" Tapi paman....Bryan tidak tahu menahu soal bisnis. Bryan hanya tahu bagaimana caranya memegang pisau bedah. " sahut Bryan.


" Kamu pasti bisa Bryan. Di sana masih ada beberapa orang kepercayaan ayah kamu. Kamu bisa minta tolong kepada mereka. " jawab sang paman. " Paman mohon, bawa surat-surat ini. Simpan, jangan sampai bibimu tahu. Di sini juga ada surat kepemilikan rumah ini. Setelah paman meninggal, kamu boleh mengambil kembali rumah ini. Paman sudah membelikan bibimu sebuah rumah untuk ia tinggali meskipun tidak terlalu besar. " lanjut sang paman sambil menyerahkan sebuah map.


Bryan menatap Pipit meminta persetujuan. Pipit menggenggam tangan Bryan, lalu berbicara dalam bahasa Indonesia, " Itu kan milik orang tua Abang. Jadi itu adalah hak Abang. Dan hak Abang juga mau menerimanya kembali atau tidak. Kalau menurut Pipit, daripada perusahaan itu jatuh ke tangan yang salah, mending Abang terima saja. Baru nanti Abang pikirkan bagaimana caranya menghidupkan kembali perusahaan itu supaya kembali jaya seperti saat ayah Abang masih hidup. Abang bisa minta pendapat sama papa Adiguna, sama bang Seno juga yang sudah ahli dalam mengurus perusahaan."


Bryan memandang map yang masih berada di tangan pamannya, lalu kembali memandang Pipit, dan akhirnya dia mengangguk.


" Baiklah paman, Bryan akan menerimanya. Akan Bryan bawa dan coba Bryan pelajari. " ucap Bryan, lalu ia menerima map itu, lalu memasukkannya ke dalam celana bagian belakang dan menutupnya dengan kemeja yang ia kenakan.


Setelah melanjutkan bercakap-cakap dengan sang paman selama beberapa saat, Bryan dan Pipit undur diri. Mereka segera keluar dari dalam kamar.


" Sudah selesai ngobrolnya? " tanya sang bibi.


" Sudah bibi. " jawab pipit dengan menampilkan senyum terbaiknya.


" Oh. " sahut sang bibi dengan senyum palsunya. " Kalian, makan sianglah di sini dulu. Bibi sudah masak banyak. "

__ADS_1


" Tidak usah bi. Kami bisa makan siang di luar. " jawab Bryan.


" Oh ayolah, sayang. Jangan terburu-buru. Apa kamu tidak merindukan rumah ini? Rumah tempatmu tumbuh. Apa kamu juga tidak merindukan kamarmu? Bibi selalu membersihkannya setiap hari. " ucap sang bibi.


" Baiklah, bibi. Kami akan makan siang dulu di sini baru kami akan kembali ke hotel. " sahut Pipit yang segera mendapatkan tatapan horor dari Bryan.


" Tenang saja, suamiku. Kita akan memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Kalau kemarin kita hanya sandiwara, kita akan menunjukkan yang sebenarnya di sini." bisik Pipit.


" kalian menginap di hotel? Oh, sayang...Kenapa kamu tidak menginap di sini? Ini rumahmu juga. "


" Terima kasih, bibi. Kami lebih suka menginap di hotel. Kami khawatir kalau menginap di sini, akan banyak cicak yang selalu ingin tahu aktivitas kami di dalam kamar. " sahut Pipit yang berhasil membuat wajah sang bibi memerah menahan emosi.


' Tunggu saja kejutanku anak kecil. ' batin sang bibi sambil tersenyum smirk.


" Bonjour..." sapa seorang perempuan dengan penampilan super seksi yang baru masuk ke dalam rumah.


" Bonjour, Kylie. " sapa balik sang bibi.


Mendengar nama Kylie, Bryan langsung menoleh. Betapa terkejutnya jika nama yang ia dengar, benar-benar orang yang sama seperti yang ada dalam pikirannya. Melihat perempuan itu, Bryan mengepalkan kedua tangannya erat dan mengeratkan giginya.


" Kylie sayang...Lihat siapa yang ada di sini? " ucap sang bibi ke Kylie.


Kylie pura-pura terkejut saat ia menoleh ke samping. " Hah...Bryan???" Ia langsung menghambur ke Bryan dan hendak memeluknya, tapi Bryan langsung menghindar.


" Jangan pernah dekat-dekat denganku. " ucap Bryan tegas dan tajam.


" Oh, ayolah sayang...Apa kau tidak rindu denganku? " ujar Kylie dengan genit.


" Oh, Fitria, kamu pasti bertanya-tanya kan, siapa dia? " ujar sang bibi sambil menunjuk Kylie. " Namanya Kylie, cinta pertamanya keponakan tersayangku. Bahkan dia adalah perempuan pertama yang menikmati kejantanan Bryan. " ucap sang bibi sengaja memanas-manasi Pipit.


Pipit langsung menghadiahi tatapan tajam ke Bryan penuh tuntutan untuk di jawab. Tapi sepertinya ia tidak mungkin meminta penjelasan dari suaminya saat ini. Karena ini pasti salah satu tujuan sang bibi, yaitu memanas-manasi dirinya. Ia tidak boleh terpancing. Ia harus bisa bermain manis tanpa celah.


" Ooo, cinta pertama suami saya? Sayangnya bukan cinta terakhirnya. " sahut Pipit. Lalu ia memandang Bryan dengan pandangan selembut mungkin, " Terima kasih sayang, sudah menjadikanku cinta terakhirmu. Dan bukan cinta pertamamu. Karena cinta pertama bisa terlupakan saat kita menemukan cinta yang lain. " ucapnya. Lalu ia menggelayut manja di lengan Bryan sambil tersenyum manis.


Bryan sedikit lega saat Pipit merubah sikapnya. Saat tadi ia melihat tatapan tajam dari istrinya itu, ia menduga kalau istrinya itu akan marah besar. Tidak tahunya, Pipit bisa bersikap begitu dewasa.


" Setelah ini, aku akan menjelaskan semuanya. " bisik Bryan di atas kepala Pipit lalu mengecup puncak kepala Pipit. Dan Pipit menanggapinya dengan mengangguk. Pipit sadar siapa dan bagaimana masa lalu sang suami. Jadi hal seperti ini pasti akan sering ia hadapi. Ia harus benar-benar mempersiapkan mental. Ia akan hanya mempercayai jika suaminya itu telah berubah.

__ADS_1


Kylie melihat kemesraan Pipit dan Bryan sangat geram. Ia dan bibi Bryan semula telah berencana akan membuat pasangan itu berantem, malah mereka semakin mesra.


Kylie tersenyum, " Siapa dia bi? "


" Dia bilang kalau dia adalah istri Bryan, sayang. " jawab sang bibi.


" Istri? Ooohhh..." sahut Kylie dengan senyuman penuh ehekan. " Tapi sayang sekali, kamu adalah penikmat terakhir Bryan. Sedangkan aku, aku adalah yang pertama kali merasakan kejantanannya. " ucapnya sinis sambil tersenyum mengejek ke Pipit


Pipit menjauhkan tubuhnya dari Bryan lalu mendekati Kylie, " Sayangnya, bagi perempuan, mendapatkan kejantanan laki-laki untuk yang pertama kalinya ataupun kesekian kalinya, adalah sama saja rasanya. Bahkan menurutku, lebih asyik dan lebih nikmat jika pasangan kita sudah berpengalaman. Kita bisa melakukannya dengan berbagai macam gaya. "


Pipit berjalan kembali mendekati Bryan, lalu menatap lekat mata biru lelaki itu. Di sana Pipit bisa melihat, betapa besar cinta yang suaminya itu berikan untuknya. Pipit tersenyum, ia yakin sekarang, siapapun perempuan dari masa lalu Bryan yang datang, tidak akan bisa merubah pancaran cinta itu. Pandangan cinta itu hanya untuknya.


" Tapi...Bagi seorang laki-laki, mendapatkan perempuan yang masih tersegel, adalah suatu kepuasan dan kebanggaan. " ucap Pipit dengan masih memandang netra biru milik Bryan. " Dan suamiku, hanya mendapatkannya dariku. Bukan begitu, sayang? " lanjutnya sambil mengelus rahang Bryan.


Kylie benar-benar tidak bisa menjawab perkataan Pipit kali ini. Ia kalah telak. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia masih perawan saat itu. Karena sudah pasti Bryan akan menertawakannya.


Bryan tersenyum hangat sambil tetap menatap mata istrinya penuh cinta. Lalu membawa Pipit masuk ke dalam pelukannya. Pipit menyandarkan kepalanya di dada bidang Bryan dengan sangat nyaman.


" Aku mencintaimu sayang. Sangat. " ucap Bryan saat ia melepas pelukannya.


" Aku juga sangat mencintaimu, sayang. " sahut Pipit, lalu mereka kembali saling berpandangan. Pipit mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan. Bryan semakin mendekatkan wajahnya ke Pipit, dan akhirnya mereka saling berciuman. Saling menc***, saling melu***, saling menyes**, dan membelitkan lidah mereka. Melupakan dua orang yang sedang menyaksikan pemandangan yang membuat dua orang itu panas dingin.


Kedua orang itu menatap pemandangan yang ada di hadapan mereka dengan hati bergemuruh. Antara kesal dan marah. Sedangkan dua orang yang sedang bermesraan seolah merasa dunia hanya milik mereka berdua.


" Bibi, sepertinya kami tidak jadi makan siang di sini. Kami akan langsung ke hotel. Bukankah begitu, sayang? " ucap Pipit sambil masih terengah setelah kegiatan mereka tadi.


" Iya sayang. Aku lebih ingin memakanmu daripada makan siang di sini. " sahut Bryan.


" Suamiku paling tahu yang aku mau. " ujar Pipit sambil tersenyum menatap Bryan.


" Baiklah, sebaiknya kita segera kembali ke hotel. " ucap Bryan.


" Kami permisi dulu bibi, nona Kylie. Maaf, suamiku sepertinya sudah tidak sabar. " pamit Pipit sambil mengerlingkan matanya.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2