
Hari kian berganti. Pipit sekarang sudah bisa pergi ke kampus dengan mengendarai mobil yang di belikan oleh suami bulenya sendiri karena ia sudah mendapatkan SIM. Tapi meskipun begitu, jika Bryan sedang tidak sibuk, ia akan tetap mengantar dan menjemput istri kecilnya itu.
Hubungan Bryan dan Pipit sekarang sudah agak dekat. Sudah tidak sedingin dulu, khususnya si Pipit. Ia merasa mulai nyaman bersama dengan pria bulenya meskipun ia masih sering mengatai pria bule itu seperti om-om. Hatinya juga sudah mulai terbuka sedikit untuk nama Bryan.
Bagaimana dengan Damar? Tidak semudah itu melupakan yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Sedangkan si Pipit merasa Damar adalah tetap laki-laki yang baik dan pas untuknya. Ia belum tahu jika si Damar sudah menikah dan ia juga sudah membawa istrinya yang sedang hamil itu ke kontrakannya. Akan tetapi, hubungan Pipit dan Damar juga tidak sedekat dulu. Pipit seperti tidak ada waktu untuk hanya sekedar mengirim pesan kepadanya. Dan hal itu sebenarnya sangat mengganggu pikiran Damar.
Harusnya kemarin, weekend minggu ini, Pipit bersama bryan, juga Armell dan Seno pergi menjenguk ibu ke kampung halaman. Tapi karena suatu hal, rencana itu harus di undur.
Flash back on
" Honey, i m so sorry. Kita harus undur rencana kita untuk pulang kampung. Paman dan bibiku akan datang kesini besok. Dan abang tidak bisa menolak kedatangan mereka. " ujar Bryan ke Pipit dengan hati-hati. Ia khawatir cintanya itu akan kecewa dan bersedih.
" Santai aja kali bang. Kita bisa berangkat minggu depan. Yang penting, abang terima aja paman dan bibi Abang dulu dengan baik. Toh abang juga pasti sudah lama tidak bertemu mereka kan? " jawab Pipit.
Bryan mengangguk, tapi bukan anggukan bahagia, melainkan seperti ada beban dalam anggukan itu. Sebenarnya Pipit juga menyadari hal itu, tapi karena Bryan sepertinya enggan untuk bercerita, ia tidak menanyakannya.
Flash back off
" Bang, emang paman dan bibi mana sih yang datang ke rumah bang bule hari ini? " tanya Pipit ke Seno saat mereka sedang sarapan bersama.
" Paman dan bibinya yang dari Perancis sana. " jawab Seno setelah meneguk air putih yang tersedia di dalam gelas.
" Dari Perancis? " tanya Pipit sambil mengerutkan dahinya. " Apa itu adalah paman yang mengambil pabrik serta rumah milik orang tua bang bule? "
Kini Seno yang mengernyitkan dahinya, " Kamu tahu? Apa Bryan menceritakan masa lalunya kepadamu? "
Pipit mengangguk sambil meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang sudah kosong.
" Sekarang kamu lihat kan, Bryan serius dalam menjalani pernikahan denganmu. Kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu untuknya? Paling tidak, anggaplah kalau dia itu memang suamimu. " tutur Seno. Armell yang berada di sebelah Seno, hanya menjadi pendengar setia saja.
" Bryan memang pernah salah melangkah. Tapi jika kamu sudah tahu masa lalunya, maka kamu sudah tahu alasan kenapa dia bisa salah langkah seperti itu. Dan sekarang setelah menikahimu, dia sudah berubah. Dia meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Bahkan masa lalunya yang menyakitkan untuk di ungkit, ia sanggup menceritakannya kepadamu. Hanya kamu dan abang yang tahu semuanya. " lanjutnya
Pipit hanya menunduk, tapi ia juga berpikir. Apakah selama ini ia keterlaluan? Pipit menghela nafasnya dalam-dalam.
" Baby, mana si kecil. Aku harus segera berangkat karena klien mengajukan jadwal meeting kami. " ucap Seno menyudahi pembicaraannya dengan adik iparnya.
Armell mengangguk, lalu berdiri untuk mengambil baby Dan yang masih di bawa oleh Siti. Melihat Armell berdiri dari duduknya, seseorang yang berada di balik pintu segera meninggalkan ruangan itu sambil mengepalkan tangannya erat.
Di luar rumah, Damar nampak kesal dengan wajah yang memerah menahan amarahnya. Tangannya masih mengepal erat. Gadis yang ia cintai selama ini ternyata telah membohonginya. Ia merasa di tipu. Ternyata gadis itu telah menikah diam-diam dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Hari berganti siang. Karena hari itu adalah weekend, Pipit libur kuliah. Setengah hari ini ia hanya menyendiri di dalam kamar. Ia sedang berpikir tentang apa yang di katakan kakak iparnya tadi siang.
Tok...tok ..tok...
" Pit....boleh mbak masuk? " suara Armell terdengar dari luar pintu.
" Masuk aja mbak. Nggak di kunci kok. " sahut Pipit dari dalam kamar.
Ceklek
Pintu di buka dari luar, dan masuklah Armell ke dalam kamar.
" Tumben libur-libur gini kok bersemedi di dalam kamar terus? " tanya Armell.
" Pipit lagi bingung nih mbak. "
" Bingung kenapa, Hem? "
" Pipit kepikiran sama ucapan bang Seno tadi pagi. Pipit kebangetan ya mbak? Pipit nggak tahu soalnya. Yang Pipit tahu, Pipit sukanya sama bang Damar. "
Armell menghela nafasnya berat mendengar ucapan Pipit yang terakhir. Tidak seperti biasanya, Armell agak tidak berkenan. Karena ia sudah tahu kalau ternyata Damar sudah di nikahkan dengan gadis dari kampungnya, dan bahkan sekarang istrinya itu tengah hamil muda. Seno sudah menceritakan semuanya ke Armell.
Pipit mengendikkan bahunya. " Pipit juga nggak tahu mbak. Menurut mbak gimana? " Pipit menoleh ke arah Armell duduk.
" Kalau menurut mbak, sama seperti yang di bilang mas Seno. Bagaimanapun juga, dokter Bryan itu sudah menjadi suami kamu. Meskipun baru secara agama. Sudah selayaknya kamu menghormatinya dan menganggapnya sebagai suami. Apalagi, mbak lihat juga dokter Bryan baik sama kamu. Tapi semua kembali sama kamu. Gimana perasaan kamu sama dia selama ini? Apakah sama sekali kamu tidak merasa lain jika bersamanya? "
" Jujur sih mbak...." Pipit menunduk sebentar. " Akhir-akhir ini Pipit merasakan hal yang lain saat bersama bang bule. Jantung Pipit deg-degan. Tapi Pipit masih takut, jika ternyata bang bule masih sama kayak dulu. Dan, gimana sama bang Damar? "
" Sepertinya pak dokter memang sudah berubah. Pikirkan semuanya kembali dengan lapang hati. "
Pipit mengangguk, lalu tiba-tiba dia teringat ucapan kakak iparnya tadi pagi. Paman dan bibi Bryan yang datang adalah orang yang sama yang telah mengambil rumahnya. Berarti kan, bibi itu adalah....
Oh, tidak. Kenapa Pipit beru menyadarinya. Pantas saja wajah Bryan berbeda kemarin saat bertemu dengannya. Ada kecemasan dan ketakutan di sana. Pipit segera meraih ponselnya, lalu ia mendial nomer Bryan.
" Abang dimana? " tanya Pipit to the point saat panggilannya terhubung.
" Ada di apartemen. " jawab Bryan.
" Apa paman sama bibi Abang sudah datang? "
__ADS_1
" Iya. Barusan. " suara Bryan terdengar berubah saat mengatakan hal itu.
" Ya udah kalau gitu. " ucap Pipit lalu mematikan teleponnya.
Setelah menelepon, Pipit segera bangkit berjalan ke almari dan mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas.
" Mau kemana kamu? Kok bawa baju segala? " tanya Armell.
" Pipit mau nemenin bang bule mbak. Kasihan dia pasti merasa tidak nyaman bertemu dengan bibinya. "
" Kamu yakin? "
Pipit mengangguk, lalu mengulurkan tangannya untuk berpamitan dengan kakaknya. Pipit mencium punggung tangannya.
" Pipit pergi dulu kak. " pamit Pipit.
Pipit segera keluar dari kamar dan keluar dari rumah menuju tempat parkir. Melihat Pipit keluar dari rumah dan hendak pergi dengan membawa tas.
" Pipit...." panggil Damar.
Pipit menoleh saat ia hendak membuka pintu mobilnya. " Bang Damar. "
" Mau kemana? " tanya Damar dengan nada datar.
" Mmm...itu bang .." Pipit terlihat bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau akan ke rumah Bryan.
" Aku mau bicara sama kamu. " potong Damar.
" Mmm, bang ..Maaf sebelumnya. Bisa nggak kalau bicaranya nanti? Diundur dulu. Pipit harus segera pergi soalnya. " sahut Pipit, lalu ia membuka pintu mobil sebelah kemudi, menaruh tasnya disana, lalu menutupnya kembali.
Damar menghela nafas dengan berat. " Kamu berubah. " ucapnya saat Pipit berjalan mengitari mobil untuk ke kemudi. Entah mendengar atau tidak ucapan Damar, Pipit tidak begitu peduli. Ia segera masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin mobilnya, dan segera menjalankannya.
Damar menatap kepergian sang gadis dengan tatapan penuh luka dan kekecewaan.
Dari dalam mobil, Pipit melihat Damar dari kaca spion, " Maafkan Pipit, bang. " ucapnya.
***
bersambung
__ADS_1