
" Kamar kalian sudah ibu siapkan. Kemarin ibu tiba-tiba ingin saja membersihkan dan mengganti sprai kamar kalian. Ternyata feeling ibu tepat ya. Karena penghuninya mau dateng. " ujar sang ibu.
Pipit dan Armell mengangguk.
" Mas, ayo ke kamar dulu. Ambil baju terus mandi. Keburu kemaleman nanti makin dingin. " ajak Armell.
" Danique udah mandi juga? " tanya Seno.
" Belum. Nanti Danique di lap aja tubuhnya. Udah malem, kasihan kalau di mandiin. " jawab Armell.
" Ya udah, aku ambil kopernya dulu. Tadi belum kita turunin soalnya. " ujar Seno sambil berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.
" Kamu juga Pit, ajak suamimu ke kamar. Nanti habis Abang kamu biar dia yang mandi. " titah sang ibu.
" Kita ambil tas dulu di mobil Bu. " jawab Pipit setelah ia mengangguk.
" Kamu di sini aja. Biar Abang yang ambilin. " ucap Bryan saat Pipit hendak mengikutinya keluar rumah. Pipit mengangguk dan membiarkan Bryan mengambilkan tasnya.
" Bu, Pipit ke kamar dulu ya. Ambil baju. Pipit nggak bawa baju dari Jakarta soalnya. Pipit kan masih punya banyak baju di sini. " pamit Pipit.
Ibu mengangguk, " Hem. Nanti biar ibu suruh suami kamu susulin ke kamar. "
Pipit mengangguk, lalu segera masuk ke dalam kamar dan mengambil baju ganti. Ia harus buru-buru sebelum Bryan mengikutinya masuk ke dalam kamar. Karena ia malu jika Bryan melihatnya mengambil pakaian dalamnya.
Tok...tok ..tok ..
Suara pintu di ketuk dari luar.
" Masuk bang ..nggak di kunci. " sahut Pipit dari dalam. Ia telah selesai mengambil bajunya.
Ceklek
Bryan membuka pintu kamar Pipit dan masuk ke dalam tanpa menutupnya kembali. Ia sengaja membuka pintu itu biar mereka tidak saling canggung.
" Ini tas kamu. " Bryan menyerahkan tas ransel milik Pipit yang entah apa isinya.
" Makasih bang. " sahut Pipit sambil mengambil tas itu dari tangan Bryan.
" Nanti habis bang Seno yang mandi, Abang bule gantian mandi. " ujar Pipit sambil menaruh tas ransel kecilnya di atas meja riasnya.
" Kamu dulu aja yang mandi. Udah malem. Abang ntar aja habis kamu. " jawab Bryan.
" Ya udah deh, Pipit keluar dulu. Mau lihat apa bang Seno udah kelar mandinya apa belum. " ujar Pipit.
__ADS_1
Bryan mengangguk, lalu ia duduk di tepi ranjang yang berukuran kecil itu. Mungkin ukurannya hanya separuh lebih sedikit dari ranjangnya di apartemen. Lalu mata biru Bryan memindai ke seluruh kamar. Kamar bercat biru laut itu meskipun tidak luas, tapi terlihat bersih dan rapi. Meskipun kecil, tapi membuat si penghuni nyaman. Penataan ruang terlihat artistik.
" Maaf ya bang, kamarnya sempit. Nggak kayak kamar Abang di apartemen. " ujar Pipit sambil mengambil baju ganti yang tadi sudah ia siapkan dan ia taruh di atas sudut ranjang.
" Tapi kamarmu terlihat nyaman. Indah. Siapa yang mengatur ini? "
" Ya Pipit lah bang. Kan kamarnya Pipit. " jawab Pipit.
Bryan nampak manggut-manggut. Tidak ada banyak pernak pernik layaknya kamar seorang perempuan di kamar itu. Malah justru terasa seperti kamar laki-laki.
" Pipit keluar dulu ya bang. Abang istirahat aja kalau gitu. " ucap Pipit.
" He em. "
Pipit lalu keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kamarnya, membiarkan Bryan untuk istirahat.
Setelah beberapa waktu, Pipit telah usai melaksanakan kegiatan mandinya. Ia kembali ke kamar. Saat membuka pintu kamarnya, ia mendapati Bryan sedang tidur di atas ranjangnya dalam posisi telentang.
Awalnya Pipit mengira Bryan hanya tiduran. Tapi setelah ia membuka dan menutup pintu almari dengan cukup keras, Bryan sama sekali tidak membuka matanya. Pipit lalu menghampirinya. Sebenarnya ia kasihan akan membangunkan Bryan, tapi suaminya itu belum mandi. Jadi ia memutuskan untuk tetap membangunkan sang suami yang sedang tertidur lelap.
" Bang....Abang...." panggil Pipit sambil sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Bryan. Masih belum ada pergerakan.
" Bang bule...bangun dulu bang. Mandi. " panggilnya lagi sambil menggoyangkan tubuh Bryan lebih kencang.
" Sorry, aku ketiduran. " ucapnya dengan suara serak.
" Nggak pa-pa sih abang ketiduran. Tapi kan abang belum mandi. Belum makan malam juga. Jadi terpaksa Pipit bangunin. " jawab Pipit.
Bryan mengangguk, lalu bangkit dan meraih tas untuk mengambil baju ganti.
" Ini handuknya bang. " Pipit mengulurkan sebuah handuk yang baru ia ambil dari dalam almari ke Bryan.
" Thanks. " jawab Bryan. Lalu ia segera keluar dari kamar Pipit dan menuju ke kamar mandi.
Di kamar, Pipit sedikit merapikan kamarnya. Menaruh tasnya ke dalam almari, lalu menaruh tas Bryan di atas kursi yang ada di kamarnya. Lalu sedikit merapikan tempat tidur. Mengeluarkan bantal cadangan dari dalam almari, menaruhnya di ranjang sisi kanan. Lalu mengambil sebuah selimut tebal dari dalam almari juga dan di taruh melentang di atas kasur.
Setelah ia selesai merapikan kamarnya, ia keluar dari dalam kamar untuk membantu sang ibu menyiapkan makan malam. Ketika hendak memasuki dapur, ia bertemu Bryan yang telah selesai mandi.
" Bang, nanti habis naruh baju kotor di kamar, langsung nyusulin ke dapur ya. Kita makan malam. " ujar Pipit.
Bryan mengangguk sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.
" Oh iya, baju kotornya bawa sini aja. Besok pagi Pipit cuci. Biar kalau pulang udah nggak bawa baju kotor lagi. " tambah Pipit dan membuat Bryan yang sudah mulai melangkah kembali menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Nggak usah. Biar Abang cuci di rumah aja. "
" Hish...Di bilangin kok ngeyel. Kalau di bawa pulang, entar bau, terus keluar jamurnya. " ucap Pipit sedikit kesal sambil mengambil paksa baju kotor Bryan yang Bryan pegang.
Tanpa menunggu lagi, Pipit segera berlalu dengan membawa baju kotor milik Bryan ke dekat mesin cuci. Bryan menatap kepergian gadis ababilnya dengan senyuman tipis.
' Begini ya rasanya punya istri. Ada yang ngomelin, ada yang merhatiin, ada yang ngurusin. Jadi nggak sabar bawa bini gue pulang ke rumah. ' batin Bryan masih sambil mengulum senyumnya.
' Tunggu, sabar Bry...Sambil menunggu bini lo buka hatinya, sekalian nunggu rumah yang lo bangun jadi. Jadi, Lo bisa bawa bini Lo langsung pulang ke rumah. Setelah lo halalin secara hukum juga pastinya. ' batin Bryan kembali masih dengan senyuman yang tidak lekang dari kedua sudut bibirnya.
Ia terus melangkah menuju ke kamar Pipit. Sampai di kamar, ia menaruh handuk yang ia pakai di atas sandaran kursi. Lalu ia melangkah ke depan meja rias Pipit dan mengambil sisir dari sana. Lalu ia menyisir rambutnya.
Setelah selesai, Bryan segera kembali keluar dari dalam kamar dan menuju dapur seperti yang di katakan istrinya tadi.
" Malam Bu. " sapanya ke ibu mertuanya.
" Nak Bryan. Ayo duduk. Sebentar lagi makan malamnya siap. " ujar ibu mertuanya.
Bryan tersenyum dan menarik kursi, mendudukkan dirinya di atas kursi itu sambil menunggu makan malamnya siap. Tak berselang lama, Armell datang dengan menggendong baby Dan, dan Seno mengikutinya dari belakang.
" Cucu nenek..Udah habis nen? Kenyang yah. " ujar ibu Ani sambil mengambil baby Dan dari gendongan Armell. " Kamu bantuin adik kamu nyiapin makan malam. Semua udah matang. Biar Danique sama ibu. " titah sang ibu sambil membawa baby Dan keluar dari dapur.
" Ibu mau kemana? " tanya Armell sedikit keras karena sang ibu sudah berjalan keluar dari dapur.
" Ibu mau bawa Danique ke depan, ngadem. " jawab sang ibu.
" Ibu nggak makan bareng sama kami? "
" Ibu udah makan tadi sore. " jawab sang ibu.
Lalu Armell membantu Pipit menata makanan di atas meja, lalu menyiapkan air minum di dalam gelas untuk mereka berempat.
" Mbak, ibu kok kurusan ya sekarang? " ujar Pipit sambil menaruh sup ayam di atas meja.
" Aku tadi juga baru kepikiran seperti itu. Ibu terlihat lebih kurus dari waktu di rumah kita dulu. " sahut Seno.
" Iya, ya. Coba nanti kita tanya ke ibu. Siapa tahu ibu sedang kepikiran sesuatu atau apa. " sahut Armell.
Sedangkan Bryan hanya diam saja. Mulutnya diam, tapi tidak dengan otak cerdasnya. Sedari datang tadi, ia sudah memindai sang ibu mertua. Menurut Bryan, ibu mertuanya itu tidak hanya kurusan, tapi wajahnya juga agak pucat. Seperti sedang tidak sehat. Tapi ia tidak mau berbuat jauh, sebelum sang ibu mertua bercerita ke anak-anaknya. Ia takut salah diagnosis.
***
bersambung
__ADS_1