Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Lapar


__ADS_3

Sampai rumah sakit, Pipit di gendong oleh Bryan memasuki ruangan IGD. Dokter Ratna dan asistennya suster Ayu sudah berada di sana. Mereka sudah menunggu kedatangan Pipit.


Dengan segera, Bryan meletakkan tubuh istrinya perlahan di atas brankar.


" Bukaan berapa? " tanya dokter Ratna ke Bryan.


" Tadi waktu mau berangkat, aq cek, bukaan enam. Tapi sepertinya, ini sudah bertambah. Rasa sakitnya sudah agak sering. " jelas Bryan.


" Oke, kita bawa langsung ke ruang bersalin. Aku cek lagi di sana. " ucap dokter Ratna. Lalu ia menyuruh asistennya mendorong brankar yang berisi Pipit. Suster ayu segera mendorong brankar dengan di bantu oleh Bryan.


" Dokter, sakitnya udah hilang lagi. " ucap Pipit sambil tersenyum manis.


Dokter Ratna hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia terus mengikuti brankar yang di dorong dari belakang. Begitu juga dengan Armell, Seno, tuan dan nyonya Adiguna.


Tak berapa lama, mereka sampai di kamar bersalin. Dokter Ratna segera mengambil gel dan mengoleskannya di perut Pipit yang sudah di buka oleh suster Ayu.


" Posisinya sudah bagus. Sepertinya baby kalian sudah tidak sabar untuk melihat dunia. Padahal HPLnya masih satu minggu lagi. " jelas dokter Ratna. " Sekarang kita lakukan pemeriksaan dalam ya. Kita cek, sudah buka berapa. " lanjut dokter Ratna memberitahu Pipit.


Suster Ayu lalu membuka kedua kaki Pipit, dan mengangkat lututnya.


" Abang...." panggil Pipit ke bryan. Lalu Bryan mendekat.


" Ada apa honey. ? " tanya Bryan.


" Sini ..." pinta Pipit sambil menarik lengan suaminya. Bryan pun segera mendekatkan tubuhnya kembali.


" Abang aja yang periksa Pipit ya? Pipit malu. " bisiknya di telinga Bryan. Bryan tersenyum, lalu mengangguk.


Ia berjalan mendekati dokter Ratna, lalu berucap, " Biar aku sendiri yang melakukannya. Dia bilang malu kalau kamu yang lihat. "


Dokter Ratna berdecak, tapi lalu ia tersenyum, " Kau selalu mengambil pekerjaanku. " candanya. Tapi dokter Ratna menjauh dari ujung brankar, ia lebih memilih menghampiri Pipit. Ia lalu membelai puncak kepala Pipit penuh kasih sambil tersenyum.


" Sudah siap untuk melahirkan? " tanya dokter Ratna. Pipit mengangguk sambil tersenyum.


" Pembukaan delapan. " ucap Bryan memberitahu. Ia telah selesai melakukan pemeriksaan dalam.


" Sebentar lagi. Sepertinya baby kalian memang sudah tidak sabar melihat dunia. Biasanya pembukaan akan bertambah setelah satu jam. Tapi pembukaan yang di alami istrimu lumayan cepat. " jelas dokter Ratna.


" Kau dengar kan honey? Biasanya perempuan akan mengalami kesakitan ketika akan melahirkan itu lama. Lebih dari sepuluh jam. Tapi kamu baru mengalaminya selama dua jam saja. Sekarang sudah pembukaan delapan. " ucap Bryan. " Aku benar kan, jika kamu menjadi istriku maka kamu tidak akan kesakitan seperti kakakmu. " lanjutnya berbangga diri.


" Ck. Itu sih hanya kebetulan. " protes Pipit.

__ADS_1


" Hei, kebetulan darimana? Aku mengatakan yang sebenarnya. Olahraga yang selalu kita lakukan tiap malam, ini fungsinya honey. Baby kita cepat mencari jalan lahirnya. "


Plak


Pipit memukul lengan suaminya keras. Dan setelah itu, rasa sakit mulai kembali mendera.


" Sakit abanggg...." rintih Pipit sambil mencengkeram besi brankar.


Bryan dengan segera mengelus perut dan pinggang Pipit. " Rileks honey..." ucapnya sambil mengecup kening Pipit.


Pipit bernafas ngos-ngosan kala rasa sakit itu kembali hilang. Ia memejamkan matanya menetralkan nafasnya.


" Boleh makan nggak dok? Pipit lapar. Haus juga. " tanya Pipit ke dokter Ratna.


Dokter Ratna terkekeh. " Kamu tadi sore apa tidak di kasih makan sama suamimu, hem? "


" Tadi sore sudah makan. Tapi sekarang lapar lagi. Sekalian buat pasokan tenaga nanti kalau ngeden dok. " ucap Pipit.


Dokter Ratna tersenyum tipis. " Boleh. Tapi jangan banyak-banyak. " jawabnya.


" Abang, beliin Pipit makan ya? Sepertinya dedek pengen makan dulu sebelum keluar dari perut. " pinta Pipit ke Bryan.


" Bisa mereka berdua? " tanya Pipit.


" Bisa. "


Lalu Bryan keluar dari dalam ruangan.


" Udah lahir, Bry? Kok nggak kedengeran suara tangisan bayinya? " tanya nyonya Ruth ketika melihat Bryan keluar dari dalam ruangan.


" Belum ma. Baru pembukaan delapan. "


" Terus, ngapain kamu malah keluar? Bukannya nemenin istri kamu. " cerca sang ibu negara.


" Pipit lapar, mau makan. Bryan mau beliin dia makan di kantin dulu bentar. Mama sama Armell, bisa tolongin temenin Pipit di dalam dulu? Sepertinya dia juga ingin di temani oleh kalian. " pinta Bryan.


" Oke banget kalau itu. " sahut Nyonya Ruth penuh semangat. " Ayo sayang. " ajaknya ke Armell lalu menarik tangan menantunya itu, masuk ke dalam ruangan.


" Bryan ke kantin dulu, pa. " pamitnya ke tuan Adiguna. Tuan Adiguna mengangguk.


Bryan segera berlalu pergi dari sana dan pergi ke kantin untuk membelikan makanan. Bryan hanya membelikan makanan yang ringan tanpa nasi dan juice alpukat.

__ADS_1


🧚


🧚


Hari ini update dua episode....Tapi yang satu episodenya, pendek ya....jangan pada protes lohhhh...😊😊😊


Othor jadi bingung mau nulis apa ini tadi tuh ...habis sampai sini malah terus stuck ide... Ada yang mau ngasih ide nggak? Siapa tahu ide kelean menarik dan bisa othor kembangin....


Kalau ada yang menarik, othor jadiin deh episode yang esok hari... Othor kembangin juga biar jadi lebih mantap πŸ‘


Semakin kesini, semakin nggak ide nih gimana???


Para readersku tercinta....bantuin lah mengiklankan karya othor ini...masak udah mau episode-episode akhir yang nyimak dikit ....jadi pengen nangis😭😭


Tapi it's oke lah...nggak pa-pa...


Oh iya, ngomong ngomong setelah cerita ini besok selesai, menurut kelean, othor bagusnya nulis cerita seputar anak anak Seno, Bryan, Arvin, atau bikin cerita di luar cerita mereka aja yah???πŸ€”πŸ€”


***


bersambung


Jangan lupa....LIKE


LIKE


LIKE


LIKE


VOTE


VOTE


VOTE


KOMEN


KOMEN


KOMEN

__ADS_1


__ADS_2