
Bryan mengecek denyut nadi Armell dari pergelangan tangannya dan mengecek kesadaran Armell dari kedua kornea matanya.
" Kenapa dia? "
" Ck. Istri lo pingsan karena ulah elo ini. " jawab Bryan enteng dan santai.
Ibu negara langsung menjewer telinga Seno. Baby Paris sudah beliau berikan ke Pipit.
" Kamu apain putri mama? Hem? Dasar anak nakal kamu ya. Habis kamu marahi ya? Atau nggak kamu kasih makan? Atau... jangan-jangan....kamu main perempuan di luaran, terus istri kamu jadi kepikiran..." ucap Nyonya Ruth tanpa henti.
Plak...
Plak...
Plak....
Bunyi tangan nyonya Ruth yang memukuli lengan dan bahu putra semata wayangnya. " Dasar kamu ya....Masih kurang apa punya istri cantik dan baik kayak gitu? Hem? Masih main perempuan di luar. Bryan udah tobat...Malah sekarang kamu yang nerusin jejaknya...Iya? "
Plak...Plak...Plak... Pukulan kembali datang. Sedangkan tuan Adiguna hanya mengusap dahinya lalu menggaruknya pelan sambil menggendong Danique. Karena tidak mau sang cucu melihat sikap bar-bar omanya, tuan Adiguna menggendong Danique dengan menghadap ke belakang.
Dan Bryan...Jangan tanya bagaimana raut wajah bule itu saat ini. Sambil menahan tawanya yang membuat lubang hidungnya kembang kempis, Bryan sepertinya sangat menikmati momen ini.
" Ma ..Stop ma... Please...Jangan melakukan kekerasan ke El di hadapan anak El dong ma..." protes Bryan.
Nyonya Ruth menyudahi acara keplak mengeplak. Nafasnya bahkan hingga ngos-ngosan.
" Hosh...Hosh..." suara nafas Nyonya Ruth. " Kamu makan apa sih? Badan kok keras banget. " gerutunya.
" Lagian mama...Sukanya main gaplok gaplok aja. "
" Habisnya kamu...Kamu apain istri kamu? Sampai pingsan begitu? " tanya Nyonya Ruth dengan nada kesal.
" Ma .. Sumpah demi Tuhan...El nggak pernah melakukan KDRT. Dan demi apapun, El tidak pernah selingkuh. Bagaimana mungkin El selingkuh ma...Kalau hati dan jiwa raga El cuma buat Armell seorang. Dapatnya aja susah kok pakai di duakan. Nggak syukur itu namanya ma..." cerocos Seno panjang kali lebar.
" Terus kenapa sekarang istri kamu pingsan kayak gini? Terus tadi...Bryan bilang gara-gara ulah kamu..."
" Bry...jelasin ke.kita...Istri gue kenapa? Kenapa lo bilang kalau itu ulah gue? Sumpah Bryyy....gue nggak pernah ngelakuin apa-apa ke dia. " pinta Seno ke Bryan dengan tampang memelasnya.
" Gimana bukan karena ulah Lo? Kecebong lo berenang di perut bini Lo... Jadinya bini lo pingsan kan? " Jawaban yang ambigu...Semua masih bingung mencerna jawaban Bryan itu. Bahkan sang ibu negara kembali menatap nyalang ke arah Seno.
" Tuh kan...Ulah kamu...Kamu kasih makan kodok istri kamu? Iya? Atau telur kodok? Kok bisa kecebongnya berada di dalam perut istri kamu. "ucap Nyonya Ruth dengan tatapan tajam. Beliau juga sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang putra semata wayangnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, tuan Adiguna tertawa dengan keras. Membuat semua atensi yang ada di ruangan, ke tuan Adiguna.
" Papa kenapa kok malah ketawa nggak jelas gitu? Lihat tuh pa...Mantu kita lagi pingsan... Perutnya sakit gara-gara di kasih makan telur kodok sama anak papa. " ucap nyonya Ruth ke suaminya dengan galak juga.
" Papa ketawa karena mama lucu. Gimana ceritanya, makan telur kodok terus tiba-tiba menetas di dalam perut, terus jadi kecebong? Yang ada tuh ma... Kecebong itu berasal dari peliharaan anak ganteng mama tuh... Sepertinya cacingnya kembali membelah diri. Kalau yang pertama jadi Danique... Kira-kira yang kedua jadi seperti siapa ya? " jawab tuan Adiguna.
" Di kira amoeba? Pakai membelah diri? " gumam Nyonya Ruth. Tapi tak urung, beliau memikirkan dan meresapi ucapan suaminya itu. Beliau nampak berpikir, dan menimbang. Dan akhirnya... beliau menyimpulkan sesuatu.
Nyonya Ruth langsung memeluk tubuh putra semata wayangnya. Beliau bahkan menciumi wajah Seno tanpa terlewatkan.
" Ma... apa-apaan sih? El bukan Danique yang bisa mama ciumi seperti ini. Tadi aja marah-marah...mukul-mukul..." gerutu Seno.
" Mama seneng soalnya. Kamu emang TOP. Nggak salah mama rawat tuh cacing dari kamu orok..." sahut Nyonya Ruth sambil menunjuk ke bagian bawah Seno dengan dagunya.
" El makin nggak ngerti deh. Apa hubungannya istri El pingsan sama cacing? Tadi kecebong..." ucap Seno sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kamu ini Elllllll......kok nggak pinter-pinter sih. Mama jadi bingung.... Perusahaan di pegang sama kamu, terus dapet proyek gede-gede itu, yang mikir siapa. " ujar Nyonya Ruth sambil mendengus kesal.
" El....Istrimu itu lagi hamil. " seru tuan Adiguna.
" Ha? Apa? " Seno terlihat terkejut. Ia menatap istrinya dan semua yang ada di dalam ruangan itu bergantian. Sejenak kemudian, Seno tersenyum lalu ia menubruk, memeluk tubuh istrinya yang masih terkapar di atas sofa karena pingsan.
Plak
" Aduhhh....Ma!!" protes Seno.
" Kamu sudah tidak waras ya? Istrimu itu sedang pingsan malah kamu bekap seperti itu. " pekik nyonya Ruth.
" Oh iya...El lupa. " ucap Seno sambil cengar-cengir.
" Nggghhh...." suara Armell mulai melenguh.
" Baby....Kamu sudah sadar? " tanya Seno.
" Kok pada ramai-ramai ada apa sih? " keluh Armell dengan suara lirih.
" Sebaiknya lu segera bawa kakak ipar ke dokter Ratna. Kebetulan dokter Ratna hari ini praktek. Bisa sekalian. " ucap Bryan mengingatkan Seno.
" Iya. " jawab Seno. " Baby, kita periksa yuk. Mumpung kita di rumah sakit. " ajaknya ke Armell.
" Mell kenapa kok bisa pingsan mas? Tadi pagi Mell baik-baik saja. " tanya Armell sambil beranjak duduk dari rebahannya dengan di bantu sang suami.
__ADS_1
" Biar kita tahu, kita periksa saja. " ucap Seno. Armell mengangguk.
" Nih, pakai kursi roda. Kakak ipar masih lemes. Jangan di ajak jalan. " ujar Bryan.
" Thank you. " sahut Seno sambil mengambil alih kursi roda itu. Ia lalu mengangkat tubuh istrinya dan di dudukkan di atas kursi roda.
" Ma, pa, El bawa Armell periksa dulu. Titip Dan ya. " ucap Seno.
" Iya. kamu tenang saja. " sahut tuan Adiguna sambil mengelus punggung Danique.
" Sayang, jagoan Daddy baik-baik sama granma sama granpa ya. Jangan nakal, oke? " ucap Seno sambil mengusap puncak kepala Danique.
" Yes, tadty..." ucap Danique cadel.
Seno lalu membawa sang istri keluar dari dalam ruangan. Menyeberangi gedung untuk sampai di poliklinik spesialis kandungan. Beruntung bagi Seno, tidak perlu antri panjang. Karena ternyata Bryan sudah cekatan dan menghubungi dokter Ratna langsung.
Sampai di poli kandungan, nama Armell langsung dipanggil oleh suster Ayu.
" Mas, kok aku di bawa ke dokter Ratna? Emang aku sakit apa menurut uncle B? " tanya Armell kala suaminya mendorongnya masuk ke dalam ruang praktek dokter Ratna.
" Nanti kita juga akan tahu setelah bertemu dokter Ratna. " jawab Seno sambil sedikit menundukkan badannya di samping Armell.
" Selamat siang nyonya muda...Tuan muda..." sapa dokter Ratna ramah.
" Dokter, sudah berapa kali saya minta sama dokter, jangan panggil saya nyonya muda. Tidak enak di dengarnya. Panggil saja saya Armell dok. " protes Armell.
" Oke...oke..." sahut dokter Ratna. Tentu saja agak susah memanggil Armell hanya dengan nama. Karena dia adalah menantu kesayangan dari pemilik saham terbesar di tempatnya bekerja saat ini.
" Ayo, kita langsung lihat, ada apakah gerangan kok kamu bisa sampai pingsan. " ujar dokter Ratna sambil menuntun Armell untuk menaiki ranjang pasien.
Dokter mengoleskan gel ke perut Armell setelah suster ayu menaikkan baju Armell. Sedangkan Seno sedang serius menatap layar LCD yang ada di depan dokter Ratna.
" Dok, Mell kenapa sih sebenarnya? " tanya Armell tak sabar.
" Sebentar ya. Kita lihat bersama-sama. " jawab dokter Ratna sambil mulai menggerakkan alat USG nya.
" Nah....Ini dia jawabannya. " ucap dokter Ratna memberitahu sambil menunjuk ke gambar yang terlihat di layar LCD yang mirip seperti biji kedelai.
" Dok....Jangan bilang kalau...." ujar Armell lalu ia membekap mulutnya sendiri. Lalu melihat ke arah suaminya yang terlihat tersenyum bahagia dengan netra yang terus memandang takjub ke arah layar.
***
__ADS_1
bersambung