Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Are you oke?


__ADS_3

Hari terus berganti. Masa nyidam yang di alami oleh Bryan telah usai. Ia sudah tidak mengalami morning sickness ataupun menginginkan hal-hal yang aneh. Tapi sikap posesifnya terhadap Pipit justru semakin bertambah.


Bryan sekarang tidak mengijinkan Pipit pergi kemana-mana sendiri. Mau ke kampus, ke mall, bahkan hanya untuk mengerjakan tugas di rumah temannya, Bryan harus ikut. Tidak hanya sekedar mengantar, tapi ia juga akan menunggui istrinya di manapun istrinya berada asalkan dia sedang tidak dalam jadwal praktek, ataupun tidak ada jadwal operasi.


Usia kandungan Pipit sekarang sudah memasuki bulan ke enam. Perutnya sudah benar-benar terlihat buncit. Seluruh kampus juga telah mengetahui jika seorang Fitria sudah menikah dan saat ini sedang mengandung. Mereka juga sudah mengetahui jika Fitria menikah dengan dokter bule yang sangat terkenal dan sangat tampan tentunya. Bahkan tidak sedikit mahasiswi perempuan yang mencibir ke Pipit, karena Pipit hanyalah seorang perempuan dari kalangan biasa, dan di anggap tidak layak menjadi istri seorang Bryan Ernest.


Tapi bukan Pipit namanya jika ia termakan oleh cibiran tersebut. Dia bahkan dengan santainya menertawakan mereka yang mencibir kepadanya. Seperti siang itu saat Pipit dan teman-temannya sedang menikmati makan siang di kantin kampus. Ada beberapa mahasiswi yang notabenenya adalah kakak tingkat dari Pipit menghampiri Pipit.


" Eh, perempuan murahan. " sapa salah satu mahasiswi yang menghampiri Pipit.


Seperti biasa, Pipit tidak mengindahkan panggilan tersebut. Sedangkan teman-teman Pipit langsung melihat siapa yang berbicara. Ternyata salah satu mahasiswi itu adalah putri dosen di kampus itu, dan satunya lagi adalah putri seorang dokter senior yang juga cukup terkenal di ibukota.


" Eh, gue manggil elu ya. " ucapnya kembali sambil sedikit mendorong tubuh Pipit.


Kali ini, Pipit tidak tinggal diam karena acara makan siangnya terganggu. Bahkan saat di dorong tadi, ia hampir saja tersedak bakso.


" Maaf, saya punya nama. Dan nama saya bukan ELU. " jawab Pipit sambil meletakkan garpu dan sendok yang ia pegang. Lalu ia berdiri dari duduknya. Menggeser sedikit bangku yang ia duduki, sehingga menimbulkan suara berderit.


" Kenalkan, nama saya Fitria. " lanjutnya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


" Cih. Siapa yang sudi bersalaman dengan perempuan murahan kayak elo. " sahut si putri dokter senior tadi, yang bernama Angel. Angel bahkan langsung bersedekap seolah-olah menyembunyikan tangannya.


Pipit mencibir, " Tidak masalah. " ucapnya sambil menurunkan tangannya.


" Hei, dengerin semuanya yang ada di sini. Gue kasih tau ke kalian ya. Gue akan kasih tahu sebuah fakta yang mungkin banyak dari kalian yang tidak tahu. Perempuan ini .." tunjuk angel ke Pipit. " Perempuan gatel ini adalah perempuan murahan. Yang dengan tidak tahu dirinya, menggunakan tubuhnya untuk menjebak seorang dokter terkenal yang gue yakin, kalian sudah tahu siapa dokter itu. "


Pipit yang mendengar perkataan Angel hanya memutar bola matanya jengah. Lagi, dan lagi dia harus berhadapan dengan perempuan yang sok tahu.


" Perempuan ini, dengan tubuhnya yang jelek ini, sudah menjebak dokter Bryan Ernest sehingga dokter Bryan menghamilinya dan mau tidak mau, dokter Bryan harus menikahinya. " lanjut Angel sambil berbicara dengan suara yang lantang.

__ADS_1


Pipit sudah mulai tersulut oleh emosinya. Ia mengepalkan tangannya. Rasanya ingin sekali menonjok wajahnya dan menjambak rambut ikalnya.


' Wah, keadaan mulai tidak kondusif. Gue harus segera kasih info ke pak dokter tampan. ' batin Naomi dan ia segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya.


📩 Pak dok, sesuatu telah terjadi dan sepertinya akan semakin memburuk kondisinya. Pak dok dimana?


Pesan terkirim dan tidak lama terlihat dua centang biru.


Kring...


" Iya pak dok? " sapa Naomi ketika ia sudah menerima panggilan teleponnya.


" Dimana? "


" Di kantin. "


Klek. Panggilan sudah di akhiri sepihak. Kita kembali ke yang lagi panas.


" Hei, jangan nyolot kalau bicara dasar perempuan murahan. " sahut Angel.


" Yang nyolot siapa? Bukannya kamu yang sedari tadi teriak-teriak nggak jelas. " ujar Pipit.


" Kalau perempuan kampung memang nggak punya etika ya. Kelakuan juga kampungan. Apa jangan-jangan...bayi yang ada di kandungan elo itu bukan darah daging dokter Bryan. "


" Kalau punya mulut bisa di sekolahin dulu? Kalau belum sekolah jangan di bawa keluar rumah. Bikin malu. " celetuk Pipit.


Angel menaikkan tangannya hendak menampar Pipit tapi kalah cepat karena Pipit sudah menginjak kakinya. Angel yang melihat kedatangan Bryan, langsung pura-pura jatuh dan menangis.


" Salah gue apa sih Fit. Lo tega-teganya jatuhin gue. " ujar angel sambil melirik ke arah Bryan. Angel yakin jika Bryan pasti akan segera memarahi Pipit.

__ADS_1


" Honey, are you oke? " tanya Bryan ke Pipit sambil memeluk pinggang Pipit.


" Abang...I am oke. Tapi dia yang nggak oke. " jawab Pipit sambil menunjuk ke Angel yang masih duduk di lantai.


" Kenapa dia nggak oke? "


" Pipit injak kakinya. Karena mulutnya kayak cabe rawit. Pedes banget. " jawab Pipit.


" Oh ya? Honey, sebagai sebagai ucapan maaf, boleh aku membantunya berdiri? Sepertinya kakinya berlubang karena habis kamu injak. Dia ini putrinya dokter Sudrajat loh. Dia itu dokter senior di rumah sakit tempatku bekerja. " ucap Bryan. Angel yang mendengar ucapan Bryan tersenyum menyeringai.


" Boleh dong Abang. " jawab Pipit sambil tersenyum.


Masih sambil memeluk pinggang Pipit, Bryan menyodorkan salah satu tangannya di depan Angel. Angel dengan senang hati menerima uluran tangan Bryan. Setelah membantu angel berdiri, Bryan segera menepis tangan Angel.


" Kalian kenapa berkerumun seperti ini? Apa sudah terjadi pertunjukan yang aku lewatkan? " ujar Bryan dengan suara beratnya.


Pipit membisikkan sesuatu di telinga Bryan membuat Bryan menghela nafasnya dalam-dalam.


" Aku kasih tahu kalian semua. Dan tolong, setelah ini jangan sampai aku mendengar kalian mengatakan hal buruk tentang istriku. " ujar Bryan. Ia menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.


" Dia..." lanjut Bryan sambil menunjuk ke arah Pipit. " Dia adalah istriku. Yang sangat aku cintai. Dan bayi yang ada di kandungannya adalah anakku. Jangan pernah mengatakan jika istriku adalah perempuan murahan yang merayuku supaya aku menikahinya. Aku yang mencintainya terlebih dulu tanpa ada rayuan atau semacamnya. Dan anak ini hadir setelah hampir satu tahun pernikahan kami. Jadi istriku tidak pernah menjebak ku. Dan nona Angel, saya mohon maaf jika saya menolak perjodohan dengan anda seperti yang di minta oleh ayah anda. Karena saya sudah menikah dengan istri saya jauh sebelum saya bertemu anda. Dan jauh sebelum ayah anda menjodohkan saya dengan anda. Jadi saya mohon maaf, karena telah menolak perjodohan itu dan membuat anda kesal. Dan jika anda kesal, jangan melampiaskannya kepada istri saya. Katakan langsung sama saya jika anda memang kesal. " ujar Bryan panjang lebar dan membuat angel kehilangan muka.


Dengan langkah terburu-buru, angel dan teman-temannya meninggalkan kantin tersebut, dan membuat Pipit tersenyum dan spontan mengecup pipi suaminya.


" Honey, ini i kampus. Nanti saja kalau sudah di rumah kamu boleh menciumiku sepuasmu. " bisik Bryan.


Pipit tercengang dan ia baru teringat dimana dirinya saat ini.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2