
Hari semakin berganti. Hari-hari yang di alami Pipit, masih berkutat dengan kegalauan hatinya. Galau akan kenyataan tentang pria yang pernah mengisi hatinya beberapa waktu belakangan ini, ternyata telah menikah dan menghamili istrinya.
" Huh." Pipit menghela nafas berat. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir kegalauannya.
Bukan hanya pernikahan dan kehamilan istri Damar yang membuat Pipit galau bukan main. Tapi kenyataan tentang Damar, membuat Pipit menjadi takut untuk melanjutkan rasa yang telah tumbuh di hatinya untuk sang suami. Apalagi masa lalu sang suami yang sering bergonta-ganti pasangan.
Pipit seolah takut dengan cinta. Padahal ia termasuk seorang playgirl. Maksudnya, semenjak dari SMP, Pipit sering bergonta-ganti pacar. Bahkan ia juga pernah mempunyai pacar sekaligus dua. Bukan karena Pipit yang maruk, tapi cowoknya aja yang gila tetap mau menjadi pacar kedua, asalkan Pipit mau jadi pacarnya.
Meskipun Pipit sering berganti pacar, tapi ia tidak melewati batas. Ia berpacaran hanya sekedar bergandengan tangan, tidak lebih. Ciuman bibir, mana pernah dia. Tidak ada pacar Pipit yang meminta lebih dari sekedar bergandengan tangan kepada Pipit. Karena pernah ada yang mencoba menciumnya, laki-laki itu langsung babak belut di hajar habis-habisan oleh Pipit.
Jadi, ciumannya dengan Bryan waktu ia harus berakting, itulah adalah ciuman pertamanya. Cuma yang membuat Pipit heran dengan dirinya sendiri, ia tidak merasa kesal saat di cium oleh Bryan. Ia malah menikmatinya. Bahkan membalasnya, seperti yang sering ia lihat di drama-drama maupun film-film Hollywood yang sering di tontonnya.
" Aaarrrrrggggghhhh.....Hah! " teriak Pipit sambil mengacak-acak rambutnya.
Pikiran dan hatinya terlanjur merasakan cinta untuk sang suami. Dan sekarang ia harus merasa takut dengan rasa itu.
Kring....kring ...
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia terkejut, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dimana ponselnya berada. Dan matanya mendapati, ponselnya tergeletak tak berdaya di ujung ranjang. Ranjang yang berantakan. Spray dan selimut mengumpul jadi satu, bantal dan guling sudah entah tergeletak di mana.
Pipit melihat ponselnya. Ah, panggilan video dari Bryan.
" Kenapa Abang bule musti pakek panggilan video sih? Iiihhhh, mana penampilanku berantakan lagi. " Pipit bergumam dan mondar-mandir tidak jelas sambil mengacak rambutnya. Rambutnya sudah acak-acakan nggak jelas, masih di acak-acak lagi.
" Ya Tuhan....kamarku.....Kenapa jadi kayak perahu pecah kayak gini? " ujarnya kembali. " Mama ....maafin Pipit....Dasar Pipit....udah di kasih tempat enak, gratis, tapi nggak tahu terimakasih. " kini Pipit berujar sambil menonyor kepalanya sendiri. Sedari tadi ia sibuk mondar-mandir tidak jelas, yang membuatnya malah mengabaikan panggilan dari Bryan.
" Oh udah mati. Syukur deh. Pipit mau beresin kamar ajalah dulu. " ujar Pipit setelah ia sadar, ponselnya sudah tidak lagi berdering.
Kring....kring...
Baru saja Pipit hendak meletakkan ponselnya di atas nakas, ponsel itu berdering kembali. Masih sama, video call dari Bryan.
Pipit menghela nafasnya, lalu menggeser ke atas icon berwarna hijau.
" Assalamualaikum bang. "
" Waalaikum salam. "
" Ada apa? Kok tumben, pagi-pagi gini udah telpon. "
" Pagi apanya? Lihat, udah jam berapa ini? " ujar Bryan dari seberang. Pipit spontan melihat jam dindingnya. Ia langsung menutup mulutnya terkejut.
" Apa? Udah jam sebelas???" Pipit bermonolog sendiri tanpa suara dan sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
" Halo? Pit? "
" Iya, bang. Pipit masih di sini. "
" Kamu ini? Abang tuh video call ya. Kok wajah kamu nggak kelihatan? Kenapa ngumpet? " tanya Bryan kesal karena semenjak tadi ia hanya melihat langit-langit kamar.
" Lagian, siapa suruh Abang pakai video call segala. Pakai telp biasa aja sih bang. " rengek Pipit.
" Kenapa emangnya? Kamu lagi bug*l ya? Nggak pa-pa kok, Abang ikhlas lihatnya. " goda Bryan sambil menahan tawanya.
" Hish...Itu mah maunya Abang. " seru Pipit. " Matiin bang video call nya. Kita telponan biasa aja. "
" Kenapa sih, kok segitunya nggak mau kasih lihat wajah kamu. "
" Udah deh, Abang nggak usah banyak tanya dulu. Pipit matiin telponnya ya. " seru Pipit.
Dan klik
Panggilan benar-benar di putus oleh Pipit, membuat Bryan menghela nafas kesal. Tapi tak urung, ia kembali menghubungi istri kecilnya nan labil itu. Kali ini ia hanya menggunakan panggilan suara saja.
Kring...kring...
Ponsel Pipit kembali berdering. Pipit melihatnya sebentar. Oh, ternyata bang bule lagi. Kali ini pakai panggilan suara.
" Hem. "
" Kok cuman hem? "
" Habisnya kesel. Abang kan pengen lihat kamu. Malah cuman di lihatin langit-langit kamar. " ujar Bryan. Bryan sekarang sudah mulai mendekati Pipit secara terang-terangan semenjak Pipit tinggal di rumah keluarga Adiguna. Ia lebih gencar memberikan perhatian, lebih gencar menggombal juga.
" Ya maaf bang. Pipit belum mandi. He...he...he...entar pasti Abang godain, ledekin. " jawab Pipit sambil cemberut.
" Apa? Jam segini belum mandi? Anak gadis macam apa udah hampir tengah hari gini belum mandi. "
" Kan liburan. Malas mandi. Pengen malas-malasan aja. "
" Kalau belum mandi, berarti belum sarapan? "
" Belum. Belum lapar. "
" Ck. Ini anak. Sarapan itu penting buat tubuh. Emang mama kemana, kok kamu sampai nggak makan. "
" Mama sama papa lagi ke rumah bang Seno. Nginep sana semalam. Katanya kangen sama Danique. Abang kok tahu kalau mama lagi nggak di rumah. "
__ADS_1
" Tahu lah. Abang tinggal di rumah itu nggak sebentar. Kalau mama di rumah, nggak mungkin beliau membiarkan kamu sampai jam segini belum sarapan. "
" He...he...he..." Pipit malah tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Abang kok tumben jam segini telepon? Nggak ada emergency? "
" Nggak. Abang hari ini libur. Mau ajak kamu keluar. "
" Hah? Jam berapa?
" Sekarang Abang mau otw ke sana. "
" Jangan...Jangan sekarang. " seru Pipit cemas. Dia aja belum mandi, belum beresin kamar, belum siap-siap, kalau sampai Bryan sampai sana, dia bakalan malu banget pastinya.
" Kenapa? " tanya Bryan sambil mengernyit.
" Pipit kan belum mandi. Entar aja satu jaman lagi Abang kesininya. Sekalian Pipit bisa Duhuran dulu Kalau Abang kesini sekarang, entar kelamaan nungguinnya. "
" Hem. Ya udah, buruan mandi yang bersih. Biar cantik, wangi. Nggak bau jigong kayak gini. "
" Ihhh, enak aja. Pipit tadi udah gosok gigi kok. Mana mungkin bau jigong. " bela pipit.
" Iya...iya ..udah sana buruan mandi, terus siap-siap."
" iya Abang bawel."
" Di kata gue ikan? "
" Bawel Abang.....Kalau ikan tuh ikan bawal. Abang masih bicara, kalau Pipit tutup teleponnya, entar di kata nggak sopan. Duh, ribet emang ngomong sama orang tua . Serba salah. "
" Awas ngatain abang tua lagi. Abang cip*k tuh mulut baru tahu rasa. "
" Ihhh...sukanya ngancem. Ya udah sih, kapan Pipit mandinya kalau abang masih telepon kayak gini? " ujar Pipit agak kesal.
" Iya, iya Abang tutup. "
Klik. Panggilan di akhiri oleh Bryan.
" Huh, untung udah sayang. Kalau nggak, Pipit hancurin tuh muka gantengnya. " gerutu Pipit seraya melihat dan menonyor ponselnya.
Lalu ia segera membereskan tempat tidur yang seperti perahu pecah tadi. Setelah beres, ia mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi.
***
bersambung
__ADS_1