Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Berkumpul bersama


__ADS_3

Sudah empat hari lamanya Bryan dan Pipit berada di Perancis. Dan hari ke lima, Bryan memaksa istri kecilnya itu untuk pulang. Meskipun dengan perdebatan yang alot dan panjang, akhirnya Bryan bisa mengajak Pipit kembali ke Indonesia.


Bukan karena uang yang menipis atau karena pekerjaan yang mendesak Bryan mengajak Pipit segera kembali. Tapi alasan yang sebenarnya adalah ia sudah tidak kuat untuk berlama-lama tinggal satu kamar dengan istrinya itu. Paling tidak jika di Indonesia, mereka masih tinggal beda rumah. Pipit masih tetap tinggal di rumah keluarga Adiguna, dan Bryan di apartemennya.


Tinggal satu kamar dengan Pipit, merupakan cobaan terberat dalam hidup Bryan. Itu sudah Bryan rasakan tiap hari kala di Perancis. Hampir tiap malam, ada saja yang di lakukan oleh Pipit untuk menggodanya. Untung saja, dia masih bisa menahan supaya tidak khilaf.


Setelah malam ketika Pipit mengenakan baju jaring laba-laba, paginya, Bryan mengajaknya menjenguk orang tua Bryan.


Flash back on


" Mom, dad, Bryan bawa kejutan buat kalian. Kali ini, Bryan tidak datang sendiri kesini. Bryan bawa belahan jiwa Bryan. " ucap Bryan sembari duduk di antara dua nisan. " Dia istri Bryan. Menantu kalian. Cantik kan? " jelas Bryan sambil merangkul pundak Pipit. " Yah, meskipun dia masih kecil, tapi aku mencintainya. Bahkan sangat. Kalau Daddy sama mom masih ada, mungkin kalian akan memarahiku karena sudah menikahi gadis ABG seperti dia. " ucapan Bryan membuat Pipit memelototkan matanya kesal.


" Mom pasti akan mengataiku sebagai pedofil. " lanjutnya lalu ia tersenyum tipis. " Tapi mau bagaimana lagi jika anak kalian ini hanya bisa jatuh cinta kepadanya. " lanjut Bryan sambil menoleh ke arah Pipit dan mengelus pipinya. " Apa mom sama dad tahu, usianya mungkin memang masih sangat muda. Tapi tingkat kemesumannya melebihi orang dewasa. " ucap Bryan kembali sambil terkekeh. Dan langsung di hadiahi sebuah cubitan oleh Pipit.


" I love you my little wife. " ungkap Bryan sambil menatap dalam-dalam mata coklat dan belok milik istrinya.


Pipit tersenyum, lalu menatap dua nisan yang ada di hadapannya. " Halo, mommy, Daddy. Perkenalkan, namaku Fitria Amera Umma. Biasanya di panggil Pipit. Pipit ini menantu mommy sama Daddy. Istrinya Abang bule. He...he...he...Pipit panggil anak mommy sama Daddy Abang bule, nggak pa-pa kan ya? Soalnya kan Abang wajahnya bule banget. He..he...he...Abang bule pasti mewarisi kecantikan mommy dan ketampanan Daddy makanya bisa ganteng kayak gini. " ucap Pipit sambil mengelus pipi Bryan.


" Mom, dad, Pipit mungkin memang masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri. Tapi, Pipit tetap akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Abang bule. Mom sama dad nggak usah khawatir, Pipit akan membuat Abang bule menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi ini. " ucap Pipit.


" Hei, kau mencuri kata-kataku. Seharusnya aku yang mengatakan itu untukmu. Seharusnya aku yang bilang kalau aku akan menjadikanmu perempuan paling bahagia di dunia ini. " protes Bryan.


" Ha...ha...ha...Yang penting kita akan selalu bahagia, mom...Dad...." ujar Pipit. Lalu mereka berdua saling berpandangan.


Setelah merasa cukup mereka di makam itu, Bryan dan Pipit berpamitan.


" Mom, Dad, kami pergi dulu. Selalu doakan kami Mom and dad. " ucap Bryan sambil mengelus nisan orang tuanya.


" Mom, Dad, sampai bertemu lagi. Kalau Abang bule kesini, Pipit akan ikut kesini lagi. Doakan kami untuk selalu bahagia ya. Doakan kami juga supaya kami bisa segera memberikan cucu untuk kalian. " ucap Pipit sambil tersenyum nyengir. Membuat Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan pikiran istri kecilnya itu.

__ADS_1


Flash back off


Sampai di Indonesia, pagi harinya, Bryan dan Pipit segera pergi ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Semua berkas-berkas yang mereka butuhkan sudah mereka siapkan.


Setelah menyerahkan berkas-berkas tersebut, pihak KUA mengatakan mereka butuh waktu sekitar satu minggu untuk mengurus dan menerbitkan buku nikah untuk Bryan dan Pipit.


Dan di sinilah mereka saat ini. Berkumpul bersama Seno, Armell, tuan Adiguna, juga Nyonya Ruth. Weekend kali ini, Bryan meminta mereka untuk berkumpul bersama. Dan saat ini, mereka sedang berkumpul di ruang keluarga rumah besar keluarga Adiguna.


Malam itu, mereka semua memutuskan untuk menikmati akhir pekan bersama dan menginap di rumah besar keluarga Adiguna. Berkumpul bersantai di taman belakang rumah sambil menikmati secangkir kopi dan camilan ringan.


Bryan duduk di sebuah bangku sendiri, lalu tuan Adiguna dan nyonya Ruth duduk di bangku yang lain, Seno dan Armell duduk di bangku yang lain lagi. Sedangkan Pipit duduk di bangku ayunan. Baby Dan, dia sudah terlelap di kamar Daddy-nya.


" Karena mumpung kita sedang berkumpul seperti ini, Bryan ingin mengatakan sesuatu. " ucap Bryan.


" What's up bro? Serius amat. "


" Lalu? " tanya Seno. Sedangkan tuan Adiguna masih menjadi pendengar setia.


" Lo tahu kan, gue nggak suka yang namanya bisnis seperti ini. Gue nggak kayak elu. Gue lebih enjoy dan nyaman dengan kerjaan gue yang sekarang. So, gue bingung harus bagaimana dengan perusahaan itu. Sedangkan Lo, dan papa juga tahu kan, bagaimana kondisi perusahaan itu. Jika gue biarin perusahaan itu, kasihan dengan para pegawai. Tapi jika gue yang lanjutin bisnis itu, gue yakin, bukannya membaik, tapi akan semakin buruk. " ujar Bryan.


" Terus, rencana Lo apa? " tanya Seno .


" Gue...gue udah bahas sama pipit juga, gue mau minta tolong sama elo. Juga sama papa. Kalian yang lebih paham soal bisnis. Bryan juga nggak tahu pa, harus kita apakan perusahaan itu. " Bryan memandang tuan Adiguna.


" Maksudnya, sekarang kamu mau papa bekerja lagi? Dasar anak nakal. " sahut tuan Adiguna.


" Siapa lagi? Daripada papa jadi pengangguran. " ujar Bryan.


" Ck. " Tuan Adiguna berdecak. " Gimana kamu El? Masih sanggup untuk mengurus satu perusahaan lagi? " tanya tuan Adiguna ke Seno.

__ADS_1


" Kalau El, biar lebih mudah mengurusnya, kita akuisisi perusahaan kamu biar jadi satu dengan perusahaan Adiguna. Tentu saja, perusahaan Lo, berada di bawah naungan Adiguna group. Tapi tetap berjalan di usaha yang sekarang. " usul Seno.


" Gue terserah aja. Mau lo akuisisi, mau Lo apakan, terserah elo aja. Gue bingung. " ujar Bryan.


" Gimana menurut papa? " tanya Seno meminta pertimbangan kepada masternya.


" Papa setuju aja. Nanti papa bantu untuk memulihkan kondisi keuangan perusahaan itu. " sahut tuan Adiguna.


" Oke, kalau gitu, bentar, gue minta pipit ambil semua berkas-berkasnya. " jawab Bryan. " Honey.." panggil Bryan.


" Iya. " Pipit berjalan mendekat. " Kenapa bang? "


" Tolong kamu ambilkan berkas-berkas yang dari paman kemarin. Kita serahkan sama ahlinya. " pinta Bryan.


" Oke. " jawab pipit lalu ia berlalu pergi ke kamar untuk mengambil berkas-berkas yang dari paman untuk di berikan ke Seno, kakak iparnya.


Setelahnya, Bryan memberikan map yang berisi berkas-berkas penting perusahaannya itu ke Seno. Dan setelah itu, mereka kembali berbincang-bincang hangat, hingga akhirnya ponsel Pipit berbunyi.


Pipit segera mengangkat panggilan itu setelah melihat siapa yang meneleponnya.


" Halo, assalamualaikum...." sapa Pipit.


" ...... "


" APA????" Pipit terlihat sangat terkejut.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2