
Kini semua kembali seperti semula. Setelah paman dan bibi Bryan sudah kembali ke Perancis, Pipit pun kembali ke rumah kakak iparnya. Sebenarnya hatinya terasa berat, tapi ia berusaha melawannya. Tidak hanya Pipit yang merasa berat saat harus berpisah kembali. Tapi Bryan juga. Ia merasa tidak rela jika Pipit harus kembali ke rumah sahabatnya.
Meskipun hanya dua hari satu malam mereka tinggal bersama, tapi hal itu akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan bagi keduanya.
Damar, setelah mendengar kenyataan pahit tentang pernikahan gadis yang ia cintai, merasa gusar. Apalagi saat ia ingin membicarakan hal ini dengan Pipit, tapi justru gadis itu menolak, bahkan tidak pulang ke rumah bosnya selama dua hari.
Bahkan setelah Pipit kembali ke rumah itu, ia juga masih sulit untuk berbicara dengan Pipit. Bahkan bertemu atau sekedar melihat saja susah. Ketika ia bertemu dengan Pipit, gadis itu seperti menghindar darinya.
Flash back on
" Hai... " sapa Damar.
" Bang Damar. " sapa Pipit balik sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kuliah nya.
" Mau berangkat kuliah? "
" Iya bang. "
" Saya antar ya? " Damar berusaha mencari kesempatan untuk berbicara dengan Pipit. Kalau ia bisa mengantar Pipit ke kampus, maka ia bisa berbicara saat perjalanan.
" Terima kasih banyak, bang. Nggak usah. Kan Pipit udah punya SIM sekarang. Pipit bisa kok pergi sendiri. " tolak Pipit dengan halus. Lalu ia segera membuka pintu mobilnya.
" Anda berubah sekarang, nona. " celetuk Damar dengan bahasa formalnya.
Pipit mengurungkan niatnya untuk naik ke dalam mobil. Ia membalikkan badannya menghadap ke Damar dan membiarkan pintu mobil itu tetap terbuka.
" Berubah bagaimana, bang? Pipit masih tetap sama kok. " sahut Pipit.
" Anda berubah, nona. Saya bahkan hampir tidak mengenali anda. "
Pipit mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Damar.
" Bang...Pi..."
" Anda tidak seperti biasanya, yang selalu membuat saya menjadi salah tingkah karena ucapan anda. " Damar memotong ucapan Pipit. " Saya merindukan anda yang dulu nona. Mungkin saya tidak pantas untuk merindukan nona. Tapi itu yang saya rasakan. Anda bahkan selalu menghindar dari saya. " lanjutnya.
" Bang, Pipit nggak pernah menghindar dari abang. Pipit memang lagi sibuk, bang. Jadi maaf kalau jadi terkesan Pipit menjauhi abang. "
__ADS_1
" Maaf nona. Sekali lagi saya mohon maaf. Tapi sekarang begitu susah untuk hanya sekedar bertemu anda. Sepertinya anda sedang sangat sibuk dengan urusan pribadi anda yang lain. "
Pipit kembali mengernyit. " Urusan pribadi? Urusan pribadi yang mana yang bang Damar maksud? Pipit bener-bener lagi sibuk kuliah bang. Hari ini aja, Pipit ada ujian 2 mata kuliah. "
Damar terlihat menghela nafas berat, " Lalu kemana Anda tiga hari yang lalu? Kenapa anda tidak pulang ke rumah selama dua hari? Dan terlihat tergesa-gesa saat saya ingin bicara dengan anda. "
" Bang... Waktu itu.." Pipit nampak agak bingung saat menjawab. " Maaf bang, waktu itu Pipit terburu-buru karena teman Pipit udah nungguin. Kita mau mengerjakan tugas kuliah bareng. Dan selama dua hari itu, Pipit menginap di rumah teman Pipit itu. " ujar Pipit beralasan.
" Bang, maaf... Pipit harus segera berangkat kuliah. Jam 8 Pipit ada ujian soalnya. " pamit Pipit memotong pembicaraan Damar.
" Maaf nona, kalau saya telah mengganggu waktu anda. Silahkan nona. " Damar mempersilahkan dengan raut wajah datarnya.
Pipit segera masuk ke dalam mobil. Dia harus buru-buru karena memang ada ujian pagi. Selain itu, ia juga memang ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan Damar.
" Maafin Pipit ya bang, karena harus bohong sama bang Damar. " ucap Pipit sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar dari pekarangan rumah. Dan Damar terlihat masih memperhatikan mobil Pipit sampai mobil itu hilang dari pandangannya.
Flash back off
Semenjak saat sandiwaranya dengan Bryan, sikap Pipit ke Damar memang agak berubah. Ia sedikit menjauh. Entah karena apa, yang pasti ia merasa bersalah dengan Bryan, dan juga dengan hatinya sendiri saat ia hanya sekedar bertegur sapa dengan Damar.
Karena merasa waktu ia tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari mulut Pipit langsung, akhirnya Damar berusaha mencari tahu sendiri. Ia bertanya ke beberapa teman kerjanya yang sering ikut Seno bepergian. Tapi hasilnya nihil. Ia tidak mendapatkan apa-apa.
Jarang sekali Damar mengajaknya berbicara. Sudah hampir satu bulan Imel berada di rumah kontrakannya, tapi Damar hanya mengajaknya berbicara beberapa kali. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa saja, Damar enggan.
" Baru pulang, mas. " sapa Imel ketika melihat suaminya membuka pintu rumahnya. Tak ada jawaban dari mulut Damar.
" Imel udah siapin peralatan mandi, juga baju ganti buat mas Damar di kamar. Mas mau Imel buatin minum apa? " tanya sang istri dengan lembut.
Damar masih enggan menjawab. Ia berdiri lalu masuk ke dalam kamar. Hari ini moodnya sedang buruk.
Mendapati perlakuan seperti itu kembali, hati Imel terasa perih. Tapi ia tetap berusaha untuk tegar dan kuat demi anak yang sedang ia kandung. Anak dari hasil jamu ibu Damar. Bahkan semenjak malam itu, Damar tidak pernah lagi menyentuhnya.
Imel membuatkan minuman untuk Damar dan di bawa ke kamar. Sampai di kamar, saat ia meletakkan gelas di atas meja, Damar masuk ke dalam kamar juga setelah selesai mandi.
" Minumnya mas. " tawar Imel. Tak ada jawaban. Imel menarik nafas dalam-dalam. " Mas Damar mau makan apa? Imel siapin. "
" Hah! " Damar menghela nafas kasar. " Bisa diam nggak sih. " teriaknya. " Berisik tahu! Saya ini sedang pusing. Sedang banyak pikiran. Jangan nambah-nambahi pikiran saya. " lanjutnya masih dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
Hati Imel terasa makin perih. Setelah berhari-hari Damar tidak berbicara dengannya kecuali hanya berdehem, sekarang giliran berbicara, malah meneriakinya. Air mata Imel menetes.
" Maaf mas. Imel hanya bertanya. " ucapnya di sela-sela tangisannya sambil menunduk dan meremas tangannya.
" Nggak usah pakai nangis. Bisa kan? " teriak Damar kembali dengan suara yang semakin keras, membuat Imel sedikit mundur karena terkejut.
" Saya paling tidak suka melihat seorang perempuan menangis. Jadi hapus air mata kamu."
Imel segera mengusap air matanya yang terus menetes. " Maaf mas. Imel hanya ingin mas Damar bicara sama Imel. " ucapnya perlahan.
" Saya tidak suka berbicara sama orang yang tidak begitu saya kenal. Jadi jangan memaksakan diri untuk mendekati saya. Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi kamu harus terima siapa saya, dan bagaimana saya. "
" Sampai kapan mas? Sampai kapan mas Damar akan bersikap seperti ini? "
" Sampai kapanpun. "
Imel mengangkat sebentar kepalanya, lalu menunduk kembali saat melihat mata Damar yang memerah karena amarah.
" Maaf mas. Jika memang mas Damar tidak bisa menyukai Imel, kenapa mas Damar menerima pernikahan ini? "
" Kamu pikir saya punya pilihan lain, saat orang tua kamu meminta saya menjadi suami kamu untuk membalas jasa mereka? Kamu pikir saya masih punya kesempatan untuk menolak saat undangan sudah tersebar? " ucap damar masih dengan suara yang tinggi.
Deg
Jantung Imel terasa mencelos saat mendengar omongan suaminya. Jadi suaminya ini benar-benar terpaksa menikahinya.
" Maaf mas. " ucapnya perlahan.
Damar hendak keluar dari kamar saat Imel berkata, " Tapi tolong, setidaknya, ingat mas. Ada anak kamu, darah daging kamu dalam rahimku. "
" Bukankah anak itu juga keinginanmu dan orang tuamu. Saya ini hanya sebuah alat untuk mengabulkan keinginan keluargamu. " jawab Damar , lalu ia segera pergi dari rumah, dan malam itu, ia tidak pulang sampai beberapa hari.
Selama ia tidak pulang ke rumah, Damar masih tetap mencari tahu tentang pernikahan Pipit dan dokter Bryan. Dan akhirnya, ia mendapatkan informasi dari Rezky, yang entah bagaimana ia bisa mendapatkan informasi ini.
***
bersambung
__ADS_1
Bonus lagi..double up lagi yah ...jadi othor minta tolong nih ke semua reader setianya othor, bantuin nambah viewer dong ..kasih tahu teman, saudara, sahabat, dll buat dukung karya othor ini ..🙏🙏
Lope Lope sekarung selalu 😘😘