
Tok ...tok....tok...
Ceklek
Ibu membuka pintu.
" Pak ustadz sudah sampai sini Bu. " Seno memberitahu.
" Iya. Sebentar ibu bawa Pipit keluar. " jawab ibu. Dan Seno mengangguk, lalu kembali ke ruang tamu untuk menemani Bryan.
" Welcome to our family, bro. " ucap Seno saat ia sudah duduk di sebelah Bryan. " Selamat bergabung di keluarga bahagia kami. Selamat mempunyai istri yang keras kepala dan bandel. Bahkan calon istri lo lebih keras kepala ketimbang bini gue. " bisik Seno.
" Gue pasti mampu menempa biar nggak terlalu keras. " sahut Bryan.
" El...Bry...." panggil seseorang yang baru tiba di depan pintu. Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah datangnya suara.
" Mama ...Papa..."
" Om...Tante...."
Ternyata tuan Adiguna dan Nyonya Ruth datang ke rumah ibu Pipit juga. Seno dan Bryan terkejut dengan kedatangan kedua orang tua itu. Sedangkan semua orang yang ada di rumah itu, dan beberapa orang yang berada di luar rumah terkejut, kok tiba-tiba ada seorang bule lagi yang datang ke tempat itu .
Nyonya Ruth menyelonong masuk ke dalam rumah dan mengangkat tasnya tinggi-tinggi.
Plok
Nyonya Ruth memukul Bryan dengan tas brandednya.
Plok
Kini ganti Seno yang mendapatkan gaplokan dari tas yang harganya puluhan juta itu. Seno dan Bryan sama-sama meringis.
" Ma...kenapa mama sampai sini? Papa juga. " tanya Seno sambil menggosok lengannya yang terasa pedas.
" Kalian berdua anak-anak nakal memang. Kenapa ada kejadian seperti ini tidak mengabari papa sama mama hem? Sudah tidak menganggap orang tua ini, iya? " ujar Nyonya Ruth menggebu-gebu.
" Anak ini juga. Kenapa kamu bisa di gerebek warga? Mama seharusnya setuju kamu jadi mantu mama, tapi bukan begini caranya. Nggak elegan banget cara kamu. " kini ganti Bryan yang kena semprot.
" Maaf Tante. Sebenarnya ini salah paham. Kejadiannya tidak seperti itu. " bela Bryan.
" Iya, mama tahu. Eh, panggil mama. Jangan Tante. Kamu bentar lagi jadi suami anak gadis mama. "
" Yes, mam. "
__ADS_1
" Mama sama papa kok bisa tahu ada kejadian ini? " kini Seno yang bertanya, karena sedari tadi ia sudah sangat kepo.
" Kamu lupa, siapa papamu ini? " sahut tuan Adiguna berbangga diri.
" Ilih, paling di kasih tahu sama Armell. " decih Seno.
" Udah tahu nanya. " sahut sang papa.
" Loh, tuan Dion. " sapa pak kades saat melihat Dion masuk ke dalam rumah dengan hebohnya. " Silahkan duduk, tuan. " pintanya. Pak kades mempersilahkan Dion untuk masuk dan duduk di tempatnya duduk tadi.
" Kakak kenal sama dia? " tanya Seno ke Dion. Tapi Dion menjawab dengan mengendikkan bahunya.
" Tentu saja beliau mengenal saya. Saya juga mengenal baik beliau. Beliau ini kan yang punya perkebunan teh di pegunungan sana. Luas tanahnya berpuluh-puluh hektar. Warga sini banyak yang bekerja di sana. Lewat saya tentu saja. " sahut pak kades.
" Oh iya sampai lupa. Tuan Dion kok bisa datang ke tempat ini, ada apa? " tanya pak kades. " Oh, pasti mencari saya tentunya. Maaf tuan, saya sedang menyelesaikan masalah sedikit. Ada sedikit kerikil di masa pemerintahan saya. Biasa tuan, perbuatan asusila sebelum menikah. " jelas pak kades panjang lebar.
" Maaf, pak kepala desa yang terhormat, tapi saya tidak sedang mencari anda. Saya kesini hanya mengantar bos besar saya saja. Sang pemilik perkebunan teh yang anda bicarakan tadi. " jawab Dion yang membuat pak kades menganga.
" Bos besar? Maksudnya? Tanah itu sudah anda jual begitu tuan? "
" Saya tidak pernah menjual tanah pak. Karena semenjak awal, tanah itu memang milik keluarga Adiguna. Besan dari ibu Ani. Mertua dari nona Armell kalau anda masih bingung. Saya hanya sekedar membantu menjalankan bisnis tuan besar saja. " jelas Dion lebih lanjut.
Pak kades menatap Dion, lalu Seno, dan tuan Adiguna bergantian sambil melongo. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Ia telah salah memilih musuh. Bagaimana ia bisa menang melawan seorang Adiguna dalam mengambil putri Bu Ani.
" Loh, besan....kok...." sapa ibu Pipit ke besannya ketika beliau keluar dari dalam dengan menggandeng Pipit.
Nyonya Ruth langsung memeluk Bu Ani dan Pipit bergantian.
" Mama..." sapa Pipit saat Nyonya Ruth memeluknya.
" Kamu jangan sedih. Jangan menangis. Pernikahan itu harus di awali dengan senyuman biar nantinya bahagia. Lama kelamaan, mama yakin kalian akan bisa saling mencintai dan mengisi. Kalau dia nakal sama kamu, bilang aja sama mama. " ujar nyonya Ruth sambil menatap tajam ke arah Bryan, membuat Bryan menelan salivanya susah payah. " Biar mama jewer. " lanjutnya.
Pipit mengangguk dan sedikit tersenyum.
" Apa semua sudah siap? " tanya ustadz Soni.
" Sudah, pak ustadz. " jawab ibu Pipit. Beliau menuntun Pipit berjalan mendekat ke Bryan dan mendudukkannya di sebelah Bryan.
Entah saat ini Bryan harus bahagia, atau bersedih. Bersanding dengan gadis ABG di sampingnya ini, adalah keinginannya. Tapi pernikahan macam ini, sama sekali ia tidak menginginkannya. Jantungnya berdetak kencang saat Pipit duduk tepat di sebelahnya, mengenakan kebaya ala kadarnya dan bibir yang di poles tipis.
" Siapa yang akan menjadi wali nikahnya? " tanya pak ustadz Soni.
" Saya. " jawab saudara laki-laki dari alm bapak Pipit.
__ADS_1
" Baiklah, kita mulai. " ujar pak ustadz. " Mas...." lanjutnya terpotong karena belum tahu nama Bryan.
" Bryan. " sahut Bryan.
" Nama panjangnya sekalian mas. Biar nanti saat ijab kabul tidak salah. "
" Bryan Merryll Ernest. "
" Mas...Briayan, di tulis saja namanya...Susah gitu namanya euy... "
" Brayen, pak ustadz. Bukan Briyan. " Bryan membenarkan pengucapan pak ustadz. Lalu ia menuliskan nama lengkapnya di kertas yang di sodorkan oleh pak ustadz Soni.
" Baiklah, mas Briyan... "
" Brayen...Not Briyan. " ujar bryan tidak terima.
" Oh, maaf, maklum lidah orang Sunda mah suka kaku kalau nyebutin nama. Mas Brayen...Apa sudah di siapkan mas kawin atau mahar pernikahannya? "
Bryan mengangguk.
" Kasih mas kawinnya jangan asal-asalan Bry. " protes tuan Adiguna.
" Om tenang saja. Meskipun saya tidak sekaya si mantan polisi ini, tapi saya pastikan tidak asal dalam memberikan mahar untuk calon istri saya. " sahut Bryan dengan yakin.
" Silahkan anda sebutkan maharnya mas, biar nanti paman Pipit bisa segera menikahkan kalian. "
" Mahar dari saya untuk Pipit adalah biaya kuliah kedokteran di universitas terkemuka di Jakarta sampai ia menyandang gelar dokter, dan sebuah mobil. " ucap bryan.
Mahar yang di sebutkan Bryan itu sontak membuat semua warga yang ada di rumah itu terkejut. Begitu juga dengan Pipit dan ibunya. Tapi tidak dengan tuan Adiguna, nyonya Ruth, juga Seno. Tuan Adiguna dan Nyonya Ruth nampak menyunggingkan senyumnya. Bahkan Seno berdecak sedikit kesal karena mas kawin yang Bryan berikan untuk Pipit lebih besar daripada mas kawin yang ia berikan untuk Armell ketika mereka menikah dulu.
" Bang bule serius mau kasih mahar itu? " tanya Pipit. Dan Bryan menoleh lalu mengangguk.
" Bang, setahu Pipit, nggak ada orang yang kasih mahar segede itu di sini. Jadi, nggak usah bang bule kasih mahar segitu gedenya. Masalah kuliah, Pipit bakal usaha sendiri. " bisik Pipit di sebelah Bryan.
" Setelah hari ini, kamu akan jadi tanggung jawab aku. Jadi kalau kamu mau kuliah, aku yang akan membiayai kuliah kamu. " bisik Bryan menjawab ucapan Pipit.
" Ck. " Pipit berdecak kesal. " Ganti aja lah mas kawinnya. Yang standar aja. Uang 500rb sama cincin, gitu aja. "
" Dasar bocah. Aku nggak mau ya, kamu di ledek sama tetangga kamu yang udah gerebek kita tadi. Aku mau tunjukin ke mereka, kalau kamu itu sangat berharga. Lagian kalau kamu minta cincin, kamu tahu sendiri, aku belum membelinya. Nanti kalau kita udah balik ke Jakarta, aku beliin kamu cincin 10 biji. Biar semua jarimu ada cincinnya semua. " jawab Bryan sambil berbisik.
Pipit akhirnya diam tidak bisa memprotes lagi.
***
__ADS_1
bersambung