
Sudah empat hari Bryan, Pipit, Armell juga Seno berada di kampung halaman sang ibu. Hari ini mereka harus segera kembali ke ibukota karena Bryan mendapat telepon dari rumah sakit. Ada pasien emergency yang harus segera di operasi, dan yang di percaya oleh pihak rumah sakit adalah bryan. Karena pasien itu adalah salah satu anggota dewan dan kebetulan mempunyai saham juga di rumah sakit itu. Jadi mau tidak mau, mereka harus pulang hari ini juga.
Ibu nampak berusaha baik-baik saja saat anak-anaknya berpamitan. Beliau berpesan kepada Pipit, " Pit, tinggallah di rumah suamimu. Bagaimanapun juga, nak Bryan sudah sah menjadi suamimu. Sudah sepantasnya kamu merawatnya, menyiapkan segala kebutuhannya, karena itu adalah tugas seorang istri. Jangan sampai menjadi istri durhaka. Seorang istri yang di benci oleh Allah. "
Pipit terdiam tanpa mampu berkata apa-apa. Jujur, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia tinggal dengan laki-laki yang ia sendiri belum tahu, apakah ia mencintainya atau tidak.
Itulah pesan sang ibu untuk Pipit. Berbeda lagi dengan pesan sang ibu untuk Armell.
" Jaga rumah tanggamu dengan baik. Sayangi mertua kamu seperti kamu menyayangi ibu. Sayangi juga suamimu seperti kamu menyayangi diri kamu sendiri. Jaga anak kamu dengan baik. Didik dia menjadi anak yang berguna dan membanggakan. " ucap beliau.
" Iya Bu. " jawab Armell.
Lalu setelah memeluk kedua anaknya, kini ibu berhadapan dengan kedua menantunya. Beliau menepuk pundak Bryan dan Seno bersamaan.
" Ibu titip putri-putri ibu ya. Jaga mereka dengan baik. Sayangi mereka seperti kalian menyayangi diri kalian sendiri. Jangan sungkan untuk mengingatkan putri-putri ibu jika mereka melakukan kesalahan atau suatu hal yang tidak pantas. " ucap ibu.
" Iya Bu. " jawab Bryan dan Seno bersamaan.
" Nak Seno, ibu juga titip cucu ibu. Jaga dia dan didik dia dengan baik. " ujar sang ibu kepada Seno.
" Nak Bryan, bersabarlah menghadapi putri kecil ibu ya. Ibu yakin, dia akan membuka hatinya untukmu. " ucap ibu ke Bryan sambil menampilkan seulas senyuman.
" Satu lagi, ibu minta, segeralah resmikan pernikahan kalian secara hukum. " lanjut ibu sambil menatap Bryan.
" Iya Bu. Secepatnya Bryan akan segera mengurus surat-surat untuk mendaftarkan pernikahan kami di KUA. " jawab Bryan sambil tersenyum.
" Bimbing istri-istri kalian menjadi istri yang Sholehah. " Lanjut sang ibu.
Di belakang ibu, Armell dan Pipit malah sudah bercucuran air mata. Entah mengapa, perpisahan dengan ibu kali ini terasa sangat berat.
" Ibu selalu jaga kesehatan ya. Kami akan sering-sering datang kemari. " ucap Armell. Ia lalu memeluk kembali sang ibu, dan di susul oleh Pipit.
" Sudah...sudah...kalian berangkatlah sekarang. Biar sampai rumah tidak kemaleman. " ujar sang ibu sambil mengelus punggung kedua putrinya. " Salam buat tuan Adiguna dan jeng Ruth ya. "
Armell mengangguk.
__ADS_1
" Kami pulang dulu Bu. " pamit Pipit. Ibu mengangguk dan tersenyum.
Lalu mereka keluar dari rumah. Setelah sampai pekarangan rumah, Bu Ani kembali mencium kedua pipi baby Dan yang sedang dalam gendongan Daddy-nya. " Dada sayang...." ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Mereka masuk ke dalam mobil. Bryan masuk ke belakang stir dan pipit duduk di sampingnya. Seno, Armell dan baby Dan duduk di jok belakang. Perlahan, mobil itu berjalan meninggalkan ibu yang masih mengamati mereka di depan gerbang.
" Kalian jangan bersedih seperti ini. Kita akan sering-sering berkunjung kemari untuk menjenguk ibu. " ujar Seno yang melihat Armell juga Pipit masih menangis bahkan setelah mobil telah jauh meninggalkan desa ibu.
Pipit mengangguk. Bryan menoleh sekilas, lalu menggenggam erat tangan kanan Pipit untuk memberi semangat. Pipit segera menghapus air matanya dengan tangan kirinya, lalu menoleh ke arah Bryan dan tersenyum hangat.
Sedangkan di belakang, Seno merangkul bahu istrinya dengan sebelah tangannya, karena sebelah tangannya lagi memegangi Danique yang sedang tertidur.
" Baby, jangan terlalu bersedih, oke. Ibu pasti baik-baik saja. " ucap Seno lalu mencium puncak kepala Armell.
Armell yang sedang meletakkan kepalanya di dada Seno, mengangguk pelan.
" Bang, Pipit mau minta ijin. Setelah pulang nanti, Pipit mau pindah ke rumah mama. Boleh? " tanya Pipit ke Bryan.
Bryan tersenyum bahagia mendengar pertanyaan Pipit. Ia langsung mengangguk, " Tentu saja boleh. Mama pasti akan sangat senang jika kamu tinggal di sana. " ujar Bryan.
Bryan senang saat Pipit berkata akan tinggal di rumah besar keluarga Adiguna. Paling tidak, Pipit tidak akan terlalu sering bertemu dengan saingannya, yaitu Damar.
" Permintaan yang mana bang? "
" Mengurus pernikahan kita secara hukum. " jawab Bryan.
Pipit menunduk sambil meremas kedua tangannya. Ia masih bingung untuk hal ini. Ia belum yakin dengan perasaannya. Dan ia juga belum yakin tentang kesungguhan Bryan. Masa iya seorang dokter sukses, bule lagi, tampan, keren, kaya, benar-benar mau dengan dirinya yang hanya berasal dari kampung. Sedangkan Bryan sudah terlalu banyak mengenal perempuan dari segala kalangan. Itulah yang Pipit bingungkan akhir-akhir ini.
" Pipit....Pipit...."
" Jangan di jawab sekarang. Pikirkan dulu. Abang juga pengen secepatnya karena ibu yang meminta. " potong Bryan pada akhirnya.
Dan jawaban Bryan tadi, agak membuat hati Pipit terasa perih.
" Kita akan bicarakan lagi hal ini saat pikiran dan suasana hati kamu sudah membaik. "
__ADS_1
Pipit mengangguk. Lalu ia menghadap ke belakang.
" Bang, Pipit mau minta ijin sama bang Seno, sama mbak Mell untuk pindah ke rumah mama, boleh? "
Seno tersenyum dan mengangguk. Begitupun dengan Armell.
" Tentu saja kamu boleh pindah ke rumah mama. Itu juga rumahmu. " jawab Seno. " Mama pasti bakalan seneng banget denger kabar ini. "
" Kapan kamu akan pindah ke rumah mama? " tanya Armell.
" Secepatnya mbak. Mungkin besok. " jawab Pipit. Ia memang ingin segera pindah. Jika ia masih tinggal di rumah Seno, hatinya akan selalu bimbang saat melihat Damar. Pipit ingin fokus dengan hatinya. Supaya ia bisa benar-benar melihat pernikahannya.
" Nanti biar Abang kasih tahu mama dulu. Kalau kita tidak kasih tahu dulu, mama pasti bakalan marah-marah. Kamu tahu kan, ribetnya mama tuh kayak apa. " ujar Seno. Dan Pipit mengangguk.
" Besok ke rumah mama, sore aja. Abang yang antar. " ujar Bryan.
" Iya. Pipit tungguin Abang aja. " jawab Pipit. Dan jawaban Pipit, kembali membuat Bryan tersenyum lebar. Sepertinya sang istri sudah mulai nurut sama dia. Dan pintu hatinya akan segera terbuka lebar untuknya.
🧚
🧚
" Sayaaaanggggg..... Akhirnya kamu mau tinggal di sini nemenin mama sama papa..." sambut nyonya Ruth dengan girangnya mendapati kedatangan Pipit. Beliau begitu bahagia. Ia langsung memeluk tubuh Pipit.
" Ayo sini duduk. " ajak beliau. " Bryan, kamu bawa tuh koper Pipit ke lantai dua. Kamar kamu. " lanjutnya.
Pipit mengernyit saat mendengar Nyonya Ruth mengatakan kamar Bryan.
" Nggak usah bingung, dan nggak usah khawatir. Bryan memang punya kamar sendiri di rumah ini. Tapi karena sekarang dia udah nggak mau tidur di sini semenjak punya duit sendiri, kamar itu di pakai kamu aja. " ujar nyonya Ruth sambil melirik sinis ke Bryan.
" Ma...." protes Bryan.
" Apa? Mau protes? Emang kayak gitu kan? Udah, buruan bawa naik sana. Mama udah bersihin kamarnya. "
Bryan hanya bisa terdiam. Karena memang seperti itu keadaannya. Ia memang sudah sangat jarang menginap di rumah itu. Apalagi semenjak Seno juga punya rumah sendiri. Tapi sekarang, karena sang istri tercinta tinggal di sini, ia pasti akan sering-sering ke rumah ini lagi. Bryan segera naik ke lantai dua, sedangkan Pipit masih asyik bercengkrama dengan nyonya Ruth.
__ADS_1
***
bersambung