Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Everything is oke


__ADS_3

" Honey...." seru Bryan sambil meraih tubuh lemah Pipit dari dekapan Roy. Roy melepas dekapannya ke tubuh Pipit kala mereka telah sampai bawah.


" A...bang..." suara lirih dan lemah dari Pipit terdengar.


" Honey...." Bryan membawa Pipit ke dalam pelukannya. Ia duduk di lantai sembari memeluk erat tubuh lemah istrinya.


" Ma...afin...Pi...pit..a...bang..." ujar Pipit kembali terbata sambil meraih rahang keras suaminya. Lalu tiba-tiba pandangan Pipit semakin menggelap. Iapun memejamkan matanya erat.


" Honey....hey ..wake up honey ..." seru Bryan saat tangan Pipit yang tadi meraba rahangnya terjuntai lemah dan mata Pipit tertutup rapat.


" Dia tadi mengeluh perutnya sakit, dok. " ucap Bastian karena Roy sudah di bawa temannya ke basecamp untuk di obati lengannya.


Bryan mengecek denyut nadi Pipit dari pergelangan Pipit lalu meraba perut Pipit. Sepertinya Pipit mengalami kram perut, bukan mau melahirkan menurut Bryan. Karena posisi kandungan masih di atas.


Bryan segera mengangkat tubuh Pipit dan dengan segera ia berlari membawanya ke mobilnya. Naomi yang sedari tadi panik di dekat Bryan, kini ikut berlari mengikuti Bryan. Sampai di dekat mobil, Bryan menyuruhnya mengambil kunci mobil yang ada di saku celananya bagian belakang.


" Naomi, cepat ambil kunci mobilnya di saku belakangku. " pinta Bryan kala melihat Naomi mengikutinya.


Naomi mengangguk dan segera mengambil kunci yang menyempil di saku celana Bryan. Setelah mengambil kunci itu, Naomi berinisiatif langsung menekan tombol open untuk membuka kunci pintu mobil. Setelahnya, ia membuka pintu belakang kemudi dan membiarkan Bryan membawa Pipit masuk ke dalamnya.


" Sebentar, pak dok. Naomi ikut ke rumah sakit. Naomi naik dulu ke mobil, biar kepala Fitria di pangku sama Naomi. " ujar naomi. Ia lalu mengitari mobil dan membuka pintu yang sebelah. Lalu dengan segera ia naik ke dalam mobil.


Dengan perlahan, Bryan merebahkan tubuh istrinya di atas jok mobil dan Naomi segera membawa kepala Pipit ke pangkuannya.


" Tolong, jaga istriku. " pinta Bryan. Naomi mengangguk.


Bryan segera masuk ke bagian kemudi dan segera menghidupkan mesin mobilnya. Sambil mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkir kampus, Bryan memasang bluetooth dan menghubungi seseorang dari ponselnya.


" Halo dokter Ratna. Tolong bersiaplah. Aku akan membawa istriku ke rumah sakit sekarang. "


" Istrimu mau melahirkan? " tanya dokter Ratna.


" Tidak. Dia pingsan setelah melakukan sesuatu yang ekstrim. Aku rasa dia mengalami kram perut dan dehidrasi. Dua puluh menit lagi aku sampai sana. " ujar Bryan lalu ia mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan kurang dari dua puluh menit, mobil yang di kendarai Bryan sudah terparkir di area parkir rumah sakit. Dengan segera ia keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang. Mengangkat tubuh lemah istrinya perlahan, lalu meminta Naomi untuk mengunci mobilnya.


Dengan segera, Bryan menggendong tubuh istrinya dan di bawa ke UGD. Di sana, terlihat dokter Ratna dan asistennya sudah menunggu. Bahkan suster Kalila juga ikut menunggu di sana.


Ketika melihat Bryan datang, sekuriti yang bertugas di UGD segera mendorong brankar kosong dan di bawa ke depan UGD. Bryan merebahkan tubuh lemah istrinya di atas brankar saat ia sudah di dekat UGD. Bryan, sekuriti, Naomi dan seorang suster segera mendorong masuk brankar itu masuk ke dalam UGD.


Asisten dokter Ratna langsung menutup pintu saat brankar yang membawa Pipit masuk ke dalam ruangan khusus. Naomi menunggu di luar ruangan dan Bryan mengikuti istrinya masuk.


Tanpa berkata apa-apa dulu, dokter Ratna segera memeriksa denyut nadi dan tekanan darah Pipit. Lalu memeriksa kandungan Pipit dengan USG. Sedangkan asisten dokter Ratna segera memasang selang infus di tangan kiri Pipit. Bryan dengan wajah yang masih panik menunggui sambil memegang tangan kanan Pipit erat.


" Bagaimana? " tanya Bryan kala melihat dokter Ratna selesai memeriksa istrinya.


" Everything is oke. Seperti yang kamu duga, istrimu mengalami kram perut di perut bagian bawah, mungkin karena dia tegang. Dan dia lemah dan lemas karena dehidrasi dan kehilangan banyak tenaga. Dia harus bedrest untuk beberapa hari ke depan. Sampai tubuhnya kembali fit. " jelas dokter Ratna.


" Lalu bagaimana dengan baby kami? "


" Anak kalian baik-baik saja. Kondisinya tetap bagus. Dan tidak ada tanda-tanda melahirkan dini juga. "


" Kali ini apalagi yang di inginkan anak kalian? Hingga mommy nya seperti ini? "


" Panjat tebing. " jawab Bryan datar.


" Apa? Panjat tebing? Amazing. " ucap dokter Ratna sambil menggelengkan kepalanya. " Baiklah, segera bawa istrimu ke ruang perawatan. Kami sudah menyiapkannya. " lanjutnya.


Bryan hanya mengangguk sambil tetap menatap istrinya yang masih memejamkan matanya karena masih dalam keadaan pingsan. Oh, bukan pingsan saudara-saudara. Pipit saat ini tengah tertidur lelap karena ia sangat capek. Kalau tadi mungkin benar ia pingsan. Tapi tadi dia sudah sadar tapi matanya enggan terbuka.


Setelah selesai memasang infus, asisten dokter Ratna di bantu oleh suster Kalila membawa Pipit keluar dari ruangan tadi dan di bawa ke ruang perawatan. Naomi masih setia mengikuti kemana Pipit di dorong. Bahkan ia masih diam, belum berani bertanya kepada suami sahabatnya itu bagaimana keadaan sahabat baiknya itu.


Pintu sebuah ruangan VVIP terbuka lebar dan brankar Pipit pun di dorong masuk. Dengan perlahan, Bryan mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya ke atas ranjang pasien yang ada di ruangan VVIP itu.


" Terimakasih banyak suster Ayu. Terima kasih banyak juga suster Kalila. " ucap Bryan saat ia sudah merebahkan tubuh istrinya di ranjang dan menyelimuti tubuh Pipit.


" Sama-sama dok. " jawab suster ayu dan suster Kalila bersamaan.

__ADS_1


" Kami permisi dulu jika begitu dok. " pamit suster Kalila.


Bryan hanya mengangguk, lalu ia duduk di kursi di sebelah ranjang pasien. Ia menggenggam erat tangan istrinya, lalu mengecup punggung tangannya berkali-kali. Perlahan, Naomi mendekat.


" Ba..gaimana keadaan Fitria, dok? " tanya Naomi dengan takut. Ia bahkan tidak berani menatap wajah suami sahabatnya itu. Ia lumayan takut akan kena semprot karena tidak bisa menjaga sahabatnya itu.


" Dia sudah sadar tadi. Tapi sekarang dia sedang tidur. Dia baik-baik saja. Dia hanya dehidrasi dan mengalami kram perut. " jawab Bryan sambil menatap dan membelai wajah istrinya. Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di pipi istrinya.


" Oh, Alhamdulillah...Naomi minta maaf ya pak dok. Naomi tidak bisa menjaga Fitria dengan baik "


Bryan mengulas senyum tipis, " Tidak apa-apa. Bukan salah kamu. Itu karena dia mengikuti keinginan baby kami saja. " jawabnya.


" Jika kamu mau pulang, pulanglah. Aku akan menjaganya. Sudah sore juga. " ucap Bryan.


" Ah iya, mobil kamu pasti masih di kampus ya? Aku akan meminta tolong seseorang untuk mengantarmu kembali ke kampus untuk mengambil mobilmu. " lanjut Bryan.


" Pak dokter bule tidak usah khawatir. Saya sudah menelepon seseorang untuk membawa mobil saya kesini. Tapppiii......" Naomi seolah takut untuk melanjutkan kata-katanya.


" Tapi apa mi? " tanya Bryan sambil menatap wajah Naomi.


" Tapi... seseorang itu adalah Rrrroy...." ucap Naomi dengan susah payah. Bahkan ia sudah sangat menundukkan kepalanya. Ia takut jika Bryan tiba-tiba marah karena menyuruh Roy yang notabenenya adalah mantan pacar istrinya datang ke rumah sakit.


" Roy? "


" I-iya. Mohon maaf sebelumnya dok. Tadi dia menghubungi saya saat Fitria masih di UGD. Ia memaksa saya untuk memberitahunya di mana Fitria di rawat. "


Bryan terdengar menghela nafas panjang. " Tidak apa-apa. Aku juga belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Kau ajaklah dia kemari. " ucap Bryan.


Naomi hanya menganggukkan kepalanya. Bryan sudah kembali membelai lembut pipi Pipit dan memandangnya penuh cinta. Sebenarnya Naomi agak sungkan dan agak tidak enak berada di sana, tapi dia mau kemana jika tidak di sana. Akhirnya Naomi memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di seberang ranjang sambil menunggu Roy tiba.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2