
Pipit kini sudah kembali ke rumah. Setelah kemarin selama 24 jam tinggal di rumah sakit, kini ia sedang berada di depan meja makan, sedang melahap rakus makan malam yang tadi sempat di persiapkan oleh sang suami.
" Masakan abang emang the best.." puji pipit sambil mengacungkan dua jempolnya setelah ia menghabiskan makan malamnya.
" Thank you, my little wife. " sahut Bryan sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Little wife yang bisa buat angkrem little baby. " sahut Pipit kembali.
" Ha...ha...ha..." tawa bahagia terdengar dari kedua mulut sepasang suami istri itu.
" Abang besok masuk kerja? " tanya Pipit.
" Hm. Hari ini tadi aku sudah ijin honey. Jadi besok aku harus masuk. " sahut Bryan lalu meminum segelas air mineral. Sedangkan Pipit, Bryan sudah membuatkannya susu hamil.
" Abang, boleh nggak mulai besok Pipit nggak minum susu hamil lagi? " tanyanya sambil menatap malas segelas susu hamil rasa vanila yang ada di depannya itu.
" Kenapa? Hem? "
" Bosen. Lagian dedeknya juga udah sehat. Berat badannya juga udah memenuhi syarat. Entar kalau masih minum susu terus, dedeknya kebesaran, jadi susah di keluarinnya. " rengek Pipit.
Bryan tersenyum mendengar rengekan manja sang istri. " As you wish, honey. Mulai besok, tidak ada susu hamil lagi. Tapi kamu harus tetap memperhatikan makananmu. No sauge, no micin, jajanan yang di jalanan, singkirkan jauh-jauh. " sahut Bryan.
" Iya, om dokter. " sahut Pipit.
Bryan berdiri, lalu mengacak rambut Pipit dan mengambil piring kosong yang ada di hadapan Pipit, membawanya ke wastafel.
" Susunya itu di minum dulu. " ucap Bryan.
" Ck. " Pipit berdecak dan Bryan tersenyum sambil memandang gemas sang istri yang nampak malas-malasan menghabiskan susunya.
Susu di gelas itu terasa lama habis menurut Pipit. Dan rasanya semakin tidak enak menurutnya.
" Huek..." Pipit seraya ingin muntah saat susu itu kandas dari gelas dan berpindah ke dalam perutnya.
Bryan terkekeh, lalu mendekati Pipit, mengecup puncak kepalanya dan mengambil gelas kosong yang ada di hadapan istrinya untuk ia letakkan di dalam wastafel supaya bisa di cuci oleh asisten rumah tangga mereka.
__ADS_1
" Abaaanggg...." panggil Pipit manja.
" Kenapa? " tanya Bryan halus.
" Gendong. " rengeknya sambil membuka kedua tangannya lebar.
Bryan tersenyum, lalu mendekat, " oke, my big baby. "
Bryan mengangkat tubuh Pipit dan menggendongnya ala bridal. Karena tidak mungkin ia menggendong istrinya model koala. Karena perut buncit istrinya tentu saja.
" Berat ya bang? " tanya Pipit sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan.
" Nope. " sahut Bryan mantap. Meskipun berat badan Pipit naik delapan kilo, tapi tubuh Pipit tetap terasa ringan bagi Bryan. Malah Bryan merasa tubuh istrinya masih lebih berat barbel yang biasa ia gunakan untuk olahraga.
" Mau langsung ke kamar, apa mau nonton TV di ruang tengah? " tanya Bryan.
" Mmmm....Mau di kamar sambil nonton TV, terus juga sambil meluk abang. " jawab Pipit sambil tersenyum manis.
" Oke, honey. Let's going up stair. " ujar Bryan. Ia merasa senang dengan perubahan sikap Pipit dua hari ini. Istrinya itu begitu manja. Bryan berdoa semoga esok hari, istrinya itu tidak kembali berulah.
" Open the door honey. " pinta Bryan saat mereka sudah berada di depan pintu kamar mereka. Dengan senang hati, Pipit memutar kenop pintu dan mendorong pintu agak kencang supaya pintunya terbuka lebar. Lalu setelah Bryan masuk ke dalam, ia menutup pintu kamar itu dengan salah satu kakinya.
" Mau nonton apa? "
" Mau nonton...." Pipit menjeda omongannya. Lalu ia mengangkat kepalanya dan berbisik kepada suaminya yang membuat mata suaminya terbuka lebar. " Boleh? " tanyanya.
Bryan langsung menggeleng tegas. " Tidak baik seorang perempuan hamil nonton film yang itu. Nanti bisa-bisa anak kita jadi orang nggak bener. " ucapnya sambil mengelus perut buncit istrinya.
" Lalu mau nonton apa? "
" Mmm....Gimana kalau nonton Mulan saja. Bukankah kamu suka film-film Walt Disney? " Bryan menawarkan.
Akhirnya Pipit menganggukkan kepalanya. Bryan segera mensearching film berjudul Mulan dari TB androidnya.
Sambil menunggu sang suami mencari film itu, tangan Pipit mulai berulah. Ia meraba seksi dada bidang suaminya. Saat tangannya mulai meraba ke bawah, Bryan segera mencekalnya.
__ADS_1
" Honey...No. " ucap Bryan sambil menatap manik mata coklat istrinya.
" Abang nggak suka ya Pipit ajakin enak-enakan? Apa karena Pipit hamil, jadi Abang nggak naf** lagi sama Pipit? Tubuh Pipit jadi gemuk ya? " ucap Pipit dengan wajah sedihnya.
" No...honey...Bukan seperti itu. Aku justru sangat menyukai dan selalu tergoda dengan perut buncitmu itu. Kamu terlihat semakin sek**. Bahkan aku selalu siap kapanpun kamu menginginkannya. Tapi honey, kita harus ingat dengannya. " Bryan menjeda omongannya sambil kembali mengelus perut istrinya. " Kasihan dia kalau kita terlalu sering bercinta. Bukankah semalam kita sudah? Bahkan tadi siang juga sudah. Kita harus sedikit menjedanya honey. "
" Tapi Pipit juga nggak tahu kenapa, tiap ngelihat abang, Pipit langsung pengen. " ucap Pipit lirih.
Bryan menghela nafasnya perlahan. " Mungkin sekarang baby kita mau di manja sama Daddy-nya. Kalau bulan-bulan kemarin dia nggak mau ketemu sama Daddy-nya, sekarang dia selalu ingin bertemu dengan Daddy-nya. Tapi, aku minta sama kamu, honey. Cobalah untuk meredam keinginan itu. Kita akan melakukannya besok. Dan kita akan melakukannya satu kali sehari. Not more, oke? " pinta Bryan sambil memberi pengertian ke istri kecilnya.
Akhirnya ia mengangguk, dan kembali mengeratkan pelukannya. Bryan mengecup puncak kepalanya, lalu kembali mencari film berjudul Mulan.
Setelah ketemu film yang di cari, Bryan membiarkan sang istri menonton dengan kusyuk. Ia hanya mengeratkan pelukannya dan Pipit menyandarkan kepalanya di dada bidang Bryan. Sesekali Bryan mengecup puncak kepala Pipit dan membelai lembut rambutnya.
Selang beberapa lama, belaian lembut di rambut Pipit terasa berhenti. Pipit yang menyadarinya, langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya. Pipit tersenyum kala melihat mata sang suami yang sudah terpejam.
Pipit mengangkat tangan kirinya, dan mengelus lembut rahang tegas milik suaminya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
" Kasihan suami buleku. Abang pasti kecapekan ngurus aku. Semalam Abang kurang tidur. Tadi siang juga nggak sempat istirahat. Udah gitu, hati dan pikiran Abang juga pasti capek. Harus kerja, harus menjaga Pipit, harus ngerawat Pipit, belum lagi kalau Pipit bikin ulah. Abang pasti sangat lelah. Maafin Pipit ya bang...Pipit udah nyusahin abang banyak. " ujar Pipit sambil mengelus rahang dan pipi Bryan pelan dan lembut. Lalu ia mengecup sekilas rahang kokoh milik suaminya itu.
Perlahan, Pipit mengambil remote TV yang ada di pangkuan suaminya. Ia mematikan televisi, lalu mengganti lampu kamar dengan lampu nakas.
" Bang....Abang...." panggil Pipit lembut sambil mengelus pipi Bryan untuk membangunkannya.
" Hmm..." sahut Bryan tapi matanya masih tertutup.
" Abang, posisi tidurnya di benerin dulu yuk. " ajak pipit lembut.
Bryan membuka matanya perlahan yang masih terasa berat. " Udah selesai filmnya? Maaf aku ketiduran. " ucapnya dengan suara serak.
" Nggak apa-apa Abang. " sahut Pipit sambil menepuk punggung tangan Bryan perlahan. Lalu Bryan membenahi bantal yang ada di belakang badan Pipit lalu menatanya kembali ke ranjang seperti semula. Kemudian ia menata bantalnya sendiri.
Lalu mereka merebahkan tubuh bersama. " Sini, Abang peluk. " pinta Bryan.
Pipit tersenyum, lalu mendekatkan tubuhnya ke suaminya, tidur miring sepertinya sangat nyaman untuk ibu hamil besar seperti dia. Ia tidur menghadap suaminya, berbantalkan lengan sang suami, sambil tangan sang suami melingkar di atas pinggang dan perut seksinya.
__ADS_1
***
bersambung