
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya Pipit sampai di komplek apartemen Bryan. Setelah memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Bryan, Pipit segera naik ke atas ke apartemen Bryan.
Setelah menaiki tujuh lantai, Pipit keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kamar suaminya dengan sedikit tergesa-gesa. Saat sampai di depan pintu apartemen Bryan, tanpa ragu lagi Pipit segera memencet angka-angka yang ada di depan pintu dan membukanya.
Benar seperti yang di khawatirkan Pipit sedari tadi, Abang bulenya sedang duduk dengan tidak nyaman bersama sang bibi di meja makan. Entah kemana sang paman, Pipit juga belum tahu. Bryan nampak pucat sembari meremas kedua tangannya. Pipit yakin, trauma yang pernah di alami Bryan sedang kambuh.
Perlahan, Pipit berjalan mendekat sambil menarik nafas dalam-dalam.
' Siapkan mental dan fisik, Pit. Kamu harus bisa berakting sebagus dan senatural mungkin. Ya Allah, bantulah hambamu ini. Amin. ' batin Pipit menyemangati dirinya sendiri.
Setelah memanjatkan doa singkatnya, Pipit berjalan agak cepat untuk menghampiri.
" Bang..." panggil Pipit.
" Pipit..." Bryan memanggil nama Pipit dengan terkejut dan mengernyitkan dahinya karena ia tidak tahu jika Pipit akan datang ke apartemennya.
Pipit menampilkan senyum termanisnya ke arah Bryan. " Maaf, sayang. Aku tidak segera menyapa paman dan bibi. " ucap Pipit sambil mengerlingkan matanya memberikan isyarat ke suaminya.
Tapi Bryan masih nampak belum mengerti maksud dari Pipit. Akhirnya, Pipit kembali mendekati Bryan, bahkan sangat dekat. Kemudian mengecup pipi sebelah kanan milik Bryan, dan memeluk Bryan dari belakang dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan yang masih duduk di kursi.
Bryan bahkan sangat terkejut dengan perlakuan Pipit ini. Ia sampai mematung.
" Ayo kita bersandiwara sebagus mungkin di depan bibi dan paman abang. Biar mereka tahu, abang nggak sendiri lagi. " bisik Pipit.
Kedua sudut bibir Bryan tersungging tipis mendengar ajakan dari istri kecilnya.
" E khem. " Bryan sedikit berdehem. " No problem, honey. " ujar Bryan.
Sedangkan di seberang meja, ada seorang wanita paruh baya tengah menatap mereka dengan penuh tanda tanya.
" Siapa dia? " tanya bibi Bryan menggunakan bahasa Perancis tentu saja.
__ADS_1
( Tapi maaf, karena othor tidak bisa bahasa Perancis, jadi tetap pakai bahasa Indonesia aja ya...Kalian bayangin aja kalau percakapan mereka dalam bahasa Perancis..ðŸ¤ðŸ˜„😄)
" Dia..."
" Oh, perkenalkan, bibi. Saya istrinya dokter Bryan. " Pipit segera memotong kata-kata yang akan terucap dari mulut Bryan dengan menggunakan bahasa Perancis juga tentunya. Pipit mengulurkan tangannya ke bibi Bryan yang sedari tadi menatap Bryan penuh makna.
Sang bibi menyambut uluran tangan Pipit dengan sangat tidak ikhlas. " Benar, dia istrimu? "
" Iya, bibi. Dia istriku. Cantik kan? " jawab Bryan sambil merangkul pundak Pipit dan berusaha untuk meyakinkan bibinya itu. Ketakutan dan trauma yang sedari tadi ia rasakan, kini seolah menguap begitu saja setelah kedatangan tak terduga seorang Pipit.
" Sayang, kenapa kau hanya menyuguhi bibi secangkir kopi? " ujar Pipit. " Maaf bibi, atas kekurang sopanan kami dalam menyambutmu, juga paman. Apa bibi butuh sesuatu? " tanya Pipit.
" Tidak, terimakasih. " jawab bibi seadanya. Tapi dengan tatapan tetap fokus ke Bryan. " Bryan, kau hutang penjelasan kepadaku. " lanjutnya.
" Penjelasan apa bi? "
" Aku ini bibimu. Wali sahmu ketika orang tuamu meninggal. Kenapa kamu menikah tidak memberitahuku? "
" Diam kamu. " bentak si bibi. " Aku tidak bicara denganmu, anak kecil. " tambahnya.
Pipit tersenyum jengah. Ia menyedapkan kedua tangannya. " Anak kecil? Hah. Meskipun aku ini anak kecil, tapi aku sudah bisa membuat si kecil si kecil yang lucu. Benar begitu kan sayang? " ujar Pipit, lalu ia bergelayut manja di lengan Bryan yang sudah dalam posisi berdiri di sebelahnya.
" Jangan sombong dulu anak kecil. Sebelum kamu menjamah tubuhnya, aku sudah menjamahnya terlebih dulu. " ledek si bibi sambil mengerlingkan sebelah matanya ke Bryan.
Kata-kata itu, mampu membuat tubuh Bryan membeku. Tangannya mengeluarkan keringat dingin. Pipit yang merasakan perubahan dalam tubuh Bryan, segera meraih tangannya, lalu menggenggamnya. Berusaha memberikan kekuatan kepadanya.
" Bibi, anda hanya menjamahnya bukan? Tapi aku sudah merasakan seluruh tubuhnya. Bahkan anggota tubuhnya yang paling ia sembunyikan, aku sudah merasakannya. Apa bibi tahu rasanya? Wow...Sangat luar biasa. Bibi pasti bisa membayangkan bukan? Betapa hotnya permainan ranjangnya hanya dengan melihat tubuh seksinya? " celoteh Pipit panjang lebar.
Kali ini, Bryan terkekeh pelan mendengar ucapan istrinya dan wajah kesal sang bibi. Ketakutan yang tadi ia rasakan menguap begitu saja setelah tangan kecil istrinya menggenggam tangannya.
" Bahkan saat pertama kali kami melakukannya, aku sampai tidak bisa berjalan. " lanjut Pipit sambil pura-pura mengingat betapa hebatnya malam pertama mereka.
__ADS_1
Nampak sang bibi mengepalkan tangannya erat. " Huh. Tidak usah sok pamer. Kamu yakin kalian sudah melakukannya? " ledek sang bibi.
' Oh, dasar Mak lampir. Mau memanas-manasi keadaan? Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu semakin kebakaran jenggot ya. ' batin Pipit sambil menampilkan senyum smirknya.
" Bibi tidak percaya? Akan aku tunjukkan betapa hebatnya ciuman kami. " ujar Pipit sambil tersenyum menyeringai.
Pipit segera menarik kepala Bryan, lalu berjinjit untuk meraih bibir seksi Bryan. Tanpa basa-basi lagi, Pipit menyatukan bibirnya dengan bibir Bryan. Bryan, tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka yang datang dengan sendirinya.
Bryan agak merendahkan kepalanya, meraih tengkuk Pipit, lalu memperdalam ciuman mereka. Bahkan Pipit langsung tersentak kaget saat Bryan mulai mel*mat pelan bibirnya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dia sendiri yang memulai segalanya, maka ia harus menanggung resikonya.
Jantung Pipit yang semula baik-baik saja, kini saat ia merasa Lum***n lembut bibir Bryan, berdegup kencang tak menentu. Ia bahkan meremas kemeja Bryan bagian dada. Tak kalah beda dengan Pipit, Bryan juga merasa jantungnya hampir meledak. Belum pernah ia merasa detakan jantung yang begitu hebat kala berciuman dengan lawan jenisnya. Ia biasanya hanya sekedar mencium dan mel**** tanpa ada getaran apapun.
Pipit kini bahkan mampu mengimbangi permainan Bryan yang sepertinya sudah sangat mahir dalam hal berciuman. Ia membalas semua perlakuan manis Bryan. Sepertinya ini bukan bagian dari sandiwara yang sedang mereka rencanakan. Karena Pipit terlihat begitu menikmatinya. Entah apa yang akan terjadi ketika ia selesai dengan kegiatannya saat ini.
Sedangkan di hadapan mereka, sepasang mata menatap dengan tatapan kesal, mata memerah dan tangan mengepal. Siapa lagi kalau bukan sang bibi. Rencananya kali ini gagal total. Ia semula merayu sang suami dengan berbagai macam cara supaya sang suami mau membawanya datang ke Indonesia . Ia berencana akan merayu keponakan seksinya. Ia bertekad harus mendapatkan keponakannya kali ini apapun yang terjadi. Ia harus mendapatkan tubuh Bryan lebih tepatnya. Tapi apa yang ia dapatkan setelah berada di Indonesia. Ia malah mendapati kenyataan keponakan tersayangnya itu sudah beristri dan lebih gilanya 6, istrinya itu gila. Itulah yang di pikirkan sang bibi kali ini.
" Huh .. "
" Hah... "
Bryan dan Pipit menyelesaikan kegiatan panas sore mereka dengan meraup udara sebanyak-banyaknya. Kegiatan saling melu*** tadi menghabiskan pasokan udara yang masuk ke dalam tubuh mereka.
Senyum tipis terbit dari sudut bibir Bryan ketika melihat tatapan tajam dari Pipit. Ia yakin, setelah ini ia akan mendapatkan semburan lahar panas dari gunung berapi. Bryan mengulurkan tangannya untuk mengusap seputar bibir Pipit karena bibir itu basah oleh salivanya. Bibir itu nampak sedikit membengkak, tapi justru terlihat semakin menggoda di mata Bryan.
Pipit menampilkan senyum termanisnya kembali saat Bryan mengusap bibirnya. " Bagaimana bibi?Apa bibi percaya sekarang, bagaimana hubungan kami? " ejek Pipit yang kembali menggelayut manja di lengan Bryan.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, sang bibi segera meninggalkan mereka berdua di dapur.
***
bersambung
__ADS_1