
Merasa ia ingin segera memberikan pengalaman baru untuk istrinya, Bryan beranjak dari tubuh Pipit, dan membuka celana boxernya.
" Astaghfirullah haladzim.... Subhanallah....." jerit Pipit dengan suara melengking.
" Kenapa sayang? Ada apa? " tanya Bryan dengan tampang polosnya dan masih memegang boxer yang tadi ia lepas.
Pipit merubah posisinya. Ia yang tadi telentang, kini ia memiringkan tubuhnya sambil meringkuk menutupi bagian bawahnya dan matanya.
" Hei, ada apa honey? Kenapa kok di tutup semua " tanya Bryan kembali. Ia kembali naik ke atas ranjang dan telah membuang boxernya ke sembarang arah.
" Pipit takut bang. " jawab Pipit masih sambil menutup matanya.
" Takut? Takut kenapa? Aku belum ngapa-ngapain loh ini. "
" Peliharaan Abang udah menjelma jadi ular piton. Ular piton abang gede pisan. Mana panjang banget lagi. Mana muat di masukin ke kandangnya Pipit. " seru Pipit.
Sontak Bryan memandang peliharaannya yang menurut Pipit seperti ular piton itu. Bryan mengernyit. Ia juga heran, kenapa peliharaannya jadi menjelma ular piton. Bener Pipit bilang kalau ular pitonnya panjang dan besar. Padahal seingatnya, peliharaannya hanya akan bertambah panjang dan besar sedikit saja.
Tapi kenapa saat berhadapan dengan istrinya, peliharaannya itu menjelma jadi segini panjang dan besarnya. Bryan jadi berpikir, benar juga apa yang di bilang istrinya. Mana muat kalau di masukkan ke kandang istrinya. Sedangkan istrinya itu masih sangat muda dan belum tersentuh sama sekali.
Tapi tak berselang lama, Bryan menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana dia berpikir seperti itu.
' Bodoh sekali kamu Bryan. Bukankah kandang istrimu itu elastis? Kamu ini dokter kok bisa-bisanya tidak tahu masalah ini. ' batin Bryan.
" Honey, pasti muat. Kandang kamu kan elastis. "
" Siapa bilang? Kandang Pipit kecil loh bang. Sedangkan ular piton Abang Segede itu. Pipit takut. "
" Percaya sama aku. Pasti muat. Aku ini seorang dokter loh honey. Kamu juga calon dokter. Masak kamu nggak tahu kalau milik perempuan itu elastis. Bisa membesar dan mengecil secara otomatis. "
Pipit membuka matanya dan sedikit menoleh ke arah Bryan yang sedang memeluk perutnya dari belakang sambil menggesek-gesekkan ular pitonnya di pinggang Pipit.
" Pasti sakit banget bang entar kalau abang masukin tuh ular piton. "
" Semua perempuan virgin pasti merasakannya, honey. Memang sakit. Tidak aku pungkiri itu. "
" Tapi kalau punya Abang segede itu, sakitnya pasti luar biasa. "
" Honey, mau besar mau kecil peliharaannya, kalau masuk untuk pertama kali, sakitnya sama semua. Nggak ada yang yang lebih sakit jika peliharaannya gede. Justru bagi perempuan, akan senang dan bangga kalau peliharaan suaminya itu panjang, gede lagi. " jelas Bryan.
Pipit malah bergidik.
" Ayolah sayang...Ular pitonku sudah nggak sabar. " desak Bryan.
" Tapi Pipit takut bang. " sahut Pipit dengan wajah memelas.
__ADS_1
" Honey, kemana keberanianmu yang kemarin-kemarin itu? Bukankah dari kemarin kamu mau dapet yang cash? Sampai-sampai kamu selalu menggodaku. Sekarang saat aku mau kasih cash, kamu malah takut. "
" Ya kan kemarin Pipit nggak nyangka kalau peliharaan abang bener-bener jadi ular piton. Pipit pikir paling kayak cacing. "
" Hei, kamu pikir bagaimana bisa peliharaanku hanya sebesar cacing? Aku menghidupinya dan merawatnya puluhan tahun. Dia tidak akan mengecewakanku. Juga tidak akan mengecewakanmu. Ayo dong yang .." rengek Bryan.
Pipit tidak menjawab. Ia masih nampak berpikir.
" Sayang, aku akan memasukkannya pelan-pelan, aku janji. Pasti tidak akan terlalu sakit. " pinta Bryan.
" Kalau sakit gimana? "
" Kan kita belum coba. Makanya, ayo kita coba dulu. Aku akan memasukkan kepalanya terlebih dulu. Jika sakit, aku akan menghentikannya sebentar. " ujar Bryan sambil menarik tubuh Pipit sehingga ia kembali telentang.
" Beneran ya, jangan di paksa kalau sakit? " pinta Pipit dengan masih agak ngeri.
Bryan mengangguk sambil membuka kedua kaki istrinya lebar-lebar. Sebelum mencoba memasukkannya, Bryan kembali memberikan stimulus ke Pipit karena setelah kegiatan mereka terjeda karena istrinya yang ketakutan, akan membuat bagian bawah istrinya menegang dan tidak mengeluarkan pelumasnya.
Setelah merasa cukup memberikan stimulus, karena terlihat Pipit kembali bergai***, secara perlahan Bryan mengarahkan kepala ular pitonnya ke kandang istrinya tanpa melepas pagutan mereka.
Slep
" Aaaaaaaaa ........." teriak Pipit kencang sekali. " Stop baaaangggg....SAKIIIIIT....." teriaknya kembali.
Bryan berhenti seketika. Tapi belum mengeluarkan kepala ular piton yang bahkan baru masuk bagian matanya.
" Sakit bang. Pasti udah Abang masukin semua. "
" Belum, honey. Kalau kamu tidak percaya, lihat saja. " sahut Bryan sambil mengangkat tubuhnya sehingga sang istri bisa bangun dan melihat ke bawah.
Pipit benar-benar menengok ke bawah. Ternyata benar yang Bryan bilang, ia baru memasukkannya sedikit. Bahkan darah kepera****nya saja belum menetes. Tapi kenapa dia sudah merasa sakit?
" Tapi kok udah sakit bang. Baru masuk segitu aja udah sakit. Gimana kalau badannya yang Abang masukin? "
" Ya memang begitu, honey. " jawab Bryan.
" Ada nggak sih bang caranya biar nggak sesakit itu? Abang kan dokter nih, pasti tahu dong caranya mengurangi rasa sakitnya. Jadi Pipit juga ngerasain enaknya. Bukan cuma Abang doang. "
Bryan diam nampak berpikir. Kira-kira apa yang bisa dia lakukan untuk mengurangi rasa sakit itu. Selang beberapa saat, ia menemukan sebuah ide. Perlahan ia mencabut kembali ular pitonnya dan beranjak dari atas tubuh istrinya untuk menuju ke almari.
" Abang mau ngapain? " tanya Pipit.
" Sebentar. " jawab Bryan sambil ia terus mencari benda pusaka yang dulu sering ia gunakan di dalam kantong-kantong tasnya. Sudut bibirnya menyinggung saat ia menemukan satu buah benda pusaka yang masih tersisa.
Lalu ia membawanya ke dekat sang istri. Ia membuka bungkusnya. Pipit yang sedari tadi memperhatikan benda itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Apa itu bang? " tanyanya saat Bryan hendak memakainya.
" Ini namanya pengaman honey. Kalau aku pakai ini, pasti akan berkurang rasa sakitnya karena pengaman ini, mempunyai pelumas yang lumayan banyak. " jelas Bryan sambil terus memasukkan benda pusaka itu untuk membungkus ular pitonnya.
" Pengaman??? Abang bule mau malam pertama sama istri sendiri, sedia begituan? " tanya Pipit.
" Nggak sayang. Ini tadi sisa. "
" Sisa? Sisanya Abang pakai kalau lagi sama perempuan-perempuan nggak jelas dulu? " tanya Pipit tajam. Kali ini hatinya terasa nyeri membayangkan jika suaminya sering melakukan apa yang mereka lakukan tadi dengan perempuan lain. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.
Mendapati pertanyaan macam itu, Bryan menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke arah istrinya. Melihat mata istrinya yang berkaca-kaca, Bryan menjadi serba salah.
" Honey, bukan gitu. " Bryan ingin mencoba menjelaskan, tapi ia tidak tahu harus berbicara apa. Karena memang benar kalau benda itu adalah sisa saat dia masih suka bermain dengan perempuan-perempuan tidak jelas itu.
" Pipit nggak mau. Pipit nggak mau abang pakai itu. Pipit jijik. " sentak Pipit.
" Honey, ini bukan bekas siapa-siapa. Ini masih baru. Aku saja baru membukanya. " bela Bryan.
" Tapi Pipit tetap nggak mau. Abang dulu pakai itu biar nggak bersentuhan langsung dengan perempuan-perempuan yang nggak jelas itu. Abang takut menabur benih di sana. Kalau sekarang abang pakai itu sama Pipit, abang anggap Pipit ini apa? Abang menyamakan Pipit seperti mereka? Pipit kan istri Abang. Kenapa Abang nggak mau bersentuhan sama Pipit? Kenapa Abang nggak mau menabur benih di Pipit? " cerca Pipit menggebu-gebu.
Bryan kembali mengusap wajahnya kasar. " Tidak seperti itu honey. Aku hanya ingin mengurangi rasa sakit kamu. Aku tidak ada maksud lain. Justru aku lebih suka jika melakukannya tanpa ini. Aku akan sangat merasa puas jika kulitku bisa bersentuhan dengan kulitmu. "
Pipit menatap mata biru milik Bryan dengan sedikit iba. " Kalau gitu, Abang pikirin cara lainnya asal jangan pakai itu. Pipit nggak mau. " ucap Pipit pada akhirnya.
Bryan menghela nafas lega. Ia kembali berpikir. Beberapa saat, ia kembali mendapatkan ide. Ia melihat jam di dinding. Pukul 12 lebih. Apa masih ada apotik buka malam-malam begini? tanyanya dalam hati. Ah, aku harus memastikan. Di mall dan di hotel semewah ini, pasti ada apotik jaga yang buka 24 jam. batinnya.
Bryan melepas benda pusaka yang membungkus ular pitonnya. Lalu ia kembali memakai boxer beserta kaos oblongnya. Lalu ia mengambil celana pendek selutut dari dalam tasnya dan memakainya.
" Abang mau kemana? Abang marah ya sama Pipit? Mau mau ninggalin Pipit di sini? Abang tega ya. " ucap Pipit dengan mata kembali berkaca-kaca.
Bryan menghampiri istrinya, lalu menutup tubuh polos istrinya menggunakan selimut. " Di tutup dulu, biar peliharaanku tidak terus menegang. Boxernya jadi sempit kalau dia tegang terus. " bukannya menjawab pertanyaan Pipit, Bryan malah berkelakar.
" Abang mau kemana? Pipit tanya..." seru Pipit.
Bryan duduk di sebelah Pipit dan mengecup kening istrinya sekilas. " Aku mau turun ke bawah, cari apotik dulu. Cari sesuatu yang bisa mengurangi rasa sakitmu nanti. " jawab Bryan.
" Tapi jangan lama-lama. Kalau Abang kelamaan, Pipit bisa ketiduran. Abang tahu sendiri kan, Pipit kalau tidur gimana. "
" He em. Aku akan cepat kembali. " jawab Bryan lalu mengecup kening Pipit kembali.
Setelah itu, ia beranjak berdiri dan keluar dari kamar.
***
bersambung
__ADS_1
Setengah dulu MPnya....🤣🤣🤣🤣 Pasti pada ' yaaaa kok bersambung sih??? Di PHPin lagi deh....' ya nggak? Ya nggak?
Sabar guys .... sebentar lagi unboxing nya juga kelar....🤣🤣🙏🙏