
" Seno....Sen....." teriak Bryan memanggil manggil sahabatnya.
" Masuk rumah bukannya assalamualaikum dulu kek....Malah teriak-teriak nggak jelas. " protes Seno yang baru turun dari lantai dua.
Saat itu Bryan sudah duduk di sofa dan Damar berdiri di sebelahnya. Bryan nampak tak acuh mendengar protesan dari Seno.
" Lo lupa, Lo itu adik ipar gue. Manggilnya pakai kak kan keren tuh. Panggil nama...nggak sopan. " tambah Seno sambil menghenyakkan pantatnya di sofa.
" Ogah. Sebelum Lo jadi kakak ipar gue, lo tuh sobat gue. Musuh gue kalau gue pengen berantem. Teman adu mulut gue. " sahut Bryan dengan santainya.
" Nggak pernah gue ngomong sama Lo tapi Lo nggak protes. "
" Sama. " sahut Bryan.
" Ck. " Seno berdecak.
" Eh, mending lo kasih ijin tuh sama Damar. Kasihan, istrinya udah mendekati hari melahirkan tapi dianya masih aja Lo suruh kerja. Kasih dia ijin biar nemenin bininya di rumah. "
" Istri kamu udah mau lahiran, Mar? " tanya Seno ke damar.
" Iya tuan. Kalau menurut dokter kandungannya, HPL nya satu minggu lagi. " jawab Damar.
" Ya udah, kamu pulang aja kalau gitu. Temani istrimu. Nanti kalau anak kamu udah lahir, baru kamu kerja lagi. " ujar Seno.
" Terima kasih banyak tuan. " sahut Damar.
" Oh iya Dam, kamu di kasih tahu sama dokter kandungan istri kamu nggak yang sebaiknya kamu lakukan menjelang persalinan istri kamu? "
" Di kasih tahu dok. Saya di suruh siaga. Kalau setiap saat perut istri saya sudah mulai mulas, saya di suruh langsung bawa ke rumah sakit. " jelas Damar.
" Ck. Bukan itu maksudku. Nih, istri kamu harus banyak gerak. Jalan-jalan di pagi hari itu sangat bagus. "
" Oh, itu. Dokter kandungannya sudah memberitahu itu. " jawab Damar.
" Satu lagi yang paling penting biar jalan lahir anak kamu gampang. Dia bakalan cepet lahirannya. "
" Apa itu dok? "
" Sering-seringlah menjenguk anak kamu. " sahut Bryan.
" Menjenguk anak saya dok? " tanya Damar dengan raut wajah bingung. " Bagaimana aku bisa menjenguk anakku kalau dia saja masih ada di dalam perut istriku? " gumam Damar.
" Dasar kamu. Polos banget, melebihi istriku. " ujar Bryan sambil tersenyum tipis. Dan Seno langsung tertawa terbahak-bahak mendengar gumaman Damar.
" Maksudku menjenguk anak kamu ya menjenguk di dalam kandungan ibunya. Masukin tuh ular sanca kamu ke kandang istrimu. " jelas Bryan sambil menunjuk bagian bawah Damar. Damar spontan melihat arah pandang Bryan. Dan setelah menyadari maksud Bryan, muka Damar memerah karena malu.
" Perempuan hamil itu kalau sudah mendekati hari kelahiran, lebih bagus kalau sering-sering di ajak berhubungan intim. Jadi kalau anak kamu mau keluar, jalan lahirnya cepat kebuka. " jelas Bryan. " Kalau kamu nggak percaya, tuh tanya sama yang sudah pernah mengalaminya. " lanjut Bryan sambil menunjuk Seno.
__ADS_1
" Bener tuh yang di bilang si mantan Casanova. Memang kamu harus lebih rajin jenguk anak kamu. " jawab Seno.
" Baik tuan. Terima kasih atas sarannya. " jawab Damar.
" Ya sudah, kamu mending segera pulang. Temani istrimu dan segera jenguk anak kamu. " ujar Seno.
" I-iya tuan. Kalau begitu, saya permisi. Kalau tuan atau non Armell butuh saya, langsung hubungi saya saja tuan. " pinta Damar.
" Hem. " sahut Seno.
Lalu Damar segera keluar dari dalam ruang keluarga rumah Seno.
" Tumben jam segini lo udah di rumah? Nggak praktek? " tanya Seno.
" Udah tadi pagi. " jawab Bryan.
" Bry, lo beneran nggak urus perusahaan Lo sendiri? Sekarang, kondisi perusahaan lo udah mulai stabil. Harga sahamnya di pasaran juga terus meningkat. " tanya Seno.
" Gue udah bilang berkali-kali sama Lo. Gue sama sekali nggak tertarik dengan bisnis. "
" Atau bini Lo. Biar dia belajar bisnis sambil kuliah. Bini lo kan pernah ikut kerja di tempat gue. Ya, meskipun cuma bentar, tapi dia cepet mengerti masalah bisnis. "
" Nggak. Gue nggak ijinin bini gue kerja. Dia kan nggak boleh capek-capek. " jawab Bryan.
" Ck. "
" Ya bahagia lah pastinya. Dia excited banget. " jawab Seno.
Bryan terdiam nampak berpikir. Tiba-tiba si Lilik menghampiri.
" Eh, ada pak dokter bule. Mau minum apa dok? " tanya Lilik.
" Wah, kebetulan juga aku belum minum. Bikinin aku teh hijau. " pinta Bryan.
" Siap, pak dokter. Kalau pak bos, mau minum apa? "
" Bikinin saya teh hangat tanpa gula aja. " jawab Seno.
" Siap, pak bos. Kalau begitu, saya kembali ke dapur dulu. Permisi. " Lilik hendak undur diri tapi tiba-tiba Bryan memanggilnya.
" Lik..."
" Iya, pak dokter bule. " sahut Pipit sambil membalikkan badannya.
" Kamu masih ada stok teman yang mau jadi asisten rumah tangga sekaligus jadi baby sitter nggak? " tanya Bryan.
" Mmmm.....Lilik kok belum ada pandangan ya dok. Memang buat siapa? "
__ADS_1
" Buat bantu-bantu di rumahku. Kasihan istriku kalau beres-beres rumah sendiri. "
" Oohhh, begitu. Baik pak dokter, saya akan coba menghubungi teman-teman saya di kampung. Siapa tahu ada yang minat. "
Setelah itu, lalu Lilik undur diri dari sana.
" Bini Lo dimana? "
" Ngapain lo nyari Armell? "
" Ada hal penting yang mau aku bicarakan. Dengan kalian berdua. " sahut Bryan.
" Ada apa uncle? " tanya Armell yang ternyata sudah ada di tangga terakhir sambil menggendong baby Dan.
" Panjang umur dia. " gumam Bryan. " Duduklah. Aku akan memberi tahu kabar penting kepada kalian. " pinta Bryan.
" Ada apa sih? Kayaknya penting banget. " ujar Armell setelah ia duduk di sofa sebelah suaminya.
" Gue mau kasih tahu, kalau Pipit..." Bryan menjeda omongannya sebentar.
" Dia hamil. " lanjutnya.
Seno dan Armell terlihat terkejut, tapi sesaat kemudian mereka berdua tersenyum.
" Selamat kalau begitu, my bro. Akhirnya kecebong lo jadi juga. " sahut Seno.
" Selamat uncle B...." ucap Armell sambil menggoyang-goyangkan tangan mungil milik baby Dan.
" Terima kasih. " jawab Bryan tapi dengan wajah yang sendu.
" Ngomong-ngomong, lo mau punya baby, tapi kenapa muka Lo kayak gitu? Oh iya, bini Lo mana kok nggak kesini. " tanya Seno sambil melongok ke depan.
" Itu dia masalahnya. Gue kesini mau minta tolong sama Armell. Mell, tolong kamu ngomong sama adik kamu. Tadi setelah aku kasih tahu dia kalau dia lagi hamil, dia langsung diam. Tidak ada raut wajah yang terbaca dari wajahnya. Aku jadi bingung sama dia. Apa dia lagi marah, atau seneng? Kamu kan kakaknya, siapa tahu dia bisa lebih terbuka sama kamu. " jelas Bryan.
" Kok bisa gitu? " tanya Seno.
" Sebenarnya Pipit kan belum pengen punya anak. Tapi gue udah pengen banget punya anak. Lo tahu sendiri umur gue sama kayak elo. Ya udah, tanpa bilang-bilang, aku semburin benih gue ke dia dan dengan sekali sembur, langsung jadi. "
" Berarti salah Lo sendiri. Siapa suruh asal tanam tanpa konfirmasi sama yang punya ladang. " sahut Seno asal.
" Mas..." Armell mencubit lengan Seno ringan, memperingatkan supaya tidak bercanda. Armell tahu, iparnya itu sedang benar-benar pusing.
" Uncle tenang aja, nanti Mell ke rumah. Nunggu si Danique di ajak sama mbak Siti dulu. " ujar Armell sambil tersenyum.
" Thank you so much. " jawab Bryan.
***
__ADS_1
bersambung