
Setelah makan siang bersama, Bryan membawa Pipit kembali ke apartemennya. Niat Bryan tadi ingin mengajak Pipit nge-date karena kebetulan, hari ini adalah weekend. Bryan merasa ingin mendekatkan diri dengan Pipit. Tapi ternyata, Pipit menolak mentah-mentah ajakan nonton dari Bryan.
" Masuk. " Bryan mempersilahkan Pipit masuk ke dalam apartemennya setelah ia membuka pintu apartemennya.
Pipit tidak langsung masuk ke dalam apartemen. Ia masih tetap berdiri di depan pintu sambil mengernyitkan dahinya.
" Ayo, masuk. " ajak Bryan kembali sambil menunjuk ke dalam apartemennya.
Pipit langsung menggeleng cepat. Bryan mengangkat sebelah alisnya, " Why? " tanyanya.
Pipit kembali menggeleng, " Tadi bang bule bilangnya kita kesini mau ambil mobil yang baru tadi. Nggak ada ceritanya bang bule ngajakin Pipit ke apartemen kayak gini. " ujarnya sambil memegang erat tali tas punggungnya.
" Ck. Kamu lupa, kita ini udah sah suami istri meskipun baru secara agama. Wajar kan, kalau suamimu ini mengajakmu ke tempat tinggalnya sekali-sekali. Biar kamu tahu, dimana suamimu ini tinggal. Toh, besok kamu juga bakalan tinggal di sini. " ujar Bryan. Ia menarik nafas sebentar. " Aku janji, aku tidak akan melakukan apapun. Kamu tidak perlu takut. " tambahnya.
Pipit masih tidak bergeming. Bryan kembali menghela nafas. Kali ini lebih panjang. " Aku hanya ingin kamu tahu dan mengenalku lebih dalam. Please.." pinta Bryan sambil kembali mempersilahkan Pipit masuk ke dalam.
Akhirnya Pipit menuruti untuk masuk ke dalam apartemen Bryan. Ia masuk perlahan, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan apartemen itu. Apartemen yang cukup luas dan bersih untuk ukuran seorang laki-laki yang tinggal sendirian. Ada dua kamar di dalam apartemen itu. Satu ada di bagian luar, dan satu lagi berada agak ke dalam. Pipit yakin, kamar yang berada di dalam itu pasti kamar Bryan.
" Duduklah. " pinta Bryan sambil menunjuk sofa yang berada di ruangan dalam. " Sebentar, aku harus ke kamar mandi dulu. " pamitnya.
Pipit duduk dan memperhatikan Bryan yang masuk ke dalam kamar. Benar dugaan Pipit, jika kamar yang berada di dalam itu adalah kamar Bryan. Setelah Bryan menghilang di balik pintu, Pipit kembali mengedarkan pandangannya. Ia melihat dapurnya juga bersih. Ada sebuah kompor tanam di sana, beberapa lemari kecil transparan yang isinya perabot makan dan beberapa alat masak, ada kulkas dua pintu berukuran besar di sebelah kompor.
Lalu Pipit berdiri, dia berjalan ke balkon karena tadi ia melihat sepertinya ada balkon di dekat dapur. Ia membuka pintu kaca yang menuju ke balkon. Wah, pemandangan yang indah. Di balkon itu, ada sederet tanaman hias yang membuat suasana balkon nampak asri. Ada dua kursi santai di sisi kanan dan kiri pintu, dan sebuah meja kecil. Pipit tersenyum sambil mendekati tanaman yang berjajar di sepanjang pinggir balkon. Pipit memegang lembut tanaman itu, mengirup bau wangi bunga yang ada di tanaman itu.
Ia pergi ke tepi balkon. Dari sana, ia bisa melihat ibukota dari atas. Melihat keramaian ibukota, mobil yang berlalu lalang di jalan raya terlihat kecil sekali dari atas balkon ini karena apartemen Bryan berada di lantai 25.
Bryan keluar dari dalam kamar, hendak menghampiri Pipit yang tadi duduk di sofa. Tapi ternyata, yang hendak dia hampiri tidak ada di sana. Bryan sudah berspekulasi jika Pipit meninggalkan apartemennya karena terlalu takut berada berdua saja dengannya di dalam apartemen.
Bryan melihat ke sekeliling, dan baru saja ia hendak keluar untuk mengecek mobil yang baru ia beli untuk Pipit tadi, ia melihat yang di cari-cari masuk kembali ke dalam dari arah balkon. Bryan menghela nafas lega.
" Yang ngurus tanaman itu, siapa bang?" tanya Pipit saat ia juga melihat Bryan hendak berdiri dari duduknya.
" Oh, aku yang urus. Siapa lagi? " jawab Bryan sambil berjalan menuju dapur. " Mau minum apa? Teh? Kopi? Coklat hangat? " tanyanya.
" Air putih aja lebih sehat. " sahut Pipit.
Bryan mengambil sebotol air putih dari dalam kulkas, dan sekaleng susu dengan gambar seekor beruang.
Setelah mengambil minum, Bryan menyusul Pipit yang sudah kembali duduk di sofa. Sebelum memberikan botol air mineral ke depan Pipit, Bryan membuka dulu label dan tutup botol biar istri kecilnya itu tidak kesusahan membuka tutup botol yang masih tersegel.
Pipit nampak sedang mengamati sebuah foto yang berada di atas meja kecil dekat sofa.
__ADS_1
" Foto siapa bang? " tanyanya ke Bryan.
Bryan menoleh ke arah foto yang di maksud oleh Pipit. " Mertua kamu itu. Mereka Daddy sama mommy aku. "
" Wah, mommy bang bule cantik, Daddy-nya juga kasep. Wajah Abang lebih mirip mommy-nya Abang. "
" Iya, banyak orang juga bilangnya gitu. "
" Mereka ada di Perancis sekarang? "
" Iya. Makam mereka ada di Perancis. " jawab Bryan usai menenggak susu kalengnya tadi.
" Jadi, orang tua Abang...sudah ..."
" Iya, mereka berdua sudah meninggal. "
" Maaf. Nggak seharusnya Pipit membuka kembali kesedihan Abang. "
" It's oke. Aku memang akan menceritakan semua kisahku kepadamu. Sebagai istriku, kamu berhak tahu tentang hidupku, keluargaku, juga masa laluku. " sahut Bryan. Bryan kembali menenggak minumannya. Lalu meletakkan kaleng susu itu ke atas meja.
" Orang tuaku, Gustav Beauford Ernest dan Ariestya Merryll Ernest meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil ketika usiaku masih 18 tahun. Aku seorang anak tunggal. Mommy adalah seorang dokter kandungan yang hebat di Perancis. Daddy mempunyai sebuah usaha yang lumayan besar. Ketika kecelakaan maut menimpa kedua orang tuaku, aku masih berada di sekolah menengah. " Bryan menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. Pipit nampak serius mendengarkan cerita Bryan.
Pipit jadi ikut hanyut dengan kisah hidup suaminya.
" Beruntung diriku mempunyai sahabat seperti Seno. Dia tahu tentang kisah berat hidupku. Setelah pamanku mengeluarkan aku dari rumah, Seno mengajakku tinggal di apartemennya. "
" Jadi abang bule sama bang Seno, sahabatan semenjak kuliah? "
Bryan mengangguk, " Iya. Meskipun kami tidak satu jurusan, tapi persahabatan kami sudah seperti saudara. Dia banyak membantuku. Sambil kerja part time, dan tabungan yang di tinggalkan oleh mommy untukku, aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari yang seharusnya. Jadi aku bisa selesai kuliah berbarengan dengan Daddy-nya Danique. "
Bryan sedikit tersenyum, " Om dan Tante Adiguna juga begitu baik kepadaku. Setelah selesai kuliah, mereka mengajakku tinggal dengan mereka di Indonesia. Mereka memberiku kerja di rumah sakit tempatku kerja sekarang. Rumah sakit itu, om Adiguna mempunyai saham terbesar. Sebelum aku bisa membeli apartemen ini, aku tinggal di rumah mereka. Jadi, bagiku, mereka adalah orang tua keduaku. "
" Pantas saja papa sama mama terlihat begitu sayang sama abang. Lalu, apa paman dan bibi Abang tahu kalau sekarang Abang ada di Indonesia? "
Bryan mengangguk. " Mereka tahu. Bahkan ketika mereka tahu kalau sekarang hidupku berkecukupan, mereka datang kemari dan meminta uang. Usaha Daddy yang berada di tangan paman tidak berjalan lancar. Paman tidak bisa mengurusnya dengan baik. Pabrik itu bangkrut. Sekarang tinggal rumah peninggalan orang tuaku yang tersisa. "
" Apa abang pernah pulang ke Perancis? "
" Setiap tahun baru, aku selalu pulang ke Perancis, untuk menengok makam kedua orang tuaku. Sesekali aku pulang ke rumahku yang sekarang di tinggali paman dan keluarganya. " saat mengatakan hal itu, kedua mata Bryan sempat berkaca-kaca.
" Abang, kalau bercerita malah membuat bang bule bersedih, mending nggak usah cerita. " ujar Pipit sambil menggenggam tangan Bryan. Entah keberanian dari mana yang membuat Pipit berani memegang tangan suaminya.
__ADS_1
Bryan tersenyum sambil menggeleng, " Aku akan menceritakan semuanya. " Bryan menggenggam tangan Pipit yang berada di atas tangannya dengan sebelah tangannya.
Akhirnya Pipit mengangguk.
" Aku akan menceritakan kisah cintaku. Ah...bukan kisah cinta sebenarnya. Karena selama ini aku tidak pernah mencintai mahluk yang di sebut perempuan. "
" Oh ya? Tapi Abang suka gonta-ganti pasangan. "
" Kamu benar. Aku memang suka berganti pasangan. Dan sudah lama itu terjadi. Mmmm....aku harap, kamu tidak makin illfeel terhadapku jika aku berterus terang. "
" Berterus-terang lebih baik dari pada di bohongi. "
" Oke, aku akan melanjutkan. Aku sering berganti pasangan semenjak aku masih kuliah. "
" Jadi abang udah nggak perjaka dari jaman masih kuliah? "
Bryan mengangguk.
" Wah, Abang sudah mengambil berapa perawan kalau sudah dari jaman kuliah. Sudah berapa tahun itu. " seru Pipit sambil geleng-geleng kepala.
" Aku belum pernah melakukannya dengan seorang perawan. Jadi aku belum pernah mengambil keperawanan seseorang. "
" Masak sih? Bagaimana bisa? "
" Karena aku tidak ingin merusak masa depan seseorang. Aku hanya akan melakukannya dengan wanita yang memang dia tidak memikirkan masa depannya. Dan aku tidak pernah memaksa mereka melakukannya, maupun mengajak mereka melakukannya. Mereka sendiri yang datang kepadaku dan menyodorkan kewanitaannya. " elak Bryan.
" Berarti Abang juga suka tuh melakukannya dengan pekerja sosial? "
" Pekerja sosial? "
Pipit mengangguk, " PS*. "
" Oh, tidak. " Bryan menggeleng. " Aku tidak pernah melakukannya dengan sembarang wanita. Aku hanya melakukannya dengan perempuan dari keluarga terpandang, bukan wanita yang berada di club' malam. "
" Uwaaahhh....Milih yang tajir? Dapet uang? Berarti Abang jadi gigo** dong. "
" Ck. Asal aja kalau bicara. Aku pilih perempuan yang dari keluarga terpandang, paling tidak mereka menjaga kebersihan daerah kewanitaannya. Jadi kecil kemungkinannya mereka terkena penyakit kela***. "
***
bersambung
__ADS_1