Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Pupus


__ADS_3

Bryan sedang termenung di dalam ruang tengah apartemennya. Ia juga sedang di landa kegalauan. Galau karena menunggu jawaban dari istri kecilnya, di tambah lagi pamannya tadi menelepon menyuruhnya pulang ke Perancis.


Sang paman mengatakan jika beliau sedang sakit parah, dan meminta Bryan datang karena ada hal penting yang mau dia katakan.


Bryan berdiri dari duduknya, lalu membawa cangkir kopinya ke balkon apartemennya. Ia menaruh cangkir yang masih berisi kopi itu di atas meja, dan dia berjalan ke dekat pembatas. Ia menyesal rokoknya dalam-dalam. Rokok yang hanya ia konsumsi jika pikiran maupun hatinya sedang tidak enak.


" Apa gue harus pulang? " gumamnya di antara sesapan rokoknya.


Bryan benar-benar tidak ingin pulang memang. Ia sangat enggan untuk bertemu dengan sang bibi. Jika biasanya setiap satu tahun sekali ia pulang ke Perancis, ia hanya akan mendatangi makam kedua orangtuanya, lalu mendatangi tempat-tempat yang dulu sering ia singgahi. Ia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah yang sekarang di tempati oleh sang bibi.


Rasa trauma itu masih ada. Rasa takut itu masih ada. Jika saja trauma itu tidak ada, maka ia akan menemui paman dan bibinya dengan membusungkan dadanya. Tapi karena trauma itu, ia menjadi takut untuk hanya sekedar bertemu bibinya. Apalagi kejadian itu dulu terjadi di rumah itu.


Ahh. Bryan benar-benar bingung. Sang paman mendesaknya agar dia datang ke Perancis secepatnya. Bryan terus berpikir. Sampai akhirnya sebuah ide muncul di otak cerdas Bryan.


Senyum tipis terbit dari kedua sudut bibirnya. Ia menghitung hari yang tersisa dengan jarinya. Ah, waktu yang ia berikan untuk Pipit, tinggal dua hari lagi. Setelah ia mendapatkan jawaban dari Pipit, ia akan mengajak istri kecilnya itu pergi ke Perancis. Menemaninya bertemu dengan sang paman, yang pastinya juga bertemu dengan sang bibi.


Kini, Bryan hanya berharap semoga istri kecilnya itu benar-benar mau menerimanya sebagai seorang suami. Itu saja yang Bryan inginkan. Maka, masalah dalam hidupnya selama ini akan selesai, dan berganti dengan kebahagiaan.


🧚


🧚


Dua hari kemudian.


Bryan sudah bersiap untuk menemui sang istri. Dengan rasa rindu yang membuncah setelah selama dua minggu penuh tidak bertemu maupun berkomunikasi, begitu menyesakkan dada.


Bryan juga telah menyiapkan dua tiket pulang pergi ke Perancis. Satu untuknya, dan satu lagi untuk istri kecilnya. Baju yang ia bawapun, sudah ia kemas ke dalam koper. Semua telah siap. Tinggal nanti ia akan membantu Pipit untuk packing.


Bryan terlihat begitu bersemangat. Ia akan membawa sang istri ke Perancis, mengenalkannya dengan kedua orangtuanya, membawanya ke makam keduanya. Pertama kalinya Bryan berniat mengajak seorang perempuan ke makam orang tuanya. Membayangkan hal 8, membuat hati Bryan menghangat.


Tepat pukul 4 sore, Bryan keluar dari apartemennya hendak menemui Pipit. Sengaja ia tidak memberi kabar jika dirinya akan datang sore ini. Sampai di tempat parkir, ia segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya keluar dari area apartemen dengan perlahan.


Bryan mengendarai mobilnya menuju rumah besar keluarga Adiguna dengan bersenandung kecil dan wajah penuh keceriaan.


Setengah jam kemudian, mobil Bryan sudah terparkir indah dan rapi di depan rumah keluarga Adiguna. Bryan turun dari mobil dan berlari kecil masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum...Mama...." salam Bryan.


" Waalaikum salam. " jawab sang mama. " Eh, tumben anak bule mama datang. Kemana aja kamu lama nggak kesini? Lupa sama mama kamu? Lupa sama istri kamu? " cerocos mama Ruth.


Bryan tersenyum sambil berjalan menghampiri mama Ruth. Lalu ia memeluk tubuh sang mama erat.

__ADS_1


" Maafin Bryan mamaku sayang. " ucap Bryan. Lalu ia mengecup pipi kanan dan kiri mama Ruth.


" Selalu saja seperti itu. Ck. " decak sang mama. " Eh, ngomong-ngomong, rapi bener anak bule mama. Mau kondangan? " tanya beliau meneliti penampilan Bryan yang saat itu mengenakan baju formal. Setelan jas berwarna maroon.


" Emang kalau penampilan kayak gini pasti mau kondangan ma? Mama ini ada-ada saja. Bryan juga pengen kali ma, sekali-sekali pakai baju kayak gini. Bosen pakai jas putih terus. " sahut Bryan.


" Iya iya mama tahu. Ayo masuk. " ajak sang mama.


" Ma, Pipit di mana? " tanya Bryan.


" Loh, nggak bilang ke kamu, dianya? " tanya mama Ruth balik. Bryan menjawab dengan menggeleng.


" Dia tadi pamit ke mama, katanya mau ke rumah Danique. Kangen katanya. " jawab mama Ruth.


" Tumben ma. Hari Sabtu gini dia kesana. Biasanya kan hari Minggu. " ujar Bryan sambil mengernyit.


Mama Ruth hanya mengendikkan bahunya.


" Ya udah kalau gitu Bryan susulin kesana aja. " ujar Bryan.


" Cuman gitu doang? Kesini cuma gitu doang? Nggak makan malam dulu di sini? " ujar sang mama.


" Bryan jemput Pipit dulu ma. Nanti balik kesini, terus makan malam di sini. "


" Bukan ngebet ma. Tapi rindu berat. " jawab Bryan sambil tersenyum.


" Kamu ini. Ya udah sana, cepetan jemput istri kamu. Bawa pulang sebelum jam makan malam. " titah nyonya besar Adiguna.


" Siap, mamaku yang cantik. " ucap Bryan sambil mengambil tangan kanan sang mama dan mencium punggung tangannya. Membuat nyonya Ruth menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Hati-hati di jalan. " ujar Nyonya Ruth setengah berteriak karena Bryan buru-buru keluar.


" Iya ma. " jawab Bryan sambil teriak.


Bryan segera meninggalkan pekarangan rumah keluarga Adiguna dan mengemudikan mobilnya ke rumah sahabatnya.


Di rumah Seno, Pipit yang sudah selesai melepas rindu dengan baby Dan, berpamitan pulang ke rumah Adiguna ke kakak serta kakak iparnya. Ia ingat, hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana ia akan bertemu dengan sang suami. Pipit sudah menentukan jawaban.


Ia keluar dari dalam rumah kakak iparnya dengan wajah berseri-seri. Ketika hendak menuju mobilnya, seseorang memanggilnya.


" Nona..."

__ADS_1


Pipit menoleh. " Eh, bang Damar.. " sapa Pipit kala melihat siapa yang memanggilnya. Kini sudah tidak ada kegalauan di hatinya. Sudah tidak ada nama Damar di hatinya. Ia sudah tidak ingin menjauhi ataupun menghindari Damar lagi. Ia sudah berdamai dengan keadaan.


" Bisa bicara sebentar? " tanya Damar.


" Bisa. " jawab pipit setelah melihat ke jam di pergelangan tangannya. " Ada apa bang ?"


" Terima kasih banyak. "


" Untuk? "


" Untuk ucapanmu yang kemarin dulu. Ucapanmu itu membuka mata dan hatiku. Memang salah sikapku selama ini. Aku hampir tidak mengakui darah dagingku sendiri. Hampir saja aku berbuat dosa besar dengan menyakiti istri dan anakku. " ucap Damar.


" Alhamdulillah, bang Damar terbuka pikirannya. Pipit ikut seneng dengernya bang. " ucap pipit sembari menyunggingkan senyum tulusnya. " Sayangi mereka ya bang. Kak Imel perempuan yang baik. " tambah Pipit.


" Insyaallah. Aku juga sudah menceritakan tentang semua, semua tentang kita ke dia. "


" Bang Damar cerita? Kenapa harus di ceritakan bang? "


" Karena aku ingin mengawali semuanya dengan kejujuran. Dia bilang dia mengenalmu. "


" Iya. Kemarin dulu itu kami bertemu di rumah sakit. Kami sempat mengobrol. Pipit jadi nggak enak nih bang sama kak Imel. Karena Pipit, bang Damar sempat khilaf. " ujar Pipit tidak enak hati.


Damar tersenyum sambil menggeleng, " Jangan khawatir. Dia mengerti. Dia malah mengatakan kalau kamu memang gadis yang baik. Tapi aku juga mengatakan kepadanya, kalau kamu juga sudah menikah, dan memutuskan untuk berbahagia dengan suamimu. " sahut Damar.


Percakapan terus berlanjut dengan santai dan di selingi dengan canda tawa. Sedangkan di depan gerbang masuk rumah Seno, seseorang menghentikan mobilnya dan mengamati interaksi mereka berdua dari dalam mobil.


Ia yang tadi hendak memasukkan mobilnya ke dalam, mengurungkannya. Ia lebih memilih untuk meninggalkan tempat itu.


" Kamu terlihat kembali akrab dengannya. Mungkin memang dia kebahagiaanmu. Aku hanya bisa mendoakanmu. Berbahagialah. " batin hati Bryan. Meskipun hatinya sekarang terasa perih, tapi sebisa mungkin ia tahan dengan baik supaya air matanya tidak menetes. Pupus sudah harapan Bryan.


***


bersambung


...Maaf ya guys, hari ini othor up satu episode ajah... Othor lagi agak gak enak badan soalnya...🙏🙏🙏...


...Kalau othor udah sehat kembali, othor pasti kasih double up lagi...😊...


...Setelan baca episode yang ini, pasti banyak dari kalian yang kecewa karena lagi-lagi, waktu terulur untuk bersatunya Bryan dan pipit... Kesalahpahaman menghampiri mereka......


...Tapi kalian jangan syedihhh dan kecewa terlalu lama, untuk episode setelah ini, othor bakalan bikin kesalahpahaman mereka terselesaikan dan hari-hari baru buat mereka mulai... Bunga-bunga kebucinan mulai beterbangan...🌹🌹🥰🥰😍😍😍...

__ADS_1


...Di tunggu aja deh...kalau di ceritakan sekarang, jadi nggak seru besok bacanya......


...Lope...Lope sekaruuuuuungggg buat kelean padah........


__ADS_2