Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Kabar buruk


__ADS_3

Bryan keluar dari dalam ruang ICU diikuti oleh dokter Samsul. Bryan meminta dokter Samsul yang menyampaikan berita meninggalnya ibu Ani. Karena itu adalah tugas dan wewenangnya sebagai dokter yang menangani.


Keluarnya Bryan dan dokter Samsul di sambut oleh seluruh keluarga. Bryan langsung menghampiri sang istri yang terlihat bingung apa yang terjadi kemudian memeluknya.


" Ada apa dokter? " tanya tuan Adiguna ke dokter Samsul. Beliau yang bertanya karena anak-anaknya sedang menemani istri-istri mereka karena mereka yakin ada sesuatu yang terjadi.


" Kami mohon maaf, Bu Ani tadi sempat gagal nafas. Kami sudah berbuat yang terbaik, tapi takdir berkehendak lain. " dokter Samsul menjeda omongannya untuk menarik nafas dalam-dalam. " Bu Ani telah meninggal dunia. "


Tubuh Armell seketika melemas. Ia tidak mampu membuka mulutnya. Untung Seno sudah siaga sedari tadi menopang tubuhnya.


" Tidak...Tidak dokteeer....Ibu pasti baik-baik saja...Ibu tidak meninggal..." pekik Pipit. Ia memprotes dengan mata berlinangan.


" Abaaanggg...Abang dari dalam kan? Ibu baik-baik saja kan bang? " tanya pipit ke Bryan sambil memegang kedua pipi Bryan. " Ibu tidak meninggal kan bang? Pak dokter bohong kan? " tanyanya kembali dengan nada suara menahan tangis dan menatap lekat manik mata biru milik sang suami.


Bryan merengkuh pipit ke dalam pelukannya. Pipit menolak dan memberontak, tapi Bryan tetap menariknya dalam dekapannya sambil berucap, " Tenang honey...Tenangkan dirimu sayang... Ikhlaskan ibu..."


Setelah tidak kuasa memberontak, akhirnya Pipit luruh dalam dekapan Bryan. Ia menangis sejadi-jadinya di dada Bryan.


" Tidaaakkk....hu....hu....ibuuuuuu.....hu....hu....hu...." tangis Pipit terdengar begitu pilu.


Tidak jauh beda dengan Armell. Ia juga menangis pilu dalam dekapan suaminya.Tuan Adiguna menghampiri Armell dan Seno. Sedangkan mama Ruth menghampiri Pipit dan Bryan. Menepuk dan mengelus punggung mereka.


Damar hanya bisa mengamati dari kejauhan. Ia juga ingin sekali memeluk Pipit. Menjadi sandaran gadis itu. Tapi apalah dayanya, ia bukan siapa-siapa bagi Pipit meskipun ia masih mencintai gadis itu.


Tiba-tiba tangis Pipit berhenti. Tangan yang tadi mencengkeram kemeja Bryan luruh ke bawah. Tubuhnyapun ikut luruh. Pipit tak sadarkan diri. Untung ia masih dalam dekapan suaminya.

__ADS_1


" Honey..." pekik Bryan saat menyadari istrinya tak sadarkan diri. " Sayang....sayang ..." panggilnya berulang-ulang. Bryan lalu mengangkat tubuh Pipit dan ia bawa ke bangku. Mama Ruth duduk di bangku itu dan menyuruh Bryan menyandarkan kepala Pipit di pangkuannya.


Semua orang menjadi semakin panik. Armell melepas pelukan suaminya dan berlari menghampiri adiknya yang tak sadarkan diri. Pipit adalah gadis yang kuat. Tapi ia sangat dan sangat menyayangi sang ibu. Ada rasa sesal yang begitu besar dalam hatinya kala ia masih tinggal dengan sang ibu beberapa bulan yang lalu, ia tidak mengetahui penyakit yang di derita sang ibu.


Tanpa ada yang menyuruh, Damar segera berlari ke tempat jaga perawat di lantai itu untuk meminta minyak kayu putih atau apapun untuk menyadarkan Pipit. Setelah mendapatkan minyak kayu putih dan alkohol, ia segera kembali ke orang-orang tadi.


" Dokter..." ucapnya sambil memberikan minyak kayu putih dan alkohol ke Bryan. Bryan langsung menerimanya. Ia mengoleskan minyak kayu putih di telapak tangan dan kaki Pipit setelah ia menidurkan Pipit dengan telentang.


" Pipit....bangun dong dek....." panggil Armell yang berjongkok di sebelah Bryan.


Setelah mengoleskan minyak kayu putih, Bryan membuka kancing kemeja bagian atas yang di kenakan Pipit, lalu membuka kancing celana panjang Pipit juga untuk membiarkan oksigen berjalan lancar di seluruh tubuh Pipit.


Lalu ia menciumkan minyak kayu putih di hidung Pipit sambil menepuk pundak Pipit agak keras dan berucap, " Sayang...bangun sayang..." panggilnya dengan agak keras di dekat telinga Pipit supaya Pipit segera sadar.


" Sayang..." Bryan memanggilnya sambil menepuk pipinya perlahan.


Pipit mulai membuka matanya. Ia langsung kembali menangis. Armell mendekat, lalu memeluk Pipit yang sudah berganti posisi menjadi duduk. Mama Ruth ikut memeluk mereka berdua.


" Ibu mbak...." ucap Pipit.


Armell mengangguk, " Iya..." jawabnya. Armell berusaha menguatkan hatinya. Ia tidak boleh terpuruk. Jika ia juga terpuruk, bagaimana dengan adiknya. " Kita ikhlaskan ibu ya dek. Biar jalan ibu mudah menuju ke tempatnya yang abadi. Ayo kita menangis sekarang sepuasnya. Tapi setelah ini, ayo kita antar ibu dengan keikhlasan hati kita. Ibu juga akan bertemu dengan bapak. Ibu pasti bahagia. Ibu juga sudah terbebas dari rasa sakitnya. Kita sebagai anak-anaknya jangan sampai mempersulit langkah ibu. " ujar Armell.


Ucapan Armell tadi mampu membuat Pipit mengangguk. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama. Setelah puas mereka menangis dan berpelukan, mereka saling bergenggaman tangan.


" Ayo kita iringi kepergian ibu dengan membaca surat Yasin dan tahlil untuk ibu. " ajak Seno.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk. Dan di pimpin oleh Seno, mereka semua membaca surat Yasin juga tahlil untuk Bu Ani. Meski air mata masih terkadang menetes dari sudut mata Pipit juga Armell, tapi hati mereka sudah mengikhlaskan kepergian sang ibu.


Setelah mendoakan ibu bersama-sama, tuan Adiguna menyuruh Dion untuk pulang ke rumah Bu Ani. Tuan adi menyuruhnya memberitahu tentang kepergian Bu Ani ke pihak desa serta mengurus segala sesuatu yang di butuhkan untuk proses pemakaman.


Sedangkan Damar, ia di utus untuk membantu mengurus pihak rumah sakit dalam proses pemulangan jenazah Bu Ani ke rumah.


Pipit juga segera menghubungi pamannya, adik dari sang ibu yang tinggal di desa sebelah untuk memberitahu kalau Bu Ani telah meninggal dunia.


Bryan selalu mendampingi Pipit dan Seno selalu mendampingi Armell mengurus serta menunggu hingga Bu Ani boleh di bawa pulang dari rumah sakit.


***


bersambung


Maaf ya kak....kalau cerita kali ini mengandung banyak bawang....


Othor nulis part-part ini juga sambil menangis...ke ingat sama almarhum Bapak yang meninggal satu tahun yang lalu. Apa yang othor tulis di sini, sesuai dengan pengalaman othor sendiri. Bagaimana rasanya mengurus bapak ketika bapak sakit di rumah, lalu mengantar bapak ke rumah sakit bersama suami, kakak, juga ipar othor...


Waktu itu, pas lagi gencar-gencarnya covid 19. Karena bapak punya riwayat jantung bengkak, sama infeksi paru-paru, dokter radiologi di rumah sakit itu langsung memvonis bapak othor kena Corona.... Tanpa adanya tes darah, swab, atau apapun itu...Nyesek banget guys hati kami sekeluarga...kami tidak diijinkan menengok bapak, tidak diijinkan menemani bapak...


Hingga akhirnya pihak rumah sakit menyarankan pada kami, untuk memasukkan bapak ke ICU..Kami sempat menolak, tapi pihak RS bilang kalau hanya itu jalan satu-satunya untuk menolong bapak. Alat yang di butuhkan bapak ada di ruangan itu.. Akhirnya kami menerima usulan RS , dan membawa bapak ke ICU..Mengantar bapak ke ICU saja, kami tidak di perbolehkan..Kami hanya bisa memandang bapak dari kejauhan...Di situ, bapak sempat melambaikan tangannya ke kami...Dan itulah lambaian tangan bapak yang terakhir untuk kami anak-anaknya..


Bapak dinyatakan gagal nafas dan meninggal setelah satu hari dua malam di rawat di ICU...Kami hanya berempat mendampingi bapak. Othor, suami ,Kakak, serta kakak ipar othor di rumah sakit mengurus bapak sampai jenazah bapak di pulangkan...Tidak ada satu orangpun saudara yang berani datang ke rumah sakit untuk mendampingi kami....


Huh ...jadi curhat kan....Maaf ya semuanya, kalau othor malah curhat... Habisnya othor jadi keinget bapak pas nulis part-part saat ibu Pipit di rawat di rumah sakit...😭😭

__ADS_1


__ADS_2