
Berbeda dengan Fendy dan Rena yang sedang bahagia karena akhirnya mereka menikah, Qilin dan Justin sedang berada di butik gaun pengantin.
Gaun yang Qilin inginkan untuk hari pernikahan sudah siap dan hari ini Qilin akan mencobanya.
" Nona, tuan silahkan ikut dengan saya." Ujar seorang karyawan.
Qilin dan Justin pun bangun dan memasuki sebuah ruangan fitting yang terdapat banyak sekali gaun mewah, yang sudah terpajang di sana, semua itu sudah memiliki tuannya masing masing.
" Nona Qilin, akhirnya tiba hari untuk fitting juga." Ujar desainer yang membuatkan gaun untuk Qilin.
" Ya, maaf mendadak sekali." Ujar Qilin merasa tidak enak.
" Tidak masalah.. mari kita ke ruang ganti." Ujar Desainer.
Qilin menutup mulutnya ketika melihat gaun yang dia pesan. Sebenarnya bukan Qilin yang memesan, melainkan Sierra. Tapi Qilin tidak menyangka hasilnya akan sebagus itu.
" Cantik.." Gumam Qilin.
" Seperti anda, nona.. Sangat cantik dan anggun." Ujar desainer.
" Mari saya bantu pasangkan." Ujar Desainer dan Qilin mengangguk.
Qilin pun memakai gaun itu, dan memang benar benar indah. Gaun putih itu full dengan kristal dan ya.. sudah pasti berat di tubuh Qilin. Tapi semua itu tertutupi dengan keindahan gaunnya yang benar - benar pas di tubuh Qilin.
" Anda bagai malaikat, nona." Ujar Desainer itu.
Simpel, namun mewah dan tidak berlebihan, sangat pas dengan Qilin yang memang tidak menyukai hal terlalu mencolok.
" Sudah siap untuk memperlihatkannya pada tuan Justin, nona?" Tanya desainer.
" Jangan, aku ingin dia melihat gaun ini saat pernikahan kami saja." Ujar Qilin.
" Oh, untuk kejutan.. baiklah. Kalau begitu bagaimana jika anda mencoba gaun yang lain dan menunjukannya pada tuan Justin, dia pasti penasaran di luar sana." Ujar Desainer.
" Biarkan saja dia penasaran." Ujar Qilin sambil terkekeh.
" Astaga, nona." Ujar desainer dan ikut terkekeh.
" Terimakasih sudah membuatkan gaun yang sangat indah untuk pernikahanku, aku sangat suka dengan gaun ini." Ujar Qilin.
" Senang bisa membuat anda puas, nona. " Ujar desainer.
" Kalau begitu saya akan bawa gaunnya." Ujar Qilin, dan desainer mengangguk.
Qilin pun kembali berganti menggunakan baju biasa dan gaunnya di masukan kedalam kotak khusus untuk gaun pengantin Qilin.
__ADS_1
Dan benar saja yang di katakan oleh desainer tadi bahwa Justin sedang menunggu - nunggu datangnya Qilin dengan gaun pengantin nya.
" Sayang, kenapa kamu masih pakai baju ini? Apa gaunnya belum selesai?" Tanya Justin.
" Sudah, aku sudah mencobanya." Ujar Qilin.
" Aku belum melihatnya.." Ujar Justin dan Qilin terkekeh.
" Untuk gaun yang satu ini, kamu akan melihatnya saat di altar nanti." Ujar Qilin, dan Justin tersenyum.
" Kamu mau membuat aku mati penasaran, hum?" Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
" Toh tinggal beberapa hari lagi kita akan menikah, jadi kamu tidak boleh lihat." Ujar Qilin.
Dua asisten desainer membawa kotak gaun pernikahan Qilin dan anak buah Justin langsung sigap menerima nya. Kotaknya bahkan sangat besar, hanya untuk tempat satu buah gaun.
" Terimakasih." Ujar Justin pada desainer.
" Sama - sama, tuan." Sahut desainer.
" Kami permisi, terimakasih banyak untuk gaun nya." Ujar Qilin.
" Ya, nona.." Sahut desainer. Justin pun menggandeng tangan Qilin dan keluar dari butik itu.
'' Ayo kita kembali ke hotel, mommy mencarimu.'' Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Tapi kondisi Gigi sangat memperihatinkan, dia dengan pakaian rumah sakit yang compang camping dan juga perutnya membesar. Tidak terlihat sama sekali bahwa itua adalah GIgi yang selalu kemana mana dengan penampilan glamor.
'' Gigi..'' Gumam Qilin.
'' Hm, ada apa sayang?'' Tanya Justin.
'' Justin, hentikan mobilnya.'' Ujar Qilin dan Justin pun menepikan mobilnya.
'' Itu.. Gigi?'' Ujar Qilin, dan Justin mengikuti arah pandang Qilin.
'' Kenapa dia terlunta - lunta di jalan, kemana bibi?'' Gumam Qilin.
Justin bisa melihat Qilin sangat peduli dengan Gigi, Qilin bahkan hendak membuka pintu mobil dan akan menghampiri Gigi, tapi Justin mencekalnya.
'' Jangan, sayang..'' Ujar Justin, sembari menggelengkan kepalanya.
'' Dia kasihan.'' Ujar Qilin, tapi tetap Justin tidak melepaskan tangan Qilin.
'' Dengar.. apapun yang terjadi padanya, sudah tidak ada urusannya lagi denganmu, sayang. Dia sedang menuai apa yang tanam.'' Ujar Justin dan Qilin seperti berpikir.
__ADS_1
'' Dia dan ibunya sudah dengan sangat buruk memperlakukan kamu dengan begitu keji dan tidak berkemanusiaan sama sekali, jadi jangan mendekat lagi padanya. '' Ujar Justin dan Qilin menatap Gigi.
'' Dia begitu karena perbuatannya sendiri, dia adalah seburuk buruknya manusia yang berselingkuh dengan papa tirinya sendiri. Jangan kamu berbalik badan dan mengasihani orang dulu menginjak injak dirimu tanpa belas kasihan sedikitpu.'' Ujar Justin lagi, dan Qilin mengangguk.
'' Iya..'' Ujar Qilin.
Terlihat Gigi berjalan menyeberang dengan membawa bekas bungkus permen yang dia jadikan tempat untuk meminta minta uang di jalanan, dan Gigi pun berjalan mendekat kearah dimana mobil Justin parkir saat ini.
Seketika Qilin teringat dengan kerasnya dia hidup di jalanan dengan menjadi penjual bunga dari pagi sampai malam, saat panas dia akan kepanasan dan saat hujan dia akan kehujanan. Perut perih menahan laparnya tidak dia hiraukan jika dia belum mendapatkan cukup uang.
Mata Qilin berkaca - ketika mengingat perjuangan hidupnya yang harus menghidupi diri sendiri hingga harus mencari buah liar di hutan untuk mengganjal perutnya yang lapar.
'' Tuan.. nyonya.. kasihanilah saya, saya belum makan.'' Ujar Gigi di depan samping pintu mobil dimana Qilin duduk saat ini.
Qilin bisa melihat Gigi, tapi Gigi tidak bisa melihatnya karena kaca mobil Justin begitu gelapnya. Air mata Qilin menetes melihat Gigi yang hidup memperihatinkan.
'' Tuan.. nyonya.. kasihanilah saya, saya belum makan sejak kemarin.'' Ujar Gigi lagi.
Qilin mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang tunai pecahan seratus ribuan dengan jumlah tak terhitung, lalu membuka kaca jendelanya. Qilin menyodorkan uang itu dan Gigi dengan wajah sumringah langsung menyambarnya.
'' Terimakasih nyonya, terimakasih banyak.'' Ujar Gigi membungkuk berulang kali tanpa dia tahu yang memberinya uang adalah Qilin. Tapi kemudian Gigi langsung lari begitu saja membawa uang yang Qilin berikan.
'' Kamu lihat.. dia adalah dia, tidak akan pernah berubah.'' Ujar Justin, dan Qilin mengangguk
'' Hiduplah dengan baik Gigi, carilah pekerjaan yang layak dan jangan di jalanan.'' Gumam Qilin, sembari melihat Gigi yang berlari dari spion mobil.
'' Kamu memang berhati malaikat, aku beruntung karena di pertemukan dengan kamu, sayang.'' Ujar Justin dan menghapus air mata Qilin.
'' Sudah, jangan menangis.. apa yang bisa kamu lakukan sudah kamu lakukan padanya, kita lanjutkan perjalanan kita, hum? mommy sudah menunggu.'' Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Sementara itu, Gigi sangat senang setelah mendapat mendapatkan banyak uang. Tapi alih - alih bersukur, di pikirannya kini justru muncul ide jahat.
' Aku akan membeli pakaian dengan uang ini, dan akan mencari pria kaya untuk aku bodohi.' Batin Gigi.
' Aku tidak mau hidup susah begini, semua gara gara mama.. dia membuat wajahku cacat. Dan papa tiri bren*sekku itu, dia kabur setelah aku begini.' Batin Gigi dengan tatapan tajam.
Gigi tentu tidak tahu kenyataan bahwa papa tirinya sudah tewas di tikam oleh ibunya, sementara ibunya saat ini masih mendekam di markas TITANES.
Setelah dia sadar, dia di datangi seseorang yang mengatakan bahwa seluruh aset dan kekayaan orang tuanya di sita karena judi ibunya.
Alhasil Gigi menjadi gelandangan di Jakarta, dan satu yang baru Gigi sadari adalah.. dia mengandung anak dari hubungan gelapnya bersama sang papa tiri.
" Anak si*lan! Kau menjadi penghambatku mencari uang, mati saja kau!" Ujar Gigi pada perutnya yang kemudian di pukul.
Seseorang yang di didik hanya memandang materi, dan mengandalkan harta orang tuanya.. dia tidak akan tahu arti kata tanggung jawab. Yang dia tahu hanya dia hidup senang, dan terjamin.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..