
Justin kembali di bawa ke ruang operasi, dan Qilin duduk di kursi roda di dampingi Dewi dan Agra. Qilin masih menangis dan takut karena tadi Justin berdarah sangat banyak.
"Sudah sayang, suamimu akan baik - baik saja." Ujar Dewi. Dewi menjadi semakin takut, dia takut kelak Qilin akan terluka jika tidak ada Justin.
Tak lama, datanglah Arthur yang sudah tidak lagi menggunakan kursi roda. Arthur datang dengan panik bersama Malvin.
Arthur langsung berdiri di depan beberapa pengawalnya yang sedang menunduk takut saat ini.
"Kenapa bisa kalian lalai sampai ada penyusup yang masuk dan kalian tidak tahu! Apa gunanya kalian jika satu lalat saja kalian tidak menyadarinya!" Ujar Arthur pada anak buah yang sedang menunggu di sana juga.
"Maafkan kami, tuan." Ujar salah satu pengawal itu.
"Terima hukuman kalian, pergi!!" Ujar Arthur dengan sangat emosi.
Beberapa pengawal itu langsung mengangguk dan pergi dari sana, dan di gantikan oleh pengawal yang baru. Tak lama datanglah Cio dan Dustin dengan plaster di wajah mereka.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Agra, Tidak menjawab sang ayah, Cio langsung menghampiri Qilin dan memeluknya.
"Kak, kalian semua pergilah ke Swiss, dan sembunyi di sana, di sini sudah tidak aman." Ujar Cio, dan Qilin langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Justin baru saja tertusuk dan sekarang sedang di operasi." Ujar Qilin langsung menolak.
"Waktu kita tidak banyak, kak. Aku yakin jika kak Justin sadar pun dia akan setuju dengan kami." Ujar Cio. Arthur, Agra, dan jadi Dewi ikut menjadi serius saat ini.
"Dad, daddy dan mommy juga pergilah ikut dengan kak Qilin ke Swiss. Aku tidak bisa menjabarkan betapa bahayanya situasi saat ini. Kalian semua harus tetap baik - baik saja." Ujar Dustin.
"Sebenarnya ada apa?" Tanya Arthur pada Dustin.
"Musuh yang kita hadapi, sangat kuat. Titanes bahkan di bantu oleh tim Cio pun, masih belum mampu menyentuh musuh kali ini." Ujar Dustin.
"Aku di bantu Cio akan menangani di sini dengan kemampuan kami, tapi kalian harus pergi, karena dia menguncar kalian semua dan aku tidak mau terjadi apapun dengan kalian." Ujar Dustin dengan wajah serius.
"Tapi Justin sedang melakukan operasi." Ujar Qilin dengan tangisnya. Dustin mendekat kearah Qilin, lalu meyakinkannya.
__ADS_1
"Kakak akan baik - baik saja, bahkan ini juga adalah perintah kakak, untuk membawa kalian semua pergi dari sini. Dia akan menyusul kalian ke sana, setelah dia sadar." Ujar Dustin menatap Qilin, Qilin dengan masih sesenggukan hanya diam menatap Dustin.
"Kami janji, tidak akan terjadi apapun pada kak Justin, kak." Ujar Cio menimpali.
"Sayang, dengarkanlah adik - adikmu, pergerakan mereka tidak akan bebas jika kita semua masih di sini. Musuh yang mengincar apapun yang berkaitan dengan lawannya." Ujar Agra pada Qilin.
Qilin menatap ruang operasi, dia tahu apa yang sedang di maksudkan oleh Cio dan Dustin, itu adalah kelemahan. Kelemahan seseorang adalah keluarganya, jika keluarganya dalam bahaya, maka orang itu juga akan menjadi lemah dan lengah.
Jika dirinya masih bersih keras untuk tinggal, maka dia hanya akan menjadi beban untuk Justin dan yang lain.. Di tambah lagi saat ini di sedang tidak bisa melakukan apapun, dia hanya semakin mempersulit Dustin dan Cio.
"Kak... " Ujar Cio sekali lagi pada Qilin dengan menganggukan kepalanya. Qilin berkali - kali menghapus air matanya, dan tidak rela berpisah dari Justin. Tapi akhirnya dia mengangguk.
"Sekarang juga kalian semua harus pergi." Ujar Dustin, dan itu menambah kesedihan Qilin. Dia harus berpisah dari Justin lagi.
Beberapa jam kemudian..
Sesuai dengan yang di rencanakan, Qilin, dan semua orang kecuali Justin, Dustin dan Cio serta tim mereka, akan segera berangkat saat ini.
'Aku pergi dulu, sayang. Tolong jangan sampai terjadi apapun denganmu, dan datanglah kesana menemuiku dan anak kita.' Batin Qilin, lalu mengusap perutnya.
"Kak, sudah saatnya." Ujar Luca. Qilin mengangguk, dia menghapus air matanya lalu kemudian dia pun akhirnya pergi dari ruangannya.
Dustin sedang melakukan perjalanan jauh dengan beberapa timnya, dia ingin mengalihkan perhatian Clins dan berharap Clins hanya berfokus padanya saja.
"Semoga kalian semua baik - baik saja." Gumam Dustin. Ben benar - benar ikut bersedih melihat keadaan yang rumit begini, TITANES tidak pernah berada di ambang kehancuran, tapi kini TITANES sedang sangat kritis.
Semua yang akan pergi tidak menggunakan mobil lama mereka yang biasanya, mereka menggunakan mobil baru karena mereka khawatir Clins juga sudah memasang peledak di mobil - mobil yang lainnya.
Dan benar saja, Clins saat ini sedang memperhatikan titik - titik merah yang bergerak meninggalkan kota Jakarta, itu adalah mobil Dustindan timnya.
"Mau kemana dia?" Gumam Clins dengan tatapan sangat serius memperhatikan titik itu.
Clins lalu memperkecil layar dan mencari - cari tempat yang mungkin akan di tuju oleh Dustin, dia tersenyum smirk ketika melihat sebuah titik.
__ADS_1
"Hahahaha! Dia melucu." Ujar Clins terbahak sendirian. Tapi tiba - tiba tawanya berhenti ketika Dustin rupanya berbelok ke jalan lain.
"Sebemarnya dia mau kemana? Kenapa masuk ke hutan." Gumam Clins, ketika melihat mobil Dustin masuk ke dalam hutan.
"Ooohh... I see.. bukankah ini adalah tempat dimana dia menyiksa ayahku sampai mati." Ujar nya dan tersenyum smirk.
Ayah? Siapa ayah Clins? Bukankah dia tidak memiliki ayah karena ibunya berhubungan dengan banyak pria? Lalu siapa ayahnya???
Clins menekan ponselnya dan menghubungi anak buahnya yang tersebar di kota.
"WOLF!! Tinggalkan rumah sakit, datang ke hutan dimana titik yang aku kirimkan, Ada makanan segar di sana." Ujar Clins dengan tatapan kematian, lalu mematikan sambungan teleponnya.
Cio yang berada di rumah sakit menyadari pergerakan - pergerakan orang yang menurutnya aneh dan pergi di saat yang bersamaan.
'Apakah itu anak buah Clins? Rupanya memang banyak di sebar. Tidak heran dia tahu semuanya.' Batin Cio.
Cio langsung memberi kode pada Luca dan yang lainnya untuk segera pergi dari sana. Luca yang mendorong kursi roda Qilin pun langsung bergegas dengan yang lainnya juga.
Qilin, Arthur, Sierra, Dewi, Agra, Luca, dan anak buah yang akan menjaga mereka pun bergegas pergi.
"Semua akan baik - baik saja, sayang. Justin adalah orang yang kuat, dia pasti akan sembuh dan menyusul kita ke sana." Ujar Sierra menggenggam tangan Qilin yang saat ini masih menangis.
"Jangan terus bersedih, kasihan anakmu." Ujar Sierra, lagi dan Qilin mengangguk.
Tapi Sierra pun sebenarnya sedih, dia kurang lebih tahu perasaan Qilin saat ini. Qilin baru mengumumkan pada semua orang bahwa dirinya sedang hamil, tak lama musibah besar langsung terjadi.
Ibaratnya Qilin yang sedang bahagia - bahagianya, langsung di hantam kenyataan pahit.
Tak lama, mereka sampai di Bandar udara International, dan langsung masuk kedalam pesawat.
'Sampai bertemu lagi Justin, datanglah dengan keadaan sehat, aku dan anak kita akan menunggumu di sana.' Batin Qilin, ketika pesawat itu lepas landas.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1