Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 130. Merakit pohon ala Justin.


__ADS_3

Dan keesokan harinya, Cio datang ke kediaman Arthur setelah dia mendatangi kediaman Justin tapi tidak menemukan siapapun di sana.


Akhirnya Cio mau tidak mau menghubungi Qilin, dan rencana kedatangannya yang menjadi kejutan untuk Qilin gagal.


"Kak, tidak ngeri duduk dengan singa?" Tanya Cio, saat ini Qilin, Cio dan Justin sedang duduk di gazebo. Justin sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya, dan Qilin sedang makan buah dengan berbantalkan perut Baek.


"Tidak, Baek seperti namanya, baik." Ujar Qilin. Dan seakan tahu dirinya di puji, Baek menjilat lengan Qilin, dan Cio ngeri melihatnya.


"Hehe, sialan, aku kan jadi tidak bisa memeluk kakak." Gumam Cio kecewa, dan itu di dengar Justin, Justin pun tersenyum.


"Kau harus berebutan dulu dengan Baek jika ingin memeluk kakakmu." Celetuk Justin.


"Hm, aku tahu.. tidak semudah itu." Ujar Cio dan Qilin terkekeh.


"Anak - anak, ayo makan." Panggil Sierra seperti memanggil anak kecil.


"Iya mom." Sahut Qilin dan Justin bersamaan.


"Kenapa seorang ibu selalu memanggil anaknya dengan sebutan anak - anak, padahal kita sudah dewasa, lho." Ujar Cio heran.


"Karena mau sedewasa apapun seorang anak, di mata orang tuanya akan tetap menjadi anak - anak." Sahut Justin.


"Ayo sayang, kita makan." Ujar Justin mengulurkan tangannya dan Qilin mengangguk. Mereka pun akhirnya masuk kedalam di ikuti Baek dari belakang.


Sementara itu di tempat lain..


Dustin sedang bersama dengan para anak buahnya yang sedang melakukan pelatihan, Ben datang menghampiri Dustin dan memperlihatkan sesuatu pada Dustin.


"Tuan, anda harus lihat ini." Ujar Ben sembari memperlihatkan laporan yang dia dapat dari penyelidikannya.


''Apa ini?'' Tanya Dustin bingung.


''Ini adalah identitas pemimpin the wolf tuan.'' Ujar Ben. Dustin membaca dengan seksama apa yang ada di tangannya saat ini, dan ia mengernyit ketika membaca nama belakang dari pemimpin the Wolf.


"Clins Wijaya?" Gumam Dustin.


"Ya, tuan. Dia adalah anak tidak sah dari keluarga Wijaya, yang merupakan pemilik hotel nyonya besar sebelumnya." Ujar Ben.


"Lalu ada masalah apa dia dengan kita? Bukankah dulu daddy mengakuisisi hotel itu karena memang hotel itu milik mendiang kakekku dari pihak mommy?" Ujar Dustin.


"Ibunya, yang bernama Sisi dulu sangat menyukai tuan besar, dan dulu tuan besar membuat hidupnya hancur sehancur hancurnya jika menurut penyelidikan." Ujar Ben, sembari membuka kertas lagi.


Dustin tertegun mendengarnya, ayahnya pernah menghancurkan hidup seorang perempuan.


"Dia pernah memfitnah nyonya besar, dan menyebar berita bohong yang menggiring publik untuk membenci nyonya besar." Ujar Ben.


"Hm, kalau begitu dia pantas mendapatkannya." Ujar Dustin. Karena jika Dustin adalah Arthur pun dia akan melakukan yang sama untuk orsng yang di cintainya.

__ADS_1


"Ya, dan kini anaknya hendak menuntut balas pada tuan." Ujar Ben.


"Tsk! Menuntut balas. Menuntut balas macam apa dia, dia hanya pencuri persenjataan." Ujar Dustin.


"Cari keberadaan nya, setelah pelatihan ini selesai, kita hancurkan dia seperti ibunya dulu. Beraninya dia hendak menyakiti keluargaku." Ujar Dustin dengan geram.


"Baik tuan." Sahut Ben.


------------------------------


Singkat cerita, Dewi, Agra dan Luca sudah tiba di tanah air dan saat ini sudah berada di kediaman mereka yang baru. Ternyata diam diam Agra membangun rumah mewah di Jakarta, rumahnya sungguh sama megahnya dengan kediaman Arthur, tapi lebih megah sedikit.


"Kapan aku punya cucu." Celetuk Agra tiba - tiba. Saat ini dia sedang duduk dengan Dewi dan kedua putranya.


Luca tersedak kopi yang sedang dia minum mendengar ucapan sang ayah, sementara Dewi terkekeh.


"Kak, cepatlah menikah, kasihan papa ingin punya cucu." Ujar Cio.


"Kepalamu, kau saja yang menikah." Ujar Luca.


"Apa Qilin belum hamil juga, sayang?" Tanya Agra pada Dewi.


"Sepertinya belum, jika dia hamil sudah pasti memberi tahu kita, kan." Ujar Dewi.


Tiba - tiba, Niklaus masuk. Dia membisikan sesuatu pada Cio dan wajah Cio langsung berubah ketika mendengar apa yang di bisikan oleh Niklaus.


"Ayo." Ujar Cio.


"Tidak ada apa - apa, hanya urusan anak buah." Ujar Cio. "Aku pergi dulu, mungkin tidak akan nergabung makan malam dengan kalian." Ujar Cio lagi, lalu pergi dengan Niklaus.


Agra benar - benar sudah tidak mengurusi tentang kelompok Mafianya, kini Cio yang menjalankannya sebagai putra yang misterius. Sementara Luca, dia fokus dengan perusahaan.


"Apa yang kamu bilang barusan itu benar?" Tanya Cio pada Niclaus.


"Ya, tuan." Ujar Niclaus.


"Ayo, kita cari lalat yang mengganggu hidup kakakku, tidak akan aku biarkan seekor lalatpun mengusik ketenangan kakakku." Ujar Cio.


Cio pun pergi dari kediamannya, malam ini dia akan menghampiri lalat yang dia maksudkan yang mengganggu Qilin.


Di tempat lain, kediaman Justin.


Qilin sedang duduk diantara tumpukan bola - bola pohon Natal. Dia ingin berencana membuat dua warna untuk menghiasi pohon itu, yakni merah muda dan biru.


"Sayang, ini sudah malam, ayo beristirahat." Ujar Justin, sembari membawakan buah untuk Qilin.


"Tunggu, sayang.. aku sedang sangat sibuk berpikir sekarang." Ujar Qilin dengan wajah sangat serius sembari menatap hiasan dan bola - bola Natal.

__ADS_1


Justin terkekeh mendengarnya, dan tanpa aba - dia langsung menggendong Qilin yang sedang dudukndi lantai.


"Eh! Sayang... kamu mengagetkan aku." Ujar Qilin protes, dan Justin hanya terkekeh.


"Kamu akan sakit jika duduk di lantai, di lantai dingin, sayang." Ucap Justin, Justin meletakan Qilin di sofa, lalu ia mengusap perut Qilin.


"Nanti dia masuk angin." Ujar Justin, dan kini Qikin yang terkekeh.


"Mana ada baby bisa masuk angin, dia di dalam perut." Ujar Qilin sambil terkekeh.


"Tidak apa - apa, kamu duduk saja yang manis dan makan buah. Katakan padaku, kamu mau pasang yang mana? Aku yang akan pasangkan." Ujar Justin.


"Sungguh??" Ucap Qilin berbinar, dan Justin mengangguk.


"Iya sayang, apaun untukmu dan si bulat." Ujar Justin dan qilin mengernyit bingung.


"Si bulat???" Ujar Qilin bingung.


"Anak kita, sayang." Ujar Justin dan Qilin terbahak mendengarnya.


"Sayang, papamu memberimu panggilan si bulat." ujar Qilin, sembari terkekeh.


"Karena dia akan menjadi bulat di perutmu." Ujar Justin.


"Itu adalah penampakan luar di perut mama, papa. Kalau aku sudah lahir nanti juga aku tidak bulat lagi." Ujar Qilin menirukan suara anak kecil.


"Baiklah, sekarang beri tahu papa, kamu mau pasang hiasan yang mana?" Tanya Justin.


"Aku berencana ingin memasang warna merah muda dan biru, sayang. Tapi aku bingung bagaimana menyusunnya agar terlihat bagus." Ujar Qilin, kemudian Justin jadi tampak berpikir sekarang.


"Hmm.. merah muda dan biru, kalau begitu kita acak saja." Ujar Justin.


"Acak?? Hm.. Boleh juga, kalau begitu kita pasang acak saja." Ujar Qilin setuju.


"Baiklah, kalau begitu papa mulai pasangkan. Beri tahu papa jika kalian ingin variasi yang lain." Ujar Justin, dan Qilin mengacungkan dua jempolnya.


Justin pun mulai merakit pohon natal sesuai dengan buku instruksi yang terdapat di sana. Rupanya Justin bingung karena dia sama sekali tidak pernah memasang pohon Natal.


Qilin terkekeh karena Justin tampak kabingungan saat ini, dia pun bangun dan mengambil besi penyangga pohon Natal itu pada Justin.


"Ini dulu, papa.. baru pohonnya. Bagaimana pohon akan berdiri jika tidak punya kaki." Ujar Qilin sembari terkekeh.


"Hehehe, rupanya ini yang di maksud buku petunjuk. Sayang kamu duduk saja, serahkan padaku sisanya." Ujar Justin.


"Okay, papa." Ujar Qilin, dan kembali duduk.


Tapi mau di bolak balik seperti apapun, Justin tetap saja terlihat kebingungan. Tiang sudah berdiri dan kini tinggal menyusun daun daun pohon Natal itu, tapi dia masih kebingungan karena instruksinya tidak menggunakan tulisan.

__ADS_1


'Ya Tuhan, rupanya sesulit ini memasang pohon Natal, lebih sulit dari merakit senjata.' Batin Justin.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2