Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 142. Dustin menjadi Justin


__ADS_3

Dustin masih diam menatap Cio yang baru saja mengucapkan sebuah ide gila padanya.


"Kak Qilin sangat menghawatirkan kak Justin, dan aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya bahwa kak Justin sudah sadar dan baik baik saja. Tapi nyatanya kak Justin sangat drop sekarang, aku bingung harus mengatakan apa pada kak Qilin, kak." Ujar Cio lagi.


"Aku tidak mau." Ujar Dustin karena itu akan membuat dirinya kembali berinteraksi dengan Qilin.


"Kak, tolong." Ujar Cio memohon.


"Jangan gila Cio! itu sama saja aku membohonginya dan menghianati kakakku sendiri." Ujar Dustin langsung dengan nada suara sedikit tinggi.


"Bagaimana bisa ini di sebut menghianati? Jika bohong memang iya, tapi kan kita berbohong demi kebaikan semua orang juga." Ujar Cio.


"Tidak, aku tidak mau." Ujar Dustin dengan tegas.


"Kak, kak Qilin sedang mengandung. Jika dia banyak pikiran, kandungannya juga akan ikut terganggu. Kakak tahu sendiri bagaimana besarnya cinta mereka berdua, kak Qilin sudah pasti akan sedih dan mungkin menangis berlarut - larut jika tahu kondisi kak Justin yang sebenarnya." Ujar Cio.


Dustin memalingkan mukanya dan menjadi sangat dilema. Tidak mudah dia akhirnya bisa menerima keadaan, dan setelah dia sudah mulai membiasakan diri, kini masalah seperti ini malah terjadi.


Sedangkan sebenarnya perasaannya pada Qilin masih belum hilang, walau dia mencoba menerima keadaan. Tapi yang di katakan Cio juga benar, Qilin mungkin akan sedih dan itu akan membuat kandungannya ikut terganggu.


"Satu kali saja, kak. Buat kak Qilin tenang dengan mendengar suara kakak. Duara kakak dan kak Justin sama, dia pasti tidak akan mengenali bahwa kakak adalah kak Dustin." Ujar Cio.


Dan di saat Dustin tampak sedang kebingungan, Qilin menghubungi ponsel Cio, dan Cio menunjukannya pada Dustin. Dustin pun semakin bingung sekarang.


"Tolong kak, sekali saja." Ujar Cio lagi, membujuk Dustin.


Dustin menerima ponsel Cio dan ia menatap Cio, Cio menganggukan kepalanya, seakan menyuruh Fustin untuk menerimanya.


"Hanya, satu kali ini saja." Ujar Dustin akhirnya, dan Cio tersenyum senang mendengarnya sembari menganggukan kepalanya.


Dustin pun menerima panggilan telepon dari Qilin dan dia mendengar suara Qilin yangbsedang memanggil Cio.


"Cio, apa kau di sana? Kenapa kau diam saja? Bagaimana keadaan Justin? Kakak ingin bicara dengannya." Ujar Qilin langsung menghujani pertanyaan.


"Aku sedang bersama kak Justin, kak. Kakak mau bicara dengannya?" Uajr Cio sedikit berteriak.


"Benarkah? Mana dia? Kakak ingin mendengar suaranya." Ujar Qilin. Cio mendorong ponselnya kepada Dustin agar Dustin berbicara.


"Halo, Cio.." Ujar Qilin dari seberang sana.


"Halo.." Akhirnya Dustin berbicara, Qilin langsung menangis mendengar suara Dustin yang dia kira adalah Justin.


"Sayang, akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi. Bagaimana keadaanmu di sana?" Tanya Qilin dengan terisak. Hati Dustin berdesir ketika Qilin memanggilnya sayang, walau dia tahu yang Qilin maksud adalah Justin.

__ADS_1


"Jangan menangis, aku baik - baik saja." Ujar Dustin, tapi di dalam hatinya dia merasa sangat bersalah pada Justin.


"Sayang, kapan kamu akan pulang kemari? Aku dan anak kita menunggumu di sini." Ujar Qilin, dan Dustin berkaca - kaca saat ini.


"Sayang?" Panggil Qilin, krtika tidak mendapatkan jawaban dari Dustin.


"Hm?? Aku di sini." Ujar Dustin dengan menahan gejolak di dadanya.


"Jika kamu sudah selesai di sana, segeralah kemari, aku sangat merindukanmu." Ujar Qilin.


"Iya.." Sahut Dustin. Qilin merasa aneh dengan suaminya, dia tidak memanggil sayang, dan nada bicaranya sangat kaku.


"Justin, apakah kamu marah kepadaku karena aku pergi lebih dulu meninggalakanmu di tanah air?" Tanya Qilin, dan Dustin kembali fokus pada perannya.


"Tidak, aku tidak marah sama sekali. Aku tidak akan pernah bisa marah padamu." Ujar Dustin, itu adalah kata - kata yang benar keluar dari lubuk hatinya.


"Tapi kamu tidak memanggilku sayang seperti biasanya." Ujar Qilin, dan Dustin tertegun.


"Justin.." Panggil Qilin lagi, ketika Dustin lama diam. Cio menepuk pundak Dustin dan mengangguk, seakan menyuruh Dustin memanggil Qilin dengan sebutan sayang.


"Kau gila?" Gumam Dustin, tapi Cio menjadi panik sendiri.


"Kak, please.." Gumam Cio dengan mengatupkan kedua tangannya memohon. Dustin yang sudah merasa sangat bersalah itu, menjadi semakin tertekan sekarang.


Setelah memikirkannya, akhirnya Dustin memejamkan matanya dan..


"Sayang, kamu jangan banyak berpikir, oke? Aku tidak akan lupa denganmu, dan tidak akan pernah marah padamu. Aku hanya sedang merasa bahagia karena akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi." Ujar Dustin, akhirnya dengan mata terpejam.


"Kamu harus baik - baik saja, dan jangan banyak berpikir tentangku, oke? Aku akan baik - baik saja disini, dan akan pulang padamu, berkumpul denganmu dan anak kita." Ujar Dustin.


Cio bernafas lega mendengarnya, sementara Dustin menahan sesak di dadanya.


"Baiklah, segeralah kembali, aku merindukanmu." Ujar Qilin akhirnya.


"Iya.. sayang." Ujar Dustin dengan jeda.


"Aku sudahi dulu, oke? Dokter datang untuk memeriksaku." Ujar Dustin, ketika melihat beberapa anak buahnya masuk ke dalam.


"Iya, sayang. Jaga dirimu, aku mencintaimu." Ujar Qilin.


"Iya, sayang." Ujar Dustin dan panggilan langsung di matikan. Dustin langsung memberikan ponsel itu pada Cio.


"Terimakasih, kak." Ujar Cio dengan wajah lega.

__ADS_1


"Jangan lagi - lagi kamu menyuruhku berbohong begini, Cio. Ini sama saja aku menghianati kakakku." Ujar Dustin.


"Kondisinya sangat genting, kak. Aku tidak memiliki opsi lain." Ujar Cio.


"Jangan lakukan itu lagi, aku tidak mau melakukannya lagi." Ujar Dustin, dan Cio mengangguk.


"Maaf, kak." Ujar Cio, dan Dustin mengangguk. Anak buah Dustin yang di minta intuk berkumpul pun langsung berbaris dengan rapi di sana.


Ada puluhan orang yang masih tersisa, dari total ratusan. Semuanya tewas akibat ulah Clins.


"Tuan, semuanya sudah berkumpul." Ujar salah seorang anak buah Dustin, Dustin pun mengangguk dan menatap semua anak buahnya yang tersisa itu.


Dustin berjalan mengelilingi semua anak buahnya dan tiba - tiba dia menepuk pundak salah satu dsri mereka.


"Kau adalah bagian penting dari TITANES, silahkan maju kedepan." Ujar Dustin, dan pria itu mengangguk.


Mengundang pertanyaan besar tentu saja, karena selama ini Dustin tidak pernah menyebut siapa yang paling penting, dia selalu mengatakan semua anggota TITANES sama pentingnya.


Dustin lalu berjalan kembali dan menepuk pundak pria lain lagi lalu mengatakan kalimat yang sama, hingga ada tujuh orang yang akhirnya maju ke depan.


"Bersiap, keluarkan semua senjata kalian." Ujar Dustin pada semua anak buahnya yang lain termasuk ketujuh pria itu.


Semuanya pun mengeluarkan senjata mereka, berupa senjata api kecil, belati, sbagian ada yang membawa senapan dan lain - lain. Dustin memanggil salah satu dari anak buahnya untuk mengambil senjata dari ketujuh pria yang berdiri di depan.


"Kalian tahu, mengapa kalian berada di depan?" Tanya Dustin pada ketujuh pria itu, dan semuanya menggeleng serempak.


"Yakin?? Kalian seharusnya tahu apa maksudku." Ujar Dustin dan tiba - tiba saja ketujuh pria itu menjadi pias bersamaan.


"Tuan, tolong jangan apa - apakan kami, kami salah, kami minta maaf. Kami melakukan itu karena nyawa keluarga kami juga terancam." Ujar salah satu dari tujuh pria itu, langsung berlutut mengaku.


Semuanya terkejut, termasuk Cio. Jadi sungguhan ada penghianatnya? Dustin tidak sama sekali bergeming, dan hanya menatap kearah lain.


"Bawa mereka pada Lucia." Ujar Dustin, dan ketujuh pria itu langsung memohon ampun.


"Tuan! jangan tuan! Saya mohon, kami mengaku salah, tapi kami melakukannya karena keluarga kamindi sandera oleh Clins." Ujar mereka.


"Kalian bisa mengatakannya kepadaku, dan bukan sembarang mengambil keputusan sepihak. Kalian tidak menganggap aku dan kakakku, maka kalian bukan lagi anggota TITANES. Bawa mereka!" Ujar Dustin dan tujuh orang itu langsung di tangkap.


Memberontakpun percuma, bagi Dustin, tidak ada kata ampun untuk seorang penghianat.


"Clins... Telah memecah belah TITANES dari dalam, aku akui dia cerdas." Gumam Dustin dengan tatapan tajam.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2