Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 153. 7 Bulan berlalu.


__ADS_3

Dustin berdiri di depan jendela kaca besar di sebuah kamar, malam ini seluruh anggota keluarga memutuskan menginap di hotel itu. Ia memutar tubuhnya ketika mendengar pintu di buka dari luar.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Dustin mengernyit ketika melihat Jade masuk kedalam kamarnya.


"Kamar orang tuamu dan kamar ini bersebelahan, apa kau ingin mereka mendengar suaramu?" Ujar Jade.


Dia dengan santainya melenggang masuk kedalam kamar mandi dengan membawa sebuah tas.


"Gadis itu, kenapa dia selalu berbicara sangat ambigu begitu." Gumam Dustin.


Tak lama, Jade kembali keluar dan sudah menggunakan piyama tidur. Dustin pun kembali mengernyit ketika melihat Jade sudah siap menggunakan piyama.


"Kau tidak berencana untuk tidur di sini, bukan?" Tanya Dustin.


"Menurutmu??" Tanya Jade balik.


"Aku tidak mau tidur satu ranjang dengan orang lain." Ujar Dustin.


"Jangan Khawatir, aku pun tidak mau. Kau tidur saja di ranjangmu, aku bisa tidur di sofa." Ujar Jade, lalu mengambil sebuah bantal dan membawanya menuju sofa besar yang berada di kamar hotel itu.


Dustin melihat itu dan memperhatikan gerak gerik gadis bar - bar yang selalu membuat dirinya mati kutu itu.


Jade hendak tidur, tapi kemudian dia tiba - tiba duduk dan menatap Dustin. Dustin yang di tatap pun menjadi bingung.


"Apa?" Tanya Dustin.


"Tuan Dustin, semua anggota keluargamu sudah tahu bahwa aku adalah istrimu sekarang. Tolong setidaknya totalitaslah dalam bekerja sama, karena aku tidak mau di anggap gagal menjalankan misi." Ujar Jade.


"Sampai waktu yang di tentukan, kita akan berpisah dan tidak akan saling bertemu atau berhubungan lagi. Jadi jangan khawatirkan hal - hal kecil seperti ini."


( Jeda )


" Selain di dalam jam kerja, aku tidak akan mengganggu dirimu. Jika pun aku mengganggu, berarti ada hal penting yang terjadi, selamat malam." Ujar Jade lagi, lalu langsung tidur membelakangi Dustin.


"Apa - apaan itu, kenapa jadi dia yang mengatur." Gumam Dustin.


Sementara itu di kamar lain, Justin dan Qilin saat ini sedang bahagia karena perut Wilin mulai makin membesar dari terakhir kali mereka mengukurnya.


"Wah, sayang.. perutmu makin besar." Ujar Justin, tangannya sedang memegang pengukur tubuh yang melingkar di perut Qilin.


"Aku jadi gemuk." Ujar Qilin manyun.


"Tidak, sayang.. Hamil dan menjadi gemuk itu wajar. Setelah anak kita lahir nanti, kamu pasti akan kembali seperti semula lagi." Ujar Justin.


" Apa kamu masih akan tetap mencintaiku jika tubuhku semakin melar?" Tanya Qilin, Justin pun terkekeh mendengarnya.


"Tentu aku akan tetap mencintai kamu, sayang. Cintaku kepadamu tidak akan pernah hilang atau bahkan pudar." Ujar Justin.


"Terimakasih.." Ucap Qilin.


Dua kakak beradik itu mengalami kisah cinta yang rumit. Sang kakak yang bahagia dengan istri yang sangat di cintainya bersama calon anak mereka, sementara sang adik masih saja harus menyembunyikan kebohongan perasaan nya.


Sampai akhirnya hari yang paling di tunggu - tunggu oleh semua orang pun tiba, yakni hari kelahiran anak pertama Justin dan Qilin.


7 BULAN KEMUDIAN..


Semua orang sedang panik di sebuah ruangan di rumah sakit, karena hari ini Qilin akan melahirkan. Justin berada di dalam, mememani Qilin yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.


Arthur ikut merasakan paniknya, karena ia jadi teringat dengan momen saat Sierra melahirkan kedua putra mereka dulu.


"Semoga cucu kita dan Qilin baik - baik saja, nyonya Agra." Ujar Sierra menggenggam tangan Dewi, Dewi pun mengangguk sambil beruraian air mata.

__ADS_1


"Qilin adalah wanita yang kuat, mereka pasti akan baik baik saja." Ujar Sahara.


Ya, Sahara dan Cornelius juga ada di sana untuk menyambut kelahiran cicit pertama mereka.


"Jade, kemari sayang." Panggil Sierra pada Jade yang sedari tadi hanya duduk bersama Dustin tanpa sepatah katapun.


Ya, Jade masih belum mengakhiri pernikahan pura - pura mereka. Dustin yang meminta nya sendiri untuk agar Jade tetap menjadi istri pura - puranya, karena Dustin tidak tega menyakiti hati Sierra.


Alhasil, Dustin pun meminta kepada Jade dan berkata alan membayar Jade dengan berapapun nominal yang Jade minta, asal Jade masih mau bekerja dengannya untuk menjadi istri pura - puranya di depan keluarga Edward.


"Kita para wanita, harus saling menguatkan, sayang." Ujar Sahara dan jade tersenyum manis.


"Senyum Jade secerah matahari, Dustin beruntung memiliki istri yang cantik dan baik hati sepertimu, nak." Ujar Sierra dan melirik Dustin.


"Terimakasih mommy, oma." Ujar Jade dengan senyum merekah dan melirik kearah Dustin.


Terlihat juga Lucio dan Luca yang duduk bersebelahan dengan Dustin, mereka semua berkumpul di ruangan yang sama.


Sementara di dalam, Justin sedang ikut menangis karena melihat Qilin yang juga menangis kesakitan.


"Sakit, sayang.." Erang Qilin dalam tangisnya.


"Sabar ya, sayang.. kamu pasti bisa." Ujar Justin, ia berulang kali menciumi wajah Qilin yang berkeringat dingin dan berurai air mata.


"Kita hitung sampai tiga, nyonya. Mengenjanlah ketika saya bilang go." Ujar dokter, dan Qilin mengangguk.


"Satu.. Dua.. Tiga.. Go!" Ujar Dokter.


Qilin mengenjan dengan nafas yang ia tahan sampai wajahnya memerah dan bahkan uratnya tercetak jelas di wajahnya.


"EEENNNGGGGGG!!!!!!!!


"Oek! Oek! Oek!" Suara tangisan bayi sangat kencang memenuhi ruangan itu.


"Wah, selamat tuan dan nyonya, anak pertama kalian berjenis kelamin laki - laki, dia bayi yang sangat tampan." Ucap Dokter, dan meletakan bayi itu di atas dada Qilin.


"Oek! oek! Oek!" Suara tangisnya benar - benar menggelegar.


Ya, Qilin dan Justin sengaja untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak mereka. Mereka ingun agar kelahiran anak mereka menjadi kejutan untuk semua orang.


"Jagoan papa dan mama, selamat datang kedunia, sayang." Ujar Justin, dan mengecup putra kecilnya itu.


Qilin menciumi berkali - kali putranya itu, rasa sakit yang mebderanya sebelumnya sudah tergantikan dengan haru dan kebahagiaan.


Putra pertama Qilin dan Justin memiliki kombinasi dari kedua orang tuanya. Rambutnya hitam seperti Justin, tapi memiliki bibir yang seperti Qilin. Sorot matanya sama seperti Justin, tapi ketika dia terlihat tenang, bisa terlihat seperti Qilin.


Semua orang di luar ruang bersalin juga merasa lega ketika mendengar suara tangis bayi yang sangat keras itu.


"Akhirnya.. kau dengar itu tuan Agra, cucu kita telah lahir." Ujar Arthur bahagia.


"Ya, tuan. Aku yakin dia laki - laki." Ujar Agra.


"Mana ada, dia pasti perempuan." Ujar Arthur.


"Dua laki - laki ini selalu saja ribut tentang jenis kelamin cucu mereka. Yang penting cucu kita lahir dengan selamat, apapun jenis kelaminnya." Ujar Sierra.


"Itu benar." Dewi menimpali.


'Jika dia perempuan, dia pasti sangat cantik seperti ibunya. Dan jika dia laki - laki, dia pasti tampan seperti kakak.' Batin Dustin.


Dan setelah beberapa saat, akhirnya dokter pun keluar. Dokter itu langsung di serang oleh Arthur dan Agra yang sangat antusias.

__ADS_1


"Bagaimana dok? Apa jenis kelamin cucu kami?" Tanya Sierra.


"Selamat para tuan dan para nyonya, jenis kelamin putra pertama tuan Justin dan nyonya Qilin adalah laki - laki." Ujar Dokter.


"Yes! Laki - laki." Ujar Agra senang. Arthur tampak sedikit kecewa, tapi dia tetap bahagia, bagaimanapun juga itu adalah cucunya.


"Jangan berkecil hati, tuan Arthur. Anda masih memiliki kandidat berikutnya. Nak Dustin, kamu harus memberi ayahmu ini cucu perempuan." Ujar Agra.


Dustin pun hanya tersenyum mendengarnya, Jade juga hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


"Doakan saja kami, paman." Ujar Jade, agar tidak terlalu mencurigakan.


Kebahagiaan meliputi keluarga besar itu, pertikaian keluarga yang dulu terjadi seakan tidak pernah terjadi dan mereka menjadi keluarga besar yang bahagia.


Singkat cerita, akhirnya mereka semua boleh menjenguk Qilin dan putranya. Qilin tampak lemah, mungkin karena pengaruh obat. Sementara bayi mereka saat ini sedang di gendong Sierra.


"Ya ampun, lucu sekali dia." Ucap Sierra, tak henti - hentinya memuji.


"Benar - benar kombinasi ayah dan ibunya." Ujar Dewi.


"Sudah kamu siapkan nama untuk putramu, nak?" Tanya Arthur.


"Aku dan Qilin sudah menyiapkan beberapa nama untuk bayi laki - laki, dan kami sudah sepakat memberinya sebuah nama.." Ujar Justin, menatap Qilin.


"Reinhard Nehemia Edward." Ujar Justin dan Qilin bersamaan dengan bangga.


"Nehemia?? Nama belakang Qilin?" Tanya Dewi.


"Ya, ma." Sahut Justin.


"Rein.. Kamu harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan hebat seperti ayah dan ibumu. Pemberani dalam mengambil langkah dan memiliki hati yang luas seperti ibumu." Ujar Arthur.


Qilin tak henti - hentinya tersenyum melihat semua orang menyayangi anaknya.


"Rein.." Gumam Justin, dan menciumi tangan Qilin.


Dan setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Rein saat ini sedang menyusu pada ibunya. Bayi laki - laki itu terlihat sangat mengantuk dengan pipi chubynya, sangat menggemaskan. Sementara semua orang sudah tidak tampak di sana, hanya Justin dan Qilin saja.


"Sekarang aku tidak bisa menikmati itu." Ujar Justin.


"Menikmati apa?" Tanya Qilin.


"Menikmati apa yang sedang anak kita minum." Ujar Justin, nakal.


"Ish, mesum! Sebaiknya buang pikiran itu jauh - jauh, karena mulai sekarang ini milik anakmu. Kamu tidak mungkin mau berebut dengan Rein, bukan?" Ujar Qilin. Justin pun terkekeh.


"Tentu aku tidak akan merebutnya, jagoan kecil papa, kamu sudah merebut milik papa. Saat kamu besar nanti harus patuh dan sayang pada mamamu, oke." Ujar Justin pada Baby Rein.


Rein hanya menggerakan jari jemarinya saja sambil mulutnya terus mengenyot.


"Uhh.. Papa gemesh banget sama kamu, nak." Ujar Justin mencium pipi Rein.


"Oek! Oek! Oek!" Tangis Rein pecah.


"Justin, kamu nakal sekali!" Protes Qilin dan Justin terkekeh.


"Maaf, sayang.. Maaf ya, papa nakal." Ujar Justin akhirnya.


Keluarga bahagia bukan? Perjalanan cinta mereka yang panjang, berbuah manis. Pria sedingin Justin Xander Edward di pertemukan dengan Qilin, gadis dengan sejuta deritanya dan berakhir hidup bahagia bersama.


Di tsmbah lahirnya Rein, Keluarga kecil mereka telah lengkap sepenuhnya.

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti kisah Justin dan Qilin sampai selesai..


...THE END......


__ADS_2