Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS.102. Tubuh tidak bertulang karena di pingit.


__ADS_3

Sementara itu, Qilin dan Justin sudah sampai di hotel. Ya.. dua dua keluarga itu masih menginap di hotel, agar bisa lebih saling dekat lagi satu sama lain..


" Halo.. " Sapa Qilin pada semua orang.


" Nah, ini dia si calon pengantin. Bagaimana, apa gaunnya sudah jadi?" Tanya Sierra.


" Sudah, mom." Ujar Qilin.


Qilin duduk dan langsung memeluk ibunya dengan manja, Dewi sampai terkekeh karenanya.


" Sudah mau menikah, masih saja begini manja." Ujar Dewi mengusap usap kepala Qilin.


" Sayang, harusnya kalian sudah di pingit, lho." Ujar Sierra.


" Apa itu?" Tanya Justin.


" Dipisahkan sementara, sebelum akhirnya kalian akan bertemu di altar pernikahan nanti." Ujar Sierra.


" No, aku tidak mau." Ujar Justin, dan semua orang terkekeh.


" Dia persis seperti daddy nya, dulu Arthur juga uring uringan ketika akan di pingit dengan Sierra." Ujar Sahara.


" Astaga, Mi.. tidak perlu buka kartu juga, kan." Ujar Arthur dan semua orang terkekeh, kecuali Agra.


Bagaimanapun Agra menikahi Dewi dengan paksaan, jadi dia tidak tahu ada hal hal seperti itu.


" Intinya aku tidak mau di wingit." Ujar Justin.


" Pingit bukan wingit.." Ujar Sierra membenarkan.


" Iya, itu apalah.. intinya aku tidak mau." Ujar Justin kukuh.


" Harus, nak.." Ujar Sahara.


" Oma.." Rengek Justin, sementara Qilin hanya terkekeh geli melihat Jistin yang ribut.


" Kita tanyakan saja pada Qilin, Qilin sayang.. kamu mau kan di pingit?" Tanya Sierra.


Justin menatap Qilin dengan penuh harap, bahkan kepala Justin bergerak gerak seakan memberi kode untuk menolak. Tapi Qilin justru mengangguk, Justin pun langsung lemas seperti tidak bertulang.


" Mau, mom." Ujar Qilin dan semua orang bertepuk tangan.


" Sayang.." Ujar Justin lemas, tapi Qilin justru tertawa dengan puas.


" Malam ini, kita akan terbang ke Bali. Tapi karena kalian harus di pingit, jadi kita akan tinggal di Vila yang berbeda. " Ujar Sierra.


" Mom, mommy serius mau memisahkan aku dan Qilin?" Ujar Justin protes.


" Toh hanya beberapa hari, bukan selamanya." Ujar Sierra.


" Tetap saja, aku bahkan tidak bisa hidup tanpa Qilin jika tidak melihatnya satu detik." Ujar Justin, dan yang lain langsung berdehem - dehem.


" Tidak menerima komplain." Ujar Sierra.


" Oma, tolong Justin." Ujar Justin seperti anak kecil yang mengadu pada neneknya.


" Oma juga tidak menerima komplen." Ujar Sahara.

__ADS_1


" Lengkap sudah.." Gumam Justin dengan lemas.


" Kak, kita bisa bermain di pantai kan berarti? Akhirnya punya waktu bermain dengan kakak." Ujar Cio, dan Justin langsung menatap kearah Cio.


" Tidak! Aku tidak mengijinkannya." Ujar Justin langsung berdiri tegak.


" Dilarang komplen.." Ujar Sahara dan Sierra bersamaan.


Sementara Arthur dan Cornelius tertawa puas melihat Justin yang seakan sedang di pojokan itu.


" Qilin akan memghabiskan waktunya dengan keluarganya sebelum akhirnya dia akan di kurung olehmu. Kamu juga harus menghabiskan waktumu dengan kami, sebelum kamu menjadi kepala keluarga di keluargamu sendiri nanti." Ujar Sahara.


" Tapi.."


" Sudah, tenanglah.. Qilin hanya mencintaimu jadi jangan khawatir dia akan pindah ke lain hati hanya karena tidak bertemu denganmu beberpa hari." Ujar Sierra memotong Justin.


Justin yang malang, dia tidak memiliki pendukung untuk menegakan keadilan bagi dirinya. Masalahnya adalah, ketika berargumen melawan wanita.. kamu hanya akan kalah dan kalah, itu saja.


Satu wanita saja bisa membuatmu terpojok, apalagi dua wanita.. kamu bisa di pastikan mati berdiri sebelum berperang, tanpa bisa berucap sepatah katapun.


' Kenapa harus pantai..' Batin Justin lemas.


Ya, pantai.. Yang ada di otak Justin saat ini adalah Qilin yang akan bermain di pantai. Kalian pasti tahu sendiri pantai seperti apa, pakaian yang terbuka, banyaknya orang orang yang juga berada di sana, terutama laki - laki.


Justin tidak rela Qilin nya di lihat oleh laki laki lain, karena dirinya sendiri bahkan belum pernah melihat seperti apa rupa Qilin ketika menggunakan pakaian pantai, atau bik*ni.


"Yang sabar, nak.." Ujar Arthur sembari terkekeh.


Dan malam harinya..


Justin benar benar di pisahkan dari Qilin, mereka tidak menggunakan pesawat yang sama dan tidak bertemu di bandara juga.


" Kak, ayo.." Ujar Dustin.


" Hm.." Sahut Justin dan bangun dari duduknya.


Sierra terkekeh melihat Justin yang kehilangan semangatnya itu, benar benar lucu. Jusrin berjalan lebih dulu menyusul Sahara dan Cornelius menuju pintu masuk pesawat.


" Kamu tidak apa apa, nak?" Tanya Arthur.


" Tidak apa apa, dad." Sahut Dustin.


Yang di maksud Arthur adalah hati Dustin, dia akan kembali menelan pil pahit ketika pernikahan Justin dan Qilin di gelar nanti.


" Jika nanti kamu tidak kuat, .."


" Aku kuat, mom.. jangan khawatir. Aku bisa mengendalikan perasaanku." Ujar Dustin, memotong ucapan Sierra.


Sierra pun menghela nafasnya dan memeluk Dustin, masih tidak bisa dia percaya dua bersaudara kembar itu menyukai orang yang sama.


" Ayo kita masuk, pesawat akan lepas landas." Ujar Arthur dan Sierra mengangguk.


" Mommy sangat menyayangimu, nak." Ujar Sierra dan Dustin tersenyum.


Akhirnya mereka pun berjalan menuju ke pesawat, dan Dustin duduk di hadapan Justin. Pesawat itu adalah jet pribadi keluarga Edward, jadi mereka bisa duduk berhadapan.


Dustin menatap kakaknya itu yang saat ini sedang fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


' Wajah kita sama, suara kita sama, tidak ada yang berbeda dari kami. Tapi kenapa nasib kami berbeda..' Batin Dustin sembari menatap Justin.


" Kenapa kau menatapku terus dari tadi?" Tanya Justin tiba tiba.


" Kau menyadarinya? Jeli sekali." Ujar Dustin terkekeh.


" Ada apa? Jika kau butuh bantuan untuk menyelamatkan kekasihmu dari pernikahannya, katakan padaku." Ujar Justin dan Dustin justru tersenyum mendengarnya.


' Jika kamu tahu yang sebenarnya, apa kamu akan melepaskan Qilin untukku, kak?' Batin Dustin.


" Aku bisa melakukannya sendiri." Ujar Dustin.


" Kata - katamu tidak meyakinkan." Ujar Justin, dan Dustin terkekeh.


" Aku yakin.. Lebih baik kakak pikirkan saja, besok atau lusa.. Qilin mengenakan bikini dan bermain bola di pantai." Ujar Dustin sembari terkekeh.


" Kau si*lan, kenapa kau mengingatkan aku dengan hal itu, haish!" Ujar Justin kesal dan Dustin tertawa senang.


" Selamat berpikir, aku mau tidur." Ujar Dustin dan menutup matanya dengan melipat kedua tangannya.


Sementara Justin, dia benar benar parno saat ini, dia takut Qilin sungguhan menggunakan bik*ni dan berlarian di pantai, dia tidak bisa bayangkan berapa pasang mata menatap Qilinnya.


' Dia pasti akan terlihat sangat cantik dengan pakaian seperti itu, tidak! Aku akan pergi diam diam nanti, untuk menemui Qilin.' Batin Justin.


Dan akhirnya setelah kurang lebih dua jam mereka mengudara, kini mereka pun sampai di bandara. Dustin menguap sambil berjalan sementara Justin berjalan dengan wajah dingin sedingin kutub utara.


" Tuan, nyonya, selamat datang." Sapa supir Arthur yang dia pekerjakan di Bali.


" Terimaksih, bli." ujar Arthur.


Mereka pun naik kedalam mobil van besar berwarna putih dan pergi dari sana.


Di tempat lain..


Qilin sudah berada di sebuah hotel, hotel dimana dia akan melangsungkan pemberkatan sekaligus resepsi pernikahannya dengan Justin.


Nyatanya, memang hotel itu menghadap langsung ke pantai, bahkan dari kamar yang Qilin tempati pun langsung menghadap ke lautan.


" Sejuk sekali." Gumam Qilin dan tersenyum senang menatap kearah pantai.


Qilin sedang duduk dengan mencelupkan kakinya di kolam, ya.. di luar kamar Qilin terdapat kolam renang, yang juga menghadap ke pantai.


" Kamu merindukan Justinmu, hum?" Ujar suara Dewi tiba tiba muncul.


" Mama.." Gumam Qilin terkejut.


" Malam - malam bukannya tidur, malah melamun di luar." Ujar Dewi.


" Hanya sedang gelisah.." Ujar Qilin.


" Karena akan menikah?" Tanya Dewi dan Qilin mengangguk.


" Menikah itu mudah, tapi menjalani pernikahanlah yang sulit. Pasang surut yang terjadi dalam pernikahan, kamu harus bisa menghadapinya." Ujar Dewi.


" Tapi mama yakin kamu akan bisa melaluinya, kalian saling mencintai, dan Justin.. dia sangat mencintaimu, mama tahu itu." Ujar Dewi.


" Mama yakin, kamu bisa menjadi istri yang baik untuk Justin. Jadi jangan terlalu gelisah.. yakinlah pada dirimu sendiri." Ujar Dewi, dan Qilin mengangguk.

__ADS_1


" Ayo, ini sudah malam." Ujar Dewi lagi, dan Qilin pun bangun dari duduknya, kemudian masuk kedalam kamar.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2