
Rena membuka matanya dan melihat Fendy yang sedang memejamkan tertidur sembari menggenggam tangannya.
' Apa aku kehilangan anakku?' Batin Rena.
Pertama kali yang dia ingat adalah bayinya, karena Rena lebih dulu kehilangan kesadaran karena kesakitan sebelum dia tahu apa bayinya baik baik saja atau tidak.
' Maafkan mama karena tidak bisa menjagamu, nak.. mama adalah mama yang buruk.' Batin Rena dan menangis.
' Mama terlalu terbawa dengan emosi dan perasaan, dan tidak terpikirkan akibatnya akan terjadi padamu, mama minta maaf.' Batin Rena lagi.
Rena menangis hingga tubuhnya bergetar dan itu membangunkan Fendy.
" Rena, kamu sudah bangun.. sukurlah." Ujar Fendy senang.
" Kamu ingin sesuatu? Apa kamu haus?" Tanya Fendy, tapi Rena menggeleng dan justru menangis.
" Hey.. jangan menangis, jangan menangis." Ujar Fendy mengusap air mata Rena.
" Anakku.. dia tidak selamat.. maafkan aku tidak bisa menjaganya." Ujar Rena.
" Anak kita, Rena.. dia anak kita, anakku dan anakmu. Dia baik baik saja di dalam sini." Ujar Fendy mengusap perut Rwna dan Rena tertegun mendengarnya.
" Kamu tidak bohong padaku?" Ujar Rena, dan Fendy mengangguk.
" Dia baik - baik saja di dalam sana, kamu hanya mengalami kontraksi." Ujar Fendy.
" Sukurlah.." Gumam Rena dan mengusap perutnya sambil menangis bahagia.
" Aku mohon padamu, jika ada seauatu yang kamu pikirkan dan khawatirkan.. katakan kepadaku. Apapun itu, berbagilah denganku, bukankah kota alan menikah." Ujar Fendy.
Tapi seketika Rena diam, dia diam karena apa yang Fendy katakan tidak mungkin dia lakukan.
" Fendy.." Ujar Rena akhirnya menatap Fendy.
" Hm.." Sahut Fendy.
" Aku tidak lagi menahanmu untuk menikahiku." Ujar Rena tiba tiba dan itu membuat Fendy tertegun.
" Jika kamu menikahiku hanya karena anak ini.. maka tidak perlu. Aku bisa membesarkan anak ini sendirian, dan.."
" Apa yang kamu katakan Rena?" Ujar Fendy memotong ucapan Rena dengan wajah tidak percaya.
" Aku tidak mau menikah, jika alasanmu menikah denganku hanya karena kamu merasa bertanggung jawab atas anak ini. Aku egois jika aku melakukan itu.." Ujar Rena, dan Fendy berkaca kaca mendengarnya.
" Kita menikah tanpa dasar cinta, kamu menikahiku hanya karena rasa tanggung jawab. Bagaimana.. bagaimana jika tiba tiba aku kehilangan anak ini nanti.." Ujar Rwna dengan menahan tangisnya.
" Rena." Ujar Fendy memotong ucapan Rena.
" Aku tidak menahanmu, aku akui aku mulai mencintaimu, mulai berharap banyak padamu, tapi kemudian aku tahu bahwa yang kamu cintai bukan aku.. tapi Qilin." Ujar Rena membawa nama Qilin.
__ADS_1
Rena tidak melihat bagaimana wajah Fendy saat ini, Fendy sudah berkaca kaca bahkan setetes air mata sudah menetes dari pipinya.
" Aku tidak mau mencintai sendirian.." Ujar Rena akhirnya.
" Sudah selesai bicaranya?" Ujar Fendy dengan suara parau.
Rena tertegun dan menatap Fendy yang rupanya sudah menangis.
" Kamu menangis?" Ujar Rena, karena melihat mata Fendy yang basah.
" Hm.. karena seseorang dengan mudahnya mendorongku untuk menjauh dari hidupnya." Ujar Fendy.
" Aku hanya melakukan hal yang benar." Ujar Rena.
" Benar menurutmu, tapi tidak menurutku." Ujar Fendy.
" Kamu tidak mencintaiku, Fen.. untuk apa menikahiku. Aku tahu kamu hanya merasa bertanggung jawab denganku karena ada anak ini." Ujar Rena.
Fendy mengungkung Rena dengan kedua tangan nya dan merwka saling beradu tatap saat ini.
" Apakah kata sayangku, rinduku yang sering aku ucapkan padamu tidak membuatmu sadar bahwa aku mencintaimu?" Ujar Fendy dan Rena tertegun mendengarnya.
" Aku merasa bertanggung jawab dengan anak kita, aku akui itu tanggung jawabku. Tapi lebih dari itu Rena.. aku mulai mencintaimu." Ujar Fendy.
Air mata di sudut mata Rena mengalir begitu saja.
" Aku mencintaimu, dan anak kita.." Ujar Fendy lalu kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Rena yang sedang menangis.
" Kamu tidak membohongiku?" Ujar Rena.
" Tidak, sayang.." Ujar Fendy, dan mengusap kepala Rena.
Sejujurnya Fendy juga awalnya tidak yakin dengan apa yang dia rasakan, dia pikir dirinya masihlah mencintai Qilin, tapi rupanya debaran itu sudah tidak ada ketika ia melihat Qilin.
Dan ketika mendengar Rena menyuruhnya menjauh, hatinya sakit bagai di tikam.. dan dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak mau kehilangan Rena.
Dan Fendy sangat bersukur, dia juga tidak kehilangan anaknya yang masih di dalam kandungan.
" Terimakasih anak papa, kamu sudah menyatukan mamamu dan papamu." Ujar Fendy, lalu kemudian mencium kening Rena.
" Sudah, jangan menangis, kasihan dia di sana." Ujar Fendy dan Rena mengangguk.
" Kamu tidak perlu ikut aku menghadap papaku, aku akan datang padanya sendirian." Ujar Fendy tiba tiba.
" Bagaimana jika kamu di pukul?" Ujar Rena khawatir.
" Tidak akan, aku sudah bilang bahwa aku sudah lebih dari mampu untuk melawan papaku." Ujar Fendy.
" Aku hanya harus memberitahunya bahwa kita akan menikah, itu saja." Ujar Fendy, dan Rena mengangguk.
__ADS_1
" Jangan pikirkan banyak hal, aku tidak akan pergi darimu, dan aku sangat mencintai kalian." Ujar Fendy lagi, dan Rena kembali mengangguk.
Ke esokan harinya..
Fendy keluar dari rumah sakit dan pergi dengan mobilnya, Fendy berencana untuk mendatangi ayahnya itu.
" Ring.. Ring.." Telepon Fendy berdering, dan Fendy pun mengangkatnya.
" Ya.." Ujar Fendy.
" Tuan Fendy, persiapan pernikahan nya sudah selesai." Ujar seorang pria dari seberang telepon.
" Ya, terimakasih.. kami akan kesana nanti." ujar Fendy, dan panggilan di akhiri.
Fendy sudah mempersiapkan pernikahan dadakan yang dia atur semalam. Fendy ingin menikahi Rena hari ini juga, agar Rena tidak banyak berpikir hal yang tidak tidak.
' Kita akan menikah, Rena.' Batin Fendy.
Dan beberapa saat kemudian, Fendy sampai di sebuah rumah yang sangat megah. Fendy menatap rumah itu dengan perasaan bercampur aduk, tapi akhirnya dia memberanikan diri juga untuk masuk.
" Tuan muda? Akhirnya anda kembali??" Ujar penjaga.
" Apa pria itu ada di rumah?" Tanya Fendy.
" Ada tuan, ada.." Ujar Penjaga dengan senyum sumringah.
Fendy berjalan masuk dan melihat pintu rumah yang dulu menjadi saksi bagaimana ibunya di usir. Fendy tidak mau larut dalam masalalu, dia langsung membuka pintu itu dan mencari keberadaan ayahnya.
" Fendy Wiliam, akhirnya kamu ingat pulang juga setelah lebih dari sepuluh tahun kau meninggalkan rumah ini?" Ujar suara yang sangat Fendy kenali.
Ayahnya, yang saat ini sedang berdiri di ujung tangga dengan stelan rapi. Terlihat ayah Fendy menggunakan tongkat, entah itu untuk membantunya berjalan atau hanya untuk pegangan semata.
Fendy menatap sosok yang dulu segar dan sekarang sudah tampak makin tua, rambut ayahnya bahkan sudah sepenuhnya memutih setelah kurang lebih sepuluh tahun mereka tidak bertemu.
" Aku datang bukan untuk pulang, tapi aku ingin memberi tahumu sesuatu. Aku benci mengakui bahwa kau ayahku, tapi sebegai anak yang beradab.. aku harus datang padamu sekarang." Ujar Fendy.
Terlihat ayah Fendy hanya diam menuruni satu persatu anak tangga dengan bantuan tongkat yang di pegangnya.
" Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku akan menikah." Ujar Fendy dan berbalik pergi meninggalkan ayahnya yang bahkan masih berada di tengah anak tangga.
" Anak nakal! Kembali kau!!" Teriak ayah Fendy, tapi Fendy tidak menggubrisnya.
" Haih, anak itu benar- benar.. sepertinya aku harus melakukan seauatu." Ujar ayah Fendy dan mengeluarkan ponselnya.
Di rumah sakit, lebih tepatnya di kamar Rena, tiba tiba beberapa pria berbadan besar masuk dan memukul para perawat hingga pingsan.
" Siapa kalian!" Ujar Rena dengan ketakutan dan spontan memegang perutnya.
" Jangan banyak tanya, lebih baik kau diam dan ikut kami." Ujar pria itu dan memukul leher Rena hingga pingsan,
__ADS_1
Para pria itu pun membawa Rena pergi.
TO BE CONTINUED..