
Justin menciumi Qilin dengan sangat lembut, sementara salah satu tangannya sedang bekerja untuk membuka kancing baju Qilin.
Setelah lamanya Justin memanaskan tubuh Qilin, kinilah saatnya Justin melakukannya. Tapi tiba - tiba Justin sedikit ragu dan tidak tega menyakiti Qilinnya.
" Kamu serius sudah yakin, sayang?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
" Aku yakin." Ujar Qilin.
" Baiklah, jika kamu tidak kuat, kamu katakan saja. Ini mungkin akan sedikit sakit." Ujar Justin.
" Ya.." Sahut Qilin.
Dan Justin pun memulainya, tapi baru saja Justin menekan, Qilin sudah terlihat meringis kesakitan.
" Apakah sakit? Maafkan aku sayang." Ujar Justin merasa bersalah.
" Tidak apa - apa, lanjutkan saja." Ujar Qilin.
Toh dirinya sudah merasa sakit pikirnya, jika di sudahi setengah jalan pun dia akan tetap merasakan sakitnya.
" Tahan, sayang.." Ujar Justin.
Justin mencoba nya lagi, dan beberapa kali selalu gagal karena memang itu adalah pertama kalinya bagi Qilin. Dan setelah beberapa lama Justin mencoba, akhirnya itu berhasil.. namun masih belum keseluruhan.
" Aw!!" Qilin meringis kesakitan.
" Rileks, sayang.. jangan tegang." Ujar Justin.
Justin yang tidak tega melihat Qilin tersiksa akhirnya dia menghentakannya dengan sekali hentakan dan.
" Aw! Justin, sakit!!" Ujar Qilin dan menangis, sembari tangannya mencengkeram kuat pundak Justin.
" Maaf, sayang.. jika tidak begini, kamu akan kesakitan lebih lama." Ujar Justin.
Justin menghapus air mata Qilin dan menciuminya, Qilin benar benar merasakan sakit yang teramat sangat di bawah sana.
" Tahan, ya.." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk sembari menahan sakit.
Akhirnya Justin melakukannya, dan berakhir Qilin yang merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan. Sakit yang dia rasakan di awal kini berganti dengan rasa nikmat yang membuatnya seakan terbang.
Mereka pun melanjutkan aksinya itu, dan sore itu, Justin sangat bahagia karena dia mendapatkan mahkota pertama Qilin, wanita yang sangat dia cintai.
Suara hujan deras di luar menjadi pengiring keduanya dalam menikmati hal manis yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya selama mereka hidup.
Ke esokan harinya..
Qilin terbangun ketika ia merasakan hembusan nafas dari tengkuk lehernya. Qilin kemudian tersenyum ketika mengingat betapa manisnya kejadian semalam.
Ya, hingga semalaman.. dan mereka akhirnya tidak makan malam sama sekali karena kelelahan dan berakhir tidur dengan saling berpelukan.
' Aku sudah benar benar menjadi istri Justin sekarang.' Batin Qilin.
Tiba - tiba Justin mengeratkan pelukannya di perut Qilin dan menciumi tengkuk Qilin.
" Kamu sudah bangun, sayang?" Ujar Justin dengan suara beratnya.
" Hm.. sepertinya kita kesiangan." Ujar Qilin.
__ADS_1
" Tidak apa - apa.." Ujar Justin dan semakin mengeratkan pelukannya.
" Kenapa semakin erat? Apa kamu tidak mau bangun?" Tanya Qilin.
" Jika aku boleh jujur, aku mau seharian seperti ini denganmu." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
" Tapi aku lapar." Ujar Qilin, karena semalam dia belum makan.
" Benar, kamu tidak makan semalam. Kalau begitu kita mandi, lalu kita sarapan." Ujar Justin.
Justin pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi dengan hanya menggunakan bo*er saja tanpa atasan. Qilin bisa melihat punggung Justin yang terdapat cakaran cakaran tangan.
' Astaga, semalam apa aku sangat keras mencakar Justin, punggungnya sampai penuh cakaran. ' Batin Qilin.
Qilin hendak bangun tapi kemudia..
" Aduh!! Shh.." Qilin merasakan sakit yang teramat sangat, di pangkal pahanya.
" Ada apa sayang?!" Tanya Justin dengan panik.
" Bagian (itu) ku sakit sekali." Ujar Qilin.
" Karena kita pertama kali melakukannya, jadi itu akan sangat terasa sakit. Biar aku gendong kamu ke kamar mandi." Ujar Justin.
" Tapi apa kamu boleh kesana dulu, aku pakai baju dulu." Ujar Qikin malu.
Justin terkekeh karenanya, Qilinnya masih saja malu dan menggemaskan.
" Setelah semalaman kita melakukan ( itu), bagian mana lagi dari tubuhmu yang belum aku lihat, hum? " Ujar Justin, dan Qilin langsung merona.
" Kita sudah menikah, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa aku milikmu, dan kamu miliku??" Ujar Justin, lagi.
Justin menggendong Qilin yang sedang polos saat ini menuju ke kamar mandi, Justin pun mendudukan Qilin kedalam bath tub yang sudah ia isi dengan air hangat.
" Menurut internet, berendam dengan air hangat akan mengurangi sakit pada ( itu ) mu, jadi kamu berendam dulu di sini, aku akan memesan makanan untuk sarapan kita." Ujar Justin.
" Ya.." Sahut Qilin.
Justin mengecup bibir Qiilin singkat lalu keluar dari kamar mandi.
Justin berjalan kearah nakas dimana ada telepon hotel di sana, dan perhatiannya kini teralihkan pada sebercak merah di sprei kamar itu.
' Aku masih tidak percaya kami sudah melakukannya, aku mendapatkan yang pertama, terimakasih sayang, kamu menjaga mahkotamu untuk suamimu ini.' Batin Justin sembari tersenyum.
Setelah memesan makanan, Justin pun masuk kembali kedalam kamar mandi. Justin membantu Qilin mandi, lalu dia pun kembali menggendong Qilin untuk duduk di sofa.
Justin bahkan membantu memakaikan pakaian Qilin, dan sesekali mengecupi punggung Qilin.
" Justin.. geli." Ujar Qilin dengan nada manja.
" Maaf, sayang. Aku terlalu gemas padamu." Ujar Justin.
" Aku mandi dulu, jangan kemana - mana, oke?" Ujar Justin.
" Lagi pula aku tidak bisa berjalan." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.
Justin pun akhirnya mandi, dan setelah Justin selesai, makanan pun tiba. Justin menyiapkan makanan itu untuk Qilin kemudian mereka pun makan bersama.
" Apa kamu mau ke suatu tempat?" Tanya Justin.
__ADS_1
" Mmm.. aku tidak tahu di sini ada apa, aku tidak pernah kemanapun." Ujar Qilin.
" Kita keliling Bali saja kalau begitu." Ujar Justin.
" Aku ikut saja." Ujar Qilin dengan senyum manisnya.
" Istriku manis manis sekali." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.
Akhirnya setelah mereka memghabiskan makanan, mereka pun bersiap untuk keliling Bali yang Justin maksudkan. Qilin menggunakan dress selutut berwarna putih, dengan topi pantai berwarna cokelat yang mengiasi kepalanya.
Itu adalah Justin yang menyiapkan, dan Justin sendiri juga menggunakan kemeja putih, dengan celana cokelat sebagai pasangannya. Mereka pun berjalan keluar dari kamar hotel itu.
Meski merasa sakit, Qilin berjalan dengan senormal mungkin.
" Apa masih sakit, sayang? Jika masih sakit, aku gebdong kamu saja." ujar Justin.
" Sedikit, aku jalan saja." Ujar Qilin.
Terlihat, hotel juga sudah ramai dan kembali seperti sediakala dengan tamu yang berdatangan hendak menginap di hotel itu.
" Selamat siang tuan, nyonya." Sapa seorang pria.
" Siang.." Sahut Qilin dengab ramah.
" Tolong siapkan mobil, aku akan pergi dari sini." Ujar Justin.
" Baik, tuan." Ujar pria itu.
" Kenapa kalian seolah saling mengenal?" Tanya Qilin.
" Ini hotelku, sayang." Ujar Justin, dan Qilin terperanga.
" Kamu serius?" Tanya Qilin.
" Ya, dan kini hotel ini juga menjadi milikmu." Ujar Justin.
Qilin masih hanya berkedip, tapi pertanyaan di hatinya kini terjawab sudah. Dia sejak kemarin merasa heran dengan hotel itu yang di kosongkan demi pernikahannya dengan Justin, rupanya itu milik Justin sendiri.
" Ayo, sayang." Ujar Justin, ketika mobil nya sudah berada di lobi.
Akhirnya mereka berdua pun naik ke mobil, dan pergi dari sana.
" Kamu tahu, dulu mommy dan dan daddy juga menikah di Bali." Ujar Justin.
" Sungguh?" tanya Qilin, dan Justin mengangguk.
" Kini kita juga menikah di sini." Ujar Justin dan Qilin tersenyum dengan begitu manis.
" Lalu sekarang kita mau kemana?" Tanya Qilin.
" Ke sebuah tempat yang indah." Ujar Justin.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota Bali yang padat. Banyak turis yang datang dari berbagai Negara di sana, terlihat mereka beruntun menggunakan sepeda motor menyusuri jalan itu juga.
Jalanan yang meliuk liuk seperti di pegunungan, dan pemandangan yang indah membuat mata Qilin begitu di manjakan.
Di Bali, sangat berbanding terbalik dengan kota Jakarta yang penuh dengan gedung, disana banyak pemandangan yang menyegarkan mata, dan banyak karya seni yang di jejer di sepanjang jalanan.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1