
Setelah momen haru yang mereka lewati bersama, kini keduanya masuk kedalam rumah sambil bergandengan tangan.
" Justin, apakah kita sekarang berpacaran??" Tanya Qilin.
Entahlah, pertanyaan konyol itu muncul begitu saja di pikiran Qilin, padahal Justin sudah mengajaknya menikah, bahkan sudah mengatakan cintanya pada Qilin berkali kali, tapi Qilin seakan masih penasaran.
Karena bagaimanapun itu adalah pertama kalinya Qilin mengenal cinta, juga pertama kalinya Qilin dekat dengan orang, bisa di katakan mungkin Qilin masih merasa minder karena selalu di katai aneh oleh orang orang dulunya.
" Kamu maunya kita pacaran atau menikah? Jika kamu mau menikah denganku, maka status kita akan menjadi suami istri." Ujar Justin, dan mengajak Qilin untuk duduk di ruang tengah.
" Aku masih ingat, kamu mengatakan padaku bahwa kamu akan menikah denganku jika aku sembuh, lho.. masih segar di ingatanku." Ujar Justin sambil menaik turunkan alisnya.
Dan itu membuat Qilin merona, suami istri.. Qilin bahkan tidak pernah membayangkan sama sekali dirinya menikah dalam waktu dekat.
" Itu terlalu jauh.." Ujar Qilin.
" Tidak jauh, sayang.. jika kamu mau menikah denganku, maka besok aku akan menyiapkan sebuah pesta pernikahan yang kamu inginkan." Ujar Justin.
" Tidak - tidak, itu terlalu mendadak. Aku ingin kita merasakan apa yang di lalui oleh pasangan lainnya." Ujar Qilin.
" Jadi kamu mau kita berpacaran dulu?" Tanya Justin dan Qilin menganggukan kepalanya dengan senyum manisnya.
" Baiklah.." Ujar Justin dan mengusap kepala Qilin dengan sayang.
" Sekarang, bisakah antar aku pulang? Aku harus bekerja di cafe. Dan Rena juga pasti bingung mencariku." Ujar Qilin.
" Aku sudah menyuruh orang yang mengantar makanan untuknya mengatakan bahwa kamu disini denganku." Ujar Justin.
Tiba tiba Justin merebahkan kepalanya di pangkuan Qilin, dan itu membuat Qilin melotot tidak percaya.
" Hei, aku harus bekerja.." Ujar Qilin.
" Tidak mau, aku masih merindukanmu. Aku ingin menebus satu bulanku saat tidak bersamamu." Ujar Justin manja.
Qilin terkekeh mendengarnya, Justin berbicara seperti saat dirinya masih hilang ingatan dan idiot.
" Justin merindukan Qilin.." Ujar Justin lagi, dan Qilin langsung menutup mata justin dengan tangannya sambil terbahak.
" Kenapa mataku di tutup, sayang.. aku ingin melihat wajahmu sampai puas." Ujar Justin.
" Justin.." Ujar Qilin sambil terkekeh, dan Justin pun ikut terkekeh.
Qilin pun mengusap usap rambut Justin yang lembut, Qilin sangat merindukan semua hal yang berkaitan dengan Justin.
" Justin suka Qilin mengusap kepala Justin." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh mendengarnya.
" Kenapa tiba tiba menjadi manja begini? Justinku yang dulu tidak manja begini." Ujar Qilin.
Justin tersenyum manis mendengar Qilin mengklaim dirinya sebagai Justinnya.
" Justinmu yang sekarang ini adalah Justin si tukang manja pada Qilinnya." Ujar Justin.
Entah mengapa Justin justru lebih pandai berkata kata manis, padahal dia tidak memiliki kekasih sebelumnya, dan tidak pernah dekat dengan wanita.
__ADS_1
" Karena ini hari pertama kita resmi menjadi sepasang kekasih, jadi malam ini aku tidak mengizinkan kamu bekerja. Kita akan berkencan malam ini." Ujar Justin.
" Kencan??" Tanya Qilin.
" Iya, kencan.. katakan, kamu mau kencan di tempat seperti apa? Restoran? atau jalan jalan ke mall, menonton bioskop?" Ujar Justin.
" Apa kamu tidak sibuk??" Tanya Qilin.
" Sesibuk apapun aku, aku akan selalu mengutamakan kamu." Ujar Justin.
" Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?" Tanya Qilin.
" Aku akan kirim orang orangku untuk menggantikanmu di sana." Ujar Justin, dan Qilin melongo di buatnya.
Setelah bernego nego dengan Qilin, akhirnya Justin berhasil dan saat ini mereka berdua sedang berada di dalam mall. Qilin ingin merasakan bagaiamana manisnya berkencan.
Hanya saja ada syarat yang Qilin minta, yaitu Justin harus memakai masker seperti biasanya. Qilin tidak mau mengundang banyak perhatian.
Tapi Justin juga tidak mempermasalahkan itu, karena Justin juga tidak ingin mengundang banyak perhatian dan juga dia malas jika harus di kerumuni para manusia yang mengenalinya di sana.
" Kita beli baju untukmu dulu." Ujar Justin.
" Hm? Aku masih punya banyak baju." Ujar Qilin.
" Di rumahku tidak ada bajumu, sayang.. ayo." Ujar Justin dan menggandeng Qilin masuk ke sebuah toko pakaian yang terkenal.
" Selamat datang, tuan dan nona." Ujar seorang karyawan.
" Justin, pintunya di tutup." Ujar Qilin berbisik.
" Tidak apa apa sayang, aku yang memintanya." Ujar Justin.
Ya, mana mungkin Justin mau berdesakan dengan orang lain. Lagi pula itu adalah mall milik keluarganya, dia bebas melakukan apapun di sana.
" Pilihlah baju yang kamu sukai." Ujar Justin.
Qilin mengangguk dan melihat lihat, dia melihat sebuah jumpsuit jeans pendek dan tersenyum.
" Ini bagus." Ujar Qilin.
Tapi senyum Qilin langsung pudar ketika melihat bandrol harganya.
" Astaga, mahal sekali." Ujar Qilin dengan suara kecil.
" Kamu suka? Ambil apapun yang kamu mau, sayang." Ujar Justin.
" Tidak, aku tidak suka." Ujar Qilin mundur dari pakaian yang di sentuhnya.
Harga satu baju di sana hampir setengah bulan dari gajinya, Qilin tentu berpikir berulang kali jika harus membeli satu baju itu.
" Justin, di sini mahal, aku tidak mampu membelinya." Ujar Qilin.
Justin tersenyum lalu mengusap kepala Qilin dengan sayang sambil berucap.
__ADS_1
" Aku yang akan membayarnya, sayang." Ujar Justin.
" Tidak, ini terlalu mahal. Aku tidak perlu beli baju lagi, bajuku masih banyak." Ujar Qilin.
Justin sungguh semakin bangga dengan kekasihnya itu, dia berbeda dengan perempuan di luar sana yang rela merendahkan harga dirinya sendiri dengan menjalin hubungan terlarang hanya untuk memuaskan materinya.
" Kamu tidak mau?"Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.
Walau sebenarnya Qilin suka dengan model jumpswit yang dia pegang tadi, tapi dia tidak mau membuat Justin menghabiskan banyak uang hanya untuknya.
Akhirnya Justin mengangguk, dan tersenyum.
" Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke bioskop." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Tapi meski Justin berkata demikian, Justin memberi kode pada anak buahnya untuk membungkus pakaian untuk Qilin, yang pas dengan tubuh Qilin.
Akhirnya mereka sampai di depan bioskop. Qilin sudah lama sekali tidak pernah lagi datang ke bioskop sejak ayah angkatnya meninggal, ini adalah hari pertama dia kembali memasuki bioskop.
" Kenapa sepi sekali?" Tanya Qilin.
" Entah, sepertinya semua orang sedang sibuk." Ujar Justin berbohong.
Satu bioskop itu di sewa oleh Justin, jadi hanya mereka berdua saja yang ada di ruangan itu. Justin dan Qilin duduk di sana dan film pun di mulai.
" Film apa yang kita tonton?" Tanya Qilin.
" Aku tidak tahu tentang film, jadi aku asal beli saja. Aku bahkan lupa bertanya kamu suka menonton film apa." Ujar Justin.
" Tidak apa apa, aku juga tidak oernah menonton film." Ujar Qilin.
Justin tidak tahu tentang film sebenarnya, dia hanya asal membeli tiket film yang menurutnya romantis. Semuanya berjalan dengan normal bahkan sangat mengharukan. Sampai di tengah jalannya film, tiba tiba muncul adegan yang... dewasa.
Kedua protagonis dalam film itu sama sama menangis, namun kemudian mereka saling berciuman dengan sangat intens hingga saling membuka pakaian mereka.
Qilin menjadi gelisah sendiri, begitu juga dengan Justin. Namun tidak lama Justin menutup mata Qilin dan berbisik.
" Jangan lihat itu, sayang." Ujar Justin.
Qilin mengangguk, namun jantungnya benar benar berdebar dengan keras karena suara yang di ciptakan oleh kedua protagonis dalam film itu membuat Qilin dan Justin sama sama gelisah.
' S*alan, kenapa mereka membuat film seperti ini, mereka membuat kepolosan Qilin ternodai.' Batin Justin.
Justin tidak mau Qilin mendengarkan suara film, dia pun mengalihkan perhatian Qilin dengan cara mencium Qilin sambil menutup kedua telinga Qilin.
" Hng.." Qilin kesakitan karena Justin menggigit bibirnya.
" Maaf sayang, tapi jamgan dengarkan filmnya." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Hingga adegan itu berakhir, Justin baru melepas ciumannya dari Qilin. Tapi entah mengapa Justin seakan tidak mau menyudahi ciumannya, bibir Qilin membuatnya candu.
" Kita pulang saja.." Ujar Justin, dari pada imannya nanti goyah.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1