Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 109. Sore yang manis.


__ADS_3

Dan setelah mereka menghabiskan waktu bersama di pantai, sore harinya kedua keluarga Justin dan Qilin pun akan pulang ke tempat mereka masing - masing.


Qilin dan Justin saat ini sedang mengantar keluarganya itu di loby hotel. Dewi pun kembali menghampiri Qilin dan memeluk putrinya itu.


'' Ingat kata mama, nak.. jadilah istri yang baik dan patuh pada suamimu.'' Ujar Dewi.


'' Iya, ma.'' Ujar Qilin.


'' Bye. sayang.. sampai bertemu nanti di Jakarta.'' Ujar Sierra pada Qilin.


'' Hati - hati di jalan, mom.. '' Ujar Qilin dan Sierra mengangguk.


Semua orang saling berpelukan, hingga tiba giliran Cio yang memeluk Qilin.


'' Kak, buatkan aku keponakan yang lucu - lucu, oke.. aku akan ajari mereka bela diri nanti.'' Ujar Cio.


'' Jangan bicara sembarangan kau..'' Ujar Justin, dan Cio meringis.


'' Oke, bye kakak dan kakak ipar.'' Ujar Cio dan langsung berlari.


Akhinya semua orang pergi dari hotel itu, dan hanya menyisakan Qilin dan Justin saja di sana.


" Ayo, kita kepantai." Ujar Justin menggandeng tangan Qilin, dan Qilin mengangguk.


Justin dan Qilin berjalan menyusuri pantai itu dengan bertelanjang kaki dan saling bergadengan tangan. Di otak Qilin saat ini masih berputar putar semua kata yang Dewi ucapkan.


" Apa terjadi sesuatu, sayang? Sejak tadi kamu seperti orang bingung dan hanya diam." Ujar Justin.


Justin berdiri di hadapan Qilin saat ini, dan menatap Qilin dengan tatapan bertanya tanya.


" Mmm.. tidak ada." Ujar Qilin berbohong.


" Apa aku berbuat salah padamu?" Tanya Justin dan Qilin langsung menggeleng.


" Tidak, kamu tidak salah apapun padaku." Ujar Qilin.


Justin mengulurkan tangannya dan menyelipkan rambut Qilin di telinga nya. Kemudian akhirnya membawa Qilin kedalam pelukannya.


" Jika ada sesuatu yang mengganggu di hatimu, ceritalah padaku. Bagilah semua yang kamu rasa, entah suka, entah duka, aku akan mendengarkannya." Ujar Justin.


" Kita sudah menikah, jadi saling bertukar pikiran itu harus. Aku suamimu, sayang.. andalkanlah aku, hum??" Ujar Justin.


Qilin benar - benar terharu mendengarnya, Justin bisa memiliki pikiran yang begitu dewasa. Sedangkan dirinya benar benar payah dan seperti anak kecil.


" Maafkan aku.." Ujar Qilin.


" Kenapa kamu minta maaf, sayang. Kamu tidak bersalah apapun padaku." Ujar Justin dan mencium pucuk kepala Qilin.


Dan entah mengapa, Qilin mengeratkan pelukannya di perut Justin, lalu dia membenamkan wajahnya di dada Justin hingga Justin terkekeh.


" Gemasnya, istriku." Ujar Justin dan mengecup berulang kali pucuk kepala Qilin.


Tiba tiba saja hujan turun dwngan derasnya, padahal cuaca tidak begitu mendung. Justin pun langsung menggandeng tangan Qilin dan berlari untuk kembali ke hotel.


Tapi langkah kaki mereka kalah dengan turunnya air hujan, mereka tetap basah kuyup dan Qilin terbahak karena mereka berlarian di bawah guyuran hujan.


" Kenapa tertawa, hum?" Ujar Justin ketika mereka mendapat tempat berteduh.

__ADS_1


" Kita lomba lari dengan hujan." Ujar Qilin dengan masih tertawa dan Justin ikut tertawa karenanya.


" Hujannya nakal." Ujar Justin. Dan Qilin terkekeh lagi.


" Ayo kita pulang ke kamar, kamu bisa sakit jika basah - basah begini." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.


Akhirnya keduanya pun masuk ke hotel dan pergi ke kamar mereka. Kamar mereka yang sebelumnya penuh bunga, kini sudah rapi dan tidak ada bunga bunga berserakan di sana.


Justin langsung menyiapkan air hangat untuk Qilin, lalu menyurih Qilin mandi.


" Mandilah, airnya sudah hangat, sayang." Ujar Justin.


" Kamu saja mandi lebih dulu, kamu akan sakit jika tidak biasa terkena hujan." Ujar Qilin.


" Tidak, sayang.. aku sudah biasa." Ujar Justin.


" Tapi.."


" Patuh, ya.. nanti kamu sakit." Ujar Justin, dan akhirnya Qilin mengangguk.


Qilin akhirnya masuk kedalam kamar mandi dan langsung mandi, sementara Justin dia mengotak atik ponselnya, sembari menunggu Qilin mandi.


Setelah sekitar lima belas menit, Qilin keluar dari kamar mandi.


" Sudah selesai, sayang?" Tanya Justin.


" Sudah, cepatlah kamu mandi, nanti kamu sakit." Ujar Qilin khawatir.


Dan bukannya bergegas mandi, Justin justru tersenyum ketika akhirnya dia bisa mendengar Qilin nya yang kembali bawel.


" Justin.." Ujar Qilin, lagi.


Justin pun akhirnya mandi, dan kini Qilin yang tersenyum sendiri melihat Justin yang seperti tadi.


Qilin baru merasa kedinginan dan akhirnya dia mencari pakaian yang hangat, lalu memakainya.


Sembari menunggu Justin kelar mandi, Qilin mengeringkan rambutnya sendiri dengan mesin pengering rambut.


Hingga setelah beberapa menit dan dia hampir selesai, tangan Justin terulur dan mengambil alih pengering rambut daei tangan Qilin.


" Biar aku lanjutkan." Ujar Justin, dan Qilin tersenyum.


" Terimakasih.." ujar Qilin.


" Ini adalah tugasku, sayang.. kamu tidak perlu berterimakasih." Ujar Justin.


Justin mengeringkan rambut Qilin hingga selesai, dan Justin pun mencium pucuk kepala Qilin. Tapi tiba tiba Qilin mendongak dan berakhir bibirnya dan bibir Justin saling bertabrakan.


Justin akhirnya mencium bibir Qilin yang selalu membuatnya candu setengah mati itu, dan suasana dingin kini menjadi panas.


" Mmh.." Lenguh suara Qilin, dan Justin melepas ciuman mereka.


" Apakah aku menggigitmu, sayang?" Tanya Justin khawatir, dan Qilin menggeleng.


" Kita tidur saja, lagi pula di luar hujan deras." Ujar Justin, lalu kemudian menggendong Qilin.


" Justin.." Ujar Qilin saat di gendongan Justin.

__ADS_1


" Hm? Ada apa sayang?" Tanya Justin.


" Apa kamu tidak menginginkan aku?" Tanya Qilin tiba - tiba dan langkah Justin terhenti sebelum sampai di ranjang.


Justin menatap mata Qilin yang saat ini seperti sedang menunggu jawaban, akhirnya dia melanjutlan langkahnya dan menurunkan Qilin di ranjang.


" Aku sangat mencintaimu, sayang bukankah kamu tahu itu??" Ujar Justin dan Qilin mengangguk.


" Aku tahu, aku pun sangat mencintaimu." Ujar Qilin.


" Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu? tentu saja aku menginginkan kamu." Tanya Justin.


" Karena kamu tidak menyentuhku." Ujar Qilin akhirnya.


" Apa karena hal ini, sejak pagi kamu menjadi murung?" Tanya Justin dan Qilin mengangguk.


" Karena aku sangat mencintaimu, sayang.. jadi aku sangat menghormatimu. Aku tidak mau memaksakan keinginanku padamu, yang berakhir akan menyakiti dirimu dan hatimu " Ujar Justin.


" Aku ingin melakukan itu, tapi jika kamu juga sama sama menginginkannya." Ujar Justin.


Qilin kemudian teringat dengan ucapan Dewi yang mengatakan bahwa Justin menghormatinya, rupanya benar..


" Jika kamu belum siap, maka aku bisa menunggu hingga kamu benar - benar siap." Ujar Justin lagi.


" Apa kamu mengerti, sekarang?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin pun naik ke ranjang dan membawa Qilin ke dalam pelukannya.


" Jangan berpikiran yang aneh - aneh lagi. Aku hanya milikmu, dan hanya mencintaimu seorang." Ujar Justin.


Qilin menjadi merasa sangat bersalah pada Justin, Justin sebegitu mengertikan dirinya, tapi dia belum memberikan apapun untuk Justin.


' Apakah aku berikan sekarang?' Batin Qilin sembari berpikir.


" Tidurlah, sayang.. jangan banyak berpikir." Ujar Justin seakan tahu isi hati Qilin.


Qilin melihat Justin uang rupanya sudah memejamkan matanya, betapa indah dan sempurna nya Tuhan menciptakan Justin. Tiba - tiba tangan Qilin terulur dan menyentuh bibir Justin.


" Kamu nakal sekali, hum?" Ujar Justin, dan kembali membuka matanya.


" Aku istrimu, aku milikmu." Ujar Qilin tiba tiba, dan Justin terdiam mendengarnya.


" Lakukanlah.." Ujar Qilin, dan Justin berkedip kedip.


" Kamu serius?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.


" Jika kamu malakukan ini hanya karena merasa tidak enak padaku, maka jangan sayang, aku bisa menunggu hingga kamu benar - benar siap." Ujar Justin.


" Aku siap Justin, lakukanlah.. bukankah memang sudah tugasku, dan aku juga adalah istrimu." Ujar Qilin.


Tanpa kata kata lagi, Justin menyambar bibir Qilin dan menciumnya dengan sangat dalam. Justin bahkan bangun dari posisinya dan kini berakhir berada di atas rubuh Qilin dan mengungkung Qilin.


Justin bisa melihat betapa cantiknya Qilin saat ini, dangan bibir basah dan nafas yang sedang memburu.


" Bolehkah, sayang??" Ujar Justin meminta izin, dan Qilin mengangguk.


" Aku milikmu.." Ujar Qilin.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2