Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 129. LEGA


__ADS_3

Justin memeluk Qilin yang saat ini sedang tertidur di pelukannya, dia sama sekali tidak memehamkan matanya dan hanya terus menciumi Qilin dan mengusap rambutnya.


Setelah beberapa saat lalu dia dan Qilin saling berpelukan, Justin menenangkan Qilin hingga dia tertidur di dalam pelukannya.


'Terimakasih anak papa, kamu baik baik saja di dalam perut mama. Papa sangat takut kehilangan kalian.' Batin Justin, mengusap perut Qilin.


Justin tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi sesuatu pada Qilin dan calon anaknya, dia mungkin akan membalik seisi kota untuk menemukan Clins dan membunuhnya.


Tapi saat ini Justin juga sudah bertekad untuk menangkap Clins, pria yang tiba tiba menargetkan dirinya dan anak istrinya.


'Dia tahu Qilin, sudah pasti dia tahu bahwa Lucifer TITANES adalah aku. Beraninya dia menargetkan Qilinku.' Batin Justin geram.


Hingga akhirnya matahari sudah tinggi menyingsing, Justin masih belum tidur dan terus menatap Qilin yang masih tidur.


Tiba tiba Qilin membuka matanya dan bertemu tatap dengan Justin. "Pagi sayang." Sapa Justin, lalu mencium kening Qilin.


Qilin meraba wajah Justin yang terlihat sayu, "Kamu tidak tidur?" Tanya Qilin ketika melihat mata Justin yang merah.


"Aku tidak bisa tidur, sayang." Ujar Justin. Qilin mengeratkan pelukannya pada Justin, dia merindukan suaminya itu setelah beberapa hari tidak bertemu.


"Aku merindukanmu."Ujar Qilin, dan Justin terkekeh mendengarnya.


"Jujur sekali.." Ujar Justin dan mendekap Qilin lebih erat, karena Justin juga sangat merindukan Qilinnya.


"Karena aku memang merindukanmu, saat siang mungkin aku akan teralihkan dengan kegiatanku bersama mommy selama beberapa hari setelah kamu pergi, tapi saat malam harinya.. aku merindukanmu dan memikirkanmu." Ujar Qilin.


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang. Tidak ada sinyal di hutan, agar kami fokus berlatih, tapi aku tidak menyangka kamu akan di serang." Ujar Justin.


"Semalam, aku pikir aku tidak akan selamat, semalam.."


"Ssttt... jangan berkata seperti itu, sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu jika sampai sesuatu terjadi kepadamu." Ujar Justin memotong ucapan Qilin.


"Aku tidak akan pergi lagi darimu." Ujar Justin, dan Qilin terkejut mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan anak buahmu?" Tanya Qilin.


"Dustin akan mengurusnya." Sahut Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin yang sangat merindukan istrinya itu pun mencium bibir Qilin, ciuman yang beberapa hari ini tidak dia rasakan hari ini dia merasakannya. Qilin pun demikian, dia merindukan ciuman manis dari suaminya itu.


Tapi aktivitas mereka terganggu ketika tiba tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


"Qilin sayang." Panggil suara Sierra, Justin yang sudah on fire pun menjadi terkekeh.


"Biar aku yang temui mommy, kamu tunggu di sini saja." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.

__ADS_1


Justin turun dari ranjangnya dan kemudian berjalan menuju pintu masuk. Dia membuka pintu dan Sierra terkejut karena melihat Justin di rumah.


"Justin, kamu pulang, nak?" Tanya Sierra terkejut, dan Justin menganggukan kepalanya.


"Iya mom, aku langsung pulang setelah mendapat kabar dari Ben." Ujar Justin.


" Iya, nak. Temani saja istrimu di rumah, dia butuh kamu karena dia sedang hamil." Ujar Sierra dan Justin terkejut.


"Mommy tahu Qilin sedang mengandung?" Tanya Justin, Sierra pun terkekeh.


"Qilin memberi tahu mommy, karena keadaan nya mendesak. Mommy akan rahasiakan ini tenang saja." Ujar Sierra.


"Baiklah, aku mau istirahat dulu mom, semalaman aku tidak tidur." Ujar Justin dan Sierra mengangguk.


"Baiklah." Ujar Sierra dan dia pun pergi dari depan kamar Justin.


Justin kembali berjalan ke ranjang dan naik ke atas ranjang dan langsung kembali mendekap Qilin kedalam pelukannya.


"Sayang.." Bisik Justin dengan suara paraunya di telinga Qilin.


"Hm?" Sahut Qilin, dan tangan Justin mulai nakal.


"Apakah aku boleh menengok anak kita di dalam?" Tanya Justin dan Qilin terkekeh mendengarnya.


"Pelan - pelan, oke?" Ujar Qilin, dan justin mengangguk.


"Ngh.." Lenguh Qilin ketika akhirnya mereka melakukan penyatuan.


Dan mungkin karena bawaan hormon kehamilan juga, Qilin jadi lebih cepat bergairah. Mereka melalukan aktivitas manis mereka di pagi hari yang mendung itu.


Sementara di kamar Justin ada dua orang yang sedang memanen madu, di kamar lain di rumah itu, Dustin baru saja keluar dari kamarnya dan turun ke bawah bergabung dengan Arthur dan Sierra di meja makan.


" Pagi, mom.. dad." Sapa Dustin.


" Pagi, son (nak) . Kamu sudah rapi, mau kemana?" Tanya Arthur.


"Ke hutan, memimpin pelatihan. Mulai sekarang aku yang akan bertanggung hawab atas TITANES, kakak biar fokus dengan kehidupannya saja." Ujar Dustin.


"Son (nak), apakah kamu sudah berhasil melupakannya?" Tanya Arthur pada Dustin, dan Dustin tersenyum.


"Sudah, dad. Itu hanya perasaan sesaat, sama sekali tidak menggangguku lagi." Ujar Dustin, Arthur pun tersenyum mendengarnya.


"Bagus, semoga kamu bisa menemukan cinta sejatimu." Ujar Arthur, dan menepuk pundak putranya itu.


"Ya, dad." Sahut Dustin. Tapi nyatanya tidak begitu. Bukan hilang, tapi perasaan nya justru kian membesar dan kian sulit untuk di kubur.

__ADS_1


Tapi Dustin tidak mau membuat kedua orang tuanya kecewa, lebih baik dia mengatakan demikian, dan dia kembali berusaha mengubur perasaannya entah bagaimana caranya.


Siang harinya, Justin membuka matanya dan tidak melihat Qilin di sisinya. Dia duduk dengan bagian atas tubuhnya yang bertel*njang dada dan melihat kesana kemari.


"Sayang." Panggilnya dengan suara besar khas bangun tidur, mencari keberadaan Qilin.Justin melihat jam, rupanya itu sudah jam dua siang. Dia pun langsung berjalan menuju ke kamar mandi.


Sementara Qilin sendiri, dia sedang duduk di gazebo sembari memakan buah dengan di temani banyak ikan dan Baek di sana.


Ya, Baek di pindahkan dari kediaman Justin ke kediaman Arthur, Baek sangat senang ketika akhirnya bisa melihat Qilin lagi.


"Baek, terimakasih sudah melindungiku." Ujar Qilin, sembari mengusap usap bulu lebat Baek.


Tiba tiba ponsel Qilin berdering, dan itu dari ibunya, Dewi. Qilin tersenyum dan langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo, ma." Ucap Qilin.


"Halo sayang, mama akan melakukan penerbangan besok. Mama tidak sabar bertemu kamu lagi." Ujar Dewi.


"Sungguh, ma? Mama terbang besok?" Ujar Qilin senang.


"Iya sayang, cuaca sedikit ekstrim, tapi tidak apa apa, pesawat bisa terbang." Ujar Dewi, swmbari terkekeh.


" Hati - hari di penerbangan, ma." Ujar Qilin.


"Ya, sayang. Adikmu sudah lebih dulu terbang hari ini." Ujar Dewi.


"Luca atau Lucio, ma?" Tanya Qilin.


"Cio, sayang." Ujar Dewi.


"Oke, anak itu kebiasaan, tidak menghubungiku lebih dulu." Ujar Qilin, dan Dewi terkekeh.


"Sudah dulu ya sayang, mama harus mempersiapakan semua untuk penerbangan besok." Ujar Dewi.


"Iya ma, bye." Ujar Qilin. Panggilan pun di akhiri. Dan saat itu Justin datang menghampiri Qilin.


"Mama akan terbang besok." Ujar Qilin.


"Benarkah? Sukurlah kalau begitu." Ujar Justin, dan mencium kening Qilin lalu turun ke perut Qilin.


"Baek, kamu enak sekali tiduran santai di sini, huh? Adik adikmu di hutan kau di sini." Ujar Justin, tapi Baek hanya mendengus dan menggesekan bulunya pada Qilin.


"Kamu sebentar lagi punya teman kecil, jaga dia seperti dulu ayahmu menjagaku, oke?" Ujar Justin.


" ROAROAR.." Sahut Baek sekaan mengatakan aku tau pada Justin. Qilin pun terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Singa nakal." Ujar Justin.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2