Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 75. Lucio bertemu Justin.


__ADS_3

Cio berjalan kembali dan menghampiri sang kakak yang masih tampak diam di kursinya seperti sedang melamun.


" Bantulah kakak, adik.." Ujar Luca tidak menyerah membujuk adiknya.


Cio juga menyayangi kakaknya, dia menyayangi setiap anggota keluarganya, tapi yang kakak dan ayahnya lakukan itu sudah benar benar salah.


" Jangan lupa kakak sudah membunuh Mia." Ujar Cio dan Luca menatap Cio.


" Kakak tidak membunuh Mia, kakak menyayanginya dan hanya selalu ingin membuat dia aman dalam perlindungan kakak." Ujar Luca marah.


" Tapi nyatanya dia mati, mati karena ke egoisan kakak. Tidak kah kakak berpikir, mungkin mama juga akan mati jika terus dalam tahanan papa?" Ujar Cio.


" Cio, Mia belum mati! Kakak melihat videonya di sebuah toko tadi." Ujar Luca kukuh lalu memperlihatkan video yang dia dapatkan.


Dalam video itu adalah Qilin yang sedang berbelanja di swalayan, dan memang sosok Qilin sama dengan gadis bernama Mia yang Luca sebut sebut.


" Kamu lihat? Ini Mia.. Miaku belum.."


" STOP KAK!! Dia bukan Miamu, dia memiliki orang tua dan kakak sudah membunuh orang tuanya di hadapannya." Bentak Cio.


" Miaku tidak membutuhkan orang lain, dia hanya butuh aku." Ujar Luca.


Cio memejamkan matanya, dia memang tidak bisa berharap dengan ayah dan kakaknya yang jika sudah mencintai seseorang, akan menjadi begitu terobsesi.


" Kakak menyayangiku??" Ujar Cio tiba tiba.


" Tentu kakak menyayangimu, kamu adik kakak. Kakak menyayangi papa, mama, kamu dan Mia.." Ujar Luca.


Cio berpikir dan menimbang nimbang langkah apa yang harus di ambilnya, dan ketika dia sudah mantap, barulah Cio mengutarakan pada Luca.


" Baik, aku bantu kakak." Ujar Cio, dan Luca tersenyum cerah.


'' Terimakasih, kakak tahu kamu masih peduli dengan keluarga kita.'' Ujar Luca.


'' Sepertinya gadis itu berada di tangan Lucifer, kakak.. ''


'' Akan aku urus itu, dan akan aku hubungi kakak nanti.'' Ujar Cio memotang ucapan Luca.


'' Baiklah.. terimakasih, adik.'' Ujar Luca.


Cio pun berbalik dan pergi meninggalkan Luca, di otak Cio saat ini benar benar kacau.. rencana nya yang sudah dia susun matang matang harus hancur begitu saja karena kemunculan Justin. Cio tidak tahu bahwa Qilin adalah kekasih dari seorang ketua mafia.


' Kalau begini caranya tidak ada cara lain lagi.. sepertinya aku harus mengambil langkah lain.' Batin Cio.


Sementara itu, Qilin sudah sampai di rumah. Qilin melepaskan jaket dan dia mengernyit bingung karena di meja makan sudah tersedia makanan.


' Apa ada yang datang, atau ada orang lalin yang tinggal denganku di sini?' Batin Qilin.


Qilin mengeluarkan senjata api dari balik bajunya dan berjalan mengendap endap mengelilingi dalam rumah itu, tapip dia tidak menemukan siapapun di sana, bahkan tidak ada tanda tanda ada orang di rumah itu.


Qilin menurunkan senjatanya dan berjalan menuju meja makan, ia membuka makanan apa yang tersedia di sana dengan tatapan bingung.


' Mungkinkah Cio datang kemari, tadi?' Batin Qilin.

__ADS_1


Akhirnya Qilin memakan makanan yang terseida di meja makan, meski sedikit ragu.. tapi akhirnya Qilin mengha,biskannya.


Ke esokan harinya..


Seorang pria mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dia membelah jalanan bahkan sebelum matahari terbit. Motor hitam, jaket hitam, helm hitam, sepatu dan kaca mata hitam.. semua yang di pakai pria itu serba hitam.


Adalah Lucio, yang entah dia hendak kemana dengan tatapan tajam seperti elang, dia meliuk liuk di jalanan kota, hingga sampai di sebuah gerbang tinggi.


" Saya tamu Lucifer." Ujar Cio pada anak buah Justin yang berjaga di depan.


Dan seperti sudah tahu, anak buah Justin pun membuka gerbang, dan mempersilahkan Cio masuk.


Cio membuka helm nya, dan dua anak buah Justin menjemputnya di pintu depan.


" Mari ikut saya." Ujar anak buah Justin, dan Cio mengangguk.


Pintu di buka, dan keduanya berjalan menuju ke ruang tengah. Langkah Cio melemah ketika melihat wanita yang sangat dia rindukan selama tiga tahun ini menghilang.


" Mama." Ujar Cio dan Dewi terkejut ketika melihat.


" Cio.." Gumam Dewi.


Dewi langsung menghampiri Cio dan memeluknya, Dewi pun terisak di pelukan Cio, begitupun Cio.


" Mama merindukan Cio." Ujar Dewi.


" Cio lebih rindu mama." Ujar Cio.


Justin bangun dari duduknya dan berdiri tak jauh dari Cio dan Dewi yang sedang berpelukan.


Ya.. kemarin, setelah Cio mendatangi kakaknya, Luca. Cio mengirimkan email kepada Justin yang mengatakan bahwa Qilin berada bersama Cio dan Cio adalah adik Qilin, yang adalah anak Dewi juga.


Cio berkata akan mempertemukan Qilin dengan Justin, tapi dengan syarat Cio harus menemui ibunya lebih dulu.


" Qilin ada di tempat yang aman." Ujar Cio.


" Qilin denganmu, nak?? Kamu tahu dia.."


" Kakak Cio, ma." Ujar Cio memotong ucapan Dewi.


" Ya, dia kakak kamu." Ujar Dewi.


" Kenapa kamu tidak bawa Qilin kemari? " Ujar Justin.


" Untuk hal itu, bolehkah aku bicara denganmu lebih dulu?" Ujar Cio misterius.


Justin mengangguk dan mempersilahkan Cio untuk ikut dengannya. Dan disinilah mereka berdua berada, di sebuah ruangan tempat kerja Justin.


" Katakan." Ujar Justin dengan wajah datar.


' Memang adalah seorang Lucifer, auranya begitu tegas dan mendominasi.' Batin Cio.


" Aku tidak bisa mengembalikan Qilin padamu sekarang." Ujar Cio.

__ADS_1


" Apa maksudmu! Jangan main - main denganku." Ujar Justin.


" Aku tidak sedang bermain main denganmu, ini juga di luar rencanaku. Awalnya aku ingin Qilin membuat ayahku dan kakakku kehilangan kebanggaan nya dengan menghancurkan mereka, tapi aku tidak tahu bahwa Qilin adalah kekasihmu." Ujar Cio.


Justin mengernyit bingung mendengarnya, Cio ingin menghabisi ayah dan kakaknya sendiri?


" Kau ingin menentang ayah dan kakakmu?" Ujar Justin, dan Cio mengangguk.


" Mereka egois, keras kepala dan kejam. Aku ingin menjadi keluarga biasa yang utuh dengan ayah, ibu, kakak, aku dan Qilin.. dan hanya Qilin yang bisa meruntuhkan kesombongan mereka." Ujar Cio.


" Tapi sepertinya sekarang jalannya harus berubah.." Ujar Cio lagi.


" Aku tidak mau Qilinku ikut terjun dalam bahaya, aku tidak mengizinkannya." Ujar Justin kukuh.


" Sekali lagi.. aku mohon sekali lagi agar aku bisa membuat kakakku menyadari kesalahannya." Ujar Cio memohon.


" Tidak, Qilin pasti akan ketakutan. Beri tahu aku dimana Qilin." Ujar Justin.


" Kau tidak perlu khawatir, Qilin akan baik - baik saja. Besok.. "


" Kau jangan menguji kesabaranku, Cio! Beri tahu aku dimana Qilin." Ujar Justin mencengkeram kerah baju Cio.


" Jika kau begini, aku lebih tidak akan memberitahumu dimana Qilin berada." Ujar Cio.


" LUCIO KHAN!!" Bentak Justin.


" Maka dengar dan ikuti apa yang aku katakan." Ujar Cio.


Justin yang tidak mau terjadi apapun pada Qilin menjadi meredam amarahnya, dia pun melepas cengkeramannya dari baju Cio dan menatap tajam Cio.


" Besok.. hanya besok, aku membutuhkan Qilin untuk menyerang markas kakakku." Ujar Cio.


" Dan aku akan menghubungimu untuk datang membawa ibuku kesana.. Untuk mengakhiri semua ini. Keluargaku terlalu sakit dan tidak memiliki harapan untuk di sembuhkan." Ujar Cio lagi.


" Apa - apaan kau.." Ujar Justin.


" Aku minta bantuanmu, dan terimakasih sudah menjaga kakak perempuanku yang baru aku temui setelah aku begini dewasa, dia gadis yang baik, seperti mama." Ujar Cio.


Dan setelah percakapan itu, Cio dan Justin pun keluar. Cio kembali menemui ibunya dan memeluknya sangat erat, dia merindukannya.


" Cio pulang, ma.." Ujar Cio.


" Apa kakakmu baik baik saja?" Tanya Dewi.


" Qilin baik - baik saja.. Jangan khawatir." Ujar Cio.


" Cio, maafkan mama.. mama adalah mama paling buruk di dunia, karena mama begitu egois meninggalkan kamu dan Luca.. mama hanya terlalu merindukan Qilin." Ujar Dewi.


" Cio tahu, ma.. jangan menangis." Ujar Cio, menghapus air mata Dewi.


" Cio pulang dulu." Ujar Cio, dan Dewi mengangguk.


Cio berjalan pergi, dan dia tersenyum miring memikirkan keluarganya yang berantakan.

__ADS_1


' Jika saja tidak ada ke egoisan, seharusnya kita menjadi keluarga yang bahagia..' Batin Cio..


TO BE CONTINUED..


__ADS_2