Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 141. Predator dan mangsa.


__ADS_3

Dustin mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi, Ben sudah benar - benar pucat walau dia masih bersuara ketika di panggil.


Dustin berhenti di rumah sakit yang dia lihat pertama kali, dan Ben langsung di tangani oleh dokter.


"Bertahan hiduplah." Gumam Dustin, dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi Cio.


"Halo, Cio. Tolong jaga dengan ketat kakakku, Clins sedang ke sana untuk membunuh kakakku." Ujar Dustin ketika panggilan itu terhubung.


"Jangan khawatir, kak. Aku sudah memindahkan kak Justin ke tempat yang aman." Ujar Cio, dan Dustin bernafas lega mendengarnya.


"Sukurlah kalau begitu, aku matikan dulu." Ujar Dustin dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Dustin menghubungi anak buahnya yang lain untuk menunggu Ben di rumah sakit itu, sementara dirinya sendiri langsung kembali pergi dari sana untuk mengurusi hal lain.


Di sisi Lain..


Justin yang baru selesai di operasi itu langsung dibawa ke sebuah tempat yang tersembunyi, yang Cio siapkan untuk sementara.


Yang terpenting adalah Justin sudah tidak berada di di rumah sakit itu, karena Cio yakin, sudah banyak anak buah Clins yang berada di sana untuk mencelakai Justin kapan saja.


"Apakah tidak berefek apapun?" Tanya Cio pada dokter yang menangani Justin.


"Sejauh ini aman, tuan. Tuan Justin memiliki semangat hidup yang kuat." Ujar Dokter.


"Pantau terus, bagaimanapun dia baru saja operasi." Ujar Cio, dan dokter itu mengangguk.


Dokter yang menangani Justin juga adalah dokter kepala yang berada di rumah sakit milik keluarga Edward.


Cio lalu pergi keluar dari ruangan Justin, sayangnya untuk melakukan penerbangan masih tidak bisa karena Justin baru menjalani operasi. Untuk membawa Justin ke tempat persembunyian saat ini saja, Cio harus menimbang - nimbang.


Singkat cerita, Dustin telah sampai di markasnya dan langsung mengotak atik semua sistem perlindungan milik TITANES. Anak buahnya pun ikut sibuk karena Dustin benar - benar sedang marah besar sekarang.


"Karena tuan kalian sedang baik, jadi kalian santai - santai saja selama ini? Lihat apa yang terjadi!" Ujar Dustin dengan wajah yang tidak ramah.


"Kalian tidak menganggap aku dan kakaku, huh!!? Jika tidak mau lagi menjadi bagian TITANES, silahkan pergi." Ujar Dustin.


Layar besar monitornya saat ini terkunci, dan Dustin sedang berusaha membukanya. Sistem TITANES, di bobol oleh Clins.


"Kalian lengah, sampai tidak menyadari musuh masuk pelan - pelan, sistem di manipulasi pun kalian tidak tahu, keterlaluan!" Ujar Dustin lagi.

__ADS_1


Semua orang panik dan sangat sibuk untuk membantu Dustin menangani sistem yang sedang eror.


"Tuan, ada email masuk." Ujar anak buah Dustin berlari menghampiri Dustin.Dustin membuka email itu, yang rupanya dari Clins.


"Kalian pikir kalian bisa lari dariku? Larilah, aku sungguh menikmati aksi kejar - kejaran kita. Disini, aku adalah predatornya dan kalian adalah mangsaku. Kalian tahu apa artinya? Artinya adalah, tidak peduli seberapa keras kalian berlari dan berusaha bersembunyi, pada akhirnya kalian akan tetap tertangkap juga olehku. Kalian keluarga Edward, akan habis satu persatu di tanganku."


Begitu isi Emailnya, Clins pasti sudah tahu bahwa Qilin dan yang lainnya sudah tidak berada di rumah sakit itu.


"Kau pikir kau adalah predatornya? Kau salah, akulah perdator itu. Mari kita lihat, siapa yang akhirnya menjadi mangsa." Gumam Dustin dengan tatapan tajamnya.


"Aktifkan mata Lucifer, dan usir semua sistem yang mengganggu sistem kita, sebelum sampai di sistem induk." Ujar Dustin.


"Baik, tuan." Ujar semua orang. Semua langsung sibuk mengotak atik komputer, begitu juga dengan Dustin yang mengotak atik sistem induk.


Setelah beberapa jam meloding, akhirnya Dustin menekan sebuah tombol berwarna merah, dan semua koneksi yang terkonek dengan Clins, langsung terputus.


"Susun ulang semuanya." Ujar Dustin, dan anak buahnya mengangguk.


Sementara di tempat Clins, dia sedang menatap titik - titik di layar monitornya yang tiba - tiba saja hilang satu persatu begitu saja.


"Wait!! No! No! No! Kenapa semuanya hilang!" Ujar Clins ketika semua sistem virus yang ia tanamkan pada sistem TITANES terputus.


Hingga lima hari lamanya, Dustin berada di markasnya dan menyetel semua sistem pertahanan yang dia buat.


Dan lima hari itu juga, Justin belum sadar, setelah di nyatakan koma sementara. Meskipun sementara, tim dokter pun tidak bisa memperdiksi kapan kiranya Justin akan bangun.


"Kenapa dia belum sadar?" Tanya Cio dengan khawatir.


"Maaf tuan, kami sedang meneliti kembali kondisi tubuh tuan Justin. Fisiknya aneh, seperti orang yang keracunan." Ujar Dokter.


"Kenapa tidak kalian mengeceknya dari awal!?" Ujar Cio kesal.


"Maaf tuan, awalnya kami hanya berfokus pada cidera kepala tuan Justin, dan luka tusuknya saja, tapi semakin hari justru kondisi tuan Justin semakin drop." Ujar dokter itu, Cio yang mendengar itu jadi emosi.


Dia langsung mencengkeram kerah jubah dokter itu, dan menariknya dengan keras.


"Jika sampai terjadi sesuatu pada kakak iparku, kau akan menemaninya di liang kubur, dengar itu!" Ujar Cio dengan nda kemarahan dan tatapan yang sangat tajam.


"B- baik tuan." Ujar Dokter itu ketakutan. Cio melepas dengan kasar kerah dokter itu, lalu dia pun keluar ketika teleponnya berdering.

__ADS_1


Yang menghubunginya dalah Qilin, dia semakin bingung untuk mengangkat panggilan dari kakak perempuannya itu, dia sudah berbohong dengan mengatakan bahwa Justin sudah sadar, tapi kini dia harus beralasan dengan apa?


"Apa yang harus aku katakan kepada kakak." Gumamnya. Dia tidak mau membuat Qilin di sana khawatir dan banyak pikiran, karena saat ini Qilin sedang mengandung dan Cio tidak mau terjadi apa - apa dengan kandungan Qilin.


Tiba - tiba saja, terlintas ide gila di kepalanya, di otaknya saat ini muncul satu nama.


"Kak Dustin.." Gumam Cio.


Dia langsung bergegas pergi dari tempat itu, dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di tempat lain, Dustin sedang sangat fokus dengan pemrogramannya dan akhirnya setelah lima hari dia bekerja sendirian, dia berhasil membangun ulang sistem pertahanan seluruh TITANES.


"Akhirnya.." Gumam Dustin dan meregangkan tangannya ke atas.


" Bagaimana dengan Clins? Apakah ada pergerakan darinya?" Tanya Dustin pada anak buahnya.


"Tidak ada tuan, entah dia ada di mana, dia tidak terlihat dimana pun." Ujar anak buah Dustin, Dustin pun menganggukan kepalanya.


'Entah apa yang sedang dia susun sekarang, dia tidak bisa di tebak.' Batin Dustin.


"Kumpulkan semua orang, aku tunggu di arena tembak." Ujar Dustin, dan anak buahnya mengangguk.


Dustin berdiri, tapi tiba - tiba dia limbung. Bagaimanapun dia kelelahan dan kurang beristirahat, tubuhnya itu hampir mencapai batasnya.


Dustin pun berjalan ke arena tembak dan menunggu di sana. Tapi yang datang pertama justru Cio dengan wajah yang terlihat gusar.


"Ada apa? Apakah telah terjadi sesuatu?" Tanya Dustin, dan Cio menganggukan kepalanya.


"Kak Justin, dia makin melemah." Ujar Cio dan Dustin tertegun mendengarnya.


"Bagaimana bisa? Bukankah saat dia di bawa pergi pasca operasi tidak apa - apa?" Tanya Dustin.


"Ya, tapi masalahnya baru muncul sekarang, dokter sedang memeriksanya." Ujar Cio. Dia ingin mengatakan ide gila nya pada Dustin, tapi dia sedikit ragu.


"Kak, bisakah aku meminta tolong padamu?" Tanya Cio, Dustin mengernyit kan keningnya mendengar itu.


"Katakan." Ujar Dustin.


"Maukah kakak berpura - pura menjadi kak Justin dan menerima panggilan telepon dari kak Qilin??" Tanya Cio dan wajah Dustin langsung pias.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2