
Rena masuk ke dalam rumah Qilin, dan dia langsung memeluk Qilin erat erat. Qilin yang bingung pun hanya bisa membalas pelukan Rena.
" Kamu kenapa?" Tanya Qilin.
" Selesai.." Ujar Rena.
" Selesai? Apanya??" Tanya Qilin bingung.
" Hubunganku dengan tunanganku, selesai." Ujar Rena, dan menangis.
Qilin terdiam mendengarnya, ia pun hanya bisa mengusap usap punggung Rena.
" Aku melakukan semuanya demi dia, tapi dia menghianatiku." Gumam Rena.
Qilin yang tidak tahu menahu tentang hubungan asmara pun tidak bisa berkata apa apa selain mendengarkan. Cintanya bahkan harus mati sebelum bertunas.
" Qilin, jika ada yang mencariku kemari, katakan saja kamu tidak tahu bahwa aku di sini, oke?" Ujar Rena, dan Qilin mengangguk.
" Kamu bersihkan saja dulu dirimu, kamu sangat kacau." Ujar Qilin dan Rena mengangguk.
Qilin mengambil handuk baru di lemari, lalu ia memberikannya kepada Rena, Rena pun masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Rena masuk ke dalam kamar mandi, Qilin menyiapkan bajunya, dia tidak memiliki baju baru, dan Rena pun tidak membawa apa apa, jadi dia pinjami saja bajunya.
Tiba tiba gerbang rumah Qilin ada yang mengetok, Qilin pun keluar. Rupanya itu adalah Fendy yang sama kacaunya.
" Kak Fendy, ada apa?" Tanya Qilin tanpa membuka pintu.
" Qilin, apa Rena ada di sini?" Tanya Fendy. Qilin menggelengkan kepalanya, karena ia ingat pesan Rena.
" Tidak, kak." Ujar Qilin.
" Baiklah, terimakasih Qilin, maaf mengganggumu." Ujar Fendy.
Fendy langsung pergi, dan Qilin kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama Rena pun keluar dari kamar mandi. Qilin melihat banyak tanda merah di leher Rena, sebelumnya tidak terlihat karena Rena mengurai rambutnya.
" Qilin, boleh aku pinjam bajumu?" Tanya Rena.
" Ah, iya.. sudah aku siapkan di kamar." Ujar Qilin, dan Rena pun masuk ke dalam kamar Qilin.
' Apa Rena di aniaya tunangannya??' Batin Qilin.
Tak lama Rena keluar dan duduk bersama Qilin, tiba tiba Rena kembali menangis.
" Rena, apa kamu baik baik saja? Jika ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, ceritakan saja padaku." Ujar Qilin.
" Apa kamu di aniaya tunanganmu? Aku lihat banyak tanda merah di lehermu." Ujar Qilin.
' Qilin polos sekali, bagaimana mungkin aku cerita kepadanya apa yang aku alami, aku tidak yakin dia akan mengerti.' Batin Rena.
" Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri." Ujar Rena sambil tersenyum.
" Baiklah, tadi kak Fendy datang mencarimu." Ujar Qilin dan Rena tertegun.
" Karena kamu bilang jangan beri tahu siapapun jika kamu di sini, jadi aku bilang padanya bahwa kamu tidak ada di sini." Ujar Qilin.
" Ya, terimakasih Qilin. Qilin, apakah kamu sungguh tinggal sendirian di sini?" Tanya Rena dan Qilin mengangguk.
" Bolehkah aku menumpang denganmu? aku akan membayar sewa jika perlu." Ujar Rena.
" Mana bisa kamu bicara begitu, ini kan dulunya rumahmu. Jika kamu bingung tidak ada tempat tinggal, pulanglah kemari.. ini masih rumahmu juga." Ujar Qilin.
__ADS_1
Rena lega mendengarnya, Qilin benar benar baik kepadanya. Rena pun memeluk Qilin.
" Terimakasih, Qilin." Ujar Rena.
" Kamu sudah sarapan??" Tanya Qilin, dan Rena menggeleng.
" Aku akan keluar untuk cari sarapan, aku jarang masak, hehe." Ujar Qilin polos.
Rena ikut terkekeh kecil melihat keluguan Qilin, Qilin pun pergi keluar dari rumahnya, dan Rena kembali menangis sambil memeluk lututnya.
Rena adalah anak yang lahir dari keluarga broken home, ayahnya meninggalkan ibunya dan ia hidup hanya dengan ibunya sejak kecil.
Rena tumbuh tanpa kasih sayang, karena ayahnya meninggalkan dia dan ibunya, ibunya pun harus banting tulang sendirian menghidupi Rena. Rena tumbuh menjadi gadis tomboy yang keras kepala dan keras hati.
Rena jarang pulang ke rumah dulu, sampai pada suatu hari, Rena mengetahui ibunya sakit keras, dia menyesal karena tidak pernah ada untuk ibunya, sampai akhirnya ibunya meninggal.
Dan setelah ibunya meninggal, barulah muncul tunangan Rena yang mendekati Rena, hingga Rena akhirnya jatuh cinta dan bertunangan dengan pria itu. Yang Rena tidak tahu adalah, rupanya itu terpaksa melakukannya karena balas budi kepada ibu Rena.
" Ibu.." Gumam Rena dalam tangisnya.
Tak lama Qilin kembali dan membawa banyak makanan untuk Rena. Qilin menyiapkannya di meja makan dan mulai memakannya bersama Rena.
" Qilin, aku akan berhenti kerja." Ujar Rena tiba tiba.
" Ha, kenapa?" Tanya Qilin.
" Aku ingin ganti suasana baru saja, aku akan mencari tempat kerja yang lain. Nanti aku titipkan surat pengunduran diriku padamu, oke?" Ujar Rena.
Qilin pun mengangguk walau sejujurnya dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi pada Rena.
" Dan Qilin.. jangan beri tahu Fendy bahwa aku tingval denganmu, katakan saja bahwa aku pergi setelah memberikan surat pengunduran diriku padamu." Ujar Rena lagi.
Setelah sarapan, Qilin membereskan bekas makannya. Setelah itu dia pun membereskan kamarnya, dia akan pindah ke kamar atas, karena kamar nya akan di pakai untuk Rena.
" Aku akan tidur di kamar atas, jadi aku akan bawa barang barangku ke atas." Ujar Qilin.
" Maaf karena merepotkanmu, Qilin." Ujar Rena.
" Tidak sama sekali, aku justru senang karena aku tidak tinggal sendirian nantinya." Ujar Qilin tersenyum manis.
Qilin membawa pakaiannya pindah ke atas, tanpa sedikitpun meminta Rena untuk membantu. Qilin justru melarang Rena membantu, naik turun tangga, dan Rena hanya membantu melipat barang barang milik Qilin.
" Baju ini.. seperti baju laki laki." Ujar Rena ketika melihat sebuah kemeja pria.
" Itu milik mendiang papa angkatku, beliau meninggal tiga tahunan yang lalu." Ujar Qilin.
" Oh..." Ujar Rena.
" Selesai, sekarang kamar ini milikmu." Ujar Qilin.
" Terimakasih Qilin, kamu seperti saudariku." Ujar Rena.
" Mulai sekarang kita saudari, walau kita bukan sedarah." Ujar Qilin, dan Rena memeluk Qilin.
Kadang orang yang bukan siapa siapa kita lebih bisa menghargai kita dan mengerti keadaan kita dari pada keluarga kita sendiri, itulah mengapa kita lebih menganggap orang lain sebagai saudara dari pada saudara itu sendiri.
Tak terasa, waktu berlalu berganti malam, Qilin dan Rena sedang duduk di ruang tengah, Rena sibuk dengan ponselnya sementara Qilin sibuk dengan buku novel di tangannya.
" Aku sudah pesan makanan, jadi kamu tidak perlu keluar beli makanan." Ujar Rena.
__ADS_1
" Ha? terimakasih." Ujar Qilin.
Tak lama, makanan yang di pesan Rena datang. Qilin keluar untuk mengambil pesanan itu, dan rupanya Rena memesan sate.
" Kamu suka sate, kan?" Tanya Rena.
" Aku tidak pilih pilih makanan." Ujar Qilin.
" Ayo makan." Ujar Rena, dan mereka pun makan berdua.
Setelah selesai, kali ini Rena yang mencuci piring dan Qilin yang membereskan sisanya.
" Qilin, aku lelah aku akan tidur lebih dulu." Ujar Rena.
" Baiklah, kamu yakin kamu tidak apa apa sendirian? Jika perlu, aku akan menemanimu." Ujar Qilin.
" Tidak apa apa, Qilin.. jangan khawatir." Ujar Rena sambil tersenyum.
" Baiklah." Ujar Qilin.
" Selamat malam Qilin." Ucap Rena, dan Qilin mengangguk.
' Aku yakin Rena tidak baik baik saja, biasanya Rena adalah orang yang selalu ceria, tapi hari ini dia seperti orang yang putus asa.' Batin Qilin.
Qilin pun naik ke kamarnya di atas, kini kamar Justin menjadi kamarnya.
Sementara itu di tempat lain..
Di kediaman Arthur, Dustin melihat Justin yang berjalan keluar dengan pakaian serba hitamnya.
" Kak, apa terjadi sesuatu di markas TITANES?" Tanya Dustin.
" Tidak ada." Sahut Justin.
" Lalu kakak mau kemana?" Tanya Dustin.
" Ada hal penting yang harus aku urus." Ujar Justin dan pergi dari rumah.
' Hal penting apa? Semalam juga dia tidak pulang, dan baru pulang pagi pagi buta.' Batin Dustin.
" Dustin, kemana kakakmu?" Tanya Sierra.
" Ada pertemuan penting, mom. Mom aku akan pulang ke rumahku." Ujar Dustin.
" Kamu mau meninggalkan mommy?" Ujar Sierra.
" Astaga mommyku, ratuku, cinta pertamaku. Aku mana mungkin meninggalkan mommy, aku hanya akan tinggal di rumahku sendiri." Ujar Dustin.
" Anak anak ketika sudah dewasa tidak mau dekat dengan ibunya." Ujar Sierra, sedih.
" Ya Tuhan, tidak begitu mom.. baiklah - baiklah, aku akan menginap lagi di sini." Ujar Dustin kalah.
" Kakakmu tidak mau di rumah, dan kamu juga tidak mau, mommy tidak di anggap." Ujar Sierra semakin berdrama.
" Mom... jangan bicara begitu, kami paling sayang mommy." Ujar Dustin dan memeluk Sierra.
Jurus jitu Sierra selalu seperti itu, jika bertanya belajar dari siapa, maka jawabannya adalah dari Sahara. Arthur juga merupakan anak yang tidak pernah ingin melihat sang ibu menangis atau sedih, dan itu menurun kepada kedua anaknya.
TO BE CONTONUED..
__ADS_1