Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 39. Harus jujur.


__ADS_3

Waktu berlalu, Qilin sungguh senang begitu di sambut dengan hangat oleh keluarga Justin, dia menghabiskan waktu dengan Sierra dengan melihat lihat album foto Justin sejak Justin masih bayi hingga beranjak dewasa.


" Mommy punya dua putra, yang satu Justin dan yang satu lagi Dustin, adik kembar Justin. Dia mungkin akan sampai malam ini." Ujar Sierra dan Qilin mengangguk sambil tersenyum.


" Dia sangat lucu." Ujar Qilin ketika melihat Justin dan Dustin yang sedang berebut mainan di dalam foto itu.


" Coba kamu tebak, yang mana Justin?" Ujar Sierra. Sambil menunjuk sebuah foto.


Ada dua anak laki laki yakni Justin dan Dustin saat kecil, salah satunya duduk menyender di tubuh singa besar, dan yang satu lagi duduk di punggung singa besar itu.


Qilin pun bingung, keduanya benar benar sama percis dan sulit di bedakan.


" Mmmm... ini." Ujar Qilin menunjuk satu anak kecil yang duduk menyender di tubuh singa.


Sierra tersenyum, tapi jawaban Qilin salah. Yang duduk menyender adalah Dustin, sementara yang duduk di atas tubuh singa adalah Justin.


" Salah, aku yang duduk di atas tubuh Hwan, sayang." Ujar Justin yang duduk menghampiri Qilin dan Sierra.


" Hei! laki laki tidak boleh bergabung di sini." Ujar Sierra.


" Mommy, aku merindukan Qilin." Ujar Justin, dan Sierra berdecak mendengarnya.


" Tidak anak tidak bapaknya, bucin saat jatuh cinta." Ujar Sierra.


" Qilin juga lelah mom, dia butuh istirahat." Ujar Justin.


" Aku tidak apa apa."Ujar Qilin.


" Tidak, kamu harus beristirahat, sayang." Ujar Justin tidak mau di bantah.


" Iya - iya mommy selesai." Ujar Sierra akhirnya.


" Sayang, nanti kita lanjut lagi, oke?" Ujar Sierra dan Qilin mengangguk antusias.


" Ayo sayang." Ujar Justin dan langsung menggandeng Qilin pergi.


" Astaga, anakku benar benar seperti ayahnya. Semoga dia juga bisa menjaga Qilin seperti ayahnya menjagaku." Gumam Sierra.


Tiba tiba Arthur masuk kedalam kamar, dan langsung menghampiri Sierra lalu mencium kening Sierra.


" Mereka pasangan yang manis, bukan dad? " Ujar Sierra.


" Tidak semanis kita dulu." Ujar Arthur tidak mau kalah.


" Daddy.." Ujar Sierra sambil memukul pelan lengan Arthur, Arthur pun terkekeh dan memeluk Sierra.


" Aku mencintaimu, sayang." Ujar Arthur pada Sierra lalu mencium kening Sierra berkali kali.


Sejak dulu, Arthur tidak akan lupa mengatakan dirinya mencintai Sierra setiap hari, mereka adalah contoh pasangan suami istri idaman.


Sementara Justin, membawa Qilin masuk kedalam kamarnya dan langsung menggendong Qilin ketika pintu kamar sudah di kunci.


" Astaga, Justin kamu mengejutkan aku." Ujar Qilin.


" Maaf, ya.. aku hanya ingin membuat kamu tidak lelah." Ujar Justin.


" Tapi aku tidak lelah.." Ujar Qilin.

__ADS_1


" Kamu lelah, ayo kita beristirahat." Ujar Justin dan merebahkan Qilin di atas ranjangnya.


Justin memasang selimut lalu mengungkung Qilin di bawah kungkungannya. Qilin tersenyum begitu manis lalu mengalungkan tangannya di leher Justin.


" Kamu sedang menggodaku, hum?" Ujar Justin dengan suara rendahnya, dan Qilin langsung terkekeh dan menggeleng.


" Apa aku akan tidur jika kamu begini?" Ujar Qilin sambil terkekeh.


Justin tersenyum lalu mengecup kening Qilin, ciuman itu sangat lembut lalu turun ke hidung mancung Qilin, dan berakhir di bibir Qilin yang selalu membuatnya candu.


Justin mencium Qilin cukup lama, lalu akhirnya terlepas. Justin merebahkan dirinya di sebelah Qilin dan memeluk Qilin kedalam dekapannya.


" Tidurlah, saat makan malam siap, aku akan membangunkanmu." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.


Tak lama Qilin pun sungguhan terlelap di pelukan Justin, Justin pelan pelan bangun, lalu menyelimuti Qilin dan memastikan Qilin tidur dengan nyaman. Setelah memastikan semuanya, Justin pun keluar.


Justin duduk di ruang keluarga dan membuka laptopnya untuk mulai bekerja, jangan lupa Justin adalah orang yang sibuk.


Tak lama Arthur muncul dan duduk bersama dengan Justin yang saat ini sedang fokus dengan laptopnya.


" Apakah butuh bantuan, nak?" Tanya Arthur pada Justin.


Justin mungkin sudah dewasa, tapi bagi Arthur dia tetap putra kecilnya, sejak dulu sampai sekarang, Arthur selalu menawarkan bantuan pada kedua putranya itu.


" Tidak, dad. Hanya masalah di markas." Ujar Justin.


" Nak, apakah kamu tahu bahwa ketika kamu hendak memulai sebuah hubungan, kamu harus terbuka dengan pasanganmu?" Ujar Arthur.


Justin menghentikan ketikan tangannya, dan menatap Arthur yang saat ini ada di hadapannya.


" Jika hubungan di dasari dengan kebohongan, maka apapun yang kamu bangun, meski niatmu baik, hubungan itu akan hancur." Ujar Arthur lagi.


" Kamu belum mengatakannya pada Qilin siapa dirimu?" Tanya Arthur.


" Belum." Sahut Justin.


" Ketahuilah, nak.. jujurlah pada pasanganmu, jika dia menerimamu maka dia jodohmu. Tapi jika tidak.. jangan paksakan." Ujar Arthur.


" Apakah menurut daddy Qilin bisa menerimaku?" Tanya Justin, dan Arthur mengangkat kedua bahunya.


" Entah.. opa dulu juga berkata pada daddy, untuk jujur tentang identitas daddy pada mommymu. Tapi rupanya kami sama sama memiliki rahasia, yang mana kamu tahu sendiri jawabannya." Ujar Arthur.


" Qilin berbeda, dia mungkin tidak pernah berkaitan dengan hal hal gelap, jadi, nak.. perjuanganmu lebih berat dari daddy dulu." Ujar Arthur lagi sambil terkekeh.


" Jujurlah, jika kamu ingin serius dengannya." Ujar Arthur, dan Justin mengangguk.


Anggukan yang entah bagaimana caranya dia melakukan hal itu, jujur pada Qilin.


Waktu berlalu, kini Justin kembali berjalan masuk kedalam kamarnya dan melihat gadis yang sangat ia cintai itu masih terlelap dalam tidurnya, Justin pun tersenyum dan naik ke atas ranjang memandangi Qilin.


Dalam hatinya saat ini masih bingung, bagaimana caranya untuk memberi tahu Qilin tentang jati dirinya yang adalah seorang pemimpin Mafia.


Perlahan Qilin membuka matanya dan bertemu tatap dengan Justin yang saat ini sedang menatapnya sangat dalam.


" Sudah bangun, sayang?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk sambil tersenyum.


Justin mengecup kening Qilin, dan Qilin pun masuk ke dalam pekukan Justin.

__ADS_1


" Apakah masih mengantuk?" Tanya Justin.


" Tidak, aku hanya merindukanmu." Ujar Qilin, dan justin terkekeh mendengarnya.


" Kamu merindukanku?" Ujar Justin sambil mengusap rambut Qilin.


" Hm.. aku bermimpi hal yang tidak bagus." Ujar Qilin.


" Bermimpi hal tidak bagus, hal apa?" Tanya Justin.


Qilin melerai pelukannya dan menatap Justin lamat lamat.


" Kamu pergi meninggalkan aku lagi." Ujar Qilin, dan Justin terdiam. Tapi kemudian Justin tersenyum dan kembali memeluk Qilin.


" Tidak akan, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi." Ujar Justin.


" Bersiaplah, mommy memasak banyak makanan." Ujar Justin.


Seketika Qilin langsung merasa segar, segar bukan karena dia antusias dengan makanan yang Sierra masak, tapi dirinya tidak membantu Sierra masak.


" Astaga, kenapa kamu tidak bilang bahwa mommy masak? Aku harus membanru mommy." Ujar Qilin dan langsung bangun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.


Justin geleng geleng melihat qilin yang lari begitu cepatnya, tapi kemudian wajahnya menyendu mengingat apa yang Qilin mimpikan.


' Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, sayang. Kamu tidak akan sendirian lagi, akan aku pastikan itu.' Batin Justin.


Akhirnya setelah Qilin mencuci wajahnya dan bersiap, dia turun ke bawah dan mendapati Sierra yang sedang menata meja makan.


" Sayang, sudah bangun? Ayo kita makan malam." Ujar Sierra.


" Mommy, maaf aku tidak membantu mommy." Ujar Qilin tak enak hati.


Baru pertama dia di sana dan sudah meninggalkan kesan yang buruk, pikirnya.


" Tidak masalah, sayang.. Ayo kita makan." Ujar Sierra ramah.


Arthur duduk di meja ujung, Sierra di sebelah kanan Arthur. Justin duduk di sebelah kiri Arthur dan Qilin di sebelah Justin, begitu penataan keluarga di meja makan itu.


" Qilin, menginaplah disini, nak." Ujar Sierra.


" Tidak bisa mom, Qilin sudah meninggalkan rumah Qilin kemarin. Teman Qilin pasti mencari cari Qilin." Ujar Qilin.


" Anak nakal ini menyitamu, ya?" Tanya Sierra dan Qilin terkekeh.


" Iya." Sahut Qilin.


" Lain kali saja Qilin menginapnya, mom." Ujar Qilin, dan Sierra menjadi sedih.


" Baiklah.. " Ujar Sierra.


" Qilin janji." Ujar Qilin menghibur Sierra.


" Oke.." Ujar Sierra sumringah.


" Mom, dad.. aku pulang." Ujar sebuah Suara yang sama dengan suara Justin.


Qilin melihat sosok yang sama yang saat ini berjalan masuk dan langsung menghampiri Sierra dan memeluknya.

__ADS_1


' Astaga, mereka benar benar sama.' Batin Qilin ketika melihat kembaran Justin, yaitu Dustin.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2