Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 40. Bagaimana jika hamil?


__ADS_3

Dustin sempat terkejut ketika melihat ada Qilin disana, tapi kemudain dia tersenyum kearah Qilin. Dustin pun duduk di sebelah Sierra yang saat ini sedang menyiapkan makanan untuk Arthur.


'' Kak, kau akhirnya membawa Qilin kemari?'' Ujar Dustin.


'' Hm, apa terjadi sesuatu di perusahaanmu?'' Tanya Justin dan Dustin menganggukan kepalnya.


'' Tidak terlalu besar, hanya masalah biasa.'' Sahut Dustin.


'' Selamat datang di rumah, Qilin.'' Ujar Dustin.


'' Terimakasih.'' sahut Qilin.


'' Ayo makan.'' Ujar Sierra dan semuanya menganggukan kepala mereka.


Selama makan malam, Dustin sesekali menatap Qilin yang di perlakukan begitu manis oleh Justin. Justin mengupasakan udang untuk kemudian Qilin makan, sangat manis.


Entah apa apa yang ada di pikiran Dustin dengan pemandangan di hadapannya itu, dari tatapan matanya ada rasa ketidak relaan.


Dan setelah makan malam selesai, Qilin pun akhirnya berpamitan dengan Siera dan Arthur untuk pulang, Sierra sungguh ingin Qilin untuk menginap, tapi Qilin benar benar tidak bisa karena dia khawatir dengan Rena yang saat ini sendirian di rumahnya.


'' Datanglah lagi kemari, nak. Mommy ingin sekali kamu menginap disini, mommy tidak punya anak perempuan.''  Ujar Sierra.


'' Iya mom, Lain kali Qilin datang lagi kemari dan menginap.'' Ujar Qilin.


''Aku pergi, mom.. dad.'' Ujar Justin, Sierra dan Arthur pun menganggukan kepalanya.


Dustin tidak terlihat, karena setelah makan malam, dia langsung naik ke atas kamarnya karena kelelahan.


Tapi dia berdiri di atas sana, di balkon kamarnya. Dustin berdiri dan menatap kearah dimana mobil Justin berada, lebih tepatnya menatap Qilin dan Justin dari kejauhan. Setelah mobil Qilin pergi, Dustin menatap ke langit dan menghembuskan nafasnya.


Justin sungguh mengantarkan Qilin untuk pulang, karena Qilin terus mengatakan khawatir dengan Rena yang sendirian di rumahnya. Tak lama, Mobil pun sampai di depan rumah Qilin, dimana di depannya ada Fendy yang sedang berdiri di sana.


'' Kak Fendy? apa yang sedang kakak lakukan di sini?'' Tanya Qilin.


'' Qilin, apakah Rena ada di dalam?'' Tanya Fendy.


'' Rena? aku sudah bilang pada kakak bahwa aku tidak tahu kemana Rena pergi setelah memberikan surat pengunduran dirinya padaku.'' Ujar Qilin.


'' Tapi tadi aku melihat Rena masuk kedalam rumahmu.'' Ujar Fendy.


'' Kunci rumah ini bahkan ada padaku, bagaimana mungkin ada orang lain yang bisa masuk ke dalam rumahku?'' Ujar Qilin sambil menunjukan kunci rumahnya.


" Apa aku salah liat?" Gumam Fendy menunduk.


" Pergi." Ujar Justin, dengan suara rendah dan dinginnya.


Fendy menatap Justin, dan sedikit terkejut. Seorang tuan muda Edward, ada di hadapannya. Fendy kemudian menatap Qilin. Dia tahu sekarang, kekasih Qilin adalah anggota keluarga yang terkenal itu.

__ADS_1


' Tidak heran selama dua hari ini pekerjaan Qilin di gantikan orang orang misterius yang mengatakan bahwa dia adalah orang orang Qilin. ' Batin Fendy.


" Maaf tuan, Qilin jika kamu tahu dimana Rena, tolong beri tahu aku." ujar Fendy, dan Qilin hanya mengangguk.


Fendy pun pergi dari sana dengan wajah yang semakin sendu, dia bersaing dengan seorang tuan muda keluarga Edward tentu saja dia tidak memiliki kesempatan menang sedikitpun.


Hanya saja Fendy tidak tahu pria itu adalah Justin atau Dustin, karena yang Fendy tahu mereka saudara kembar.


Qilin membuka pagar pintunya, dan kembali menghadap kearah Justin.


" Hati hati di jalan." Ujar Qilin sambil tersenyum manis.


Justin mengangguk sambil tersenyum, lalu memeluk Qilin sebelum melepas Qilin masuk kedalam rumahnya.


" Aku pulang, jangan tidur malam malam, oke? " Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin melepas pelukannya, lalu Qilin pun masuk kedalam. Setelah Qilin benar benar hilang di balik pintu, Justin pun pergi dari sana.


Qilin terkejut melihat keadaan rumah yang gelap, Qilin yang parno dengan hanru pun menjadi berpikiran yang tidak tidak.


" Rena.." Panggil Qilin, namun tidak ada yang menyahut.


Qilin berjalan meraba raba dinding dan menyalakan lampu. Qilin terkejut ketika melihat Rena yang sedang duduk memeluk kakinya di ruang tengah dengan tatapan kosong.


" Astaga Ren.." Ujar Qilin, dan mendekati Rena.


Rena menatap Qilin, lalu kemudian menangis dan memeluk Qilin. Qilin sungguh bingung dengan apa yang terjadi, Rena putus dari tunangannya tapi kenapa Fendy yang terus mencari Rena.


Rena menangis tersedu sedu di pelukan Qilin, Qilin pun hanya bisa menunggu sampai Rena tenang untuk meminta Rwna bercerita.


" Tidak apa apa, ada aku." Ujar Qilin.


Dan setelah setengah jam lamanya Rena menangis di pelukan Qilin, kini Rena sudah mulai tenang dan melerai pelukannya dari Qilin.


" Kamu sudah makan?" Tanya Qilin, dan Rena mengangguk.


" Apa yang terjadi? Apakah kamu mau bercerita?" Tanya Qilin.


Rena menatap Qilin, lalu menghapus air matanya dan mengangguk.


" Qilin, apakah kamu keberatan memiliki teman yang kotor?" Tanya Rena tiba tiba.


" Teman kotor? Apanya yang kotor?" Ujar Qilin bingung, dia tidak mengerti apa yang di maksudkan Rena.


" Kamu ingat aku mengatakan padamu bahwa aku putus dari tunanganku?" Tanya Rena, dan Qilin mengangguk.


" Aku memergokinya berselingkuh di hotel malam itu." Ujar Rena mulai bercerita.

__ADS_1


" Aku marah, kecewa, sedih, dan lari meninggalkan dia bersama selingkuhannya dan melempar cincin pertunangan kami." Ujar Rena.


Qilin diam saja, dia mendengarkan Rena yang bercerita tanpa menjeda sedikitpun.


" Fendy melihat kejadian itu, dia juga melihat aku yang sangat hancur malam itu." Ujar Rena.


" Saat aku keluar dari kamar yang di pesan mantan tunanganku dengan selingkuhannya, Fendy menarikku masuk kedalam kamar yang kami pesan." Ujar Rena lagi.


" Dia menenangkan aku yang sedang menangis tersedu sedu, dia memeluku dan.. dan.." Ujar Rena ragu.


" Dan??" Tanya Qilin.


" Kami melakukan itu.." Ujar Rena dan kembali berlinang air mata.


" Itu?? Itu apa?" Tanya Qilin yang tidak peka dengan wajab polosnya.


Rena merasa konyol sendiri karena bercerita dengan Qilin yang polos, dia menangis, tapi dia juga ingin tertawa jika melihat wajah lugu Qilin.


" Aku dan Fendy melakukan hub*ngan badan." Ujar Rena.


Qilin langsung mangap mendengarnya, tapi kemudian ia menutup mulutnya sendiri karena terkejut.


" Sebelum aku memergoki mantan tunanganku dengan selingkuhannya, aku dan Fendy sudah meminum lumayan banyak bir, jadi aku khilaf di tengah tengah sakit hatiku." Ujar Rena.


" Sekarang jatuhnya, aku juga sudah berselingkuh dari mantan tunanganku, bahkan kami sama sama kotor." Ujar Rena lagi dan kembali menangis.


Qilin memeluk Rena, meski dia tidak tahu harus berbuat apa dan tidak bisa berkata apa apa karena dia tidak tahu dengan hal hal seperti itu.


" Bagaimana jika aku hamil." Ujar Rena.


Dan itu berhasil membuat Qilin ikut tegang. Hamil tanpa suami bukan hal yang lucu, wanita yang hamil tanpa suami akan menggugurkan kandungannya, seperti apa yang di lakukan saudari angkat Qilin, Gigi.


Atau akan membuang bayi yang di lahirkannya itu, dan menjadi anak seperti Qilin, yang tidak memiliki siapa siapa dan bahkan tidak tahu siapa orang tuanya.


" Maka kita akan besarkan anak itu bersama sama." Ujar Qilin mantap.


Rena melerai pelukannya dari Qilin dan menatap Qilin lamat lamat.


" Qilin, aku tidak menikah.." Ujar Rena.


" Jangan buang anak itu atau mengab*rsinya, Rena. Jika kamu sungguh hamil nantinya, maka besarkan dia dengan kasih sayang. Anak itu tidak bersalah, Rena. " Ujar Qilin berkaca kaca.


" Kenapa kamu menangis?" Tanya Rena heran.


" Karena aku tahu bagaimana rasanya terlahir di dunia yang tidak seorangpun menginginkan aku, aku tumbuh di panti asuhan." Ujar Qilin, dan Rena kembali menangis mendengarnya.


Mereka berdua menangis bersama sambil berpelukan, hanya karena memikirkan anak yang belum tentu ada di rahim Rena.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2