Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 23. Merelakan.


__ADS_3

Qilin telah sampai di sebuah rumah besar, rumah yang besarnya dua kali lipat dari rumah ibu angkatnya, kediaman Arthur.


" Brak!" Suara pintu mobil tertutup.


Qilin melihat pintu yang sangat besar, semakin terlihat bahwa dia dan Justin bukan dari dunia yang sama.


' Rumah Justin sangat besar, sukurlah.. Justin tidak akan kekurangan seperti saat bersamaku.' Batin Qilin.


" Silahkan masuk, nona Qilin." Ujar Malvin, dan Qilin mengangguk.


Pintu terbuka, dan Malvin menunjukan jalan dimana Justin dan yang lainnya saat ini berada. Qilin melihat Justin yang sangat tampan sedang duduk di sofa. Justin semakin terlihat berbeda, mungkin karena pakaiannya.


" Justin." Panggil Qilin.


Justin terkesiap mendengar suara Qilin, senyum manisnya terbit dan langsung berlari menghampiri Qilin. Justin langsung memeluk Qilin erat kedalam dekapannya.


" Qilin.." Gumam Justin.


Qilin menghirup aroma khas Justin yang sangat ia rindukan itu. Sierra dan Arthur melihat bagaimana Justin sangat menyayangi Qilin, Justin yang tidak pernah dekat dengan wanita selain ibunya dan neneknya itu saat ini sedang memeluk Qilin.


Dustin tidak ada di sana, karena Dustin masih berada di perusahaan saat ini.


" Qilin pakai jepit yang Justin beli?" Ujar Justin saat melihat jepitannya sudah menempel dengan indah di rambut perak Qilin.


" Hm, aku menemukannya di kamarmu." Ujar Qilin.


" Justin tidak sempat memberikannya." Gumam Justin.


" Tidak apa apa, aku sudah menemukannya. Terimakasih, Justin.. jepit rambutnya indah." Ujar Qilin.


" Justin senang jika Qilin suka." Ujar Justin dan melerai pelukannya dari Qilin.


" Ayo Qilin." Ujar Justin dan langsung membawa Qilin ke halaman belakang.


" Justin sangat bahagia bersama Qilin." Gumam Arthur.


" Aku tidak bisa bayangkan jika nanti Justin tidak ingat dengan Qilin, pasti Qilin akan terluka." Ujar Sierra.


" Itulah sebabnya, lebih baik kita pisahkan mereka dari sekarang. " Ujar Malvin.


Sierra bangun, dan menghampiri Justin dengan Qilin yang saat ini sedang melihat ikan koi di halaman belakang.


" Justin, bukankah kamu ingin memberikan hadiah untuk Qilin?" Ujar Sierra.


" Oh iya, Justin punya hadiah untuk Qilin, sebentar Qilin." Ujar Justin dan langsung pergi masuk ke dalam, maninggalkan hanya Qilin dan Sierra saja, Qilin menjadi takut saat ini


" Jangan takut Qilin.. saya minta maaf telah menamparmu kemarin." Ujar Sierra dengan senyumnya.


" Tidak apa apa, nyonya." Ujar Qilin, tersenyum tipis.


" Justin akan pergi ke luar negeri untuk berobat, sampai saat itu.. tidak ada yang tahu apakah Justin masih ingat padamu atau tidak. Jangan kamu menunggu Justin, karena kami sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya." Ujar Sierra.


Air mata Qilin lolos, tapi Qilin langsung menghapusnya dengan cepat. Sierra merasa kasihan pada Qilin, ia pun mendekat dan memeluk Qilin.


" Terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan dan merawat Justin selama ini, saya benar benar minta maaf karena sudah salah paham kepadamu." Ujar Sierra.

__ADS_1


" Lupakan Justin, nak.." Ujar Sierra, sambil melerai pelukannya dari Qilin.


Kalimat terakhir Sierra itu mengoyak hati Qilin. Belum sempat perasaannya tersampaikan, dia harus membunuh perasaannya sendiri, Qilin hanya bisa menahan tangisnya saat ini.


" Saya tidak akan melarang Justin mencarimu jika dia ingat padamu setelah ingatannya kembali, itu janji saya." Ujar Sierra menenangkan Qilin.


Justin pun kembali dengan kotak hadiah di tangannya, dia begitu antusias dan langsung memberikan kotak itu pada Qilin.


" Bukalah Qilin." Ujar Justin.


Qilin tersenyum dan membuka kotak itu, dan rupanya di dalamnya berisi kalung yang dengan bandul salib kecil, juga terukir nama Justin di salib itu.


" Itu kalung Justin, Justin berikan kepada Qilin. Jadi Justin tidak pernah jauh dari Qilin." Ujar Justin lalu memakaikan kalungnya pada Qilin.


Qilin sungguh tidak bisa berkata apa apa, satu sisi dia harus melupakan Justin, tapi Justin mengatakan dirinya tidak ingin jauh dari Qilin.


Qilin melepas jepit rambut yang ia pakai, lalu memberikannya kepada Justin.


" Aku tidak punya apa apa, jepit rambut ini sangat berharga bagiku, jadi aku berikan padamu, agar kamu juga selalu ingat aku." Ujar Qilin.


" Justin tidak akan lupa Qilin." Ujar Justin.


" Sudah waktunya kita berangkat." Ujar Arthur.


" Ayo, sayang." Ujar Sierra pada Justin.


" Qilin antar Justin, ya?" Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Mereka akhirnya pergi dari kediaman itu menuju ke bandara dengan mobil Van besar. Sepanjang perjalanan, Justin menyenderkan kepalanya pada Qilin, bakan tangannya tak mau lepas dari Qilin.


Arthur sampai tidak habis pikir dengan kelakuan Justin yang sangat bertolak belakang dengan Justin yang biasanya.


" Hati hati.. semoga pengobatanmu berjalan dengan lancar, dan sembuh." Ujar Qilin.


" Tunggu Justin pulang, Qilin." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin memeluk erat Qilin, dan sebaliknya. Akhirnya Justin, Arthur dan Sierra pun masuk ke dalam, Justin bahkan berjalan mundur dan melambaikan tangannya pada Qilin hingga hilang tak terlihat.


" Nona Qilin, mari saya antar pulang." Ujar Malvin, dan Qilin mengangguk.


Sepanjang perjalanan, Qilin hanya diam hingga akhirnya dia sudah dekat dengan gan tempat tinggalnya.


" Tuan, turunkan saya di sini saja." Ujar Qilin.


" Baik." Ujar Malvin.


Mobil berhenti, dan Qilin pun turun di pinggir jalan. Malvin langsung pergi meninggalkan Qilin. Qilin berjalan dan memasuki gang, dan Qilin terkejut ketika melihat Fendy yang sedang menunggunya di depan rumah.


" Kak Fendy?" Ujar Qilin.


Fendy terkesiap mendengar suara Qilin dan dia langsung menghampiri Qilin.


" Qilin, kamu baik baik saja? Astaga, kenapa kamu keluar begitu saja dari rumah sakit?" Ujar Fendy khawatir.


" Maaf kak, aku hanya tidak betah di sana." Ujar Qilin.

__ADS_1


" Sukurlah jika kamu baik baik saja." Ujar Fendy, dan mengusap kepala Qilin.


" Kamu sudah makan?" Tanya Fendy, dan Qilin menggeleng.


" Kalau begitu ayo kita makan." Ujar Fendy dan Qilin mengangguk.


Fendy pun mengajak Qilin naik ke atas motornya dan pergi dari sana, Fendy membawa Qilin ke sebuah restoran yang menyediakan makanan laut.


'' Kamu alergi makanan laut?'' Tanya Fendy.


'' Tidak, kak.'' Ujar Qilin.


'' Kalau begitu kita makan di sini saja.'' Ujar Fendy dan Qilin mengangguk.


Mereka berdua masuk dan langsung mendapat meja, Fendy melihat Qilin yang tampak murung sejak ia temukan di bawah hujan semalam.


'' Qilin, apa kamu sedang dalam masalah? jika butuh bantuan, katakan saja padaku, jika aku mampu aku akan membantumu.'' Ujar Fendy.


Qilin menatap Fendy, tidak seharusnya dia terlihat murung di hadapan Fendy, masalahnya dalah masalahnya dia harus bisa bersikap profesional. Qilin pun tersenyum, ia menunjukan senyum bahwa dirinya baik baik saja pada Fendy.


'' Kakak berpikir berlebihan, aku baik baik saja. Mungkin ini efek karena semalam aku kehujanan.'' Ujar Qilin.


'' Kalau boleh tahu, kenapa kamu menangis di bawah guyuran hujan semalam?'' Tanya Fendy.


'' Mm.. itu karena kakiku tersandung dan jatuh.'' Ujar Qilin berbohong.


'' Astaga, apakah kakimu masih sakit sekarang?'' Tanya Fendy dan Qilin tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


'' Sukurlah, ayo pesann makanan yang kamu mau.'' Ujar Fendy.


'' Aku belum mengganti biaya rumah sakitku pada kak Fendy.'' Ujar Qilin.


'' Ya ampun, jangan di pikirkan, aku iklas membantumu.'' Ujar Fendy.


'' Kalau begitu terimakasih, aku akan balas kebaikan kakak di lain hari.'' Ujar Qilin dan Fendy tersenyum mendengarnya.


Fendy semakin terpesona dengan Qilin, kesedrhanaan Qilin, sikap dan semua tentang Qilin sangat sesuai dengan apa yang ia dambakan dari seorang gadis.


Mereka pun akhirnya makan malam bersama, Qilin tidak lagi menunjukan wajah sedihnya dan dia bersikap ceria seperti biasanya. Setelah selesai, Fendy pun mengantarkan Qilin pulang hingga di depan rumahnya.


'' Terimakasih kak Fendy, lain kali kau yang akan mentraktir kakak.'' Ujar Qilin.


'' Santai saja, beristirahatlah dengan baik, aku sudah memintakan ijin pada boss untukmu untuk cuti sakit selama satu minggu, apakah cukup?'' Tanya Fendy.


'' Lebih dari cukup, kak.. terimakasih.'' Ujar Qilin.


'' Ya sudah, jika ada apa apa hubungi saja aku, bagi padaku nomor ponselmu.'' Ujar Fendy dan Qilin tersenyum.


'' Kenapa tersenyum?'' Tanya Fendy bingung.


'' Aku tidak punya ponsel, kak.'' Ujar Qilin dan Fendy sedikit terkejut mendengarnya.


'' Sungguh?'' Tanya Fendy heran dan Qilin mengangguk.


'' Jangan khawatir, tidak akan terjadi apapun padaku.'' Ujar Qilin.

__ADS_1


' Benar juga, dia punya kakak yang over protektif itu, seharusnya dia bisa menjaga Qilin. Tapi kenapa sejak sore aku menunggu di sini tidak melihatnya? Mungkin dia sedang bekerja juga.' Batin Fendy.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2