Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 91. Ada apa dengan Dustin


__ADS_3

Justin keluar dari ruangan Arthur, dan terlihat Dustin yang juga berjalan sembari membawa segelas anggur di tangannya.


" Dustin, sepertinya kita akan sibuk." Ujar Arthur.


" Kenapa, Dad?" Tanya Dustin.


" Justin dan Qilin akan bertunangan, dan tak lama lagi mereka akan menikah." Ujar Arthur.


Terlihat wajah Dustin tanpa ekspresi, kemudian tersenyum tipis.


" Baguslah, aku ikut senang untukmu, kak." Ujar Dustin.


" Carilah seorang kekasih, lalu menikah." Ujar Justin.


" Aku akan mencarinya, nanti." Ujar Dustin.


Akhirnya mereka kembali bergabung dengan Sierra dan Qilin yang sedang asik tertawa, entah apa yang dua wanita beda usia itu bahas.


" Justin, mommy akan panggilkan desainer untuk menangani gaun Qilin." Ujar Sierra.


" Bagaiamana menurutmu, sayang?" Tanya Justin pada Qilin.


" Aku ikut mommy saja, aku tidak tahu apapun tentang gaun." Ujar Qilin.


" Baiklah." Ujar Justin.


Dan setelah mereka menghabiskan waktu bersama sore itu, akhirnya Qilin dan Justin pun pamit pulang.


" Hati hati di jalan, sayang." Ujar Sierra.


" Ya, mom.." Sahut Qilin sembari melambaikan tangannya.


Setelah Qilin dan Justin pergi, Sierra dan Arthur masuk kedalam dan dari dalam rumah mereka melihat Dustin yang duduk di gazebo sambil menengadahkan kepalanya ke atas.


" Bisa bisanya dia minum anggur sampai mabuk, padahal ada Qilin dan Justin." Ujar Sierra.


" Biar daddy bangunkan dia." Ujar Arthur dan berjalan keluar.


Arthur pun keluar dan menghampiri Dustin yang memang tampak seperti orang tidur itu.


" Dustin, kau sudah dewasa mengapa masih saja bertingkah seperti anak anak, nak? Bangunlah, dan pindah ke kamarmu." Ujar Arthur. Namun Dustin tidak bereaksi.


" Daddy tahu kamu tidak benar benar tidur, jadi ayo bangun." Ujar Arthur lagi.


Arthur menghela nafasnya, lalu menepuk pundak Dustin.


" Jika ada masalah, kamu bisa menceritakannya kepada papa, siapa tahu papa bisa membantumu." Ujar Arthur, dan tetap.. Dustin tidak bergeming.


" Baiklah, daddy menyerah.. Daddy akan masuk saja, sebentar lagi hujan." Ujar Arthur dan bangun.


Arthur pun pergi masuk kedalam rumah, dan benar saja tak lama hujan pun turun dengan deras. Dan bersamaan dengan turunnya hujan, air mata Dustin ikut mengalir.


" Snif!!" Dustin menghalau ingusnya.


Ketahuilah, jika seseorang menangis tanpa suara.. orang itu pasti sedang mengalami luka hati yang dalam, dan penuh gejolak di dalam hatinya.


Hanya saja dia mungkin bingung mengutarakannya dan hanya bisa di pendam seorsng diri. Tapi apa yang terjadi dengan Dustin??

__ADS_1


" Huuffttt... " Dustin menghela nafas, untuk meringankan sesak di hatinya.


Sementara itu di tempat lain, Qilin sudah sampai di depan rumahnya, Justin pun dengan sigap turun dan memayungi Qilin agar tidak kehujanan.


" Tiba tiba saja hujan, kamu jadi kebasahan." Ujar Qilin, pada Justin.


" Tidak apa apa, sayang." Ujar Justin.


Tak lama, Rena keluar dan terkejut melihat Qilin. Dia bahkan sampai menjatuhkan buku yang di bacanya dan langsung membuka pintu.


" Astaga, Qilin.." Ujar Rena senang.


Qilin dan Justin pun masuk kedalam setelah pintu di buka, Qilin langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.


" Rena, aku merindukanmu." Ujar Qilin, setelah masuk ke dalam.


" Astaga Qilin, aku lebih merindukanmu. Apa kamu baik baik saja? Sebulan lebih tanpa kabar." Ujar Rena.


" Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja." Ujar Qilin.


" Kamu makin cantik dengan rambut hitam." Ujar Rena.


" Terimakasih, bagaimana keadaan keponakanku?" Tanya Qilin.


" Dia baik, dan tumbuh dengan sehat." Ujar Rena.


" Bagus, halo keponakan kecil.. bibi kecil sudah tidak sabar melihatmu." Ujar Qilin, dengan suara menyerupai anak kecil.


" Eeh.. Qilin, apa tuan Justin tidak apa apa duduk di sana sendirian? " Tanya Rena yang melihat Justin duduk di ruang tamu.


'' Tidak apa apa, sebenarnya dia akan langsung pulang dan aku akan menginap denganmu di sini.'' Ujar Qilin.


" Katakan pada kak Fendy untuk tidak pulang dulu kemari, karena malam ini adalah malam nya Rena dan Qilin. " ujar Qilin, dan Rena mengangguk.


" Sebentar aku ke Justin dulu." ujar Qilin dan pergi menghampiri Justin.


' Tapi.. jika Fendy tahu Qilin sudah pulang, apakah Fendy tidak akan kembali mengejar Qilin.' Batin Rena, menjadi khawatir.


' Apa yang kamu pikirkan Rena, sejak awal Fendy memang hanya mencintai Qilin, ada nya dia bersamamu karena anak yang ada di dalam kandunganmu.' Batin Rena lagi, dan menjadi pesimis.


Rena pun mengetika pesan dan mengirimkannya pada Fendy.


Qilin duduk di sebelah Justin, dan Justin mengusap kepala Qilin yang sedikit basah itu.


" Apa di aini masih ada baju ganti untukmu? Kamu basah." Ujar Justin.


" Ada, aku yakin Rena masih menyimpannya. " Ujar Qilin.


" Kalau begitu aku pulang, hum? Aku tidak akan mengganggu waktu para wanita." Ujar Justin sembari tersenyum.


" Tapi di luar masih hujan." Ujar Qilin khawatir.


" Tidak apa apa, aku akan berhati hati." Ujar Justin.


Qilin pun mengangguk. Akhirnya Justin pun bangun dan pulang, Qilin pun mengantar Justin hingga di depan pintu saja. Sebelum pergi, Justin tidak pernah lupa untuk mencium kening Qilin, baru dia pergi.


Setelah mobil Justin tidak terlihat, barulah Qilin kembali masuk ke dalam.

__ADS_1


" Apa tuan Justin pulang?" Tanya Rena, dan Qilin mengangguk.


" Aku akan berganti pakaian dulu, apakah kamar di atas masih berisi barang barangku?" Tanya Qilin.


" Tentu saja masih, aku tidak berani mengotak atiknya." Ujar Rena dengan senyum.


" Ekhem.. Lalu.. Apakah itu berarti kalian tidur dalam satu kamar selama ini?" Goda Qilin, dan seketika wajah Rena memerah.


" Ooooo.... aku tahu jawabannya." Ujar Qilin lagi.


" Qilin, kau.." Ujar Rena.


" Aku akan ganti baju." Teriak Qilin sembari berlari.


Rena yang salah tingkah itu pun akhirnya menuju ke dapur dan membuatkan teh untuk Qilin, sementara untuk dirinya, dia membuat susu hamil.


Tak lama Qilin turun dan duduk di sofa ruang tengah, Rena yang sudah selesai membuat teh dan susu pun menyajikannya untuk Qilin.


" Hangatkan dirimu dengan teh.." Ujar Rena.


" Wah.. Sudah lama aku tidak minum teh buatan sahabatku." Ujar Qilin, dan langsung menyeruput teh itu.


" Katakan padaku, kamu kemana saja selama ini? Apakah kamu sungguh di culik?" Tanya Rena penasaran.


" Hm, aku di culik.. oleh papa tiriku." Ujar Qilin, dan Rena menutup mulutnya.


" Aku bertemu dengan ibu kandungku, tapi belum sempat aku melepas rindu, suami dari ibu kandungku datang dan membawa kami berdua." Ujar Qilin.


" Apa dia menyiksamu?" Tanya Rena.


" Bagaimana kamu tahu?" Tanya Qilin.


" Papa tiri biasanya kejam, aku sering melihatnya di serial tv." Ujar Rena.


" Ya, dia kejam. Dan kamu tahu, dalam selama aku menghilang, hidupku banyak mengalami perubahan drastis, mungkin lebih bisa di katakan seru dari pada serial tv." Ujar Qilin terkekeh.


" Sahabatku yang malang..." Ujar Rena berkaca kaca dan memeluk Qilin.


" Lupakan.. jangan bahas hal menyedihkan. Kita bahas yang lain saja, seperti.. kapan kalian menikah?" Tanya Qilin. Dan Rena tersipu mebdengarnya.


" Oho, apakah kalian sudah membicarakan ini?" Tanya Qilin.


" Dia sudah mengajaku menikah, tapi aku bilang ingin menunggumu pulang dulu." Ujar Rena.


" Astaga anak ini, jangan menunda hal baik.. menikahlah." Ujar Qilin.


" Baiklah, karena kamu sudah kembali, aku akan menikah dengan nya nanti." Ujar Rena.


" Itu bagus.. Dan tak lama aku juga akan menyusulmu." Ujar Qilin.


" Kamu mau menikah?" Tanya Rena berbinar.


" Hm, aku akan menikah, tidak lama lagi." Ujar Qilin, dan Rena langsung memeluk Qilin.


Entah mengapa Rena merasa lega mendengar bahwa Qilin juga akan menikah, mungkin dia mashi khawatir jika Fendy akan kembali mengejar Qilin.


" Aku bahagia sekali.." Gumam Qilin, sambil mengusap usap punggung Rena.

__ADS_1


TO BE CONTINUED...


__ADS_2