
Qilin sudah siap dengan rompi dan penutup telinga untuk meredam suara tembakan yang akan dia lakukan nanti, tentu saja Cio yang mengajarinya. Qilin pun kini berdiri di tempat dan menatap targetnya.
Tetapi memang pada dasarnya Qilin tidak pernah memegang senjata api, Qilin menjadi takut sendiri hingga tangannya gemetar.
" Fokus, ingatlah.. hidupmu, hanya dirimu sendiri yang bisa menyelamatkannya." Ujar Cio.
' Kamu bisa Qilin.. kamu bisa.' Batin Qilin.
" Kamu benar." Ujar Qilin.
" Pegang pistolnya seperti ini, lalu tegakkan tubuhmu begini. Tatapan lurus kedepan target itu.. kau harus mengenainya." Ujar Cio mengajari Qilin cara memegang senjata api.
Cio berdiri di belakang Qilin, dan mengarahkan pada Qilin apa yang harus Qilin lakukan.
" Go! " Ujar Cio memberi perintah.
Qilin pun menarik pelatuk, namun karena masih takut takut.. Qilin tidak mengenai target. Cio melihat tangan Qilin yang gemetar, dia tahu Qilin masih takut.
" Jangan lupakan, jika bukan pria itu yang mati.. maka kamu yang akan mati, Qilin.." Ujar Cio memberi Qilin pemicu semangat.
Seketika Qilin meremas senjata apinya karena dia emosi dengan Agra yang seenak jidatnya mengambil ibunya dan menahannya di pulau terpencil.
Qilin kembali mengarahkan tangannya yang gemetar ke arah target, dan dengan susah payah Qilin akhirnya..
" DOR!" Qilin menembak target meski tidak di titik tengah.
" Langkah yang bagus, kontrol saja emosimu, dan ingat dengan apa yang aku katakan tadi." Ujar Cio.
Dan satu hari itu, Qilin berlatih mebembak dengan Cio, tidak ada jeda. Itu bukan keinginan Cio, melainkan keinginan Qilin yang ingin segera menguasai cara menembak.
Dan rupanya Qilin adalah pemula yang bagus, baru satu kali belajar, dia sudah mulai magir menembak, meski sering meleset dan bukan di titik tengah.
__ADS_1
" Cukup untuk hari ini, lihat tanganmu sudah berdarah darah." Ujar Cio.
" Aku tidak mau istirahat, Cio.. Bisakah kamu ajarkan aku apa langkah selanjutnya?" Ujar Qilin.
" Semangat berkobar itu bagus, tapi rakus dan nafsu terhafap suatu hal itu tidak bagus. Kamu belum makan, dan lihat.. tanganmu berdarah darah. Kamu hanya akan mati konyol sebelum berperang." Ujar Cio.
" Istirahat dulu, kamu mungkin tidak merasakan lelah, tapi tubuhmu lelah. Kamu butuh makan dan beristirahat." Ujar Cio lagi, dan akhirnya Qilin mengangguk.
Cio tersenyum karena meski Qilin sedang di selimuti dendam, tapi dia masih mau di beri tahu dan di beri nasehat.
Keduanya pun naik ketas, dan sesampainya mereka dia atas, Cio memberikan satu kotak besar berisi makanan formula.
'' Apa ini?'' Tanya Qilin bingung karena di beri satu kotak besar berisi seperti sachetan bungkus susu cair.
'' Jika nanti makananmu tidak datang, makan lah ini satu sachet, kamu akan kenyang.'' Ujar Cio, bentuk makanan itu seperti sachet kecil, namun jika kamu memekannya kamu akan kenyang sehaian tanpa kamu butuh makanan lagi.
'' Jika kamu lapar lagi, kamu bisa makan dua.. itu maksimal.'' Ujar Cio lagi. Namun Qilin masih hanya menatap benda di tangan nya itu dengan ragu.
'' Aku tidak akan menyakitimu, jangan khawatir.'' Ujar Cio.
'' Aku pergi dulu, aku akan datang lagi besok.'' Ujar Cio lagi.
'' Terimakasih Cio.'' Ujar Qilin dan Cio tersenyum, lalu pergi.
Sepeninggal Cio, Qilin pun duduk di meja makan dan menaruh kotak yang Cio berikan, Qilin lalu membuka perban di tangannya yang sudah basah dengan darah dengan susah payah, karena perban itu tampak menyatu dengan lukanya.
'' Shh.. '' Keluh Qilin merasakan sakit yang teramat sangat di tangan nya.
Qilin kemudian menatap tangannya yang sudah menyentuh sebuah senjata api dan merenung, dia yang dulu tidak pernah menyentuh sedikitpun benda benda berbau seperti itu kini dia mempelajarinya.
' Bagaimana jika Justin tahu aku berubah menjadi seperti ini.. apakah Justin masih akan mencintaiku? Aku bukan lagi Qilin yang dulu' Batin Qilin.
__ADS_1
Khawatir tentu saja ia, Qilin khawatir jika nanti dia bisa bebas dan kembali bertemu dengan Justin namun Justin tahu dirinya sudah bukan Qilin yang sama dan Justin tidak mau menerimanya. Karena Qilin tahu.. pada akhirnya dia akan menjadi seorang pembunuh untuk membebaskan dirinya dan ibunya.
' Maafkan aku Justin.. Jika nanti kamu tidak mencintaiku lagi, aku akan menerimanya.. karena kamu tidak boleh terlibat dalam bahaya karenaku.' Batin Qilin lagi.
Qilin hanya tidak tahu saja, bahwa Justin justru lebih membahayakan.. Justin adalah seorang ketua mafia yang di takuti dan di segani banyak orang, bahkan di luar status Justin yang adalah seorang ketua mafia.. Justin juga sangat di segani karena dia adalah seorang pengusaha muda yang sukses.
Setelah Qilin memperban ulang tangan nya, dia pun masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaian. Namun bukannya tidur dan beristirahat, Qilin berjalan keluar dan menatap bentangan lautan yang gelap gulita dan hanya bercahayakan bulan.
' Tuhan.. ampuni aku. Aku tahu jalan yang aku ambil ini salah, tapi aku hanya ingin menyelamatkan nyawa ibuku dan nyawaku, aku masih ingin hidup, Tuhan.. Meski jalanku salah, tapi aku percaya engkau tahu apa isi hatiku, tolong restui aku, Tuhan.. berikan jalan kepadaku.' Batin Qilin sembari memejamkan matanya.
' Denganmu aku berdoa, dan karenamu aku hidup.. ' Batin Qilin lalu dia menyentuh kalung salib kecil yang berada di lehernya, kalung pemberian Justin.
Dan sementara itu.. di bagian lain Swiss saat ini, Justin dan Dustin sudah sampai dan mereka saat ini sedang berada di sebuah hotel. Sementara mereka di hotel, anak buah Justin mencari sebuah tempat tinggal yang bisa mereka tinggali.
Justin berencana membeli sebuah tempat untuk dia dan timnya tinggal, Swiss bukan tanah airnya, tentu dia tidak bisa dengan bebas bertindak.
'' Kita sudah berada di negara yang sama, kita hanya tinggal mencari keberadaan Qilin, aku kaan mencari seorang informan yang bisa mencari tahu identitas ayah tiri Qilin.'' Ujar Dustin.
'' Hm.. '' Sahut Justin singkat.
'' Beristirahatlah, kak.'' Ujar Dustin, lalu pergi meninggalkan Justin sendirian di kamarnya.
Justin berjalan menuju kearah jendela, dari atas terlihat pemandangan kota yang begitu padatnya namun di pikiran Justin hanya memikirkan Qilin.
' Kamu dimana, sayang.. tolong jangan sampai terjadi sesuatu kepadamu, aku sudah datang untuk mencarimu.' Batin Justin.
' Aku sangat merindukanmu, sayang.' Batin Justin lagi..
Justin menatap bulan yang sama, seperti yang Qilin lihat saat ini.. Ya.. Qilin masih berdiri menatap bulan dengan rambut perak yang berkibar karena tertiup angin malam.
Dua makhluk Tuhan yang saling merindukan namun harus berpisah itu, saling memikirkan satu sama lain. Qilin mengusap lengannya karena angin malam yang dingin menerpa tubuhnya, tapi itu tidak membuatnya bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...