
Dustin dengan panik bangun dan langsung keluar sambil membawa kunci mobil. Sierra dan Arthur pun dengan panik mengikuti Justin.
" Ada apa nak?" Tanya Sierra.
" Qilin ketulangan, mom." Ujar Justin panik dan langsung masuk ke mobil.
Dustin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara Justin mengusap usap Qilin yang tampak kesulitan dan kesakitan sampai aor matanya berurai.
" Sabar sayang, kita ke rumah sakit." Ujar Justin.
Dustin mengeratkan genggaman tangan nya di setir dan melaju dengan begitu cepat hingga tak lama mereka sampai di rumah sakit.
Jusrin dengan panik langsung menggendong Qilin dan seorang petugas rumah dakit langsung menjemputnya.
" Tolong, dia ketulangan." Ujar Justin, dan para petugas rumah sakit langsung mengarahkan Justin untuk langsung ke UGD.
Dustin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Siapa yang memasak sup ikan tadi? pecat dia dan blacklist dia, aku tidak mau dia di terima bekerja dimanapun. " Ujar Dustin dengan geram.
Dustin pun berjalan menuju ke UGD, dimana saat ini Justin sedang bersama Qilin. Sementara di dalam ruangan UGD, dokter sedang memeriksa mulut Qilin.
" Tahan ya nona.." Ujar Dokter.
Dokter itu memasukan alat penjepit dan senter kecil kedalam mulut Qilin dan berusaha mengambil duri yang menyangkut di tenggorokan Qilin.
Dan beruntungmya duri ikan itu bisa langsung di ambil dengan alat penjepit meski dengan susah payah.
" Astaga, durinya lumayan besar." Gumam Dokter saat mengeluarkan duri dari leher Qilin.
Qilin lega setelah lehernya terbebas dari duri ikan. Sebenarnya ada banyak cara untuk mengatasi ketulangan, tapi Justin yang terlanjur panik saat melihat Qilin kesulitan itu langsung begitu saja menggendong Qilin.
" Apakah masih sakit, sayang?" Tanya Justin, dan Qilin menggeleng.
" Sudah, nona.. durinya sudah keluar, lain kali harus lebih teliti dan hati hati saat makan ikan." Ujar Dokter.
" Terimakasih, dokter." Ujar Qilin.
Justin yang lega langsung menciumi kepala Qilin berkali kali, menunjukan betapa khawatirnya dia jika sesuatu terjadi kepada Qilin.
" Saya permisi." Ujar Dokter, dan Qilin mengangguk.
" Ayo kita pulang." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.
Qilin hendak turun dari brankar rumah sakit, tapi tiba tiba kaki nya dan tubuhnya melayang di udara, Justin menggendongnya.
" Kamu tidak ada alas kaki, dan rumah sakit adalah tempat yang penuh bakteri." Ujar Justin lalu menggendong Qilin keluar.
" Bagaimanak, kak?" Ujar Dustin yang melihat Justin keluar.
" Qilin sudah tidak apa apa." Ujar Justin.
" Terimakasih Dustin." Ujar Qilin, Dustin pun hanya tersenyum dan mengangguk.
" Ayo kita pulang." Ujar Justin, dan akhirnya mereka bertiga pun keluar dari rumah sakit.
Kali ini Justin yang mengemudikan mobilnya, dan Qilin duduk di depan menemani Justin. Sementara Dustin, dia duduk di belakang dan fokus dengan ponselnya.
Tidak ada pembicaraan sepanjang jalan itu, mereka hanya diam. Hanya Justin yang sesekali mengusap kepala Qilin atau tangan Qilin, menunjukan kasih sayangnya.
__ADS_1
Dan tak lama, mereka pun akhirnya sampai di rumah. Dan lagi lagi Justin menggendong Qilin masuk ke dalam rumah. Justin menurunkan Qilin di sofa, dan Sierra langsung menghampiri Qilin.
" Bagaimana, sayang?" Tanya Sierra khawatir.
" Tidak apa - apa mom, durinya sudah keluar. Maaf sudah membuat kalian panik." Ujar Qilin.
" Astaga, sayang.. sukurlah kamu tidak apa apa." Ujar Sierra dan memeluk Qilin.
Qilin jadi teringat dengan cerita Justin yang mengatakan bahwa Sierra adalah anggota mafia dulunya, wajah dan perilaku Sierra lebih seperti ibu yang penyayang dari pada kata anggota mafia yang sudah pasti bengis.
' Apa benar mommy seorang mafia? Tapi dia sangat lembut dan penyayang.' Batin Qilin.
" Makan lagi, ya.. kamu hanya baru makan beberapa suap tadi." Ujar Sierra setelah melerai pelukannya.
" Sayang, ayo aku suapi." Ujar Justin yang rupanya sudah membawa sepiring makanan untuk Qilin.
" Oooh.. Kekasih yang gerak cepat." Ujar Sierra, meledek.
" Aku bisa makan sendiri, Justin." Ujar Qilin, malu.
" Tidak, kamu hanya perlu buka mulut saja." Ujar Justin.
Tapi Qilin justru melihat kesekitarnya, dan Justin langsung menoleh kepada Sierra dan yang lainnya.
" Mom, dad, dan Dustin.. bisakah kalian pergi dulu?" Ujar Justin.
" Baiklah.. baiklah.. Kami pergi." Ujar Sierra, akhirnya.
" Daddy juga bisa beromantis dengan mommy." Ujar Arthur tidak mau kalah, dan Qilin tersenyum mendengarnya.
" Mereka pasangan yang harmonis." Ujar Qilin ketika semuanya pergi.
" Sekarang, A.. buka mulutmu karena cacing di perutmu pasti sudah demo." Ujar Justin dan Qilin terkekeh karenanya.
" Jadi kamu memberi makan cacing, bukan aku." Ujar Qilin.
" Eih, benar juga.." Ujar Justin melucu, dan Qilin tertawa.
Hanya dengan Qilin, Justin bisa menjadi sosok yang berbeda beda. Dia bisa menjadi begitu manis, lucu, romantis dan sisi - sisi lainnya yang tidak di ketahui orang lain.
Akhirnya mereka makan satu piring itu berdua, dengan bumbu bumbu candaan manis Justin yang membuat Qilin tak berhenti tertawa.
" Sudah, aku kenyang." Ujar Qilin.
" Baiklah.. " Ujar Justin.
Justin memberikan Qilin segelas air dan Qilin meneguknya.
" Ayo kita cari mommy dan yang lainnya." Ujar Justin dan Qilin mengangguk.
Mereka pun berjalan menghampiri halaman belakang, dimana biasanya Sierra dan Arthur akan duduk di gazebo untuk menikmati suasana siang hari dengan ikan ikan.
Tidak ada lagi singa atau anak singa di kediaman Arthur, karena mereka semua sudah di buatkan penangkaran sendiri oleh Arthur di alam yang lebih terbuka dan alami, agar mereka bisa mempertahankan sifat asli mereka sebagai binatang predator atau kita menyebutnya raja hutan.
" Sudah selesai, sayang?" Tanya Sierra yang melihat Qilin.
" Sudah mom." Ujar Qilin.
" Kemari, kita makan cup cakes. Mommy buatkan ini semua untukmu." Ujar Sierra.
__ADS_1
Qilin yang sebelumnya berkata kenyang, nyatanya langsung berbinar saat melihat cup cake buatan Sierra.
" Woah.." Ujar Qilin antusias.
" Ini semua untukmu, nak." Ujar Sierra.
" Terimakasih, mom." Ujar Qilin senang, dan Sierra mengangguk.
" Kemana Dustin, dad? " Tanya Justin.
" Baru masuk kedalam tadi, sebelum kalian keluar." Ujar Arthur.
" Oh." Sahut Justin.
" Berhubung kita semua sedang berkumpul, aku ingin mengatakan sesuatu, mom, dad.." Ujar Justin.
" Apa nak? Misterius sekali." Ujar Sierra.
" Aku dan Qilin akan melangsungkan pertunangan dan di susul pernikahan dalam waktu dekat." Ujar Justin.
" Woah.. Bagus itu, mommy sudah tidak sabar ingin menggendong cucu." Ujar Sierra antusias.
" Tapi apa kami tidak perlu melamar Qilin pada ibunya? Bagaimanapun dia memiliki ibu." Ujar Arthur.
" Mereka akan datang kemari nanti." Ujar Justin.
" Ini adalah kabar terbaik, mommy akan siapkan pesta yang megah dan meriah untuk kalian berdua, kapan kalian ingin bertunangan, nak?" Tanya Sierra.
" Minggu depan, mom." Ujar Justin, sembari menggenggam tangan Qilin.
" Astaga daddy, mommy senang sekali." Ujar Sierra antusias.
" Nak, daddy perlu bicara denganmu." Ujar Arthur tiba tiba.
" Baik, dad." Ujar Justin.
Arthur pun pergi, dan Justin mengikuti Arthur dari belakang.
" Sayang, katakan pada mommy nanti, gaun seperti apa yang kamu mau. Mommy akan panggilkan desainer terbaik untuk merancang gaun pernikahanmu." Ujar Sierra.
" Aku tidak tahu mom, mungkin mommy bisa membantuku memilihnya nanti." Ujar Qilin.
" Siap, kita juga akan panggil nenek dan kakek Justin agar datang, mereka pasti senang mendengar nya." Ujar Sierra antusias.
Sementara di ruang kerja Arthur, Justin duduk di depan Arthur dan Arthur terlihat menghela nafas.
" Ada apa, dad?" Tanya Justin.
" Tentang kejujuran itu.. Apakah kamu sudah jujur pada Qilin tentang identitasmu, nak?" Tanya Arthur..
Arthur sangat khawatir dengan itu, banyak orang yang mendeskripsikan mafia sebagai kriminal dan penjahat, dan Arthur takut putranya akan patah hati sangat dalam jika di tinggal Qilin pergi.
" Sudah, dad." Ujar Justin, dan Arthur sedikit terkejut.
" Qilin sudah tahu semuanya, dan sekarang dia juga bisa melindungi dirinya sendiri. Karena selama dia di sana, dia menjalani pelatihan diri." Ujar Justin lagi.
" Bagus itu, daddy lega mendengarnya jika kamu sudah jujur pada Qilin. Maka nikahilah dia, dan jaga dia seperti kamu menjaga nyawamu, itu adalah laki laki sejati." Ujar Arthur, dan Justin mengangguk.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1