Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 88. Calon istri seorang Justin.


__ADS_3

Dan setelah sekian lama nya menempuh perjalanan, Qilin dan Jistin sampai di tanah air. Mereka mendarat sangat pagi pagi buta, bahkan ayam pun belum berkokok, sekitar pukul tiga dini hari.


Justin menggandeng tangan Qilin dengan erat saat baru saja turun dari pesawat. Tapi perhatian Qilin saat ini teralihkan pada gadis yang sedang duduk di atas koper dan koper itu di dorong oleh pasangannya.


" Kenapa, sayang?" Ujar Justin, karena Qilin tampak tidak fokus dengan jalannya.


" Mereka manis sekali." Ujar Qilin, dan Justin mengikuti arah pandang Qilin.


" Kamu mau seperti mereka?" Tanya Justin, dan Qilin mengangguk.


Yang Qilin maksud adalah duduk di koper dan di dorong oleh Justin, tapi ternyata yang Justin lakukan lebih menghebohkan lagi. Justin menggendong Qilin begitu saja hingga membuat semua orang di bandara menatap kearahnya.


" Justin, kenapa kamu menggendongku?" Ujar Qilin.


" Bukankah kamu ingin romantis seperti pasangan tadi?" Ujar Justin.


" Aku ingin naik koper." Ujar Qilin.


" Naik aku lebih nyaman dan aman, sayang." Ujar Justin dan membuat orang yang mendengar itu langsung tutup mulut.


" Astaga, bukankah itu tuan muda Edward? Apa itu tuan muda Justin, atau Dustin? Dia terus terang sekali." Ujar wanita yang melihatnya.


" Gadis yang di gendongnya sudah pasti calon istrinya." Ujar yang lain.


Ya, meskipun itu masih pukul tiga dini hari, tapi yang namanya Bandara pasti tidak pernah sepi. Banyak orang berlalu lalang, antara yang baru datang, atau yang mau pergi.


Dan Justin yang mendengar bisikan itu justru keluar khodam jail nya.


" Ya, dia calon istriku, dia sangat cantik, bukan? " Ujar Justin lantang, Qilin pun langsung menutup wajahnya karena malu.


Semua orang menjadi heboh mendengarnya, Justin mengucapkan sendiri bahwa gadis yang di gendong itu adalah calon istrinya. Sementara si biang onar itu, dia berjalan dengan lurus dan tersenyum bangga.


Hingga sampailah dia di mobil yang sudah siap menunggu nya di depan loby bandara, Ian sudah stand by di sana.


Qilin baru mengangkat wajahnya ketika sudah berada di dalam mobil, dan langsung menatap Justin dengan wakah tidak percayanya.


" Justin.." Ujar Qilin.


" Iya, sayang." Ujar Justin.


" Apa yang kamu lakukan, kamu mengatakannya pada orang orang." Ujar Qilin.


" Kan memang kamu calon istriku, aku akan dengan sangat bangga mengatakan pada siapapun dan meneriakannya kepada dunia bahwa kamu adalah Qilinku, istriku." Ujar Justin.


" Manis sekali mulutmu." Ujar Qilin malah meledek.


" Kamu malu??" Tanya Justin.

__ADS_1


" Bukan malu, tapi aku tidak mau menjadi tontonan, bagaimana jika aku berremu dengan salah satu fansmu dan di hajar mereka?." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.


" Baiklah, maafkan aku sayang. Dan aku pastikan tidak akan ada yang berani menyakiti kamu di negara ini." Ujar Justin dan memeluk Qilin. Tapi Qilin pun akhirnya tersenyum dan membalas pelukan Justin.


' Astaga, aku di anggap patung Liberty.' Batin Ian yang duduk di balik kursi kemudi.


" Halo, Ian." Sapa Qilin.


" Halo, nona.. selamat datang kembali." Ujar Ian senang, karena akhirnya keberadaan nya di akui.


' Memang nona Qilin adalah yang terbaik.' Batin Ian.


" Terimakasih.. akhirnya bisa menikmati udara tanah air, memang di negara sendiri adalah yang paling nyaman." Ujar Qilin, membuka kaca jendela.


" Sayang, nanti kamu masuk angin." Ujar Justin.


" Dibandingkan di sini, di salju lebih dingin." Ujar Qilin dan Justin menggelengkan kepalanya.


" Kemari, tidurlah.. ini masih sangat pagi." Ujar Justin menepuk pahanya.


Akhirnya Qilin menutup jendela mobil, dan patuh merebahkan kepalanya di paha Justin.


" Tidurlah.." Ujar Justin dan mengusap usap rambut Qilin.


Dan hingga sampai mereka sampai di kediaman Justin, Qilin tidak lagi bangun dari tidurnya, karena saat di dalam pesawat, Qilin kesulitan untuk tidur. Justin pun menggendong Qilin dan langsung menuju ke kamarnya, tanpa membangunkan Qilin.


Setelah membawa Qilin ke kamar, Justin masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


'' Mom, jangan bilang mommy begadang untuk membuat ini semua?'' Ujar Dustin yang masuk ke dapur.


'' Mommy membuatnya untuk Qilin, dia paling suka dengan cup cake.'' Ujar Sierra sembari menghiasi cup cake nya.


'' Ya, tapi kan mommy tidak harus begadang semalaman untuk membuat ini semua, mom.. bagaimana jika mommy nanti sakit.'' Ujar Dustin.


Ya.. Sierra begadang dan membuat cup cake sejak semalam setelah dia tahu daru Dustin bahwa Qilin dan Justin sedang dalam penerbangan kembali ke tanah air, Sierra begitu antusias.


Sierra pun menghentikan aktivitasnya dan menatap Dustin dengan tatapan lucu.


'' Kamu cemburu, ya.. mommy memperhatikan anak mommy yang lain.. hum?'' Ujar Sierra menggoda Dustin.


'' Mana ada mom... aku hanya khawatir dengan kesehatan mommy.'' Ujar Dustin.


'' Jadi, kenapa kamu tiba tiba memutuskan untuk menginap di sini? biasanya saja kamu tidak pernah menginap bahkan setelah kamu melakukan perjalanan ke luar negeri begitu lama.'' Ujar Sierra.


" Biasanya mommy akan merengek jika aku datang dan tidak menginap, sekarang aku menginap tapi mommy begitu. " Ujar Dustin.


" Hehe, tidak sayang.. Cobalah satu." Ujar Sierra menyodorkan cup cake nya pada Dustin.

__ADS_1


" Dustin sudah dewasa mom.." Ujar Dustin.


" Hiks.. Anak anak sudah besar, tidak mau makan cup cake buatan mommy nya lagi. " Ujar Sierra mengsedih.


Dustin langsung membatu, dia selalu saja menjadi sasaran Sierra. Memang mommy nya itu ratu Drama yang mengalahkan aktris, mungkin Sierra juga bisa memenangkan piala oscar.


" Iya.. iya, Dustin makan, Dustin makan." Ujar Dustin dan mengambil satu cup cake lalu memakannya.


" Ada apa ini, ribut sekali." Ujar Arthur dan Sierra langsung menyuapkan satu cup cakes pada Arthur.


" Bagaimana, enak? " Tanya Sierra.


" Apapun yang kamu buat, enak sayang." Ujar Arthur.


" Kalian selalu saja memamerkan kasih sayang di depan anak kalian.." Ujar Dustin dan Sierra terkekeh.


" Maka dari itu, carilah pasanganmu.. Kamu bisa berbagi kasih sayang dengan nya nanti." Ujar Sierra.


Dustin hanya bisa diam dan berlalu pergi dari dapur. Sierra dan Arthur sampai bingung sendiri melihatnya.


" Kamu begadang, hum? Wanita tua yang nakal." Ujar Arthur.


" Kamu juga laki laki tua yang tidak peka, aku semalam memintamu menemaniku, malah tidur." Ujar Sierra.


Arthur terkekeh mendengarnya, lalu memeluk istrinya itu.


" Tapi sungguh, apakah cup cake nya enak? " Tanya Sierra.


" Enak, sayang.. Ayo, kamu butuh istirahat." Ujar Arthur dan menggandeng Sierra pergi dari dapur.


Sementara Dustin, dia berjalan dan melewati meja makan, tiba tiba langkah kakinya terhenti dan melirik kearah meja makan.


Ia mengingat saat pertama dia bertemu tatap langsung dengan Qilin saat Justin membawanya ke rumah itu dulu. Perlahan Dustin mendekat kearah kursi yang pernah Qilin duduki, dan duduk di sana.


' Sebatas ini saja.. ' Batin Dustin bermonolog.


Dustin tahu perasaannya itu salah, perasaan nya adalah hal yang akan menyakiti semua orang, terutama kakaknya.


Akhirnya beberapa chef datang dan mengantar menu sarapan untuk keluarga itu, Arthur sedikit terkejut malihat Dustin duduk di sana.


" Apa kamu terlalu lapar sampai sudah menjadi peserta pertama duduk di meja makan, nak?" Ujar Arthur sambil terkekeh.


" Haih.. Aku lapar dad." Ujar Dustin.


" Tidak biasanya kamu duduk di sana, biasanya kamu duduk dekat mommy mu." Ujar Arthur.


" Mommy sedang memusuhiku." Ujar Dustin, dan Arthur terkekeh, sementara Sierra meranga tak percaya.

__ADS_1


" Bercanda, mom.. mari makan.." Ujar Dustin akhirnya, sambil terkekeh.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2