
Justin memegang keningnya, karena mendengar apa yang Arthur beri tahukan kepadanya.
" Jadi Dustin mau pindah ke luar negeri untuk mengejar cintanya?" Ujar Justin.
" Hmm.. dia tidak bisa menunggu sampai sebulan lagi hingga kamu dan Qilin menikah." Ujar Arthur.
" Astaga anak itu.." Gumam Justin.
Ya, rupanya Arthur tidak menceritakan yang sebenarnya pada Justin tentang kejadian di kamar Dustin. Arthur sebisa mungkin harus memutar otaknya agar tidak terjadi ke kisruhan di dalam keluarganya.
"Mommy melarangnya pergi, dan memintanya menunggu, tapi dia tidak mau dan kukuh mengatakan tidak bisa.. gadis yang dia cintai akan menikah dengan orang lain dan dia.. harus menyelamatkannya." Ujar Arthur semakin berbohong.
" Tapi di sisi lain, dia juga tidak mau membuat kamu kecewa. Karena saat kamu menikah, dia tidak ada.." Ujar Arthur lagi.
Walau kenyataan nya gadis yang Dustin cintai berada di sini dan akan menikah dengan Justin
" Runyam sekali, pantas saja dia jadi sering mabuk, aku lihat. Kalau begitu pernikahanku di majukan minggu depan, kebetulan minggu depan cincin pernikahan kami sudah jadi." Ujar Justin.
" Terimakasih untuk pengertianmu, nak." Ujar Arthur.
" Kenapa dia tidak cerita padaku dan malah cerita pada daddy, anak itu benar - benar." Ujar Justin.
" Ini hari bahagiamu, mungkin dia sungkan mengatakannya padamu." Ujar Arthur.
" Ya sudah, daddy kembali ke kamar dulu, mommy mu pasti mencari daddy." Ujar Arthur dan Justin mengangguk.
Arthur pun keluar dari kamar Justin, dan menghela nafasnya. Setelah itu Arthur pun pergi kembali menuju kamarnya.
Ke esokan harinya..
Semua keluarga sudah berkumpul di restoran hotel, baik dari keluarga Qilin, dan keluarga Justin mereka semua sudah berkumpul. Sementara Rena, Rena pamit pulang dan di jemput oleh Fendy saat pagi pagi buta.
Dustin juga berada di sana, dia dengan wajah datar dan dinginnya hanya duduk dengan tatapan kosong.
" Kamu mau makan apa, sayang?" Tanya Justin pada Qilin.
" Aku makan sereal saja dengan susu." Ujar Qilin.
" Mana bisa, itu tidak begitu bergizi." Ujar Justin.
" Tidak apa apa, aku bisa makan buah nanti, aku tidak begitu lapar." Ujar Qilin, dan Justin pun mengusap kepala Qilin dengan sayang.
Semua orang bisa melihat, betapa Qilin dan Justin saling mencintai satu sama lain, tapi hal itu juga yamg membuat Arthur dan Sierra menjadi semakin menatap penuh luka pada Dustin.
" Semuanya, aku harus ke perusahaan, jadi maaf tidak bisa lebih lama bergabung dengan kalian." Ujar Dustin tiba tiba.
" Wah, memang tuan muda Edward yang sibuk." Ujar Agra, dan semua orang terkekeh.
" Nikmati makanan kalian, aku permisi dulu." Ujar Dustin dengan penuh keramahan.
__ADS_1
" Hati hati di jalan, nak." Ujar Sierra, dan Dustin mengangguk sembari tersenyum.
Dustin pun merangkul Sierra dan Arthur, kemudian ia merangkul Sahara dan Cornelius, lalu pergi dari sana setelah melayangkan tos tinju pada Justin.
" Semuanya, berhubung kita semua masih berada di sini, aku akan memberitahukan hal mendesak." Ujar Justin dan itu mengalihkan perhatian semua orang di sana.
" Pernikahan aku dan Qilin harus di percepat." Ujar Justin dan itu membuat Qilin terkejut.
" Apa terjadi sesuatu??" Tanya Qilin pada Justin.
" Tidak sayang, tidak terjadi apapun. Hanya saja bukankah semakin cepat kita menikah, itu lebih baik?" Ujar Jistin.
" Mama rasa juga itu ide yang bagus, nak." Ujar Dewi.
" Meski mendadak, tapi kamu tenang saja.. semua bisa di atur dan pasti akan berjalan sesuai dengan rencana kita." Ujar Justin.
Arthur bernafas lega, karena Justin bisa mengendalikan situasi dan meyakinkan Qilin, hingga akhirnya Qilin pun mengangguk.
" Baiklah.." Ujar Qilin, dan semua orang tersenyum senang.
" Kalau begitu dipastikan, pernikahan di adakan minggu depan." Ujar Agra.
" Ya, di Bali." Ujar Justin menimpali.
" Bali??" Ujar Qilin, dan Justin tersenyum.
" Ya, sekaligus mengajak keluarga besar kita untuk berwisata di sana." Ujar Justin.
" Dengar - dengar pantai di Bali enak untuk melakukan selancar, kakak ipar.. aku setuju denganmu." Ujar Cio, dan semua orang terkekeh.
Dan setelah percakapan itu selesai, semua orang pun melanjutkan sarapan mereka bersama.
Sementara itu di tempat lain..
Rena dan Fendy saat ini sedang dalam perjalanan. Rena sedikit kaget saat Fendy menjemputnya menggunakan sebuah mobil yang bisa di katakan mewah. Rena tahu Fendy memiliki mobil, tapi mobil yang saat ini sedang Fendy gunakan bukan mobil yang biasanya Rena lihat.
'' Kita mau kemana, Fen?'' Tanya Rena.
'' Mm.. kita mau ke rumahku, kamu belum pernah melihat rumahku, bukan?'' Ujar Fendy, dan rena mengangguk karena memang dia belum pernah datang ke rumah Fendy sekalipun selama mereka menjadi teman dulu.
'' Karena kita akan menikah, aku pikir aku harus jujur padamu akan semua hal tentang diriku, dan aku pikir ini saat yang tepat untuk kamu tahu tentang diriku.'' Ujar Fendy.
'' Apa selama kita berteman.. kamu bukan kamu yang sebenarnya?'' Tanya Rena, dan Fendy terkekeh.
'' Aku tetap aku, Rena.. hanya saja kamu hanya mengenal aku sebagai Fendy, manager cafe tempat kita bekerja dulu, benar?'' Ujar Fendy terkekeh dan Rena mengangguk.
'' Kita sudah sampai.'' Ujar Fendy dan Rena mengalihkan pandangan nya ke depan.
Rena terkejut melihat sebuah rumah besar berlantai tiga, mobil masuk ke pekarangan yang tidak begitu besar dan mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk garasi. Rena lebih terkejut lagi ketika Fendy menekan remot dan pintu garasi itu terbuka dengan sendirinya.
__ADS_1
Perlahan mobil pun masuk dan pintu garasi juga kembali menutup lagi, terlihat di sana susunan mobil yang terparkir dengan rapi, dan itu bukan mobil sembarangan melainkan mobil mobil sport.
'' Rumah siapa ini?''Tanya Rena.
'' Rumahku, rumahmu, dan rumahnya.'' Ujar Fendy sembari menatap perut Rena.
'' Fendy, aku serius.'' Ujar Rena dengan wajah serus.
'' Kita turun dulu, ya.. seperti yang aku bilang padamu tadi, aku akan jujur padamu tentang semua hal tentang diriku.'' Ujar Fendy.
Fendy membuka pintu lalu kemudian membuka kan pintu untuk Rena, Rena pun turun dengan takut takut, karena dia tidak pernah masuk ke rumah yang sebesar itu sebelumnya. Bagaimana jika Rena masuk ke kediaman Utama keluarga Edward??
Fendy menekan lift, ya akses satu satunya untuk naik turun adalah menggunakan lift. Sebenarnya ada tangga untuk keadaan darurat, tapi Fendy lebih senang menggunakan Lift.
Hingga sampailah mereka di lantai dua dan nampaklah interior rumah yang begitu bagus namun terkesan sangat maskulin, maklum itu adalah rumah anak laki - laki. Rena di bawa duduk di sofa yang nyaman, dan Fendy pergi menuju ke sebuah dapur dan mengambil minuman dari kulkas.
'' Minumlah..'' Ujar Fendy memberikan satu gelas air putih untuk Rena dan Rena pun meminumnya.
'' Aku seorang anak yang lahir dari keluarga yang kacau. Ayahku seorang yang kasar dan suka main tangan, ibukuĀ berselingkuh dan di usir ayahku dari rumah, dan aku pergi dari rumah karena tidak mau tinggal dengan ayahku yang rupanya juga pemain wanita.'' Ujar Fendy mulai bercerita.
Rena terkejut mendengarnya, dan dia mulai mendengarkan dengan saksama apa yang akan Fendy ceritakan lagi.
'' Sejak perceraian itu, ayahku makin sering main tangan dan melampiaskannya kepadaku. Aku sering di pukuli, jadi aku melarikan diri dan memutuskan untuk tidak tinggal dengan ayahku dan mencari ibuku.. tapi tidak pernah bertemu.'' Ujar Fendy sendu.
'' Aku tinggal sendiri sejak usiaku tujuh belas tahun, di rumah ini.. karena rumah ini adalah hadiah ulang tahunku dari ibuku. Aku putus sekolah dan mulai mencari pekerjaan sendiri dengan keras kepala tidak mau menerima uang pemberian dari ayahku.''
'' Tapi nyatanya aku kesulitan dan berujung hidup dari pemberian ayahku, dan hal itu yang aku benci dari diriku.'' Ujar Fendy, dan entah mengapa Rena sedikit berkaca kaca.
'' Sampai akhirnya aku bisa membangun bisnisku sendiri dan aku mulai menekuninya sambil aku bersekolah dan mencari keberadaan ibuku, dan karena aku tidak mau ayahku tahu aku memiliki bisnis, aku membangun cafe tempatmu bekerja untuk menutupi nya.'' Ujar Fendy lagi.
'' Rena.. maukah kamu.. menikah dengan anak yang lahir dari keluarga berantakan sepertiku?'' Ujar Fendy, dan Rena langsung memeluk Fendy tanpa ragu.
'' Bukan salahmu menjadi anak broken home, kamu tidak bisa memilih dari mana kamu di lahirkan.'' Ujar Rena.
Fendy tersenyum mendengarnya, sebenarnya apa yang dia jelaskan masih belum detail dan selesai, Fendy bahkan belum membawa Rena menghadap ayahnya.
'' Kamu menerimaku?'' Ujar Fendy.
'' Ya.. aku menerimamu.'' Ujar Rena yang justru menangis di pelukan Fendy.
'' Terimakasih, sekarang tinggal kita datang pada ayahku dan memberitahu dia bahwa kita akan menikah.'' Ujar Fendy, dan seketika tangis Rena reda.
'' A- ayahmu??'' Ujar Rena gugup.
'' Ya.. aku tidak meminta restu padanya, tapi bagaimanapun aku adalah anaknya yang masih dalam daftar kartu keluarga ayahku, jadi aku harus memberitahunya.'' Ujar Fendy dan Rena tiba tiba diam.
'' Jangan takut, aku sudah lebih dari mampu untuk menahan dan melawan pukulan ayahku.'' Ujar Fendy sambil tersenyum, dan Rena mengangguk.
'' Terimakasih, Rena..'' Ujar Fendy, dan Rena mengangguk..
__ADS_1
TO BE CONTINUED..