
Siang harinya, ketika Qilin sudah selesai dengan semua aktifitas bersih bersihnya, Rena pulang dengan wajah kuyu. Qikin pun bangun dan menyambut sahabatnya itu.
" Ada apa? Kenapa wajahmu asam begitu?" Tanya Qilin.
" Qilin...." Ujar Rena lemas, dan Qilin menjadi penasaran.
" Aku... aku di terima." Ujar Rena langsung sumringah. Qilin pun langsung ikut tersenyum mendengarnya.
" Sungguh? Itu bagus, mulai kapan kamu akan masuk kerja?" Tanya Qilin.
" Mulai besok, sekarang ayo.. temani aku belanja, bukankah kamu mau membantuku berubah penampilan?" Ujar Rena antusias.
" Oke, ayo." Ujar Qilin.
" Beri aku lima menit untuk ganti baju." Ujar Qilin dan pergi naik ke atas.
Tak lama Qilin sungguh turun dan sudah menggunakan jaket hoodienya, dia benar benar antusias dengan kabar Rena yang di terima kerja.
" Ayo." Ujar Qilin, dan Rena mengangguk senang.
Qilin dan Rena keluar, mereka melewati gang lain agar tidak terlihat oleh Fendy yang berada di cafe, seteleh itu mereka pun naik taksi. Tak jauh dari sana, seorang pria berpakaian hitam menghubungi seseorang.
" Tuan muda, nona Qilin pergi dengan temannya, saya sedang mengikuti mereka." Ujar pria itu yang rupanya suruhan Justin.
Justin menempatkan setidaknya lima orang nya yang harus sigap melindungi Qilin selama Qilin di rumah tanpa pengawasan Justin. Selain di dalam rumah, penjaga itu harus selalu siap menjaga dan memastikan kenyamanan Qilin.
Namun Justin tidak memberitahu Qilin bahwa dia menempatkan orang orangnya di sekitar Qilin, agar Qilin tidak merasa terganggu.
" Ikuti terus, kabari kemana tujuan mereka." Ujar Justin.
" Baik." Sahut anak buah Justin.
Pria itu menggunakan mobil bersama rekannya dan mengikuti kemana taksi yang Qilin naiki pergi. Hingga mereka berhenti di sebuah Mall milik keluarga Edward.
" Tuan muda, nona Qilin di Mall Galaxy." Ujar anak buah Justin kembali menghubungi Justin.
" Ya, beri tahu semua staf untuk mempermudah dia, siapapun yang mempersulitnya, dia menyinggungku. " Ujar Justin.
" Baik tuan muda." Ujar anak buah Justin.
Anak buah Justin pun langsung menggunakan talkie walkie dan memberi kode bahwa anggota keluarga Edward ada di sana. Semua orang langsung bersiap.
Qilin langsung di sambut dengan sangat ramah di setiap pintu yang Qilin masuki.
" Qilin, kenapa aku merasa semua orang sabgat ramah? Padahal kita bukan pelanggan di sini." Bisik Rena di telinga Qilin.
" Apa iya? Aku merasa biasa saja. Aku tidak pernah masuk mall besar sebelumnya, bukankah mereka hanya menjalankan tugas?" Ujar Qilin.
" Mungkin begitu." Ucap Rena.
" Selamat datang.." Ujar seorang karyawan toko dengan sangat ramah.
" Terimakasih." Ujar Qilin.
Rena dan Qilin masuk ke sebuah toko yang terkenal, harga baju di sana termasuk mahal untuk orang orang seperti Qilin. Tapi Rena adalah orang yang sudah terbiasa memakai barang barang bermerk.
" Ren, baju baju di sini mahal." Bisik Qilin.
" Gunanya punya usng adalah untuk menyenangkan hati, tidak apa apa sesekali belanja baju yang bagus, bukan? Baju bagus juga mengundang pandangan yang bagus." Bisik Rena.
__ADS_1
" Nona, apa kah ada yang bisa di bantu?" Tanya karyawan.
" Aku ingin melihat lihat dulu." Ujar Rena.
" Baik." Ujar karyawan.
Karyawan itu salah mengenali siapa yang harus di istimewakan, dia terus berjalan mondar mandir di belakang Rena, bahkan karyawan itu menyenggol Qilin hingga Qilin terhuyung.
" Maaf nona, tolong jaga langkah anda, jika semua ini jatuh dan kotor, anda harus membelinya." Ujar Karyawan itu.
" Oh, maaf." Ujar Qilin tidak enak hati.
Tingkah karyawan itu rupanya sudah di lihat oleh Justin, saat ini Justin sedang dalam perjalanan sembari memantau cctv dimana Qilin berada. Justin pun mengeratkan rahangnya.
" Cepat sedikit." Ujar Justin pada supirnya.
" Baik tuan muda." Sahut sang supir.
Sementara Qilin, dia bingung hendak melakukan apa, dan akhirnya dia membantu Rena membawakan barang barangnya. Rena mengambil banyak pakaian bahkan juga membeli sepatu baru, di tangan Qilin bahkan sudah penuh dengan baju Rena, juga di tangan karyawan itu.
" Nona, ini adalah koleksi baru, sangat pas untuk nona." Ujar karyawan menjilat.
" Qilin, kamu mau beli sesuatu? Pilihlah, aku yang bayar." Ujar Rena.
" Tidak perlu, Ren. Aku masih memiliki banyak baju." Ujar Qilin mengingat banyaknya pakaian dia di rumah Justin.
Beberapa petugas keamanan yang melihat karyawan yang salah melayani mencoba menghubungi karyawan itu dengan sambungan ear piece.
" Monitor, cek." Suara di ear piece yang terhubung ke karyawan wanita yang mengikuti Rena.
Tapi Karyawan itu langsung mematikan sambungan ear piecenya, dan kembali melayani Rena.
" Nona, biar saya bawakan." Ujar karyawan itu.
" Tidak perlu, tidak apa - apa." Ujar Qilin ramah.
" Tidak apa - apa, nona.. Ini bagian dari pekerjaan kami. Mari saya antar nona untuk duduk, teman nona sudah ada yang melayani." Ujar karyawan itu.
' Apa karena aku tidak membeli jadi tidak boleh lihat? Tapi Rena nanti sendirian.' Batin Qilin.
" Tidak apa apa Qilin, kamu duduk saja, aku akan keliling dengan dia." Ujar Rena sambil melirik karyawan yang mengikutinya.
' Dasar bodoh, jelas jelas nona ini yang adalah member VVIP. Dia malam melayani gadis aneh dengan wig perak itu.' Batin karyawan yang melayani Rena.
" Mari nona." Ujar karyawan yang membantu Qilin.
Qilin mengangguk, lalu berjalan pergi mengikuti karyawan wanita itu. Mereka berjalan masuk le dalam sebuah ruangan yang entah ruangan apa itu, di dalamnya terdapat sofa untuk duduk dan terlihat seperti ruang fitting.
" Silahkan nona.. apakah nona menginginkan sesuatu?" Tanya karyawan.
" Tidak, terimakasih. Apakah temanku akan tahu bahwa aku di sini?" Tanya Qilin.
" Ya, nona.. teman anda akan tahu." Ujar karyawan itu ramah.
" Baiklah, terimakasih." Ujar Qilin, dan karyawan itu tersenyum ramah.
Karyawan itu pun pergi, Qilin melihat kesana kemari namun tidak ada seorang pun di ruangan itu. Qilin juga tidak berani sama sekali bergerak, dia hanya duduk karena takut merusak barang di sana.
' Baju baju di sini mahal - mahal, bisa menghabiskan satu bulan gajiku hanya untuk dua baju.' Batin Qilin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Kadang Qilin heran, mengapa banyak orang yang rela mengeluarkan begitu banyak ya uang hanya untik sebuah baju, tapi mengingat kata Rena, Qilin tahu bahwa pakaian sangat berpengaruh pada penampilan orang orang.
Tiba tiba pintu terbuka, dan muncul Justin bersama seorang karyawan wanita tadi yang mengantar Qilin masuk ke dalam ruangan itu.
" Justin??" Gumam Qilin bingung.
Justin pun langsung memghampiri Qilin dan memeluknya, karyawan yang mengantar Justin tadi sampai menutup mulutnya karena itu adalah pertama kalinya dia melihat Justin memeluk wanita.
' Astaga, rupanya gadis ini benar benar special bagi tuan muda Justin, apa dia kekasihnya? Tuan muda Justin sampai datang kemari.' Batin karyawan wanita itu.
Tak mau mengganggu kebersamaan Justin dan Qilin karyawan itu pun menutup kembali pintu yang bertuliskan VVIP itu.
" Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Qilin.
" Menyusulmu." Ujar Justin.
" Hah, bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" Tanya Qilin, dan Justin diam.
Benar juga, dia begitu gegabah dengan langsung datang tanpa mempersiapkan alasan yang bagus untuk Qilin.
" Aku melihatmu di taksi tadi, jadi aku ikuti kamu kemari." Ujar Justin, dan Qilin yang lugu itu mengangguk anggukan kepalanya.
" Kamu ingin membeli baju?" Tanya Justin, dan Qilin menggeleng.
" Tidak, aku mengantar Rena. Tapi dia belum datang juga kemari." Ujar Qilin.
Tentu saja Rena tidak akan masuk kedalam sana, itu adalah ruangan khusus untuk VVIP, yakni anggota keluarga Edward dan tamu penting lainnya.
" Sambil menunggu dia, lebih baik kamu memilih beberapa baju untuk di pakai, mommy ingin bertemu denganmu untuk makan siang bersama." Ujar Justin.
" Ha, sekarang?" Tanya Qilin, dan Justin mengangguk.
" Tapi baju di sini mahal, aku pulang saja dulu ke rumah boleh? Sebentar." ujar Qilin.
" Pilih dari sini saja sayang, mommy sudah di sini." Ujar Justin.
Justin tahu bahwa Qilin sangat tidak ingin merepotkan orang lain, Akhirnya Justin mengambil satu baju yang menurutnya pas untuk Qilin, dan memberikannya pada Qilin.
" Ini bagus untukmu." Ujar Justin.
" Tapi.."
" Sayang, aku siapamu?" Tanya Justin sambil mencangkup kedua pipi Qilin.
" Kamu? Kamu pacarku." ujar Qilin.
" Pacarmu, jadi kenapa kamu masih begitu sungkan denganku? Aku pacarmu, dan aku ingin memberikan yang terbaik untuk pacarku." Ujar Justin.
" Aku akan sangat bahagia jika kamu bisa menjadikan aku sebagai andalanmu. Andalkan aku sayang, itu baru sepasang kekasih yang sebenarnya." Ujar Justin.
" Aku tidak mau merepotkanmu." Ujar Qilin.
" Aku tidak merasa di repotkan, aku milikmu.. ingat itu, oke?" Ujar Justin.
Justin kemudian mengecup kening Qilin, dan akhirnya Qilin mengangguk. Bagaimanapun Qilin ridak pernah bergantung pada siapapun sejak dulu, bahkan pada ayah angkatnya pun dia tidak berani.
Qilin selalu merasa tidak enak dan sungkan pada orang lain ketika orang itu hendak memberi sesuatu kepada Qilin, itulah Qilin..
TO BE CONTINUED..
__ADS_1