Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 34. Rumah Justin.


__ADS_3

Setelah berkutat sangat lama dengan laptopnya, perhatian Justin teralihkan dengan Qilin yang bergerak. Tampaknya Qilin sudah bangun karena rupanya itu sudah jam makan siang.


Sementara itu, Qilin saat ini sedang kebingungan dengan kamar yang begitu luas itu, sampai tiba tiba dia melihat Justin yang keluar dari ruang kerjanya.


" Bagaimana tidurmu, sayang?" Ujar Justin lalu mendekat dan mencium kening Qilin.


' Kenapa aku merasa begitu di lindungi oleh Justin, apakah begini yang di rasakan oleh pasangan?' Batin Qilin.


Justin terkekeh kecil ketika melihat wajah lucu Qilin yang justru menatapnya sambil berkedip kedip bingung.


" Kenapa, sayang?" Tanya Justin.


" Kita di mana? " Tanya Qilin.


" Dirumahku." Ujar Justin. Qilin menganggukan kepalanya.


' Kamarnya bahkan lebih besar dari rumahku.' batin Qilin.


" Bersihkan dirimu, lalu kita makan siang bersama." Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Justin menunjukan kamar mandi pada Qilin, bahkan handuk pun sudah ada di sana. Qilin pun membersihkan dirinya, dan setelah selesai, Qilin mengendap endap keluar dari kamar mandi karena dia hanya memakai bathrobe.


" Justin.." Panggil Qilin.


Namun tidak ada sahutan dari Justin, Qilin pun berjalan menuju ranjang dan melihat satu set pakaian yang masih terlipat di atas ranjang.


" Apa ini untukku?" Gumam Qilin.


Qilin melihat catatan di sebelah baju itu dan bertuliskan..


' Sayang, untuk sementara kamu pakai bajuku dulu, aku belum membeli pakaian untukmu, aku tunggu kamu di luar.'


Qilin tersenyum di buatnya Justin begitu menghormati dirinya. Qilin jadi teringat dengan justin yang mengangis karena tidak sengaja melihat tubuh polos Qilin.


' Lupakan kejadian memalukan itu Qilin.' Batin Qilin menepuk kepalanya.


Akhirnya Qilin memakai pakaian yang ada, tapi satu kaos Justin sudah seperti mini dres tubuh Qilin. Karena tinggi Qilin hanya 155 cm sementara Justin 190.


Sebenarnya Justin menyiapkan celana olah raga juga di sana, tapi ketika Qilin memakainya celana itu langsung melorot kembali ke lantai, Qilin bahkan tertawa sendiri karena celana itu begitu kebesaran di pinggangnya.


" Astaga, celana ini bahkan muat dua orang di dalamnya." Gumam Qilin sambil terkekeh.


Akhirnya Qilin hanya memakai kaos Justin saja, dan keluar dari kamar Justin. Saat membuka pintu kamar, Qilin terperanga melihat luasnya kediaman Justin.


Rumah itu sangat bersih, rapi, wangi, tapi henging. Qilin yang baru pertama kali ada di sana pun kebingungan karena tidak ada satu orang pun yang terlihat.


Qilin turun dari lantai dua dan kini dia berada di ruangan dengan banyaknya sofa sofa besar.


" Justin.." Panggil Qilin.

__ADS_1


' Kenapa aku merasa sedang uji nyali, di ruangan besar sendirian.' Batin Qilin yang penakut.


Tiba tiba sesuatu menabrak kaki Qilin, Qilin pun langsung berteriak terkejut dan berlari.


" HUAA HANTU!!" Teriak Qilin dan berlari.


Qilin berlari secara asal hingga tidak melihat anak tangga di sana, Qilin hampir saja mencium lantai jika saja Justin tidak menangkap tubuhnya.


" HNGK!" Qilin di tangkap tangan Justin.


" Ada apa sayang?" Tanya Justin.


" Justin, ada hantu." Ujar Qilin dan langsung memeluk Justin erat erat.


" Hantu??" Ujar Justin bingung. Bertahun tahun dia tinggal di rumah itu, tidak sesosok hantu pun pernah dia lihat.


" Iya, dia menyentuh kakiku tadi." Ujar Qilin dengan ketakutan. Justin memeluk Qilin dan mengusap usap pinggung Qilin.


" Ssshh.. Tenang ya, jangan panik sayang." Ujar Justin.


' Apa ada penyusup? Tapi sistem keamanan tidak berbunyi.' Batin Justin.


Justin bukan tidak percaya hantu, dia percaya hantu ada. Tapi dia tidak sekalipun pernah bertemu hantu, Justin justru lebih khawatir ada penyusup di rumahnya, bagaimanapun saat ini dirinya sedsng bersama Qilin.


" Dimana kamu lihat hantunya, sayang?" Tanya Justin.


" Di sana!" Ujar Qilin sambil menunjuk tapi tidak melepaskan pelukannya dari Justin.


" Tidak mau! Aku takut hantu.. hantu bisa makan kita." Ujar Qilin.


" Jangan takut sayang, ada aku.. aku akan pukul hantunya jika dia muncul." Ujar Justin. Qilin pun menatap Justin, dan akhirnya mengangguk.


Keduanya berjalan menuju ke tempat dimana tadi Qilin berdiri, Qilin bahkan berjalan di belakang Justin dan menggenggam lengan Justin erat erat. Mereka berjalan mengendap endap dan mendengar suara bunyi di balik sofa.


" KKRRRR.." Suara yang terdengar.


" Justin, hantunya berbunyi." Bisik Qilin.


Justin mengangguk dan langsung mendatangi sumber bunyi di balik sofa itu yang ternyata adalah..


" Apa itu??" Tanya Qilin bingung.


Justin terkekeh sendiri, rupanya itu adalah robot vacum yang memang Justin nyalakan untuk menghisap debu dan kotoran.


" Justin, apa itu? Kemana hantunya pergi?" Tanya Qilin.


" Tidak ada hantu, sayang.. ini hanya vacum penyedot debu." Ujar Justin.


Qilin langsung menghela nafas lega dan mengusap usap dadanya.

__ADS_1


" Membuatku takut saja." Gumam Qilin dan Justin terkekeh.


Jadi, di rumah Justin tidak ada pelayan wanita, hanya pria. Dan pelayan pelayan itu akan membersihkan rumah Justin saat Justin tidak berada di rumah.


Sama seperti Arthur saat muda dulu, Justin juga tidak suka banyak orang di rumahnya, oleh karenanya rumah Justin di pasangi alat alat canggih seperti cctv, alarm keamanan, vacum lantai dan sistem otomatis dengan bantuan gadget pada titik titik tertentu rumahnya.


" Ayo, kamu mau makan siang apa?" Tanya Justin sambil menggendong Qilin dan membawanya ke sofa dimana ada tv besar di sana.


" Apa saja, aku tidak pemilih." Ujar Qilin, dan justin tersenyum.


" Katakan padaku, makanan apa yang sangat ingin kamu makan saat ini." Ujar Justin dengan lembut.


Qilin pun terdiam, sebenarnya Qilin sudah lama merindukan makanan kesukaan nya yang dulu ayah angkatnya sering belikan untuknya.


" Mm.. bolehkan aku minta Sushi?" Tanya Qilin.


" Ada lagi?" Tanya Justin, dan Qilin menggeleng.


" Baik.." Lalu Justin menekan sebuah Walkie talkie.


" Buatkan Sushi spesial untuk makan siang." Ujar Justin, dan Qilin hanya melongo di buatnya.


" Kamu meminta pada siapa? '' Tanya Qilin.


'' Chef..'' Ujar Justin.


Qilin pun menyengir, bahkan makanan Justin di masakkan oleh seorang Chef, tapi saat Justin hidup dengan nya dia memberi makan Justin dengan makanan pinggir jalan.


'' Justin, apakah kesehatanmu baik baik saja? Saat kamu hidup denganku aku selalu memberimu makan dengan makanan pinggir jalan.'' Ujar Qilin.


'' Aku baik baik saja, sayang.'' Ujar Justin.


'' Justru aku sangat bersukur dan berterimakasih kepadamu, karena kamu menjagaku dengan sangat baik. Banyak hal indah yang tidak pernah aku rasakan dalam hidupku dan aku merasakannya bersamamu. '' Ujar Justin sembari mengusap pipi Qilin.


'' Aku sangat beruntung karena di pertemukan denganmu, gadis yang bisa membuatku jatuh cinta, yang mau merawatku dengan sepenuh hati meski saat itu aku sangat menjengkelkan.'' Ujar Justin.


'' Mana ada kamu menjengkelkan, kamu tidak menjengkelkan sama sekali. Justu kamu adalah orang pertama yang mau dekat denganku, karena semua orang menganggapku aneh karena rambutku berwarna perak.'' Ujar Qilin.


'' Aku sedih saat kamu di bawa pergi orang tuamu, karena aku tidak lagi memiliki alasan untuk pulang begitu cepat ke rumah.'' Ujar Qilin menyendu.


'' Maafkan aku..'' Ujar Justin dan memeluk Qilin.


'' Aku pikir aku tidak bisa lagi bertemu denganmu, atau jika bertemu pun belum tentu kamu mengingatku. Memikirkannya membuat dadaku sesak.'' Ujar Qilin lalu meneteskan air matanya ketika mengingat hari hari beratnya setelah kehilangan Justin.


'' Aku janji tidak akan lagi meninggalkan kamu lagi.'' Ujar Justin, dan Qilin mengangguk.


Tapi tiba tiba Qilin teringat dengan kedua orang tua Justin, Qilin takut kedua orang tua Justin tidak akan merestui hubungan mereka, bagaimanapun Qilin bukan siapa siapa.


' Tapi bagaimana jika kedua orang tua Justin tidak suka denganku?' Batin Qilin tiba tiba.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2