Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 147. Istri Dustin.


__ADS_3

Dustin sudah sadar.. Dan saat ini dia sedang duduk di brankar rumah sakit sendirian. Justin belum tahu bahwa Dustin sudah sadar, sementara Cio juga sedang mengurus urusannya.


'Bagaimana jika Clins memberi tahu perasaanku kepada kakak, kakak pasti sangat membenciku.' Batin Dustin.


Bahkan saat kondisinya sendiri seperti itu, dia masih memikirkan hal itu. Dustin tidak mau hubunganya dengan Justin pecah karena perasaan konyolnya pada Qilin.


'Aku harus bilang apa padanya.. apakah aku harus mengatakannya kepada kakak tentang perasaanku ini. Kakak akan lebih marah jika dia mengetahui kebenaran dari orang lain.' Batin Dustin lagi.


Dustin sampai tidak sadar saat pintu terbuka, seorang gadis mengernyit melihat Dustin yang katanya sedang sekarat tapi saat ini malah sedang duduk melamun dengan wajah bodohnya. Adalah J, tim Cio.


Masih ingat dengan gadis imut berwajah cerah seperti matahari namun mematikan itu? Dia akhirnya mau kembali bergabung dengan Cio setelah susah payah Cio membujuknya.


"Apa aku salah masuk kamar?" Gumam J, lalu menatap kesana kemari dan suaranya itu membuyarkan lamunan Dustin.


"Siapa kau?" Tanya Dustin heran


"Apakah anda Dustin Edward?" Tanya gadis itu, justru balik bertanya.


Tiba - tiba pintu kembali terbuka dan masuklah Cio. Cio terkejut melihat Dustin yang sudah duduk di brankarnya seperti tidak terjadi apa - apa.


"Kak, kau sudah sadar?" Tanya Cio, dan perhatiannya teralihkan pada J yang saat ini juga menatapnya.


"Kau cepat sekali sampai kemari, aku pikir kau akan tersesat." Ujar Cio pada J.


"Otakku terlalu cerdas untuk sekedar tersesat." Sahut J dengan malas.


"Kalian saling kenal?" Tanya Dustin, dan Cio mengangguk.


"Dia J, temanku. Dia, Niklaus dan aku dulunya satu tim." Ujar Cio menjelaskan.


J berjalan menghampiri Dustin, lalu menyentuh kening Dustin. Dustin sampai terkejut dan langsung menepis tangan J begitu saja.


"Beraninya kau menyentuhku." Ujar Dustin dengan wajah tak ramah.


"Memang sakit." Gumam J, Dustin sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang di lakukan oleh J saat ini.


"Kak, bekerjasamalah dengan kami, demi masa depan kita semua agar selalu damai." Ujar Cio, tiba - tiba.


"Apa maksudmu?" Dustin mengernyit bingung.


"Ben, memberi tahuku.. semuanya, tentang perasaanmu pada kakakku, Qilin." Ujar Cio dan Dustin tertegun.


"Dia memang wanita yang luar biasa, siapapun yang mengenalnya akan jatuh hati kepadanya. Bahkan aku yang adalah adik kandungnya pun pernah memiliki pikiran gila padanya." Ujar Cio.


"Termasuk, Luca." Tambah J.


"Ya, termasuk dia." Timpal Cio.


"Tapi apapun itu, tidak akan ada yang terjadi diantara kami, karena kami adalah saudara kandung, meskipun kami beda ayah." Ucap Cio.

__ADS_1


"Kalian gila?" Ujar Dustin, dan Cio mengangguk sembari terkekeh.


"J aku panggil untuk datang kemari, untuk membantu kak Dustin menyembunyikan perasaan kakak terhadap kak Qilin. Bukannya aku tidak berperasaan, tapi aku juga tidak mau kakak dan kak Justin pecah belah." Ujar Cio.


"Terlebih kak Qilin sedang hamil, aku tidak mau dia menjadi kepikiran juga." Tambah Cio.


Dustin juga berpikir demikian, tapi apa harus menggunakan perempuan lain? Sedangkan dia tidak suka di sentuh oleh wanita, sama seperti Justin dan Arthur.


"Aku akan mengurusmu, dan di saat di perlukan, aku akan berpura - pura menjadi kekasihmu." Ujar J.


"Apa - apaan ini, kalian mengaturku??" Ujar Dustin tidak suka.


"Kak, tolonglah.. bekerja samalah dengan kami." Mohon Cio.


"Clins sudah tahu semuanya, cepat lambat juga kakakku akan tahu dari dia." Ujar Dustin.


"Dan kakak mau itu terjadi?? Hubungan kalian hancur, kak Qilin juga kena imbasnya." Ujar Cio.


Dustin berpikir, tapi tiba - tiba Justin masuk. Semua orang menjadi tegang melihat Justin yang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Oh, ramai sekali." Ujar Justin, ketika melihat ada banyak orang.


"Kau sudah sadar? Kenapa tidak mengabariku?" Ujar Justin pada Dustin.


"Aku belum lama sadar, kak." Ujar Dustin.


"Kenapa kau memanggilku kakak? siapa kau?" Tanya Justin.


"J, Kekasih Dustin." Ujar J dengan berani, Dustin sampai terkejut sendiri, begitu juga dengan Cio.


"Ohh... I see.. Kau tidak memberi tahuku bahwa sudah sadar karena ada kekasihmu, bisa di mengerti." Ledek Justin.


"Kak, buk.. hmpp.." Dustin hendak bicara tapi J langsung membekap mulut Dustin dengan tiga buah anggur sekaligus.


Mulut Dustin penuh, jadi tidak bisa bicara. "Hapa hang khangu hakukan?" Ucap Dustin dengan tidak jelas, hingga J terkekeh.


"Baiklah, baik - baiklah kau disini dengan kekasihmu, kakak pergi dulu. Cio, ayo ikut aku, jangan ganggu mereka." Ujar Justin pada Cio, dan Cio pun mengangguk.


"Kau pikir siapa dirimu, huh!?" Ujar Dustin pada J, ketika Justin dan Cio sudah keluar.


"Bekerjasamalah dengan baik, tuan Dustin." Ujar J, lalu memakan anggur yang sama yang dia jejalkan pada Dustin sebelumnya.


J lalu duduk dan mengeluarkan isi dari koper kecil yang dia bawa, ia mengunci pintu kamar Dustin lalu langsung mengotak atik sebuah alat yang Dustin tidak tahu.


Tiba - tiba J memberikan kamera pada Dustin dan menyuruh Dustin memotretnya. "Fotokan aku, tolong." Ujar J.


Tapi Dustin hanya diam saja dan membuang muka dari J, dia kesal.


"Tuan Dustin." Panggil J, tapi J sama sekali masa bodo. Hingga tiba - tiba J meninju bahu Dustin yang tertembak hingga Dustin meringis kesakitan.

__ADS_1


"Kau Gila!!?" Bentak Dustin.


"Aku sudah bilang tolong fotokan aku, apa telingamu tuli?" Ujar J.


"Kau yang tuli, atas dasar apa aku harus memotretmu." Ujar Dustin semakin kesal.


"Fotokan aku, atau aku yang akan memberitahukan pada kakakmu perihal hati kecilmu itu." Ujar J mengancam, Dustin menatap tajam J lalu akhirnya mengambil kamera yang J pegang dengan kasar.


"Jangan kasar - kasar, itu mahal." Ujar J dan Dustin hanya mendengus kesal.


Dustin memotret J dengan asal, tapi meski asal, hasilnya memuaskan. J lalu memotret Dustin tanpa sepengetahuan Dustin dan kembali duduk di sofa, lalu sibuk dengan laptopnya.


'Gadis dari mana dia ini, bar - bar sekali.' Batin Dustin menatap J dengan sinis.


'Cio sialan, dia asal membawa gadis tarzan untuk bekerja sama denganku. Ben juga sialan, dia harus aku hukum nanti.' Batin Dustin terus menggerutu.


Tiba - tiba J kembali bangun dan menghampiri Dustin, Dustin sudah was - was jika J akan melakukan hal aneh lagi padanya.


"Apa??" Tanya Dustin, dan J tersenyum mendengarnya.


"Kau takut padaku??" Tanya J spontan.


"Mana ada aku takut, aku sama sekali tidak takut apapun." Ujar Dustin. Tapi ketika J mengangkat tangan, Dustin langsung menghindar seakan takut di pukul.


"Berikan tanganmu." Ujar J pada Dustin, tapi Dustin diam saja.


"Siapa kau menga.."


"Berisik!" Potong J, memotong ucapan Dustin dan langsung menyematkan sebuah cincin di jari manis Dustin. J juga memasang cincin di jari manisnya sendiri.


"Status kita sudah menikah." Ujar J, dan Dustin terkejut mendengarnya.


"Apa - apaan kau!!?" Ujar Dustin marah.


"Sepertinya buku nikah kita juga sudah jadi." Ujar J, lalu pergi menuju ke kopernya, dan benar.. sudah tercetak dua buku nikah.


Dustin meranga melihat bagaimana canggihnya mesin yang J bawa itu, dia lebih tidak bisa berkata apa - apa lagi karena sekarang statusnya menjadi suami dari gadis bar - bar yang baru dia kenal.


"Hei! Dengar ya! Aku tidak setuju dengan ini semua." Ujar Dustin.


"Dua bulan, setelah dua bulan.. kita akan berpisah. Aku hanya menjalankan apa yang di tugaskan kepadaku, dan aku juga sangat menyukai kak Qilin, aku tidak mau dia menjadi sedih." Ujar J menjadi begitu serius.


"Bijaklah, tuan Dustin. Apa yang kau rasakan pada kakak iparmu itu salah." Ujar J, lalu memberikan buku nikah pada Dustin.


Dustin tertegun, memang benar apa yang dia rasakan pada Qilin salah, tapi dia juga sudah mencoba melupakan Qilin. Dustin melamun sampai tidak menyadari J sudah keluar dari ruangannya.


"Aku tahu, tapi aku.. mana orangnya??" Gumam Dustin ketika tidak melihat J di ruangannya.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2