Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 118. Cerita Sierra.


__ADS_3

Qilin dan Justin kembali masuk ke dalam mobil setelah membeli jajanan malam.


" Justin, kenapa kamu bilang pada bibi itu bahwa aku sedang hamil?" Tanya Qilin.


" Tidak apa apa, sayang. Orang bilang kata kata adalah doa, jadi aku mengatakannya." ujar Justin.


" Tapi aku sedang tidak hamil." Ujar Qilin.


" Siapa tahu setelah ini kamu akan hamil." Ujar Justin.


" Apakah kamu sudah siap menjadi seorang ayah?" Tanya Qilin.


" Aku menikahimu, itu berarti aku siap dengan semuanya, termasuk anak. Aku justru tidak sabar ingin melihat versi kecil dirimu nanti." Ujar Justin, dan Qilin terkekeh.


" Dan aku tidak sabar melihat versi kecil dirimu." Ujar Qilin.


" Semoga Tuhan segera menghadirkan makhluk kecil di perutmu, sayang." Ujar Justin sembari mengusap perut Qilin.


"Amin.." Sahut Qilin.


Mereka pun pulang sembari memakan makanan bakaran yang mereka beli.


Keesokan harinya..


Qilin bangun dan ternyata Justin sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Hmmm.. kamu kenapa melihatku begitu?" Ujar Qilin sembari menutup kepalanya dengan selimut. Justin terkekeh melihat Qilin yang masuk kedalam selimut.


"Kenapa sembunyi, sayang.." Ujar Justin.


"Kamu nakal." Ujar Qilin.


Justin pun memeluk Qilinnya itu, dengan gemas.


"Mau mengetek berapa lama??" Tanya Justin sambil terkekeh.


Di dalam selimut, Qilin baru sadar bahwa Justin tidak menggunakan kaos, dan saat ini memang dia berada di ketek Justin. Tiba tiba ide gila Qilin muncul, dia sengaja menggelitiki Justin, tapi dia lupa.. duaminya itu batu.


"Kamu sedang apa, hum?" Tanya Justin membuka Selimut.


"Menggelitikimu, tapi kenapa kamu tidak bereaksi?" Ujar Qilin heran.


"Aku tidak mempan di gelitiki, sayang. Kamu justru membangunkan sesuatu yang lain." Ujar Justin.


"Sesuatu lain, apa?" Tanya Qilin dengan wajah polos.


"Di bawah sana." Ujar Justin menunjuk dengan matanya. Qilin mengikuti arah pandang Justin dan seketika langsung merona.


"Justin." Ujar Qilin, dan Justin terkekeh.


"Kamu harus bertanggung jawab karena telah membangunkannya." Ujar Justin.


"Bukankah kamu harus ke kantor?" Ujar Qilin mencari alasan.


"Ini masih terlalu pagi, aku bisa datang agak siang nanti." Ujar Justin dan mulai menggumul Qilin.

__ADS_1


" Kya! Justin, hahahahaha.." Tawa Qilin terdengar sangat renyah.


" Bolehkah?" Tanya Justin.


" Hmm.." Sahut Qilin mengangguk.


Justin langsung memulai aksinya di pagi hari, pagi yang seharusnya masih terasa dingin, tidak berlaku bagi mereka. Karena yang mereka rasakan adalah panas saat ini.


" Justin, pelan pelan.." Gumam Qilin di tengah tengah aktivitasnya.


Dan setelah beberapa jam berlalu, Justin keluar dari kamar mandi dengan rambut dan tubuh yang setengah basah. Dia kemudian tersenyum melihat punggung polos Qilin yang masih tertidur.


Justin tidak mau mengganggu tidur Qilin, dia langsung bersiap dan kemudian mengecup kepala Qilin sebelum pergi.


" Katakan pada nyonya, saya akan pulang untuk makan siang. Dan jangan mengetuk pintu kamar sebelum nyonya yang keluar, dia masih beristirahat." Ujar Justin pada pelayan.


" Baik, tuan." Ujar kepala pelayan. Justin pun pergi bersama Ian.


" Ring! Ring! Ring! " Ponsel Justin berdering.


" Halo mom.." Ucap Justin, yang menghubunginya adalah Sierra.


"Anak ini, sudah menikah juga tidak pernah mengunjungi mommy nya. Dimana Qilin, mommy merindukan dia, kalian tidak pernah datang kemari." Ujar Sierra.


" Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor, Qilin masih tidur di rumah." Ujar Justin.


"Mommy mau kerumahmu kalau begitu." Ujar Sierra.


"Mommy mau datang? Tapi jangan sekarang, dia masih tidur." Ujar Justin.


" Iya, mommy tahu." Ujar Sierra. Tentu dia tahu, dirinya juga pernah muda, dan dia tahu kira kira penyebab Qilin masih tidur saat ini.


"Ya, nak." Ujar Sierra.


Sierra saat ini di rumah sendirian, Arthur sedang ke perusahaan jadi dia kesepian.


" Kapan aku punya cucu.." Gumam Sierra.


" Astaga.. Waktu cepat sekali berlalu." Gumam Sierra sembari menerawang jauh.


 


Qilin bangun dari tidurnya dan tidak mendapati Justin di sisinya. Dia menutup tubuhnya lalu duduk sembari mengumpulkan nyawa.


"Justin.." Panggil Qilin. Tapi tidak ada siapapun yang menyahut. Ketika Qilin melihat jam, dia terkejut karena itu sudah pukul sepuluh pagi.


" Astaga, aku kesiangan." Ujar Qilin.


Qilin pun akhirnya berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah dia sudah segar, dia pun turun dari kamarnya.


Qilin mendengar suara Sierra dari arah meja makan, dia pun langsung menghampiri kesana dan ternyata benar, Sierra sedang memakan asinan yang chef buatkannuntuk Qilin.


" Mommy?" Ujar Qilin tersenyum senang.


" Sayang.. kemari, mommy sedang makan makananmu." Ujar Sierra.

__ADS_1


" Makananku?" Tanya Qilin bingung.


" Selamat siang, nyonya.. Nyonya besar makan manisan bogor yang kemarin nyonya pesan untuk di buatkan." Ujar kepala pelayan.


Qilin berjalan dan menghampiri meja makan untuk melihat apa yang di maksud oleh kepala pelayan, " Oh, asinan.." Ujar Qilin, mengerti.


" Ah, iya nyonya, asinan." Ujar kepala pelayan.


" Mommy suka juga?" Tanya Qilin terkekeh.


" Mommy tidak tahu ada makanan seperti ini, dulu mommy makan segala hal, tapi setelah menikah dengan daddy, mommy jadi makan makanan sehat terus." Ujar Sierra bercerita.


" Sama, Qilin juga begitu." Ujar Qilin dan terkekeh bersama.


" Kepala pelayan, tolong ambilkan satu piring untuk Qilin." Ujar Sierra.


" Baik, nyonya." Ujar kepala pelayan. Seorang pelayan pun datang membawakan piring baru untuk Qilin.


" Silahkan, nyonya." Ujar pelayan, sembari memberikan piring kepada Qilin.


" Terimakasih." Ujar Qilin, dan pelayan itu mengangguk lalu kemudian berdiri di belakang Qilin duduk.


Akhirnya dua perempuan itu makan asinan yang chef buatkan, aneka buah di campur dengan kuah pedas manis yang menyegarkan, benar benar enak di santap.


" Sayang, kamu mau liburan kemana lagi?" Tanya Sierra sembari mengunyah.


Qilin tampak berpikir, tapi kemudian dia menggeleng. " Mm.. Aku tidak tahu mom, ikut Justin saja." Ujar Qilin.


"Hm, bagaimana jika kita liburan saja berdua. Mereka para laki - laki selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, mommy kesepian." Ujar Sierra, dan Qilin terkekeh.


" Kalau begitu aku tanya Justin dulu, ya mom." Ujar Qilin.


" Kamu suka dengan iklim apa? di negara barat sedang bersalju, sangat cocok merayakan Natal di sana." Ujar Sierra.


Qilin mengangguk - anggukan kepalanya. " Apakah kita akan pergi saat Natal akan tiba, mom?" Tanya Qilin.


Sierra meneguk segelas air, baru kemudian menjawab pertanyaan Qilin.


" Kalau kesana kita harus bawa Justin dan daddy, kamu tahu sendiri keluarga kita ini bukan keluarga yang mudah." Ujar Sierra, dan Qilin mengangguk.


Benar, mereka keluarga Mafia yang sudah pasti memeiliki banyak musuh, mereka tidak bisa sembarangan pergi tanpa pengawalan, apalagi jika itu ke luar negeri.


" Daddymu sangat trauma meninggalkan mommy sendirian, karena mommy pernah hampir kehilangan nyawa saat Justin dan Dustin masih berada di dalam perut mommy." Ujar Sierra bercerita.


Qilin sedikit terkejut mendengarnya, " Kenapa mom?? " Tanya Qilin.


Sierra mengelap mulutnya, lalu mulai bercerita." Dulu daddy memiliki musuh, dan musuhmya datang saat daddy pergi dinas ke luar negeri. Mommy sembunyi sebenarnya, tapi ruangan itu tidak bisa di buka dari luar, dan mommy sangat lemas hingga hampir kehilangan nyawa."


( Jeda )


"Beruntungnya daddymu datang tepat waktu, dan menyelamatkan kami. Sejak saat itu, daddymu menjadi sangat overprotektif dengan kami." Ujar Sierra.


Qilin ikut tegang mendengarnya, jika hal itu bisa terjadi pada Sierra, maka besar kemungkinan juga bisa terjadi kepadanya suatu hari nanti.


" Jangan takut, sayang. Mommy yakin kita semua akan baik - baik saja." Ujar Sierra.

__ADS_1


Qilin mengangguk, " Iya mom." Ucapnya, walau sebenarnya hatinya menjadi tidak tenang.


TO BE CONTINUED.


__ADS_2