Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 68. Lima Tikus.


__ADS_3

Justin, Dustin, dan semua anak buah mereka sudah kembali ke tempat persembunyian mereka. Justin membeli sebuah rumah yang dia jadikan markas selama dia ada di sana bersama para anak buahnya.


Dewi di tuntun anak buah Justin turun dari mobil, dan Dewi langsung berlari menghampiri Justin yang baru saja melepas helmnya.


" Nak, apakah kamu menemukan Qilin?" Tanya Dewi, dan Justin menggeleng.


" Belum, anak buahku tidak menemukan Qilin di kediaman itu, bukankah mama juga mengatakan kepada anak buahku bahwa Qilin tidak di sana?" Ujar Justin.


" Ya.. Qilin tidak di sana. Qilin di sekap di tempat lain, tapi mama tidak tahu dimana." Ujar Dewi dan berlinang air mata.


" Aku akan mencari Qilin, ma.. jangan khawatir." Ujar Justin mengusap tangan Dewi, untuk menenangkan Dewi.


Tapi Dewi justru kian panik, Dewi memikirkan bagaimana jika Agra masih hidup dan menyiksa Qilin, bagaimanapun hanya Agra yang tahu dimana Qilin.


" Apakah Agra masih hidup?" Tanya Dewi pada Justin.


" Entah, dia hilang saat setelah dia terkapar. Dengan luka di tubuhnya dan bom yang meruntuhkan rumah itu, mustahil dia bisa selamat." Ujar Justin.


" Qilin hidup tergantung dengan apa yang mama lakukan, nak." Ujar Dewi akhirnya bicara.


" Maksudnya?" Tanya Justin


" Agra menjadikan Qilin sebagai alat untuk mengancam mama, nak. Jika mama sedih, melawan dan bersikap tidak baik, maka Qilin yang akan di hukum." Ujar Dewi dan kembali berlinang air mata.


" Mama sudah beberapa hari ini tidak melihat helikopter yang biasa mengantarkan makanan untuk Qilin terbang, yang artinya mungkin Qilin...Qilin tidak di beri makan." Ujar Dewi tersedu sedu.


Justin menjadi emosi mendengarnya, Qilinnya tidak di beri makan dan di jadikan sandera oleh Agra.


" Tolong cari Qilin, nak.." Ujar Dewi lagi.


" Pasti.. mama tenang saja. Mama sudah aman, tidak perlu takut Agra akan datang." Ujar Justin.


Bukan hanya Justin yang marah ketika mendengar Qilin di jadikan ganti penerima hukuman atas apa yang Dewi lakukan, Dustin juga ikut mengepalkan tangannya mendengar itu.


' Aku berjanji.. akan menghabisi orang - orang yang menyakitinya. Mereka harusmati dengan pedih.' Batin Dustin.


Dustin masuk kedalam tanpa melepas penutup wajahnya dengan tatapan sangat tajam.


Di tempat lain..


Malam harinya, Qilin sedang merendam dirinya di dalam bath tub, setelah dia menyelesaikan latihannya hari itu. Qilin merendam dirinya dengan air dingin, untuk melatih dirinya.

__ADS_1


Terlihat air Bath tub yang begitu tenang, yang artinya sedari tadi Qilin tidak bergerak di dalam air, sedikitpun tidak ada gelombang yang terlihat.


Tiba tiba Qilin membuka matanya, lalu akhirnya dia bangun dan duduk menyender di bathtubnya.


Qilin menatap tangannya yang sudah bertambah kasar, sebelumnya tangannya kasar karena Qilin bekerja keras, dan kini semakin kasar karena Qilin melakukan latihan tembak dan pelatihan lainnya.


' Mama, tolong bertahan sedikit lagi, aku akan giat berlatih untuk bisa membawa mama pergi.' Batin Qilin.


Qilin pun akhirnya menyudahi pelatihannya dan keluar untuk berganti pakaian. Setelah Qilin sudah memakai pakaian yang baru, dia pun keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.


Tiba tiba Qilin merasa ada yang aneh dengan rumah itu, ia merasa sesuatu akan terjadi, entah itu instingnya atau hanya perasaan nya saja.


Qilin meneguk minumannya, namun tiba tiba dari belakang Qilin muncul seseorang yang melayangkan sebuah tongkat base boll ke arah Qilin. Anamun hebatnya Qilin langsung menghindar, dan bahkan menahan tongkat itu.


" Siapa kau!!" Ujar Qilin.


" Jangan banyak bicara kau! Hari ini kau harus mati." Ujar pria itu dan kembali menyerang Qilin.


Untungnya Qilin sudah menguasai bela diri meski belum sempurna, Qilin melawan pria itu dengan mudah dan pria itu tewas ketika Qilin mematahkan lehernya dengan tendangan kaki.


' Aku... aku membunuh orang.' Batin Qilin ketika melihat pria itu tidak bergerak lagi.


' Tidak apa apa, Qilin.. Yang kamu lakukan adalah melindungi dirimu dari orang jahat.' Batin Qilin lagi.


" PRANG! PRANG! PRANG!" Suara kaca di tiap sudut rumah itu pecah ketika beberapa pria berhasil masuk.


Salah satu dari pria itu menembak kearah Qilin, namun dengan sigap Qilin bersembunyi di balik dinding.


' Siapa mereka, apakah mereka utusan pria itu untuk menghabisiku.' Batin Qilin.


Qilin mengeluarkan senjata api dari balik bajunya, ya.. Qilin menyimpan senjata api di balik bajunya, itu atas perintah Cio, untuk berjaga jaga. Dan rupanya Qilin sungguh mengalami penyerangan.


Qilin berlari untuk mencari tempat yang pas, dan kini Qilin dan lima orang pria yang menyerang Qilin seperti kucing kucingan. Bagaimanapun Qilin tidak akan mampu jika dia harus menghadapi lima orang sekaligus, apalagi badan mereka semua tinggi dan besar.


" Kau kesana! Aku kesini! Dia hanya gadis biasa yang tidak pandai apa apa." Ujar salah satu pria.


" Tapi satu rekan kita mati." Ujar yang lainnya.


" Dia hanya beruntung, saat aku membawanya kemari pun dia hanya bisa menangis dan menangis ketakutan, berpencar!" ujar pria itu dan yang lainnya menganggukan kepala.


Semua pria berpencar, sementara Qilin mempersiapkan dirinya dengan senjata apinya dan Qilin pun mulai memburu satu persatu pria itu.

__ADS_1


Terlihat seorang dari para pria yang menyerang Qilin tampak berjalan mengendap endap dengan senapan di tangannya, dia berjalan menuju kearah Qilin.


' Satu tikus..' Batin Qilin.


Dan dengan gerakan gesitnya, Qilin menarik dan mematahkan leher pria itu. Tanpa sempat melawan, pria itu tewas di tangan Qilin.


Qilin menyeret tubuh pria itu dan memasukkannya kedalam sebuah ruangan, lalu dia mengambil senapan dan belati milik pria itu lalu membawanya pergi.


" Kemana dia? Apa dia keluar dari rumah ini?" Tanya seorang pria pada rekannya.


" Mustahil kalau dia lari tapi kita tidak dengar." Ujar rekannnya.


" Kau kesana, aku kesini." Ujar pria itu.


Qilin lari, dan seorang pria melihatnya lalu mengejar Qilin. Tapi rupanya Qilin justru sedang menunggu pria itu, dia memancing pria itu lalu dengan mudah, Qilin menghunusnya dengan belati dan mematahkan lehernya.


' Dua tikus..' Batin Qilin.


Dan berlanjut pada pria pria berikutnya, Qilin bagai hantu yang tidak bisa di ketahui keberadaan nya, padahal rumah itu tidak besar dan penuh dengan kaca.


Dan kini tersisa tingga satu pria yang mencari Qilin.


Pria itu merasa aneh karena tidak menemukan ke empat temannya, dan justru di merasa sedang di mata matai.


" Takut??" Ujar Qilin yang tiba tiba muncul dari belakang pria itu.


Pria itu langsung menodongkan senjatanya kearah Qilin dengan wajah terkejut sekaligus takut. Tapi Qilin juga menodongkan senapan milik salah satu pria yang dia bunuh kearah pria di hadapannya.


" Teman temanmu sudah menjadi mayat, kini kau hanya sendirian." Ujar Qilin.


" Aku terkecoh, rupanya kau seorang yang pandai melindungi dirimu. Tapi kau tidak aka.."


" DOR!" Qilin langsung menembak tepat di dahi pria itu dan pria itu tewas tanpa sempat menyelesaikan ucapannya.


" Lima tikus.." Gumam Qilin dan menurunkan senapannya.


Qilin luruh kelantai dan menangis dengan posisi menunduk, namun tidak terisak. Dia sudah benar benar berubah menjadi pembunuh sekarang.


' Aku seorang pembunuh..' Batin Qilin.


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2