Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 104. Malam terakhir.


__ADS_3

Dan hari - hari pun berlalu..


Hari ini adalah hari terakhir sebelum akhirnya besok hari pernikahan Justin dan Qilin akan di gelar. Keamanan di sana juga kian di perketat oleh anak buah Justin dan Arthur.


Bagaimanapun itu adalah pernikahan antara dua keluarga besar yang terkenal, jadi sudah pasti keamanan di lakukan dengan sangat ketat.


" Mom, boleh aku menemui Qilin sebentar?" bisik Justin pada Sierra, dan Sierra terkekeh.


" Besok kalian akan bertemu, nak." Ujar Sierra. Dan Justin hanya bisa menghela nafasnya.


Dia sudah benar benar merindukan Qilinnya, sudah beberapa hari tidak bertemu, itu sudah membuat kadar oksigen di tubuhnya semakin menipis.


" Kenapa dia, sayang?" Tanya Arthur.


" Biasa lah.. Qilin." Ujar Sierra sembari terkekeh.


" Besok kamu akan bertemu dengannya, jadi kamu bisa melepaskan sepuasnya dengannya nanti." Ujar Arthur sambil terkekeh.


" Kalian semua senang membuliku." Ujar Justin dan berjalan pergi.


" Bagaimana persiapan, dad?" Tanya Sierra.


" Aman.. dan nanti malam kita harus ke hotel itu, agar tidak banyak membuang waktu." Ujar Arthur.


" Hotel?? Apa Qilin tinggal di hotel?" Tanya Justin yang balik lagi.


" Hei, kamu menguping." Ujar Sierra.


" Daddy bilang Qilin ada di Vila, kenapa jadi di hotel?" Tanya Justin.


" Apa ada masalah?" Tanya Arthur.


Tapi yang di tanya hanya diam dan di kepalanya saat ini berpitar bayangan Qilin yang sedang berkeliling hotel dengan bik*ni.


" Aargh!! " Ujar Justin dan mengacak rambutnya sendiri.


Arthur yang melihat itu hanya bisa diam ter bengong sembil menatap Justin, sementara Sierra terkekeh geli sendiri. Justin benar benar menjadi sangat kekanak kanakan sekali saat ini.


Sementara itu, di hotel..


Qilin dan Rena sedang duduk di kamar Qilin dan melihat banyak nya barang barang yang berdatangan untuk acara pernikahan Qilin besok.


'' Kak.'' Panggil Luca yang muncul di kamar Qilin.


'' Ada apa?'' Tanya Qilin.


'' Ini hadiah dariku, tapi akak hanya boleh membuka nya ketika kakak sudah resmi menikah.'' Ujar Luca.


'' Kenapa aku mencium hal negatif..'' Ujar Qilin.


'' Astaga, kak.. aku tidak sekonyol itu memberi hadiah yang akan membuat jumpscare.'' Ujar Luca sambil terkekeh.

__ADS_1


'' Oooke.. kakak terima hadiah nya.'' Ujar Qilin dan Luca tersenyum.


'' Oh, dan satu lagi. Aku akan memberi kakak sebuah bocoran, Justin sksn datang kemari malam ini, apa kakak mau menemuinya?'' Ujar Luca dan Qilin jadi diam diam berpikir.


'' Qilin.. jangan nakal, apa gunanya kalian di pingit jika kalian akan bertemu malam ini, toh kamu akan bertemu dengannya besok.'' Ujar Rena.


'' Ekhem! Rena benar, besok aku akan bertemu dengan nya, jadi aku akan menahan sampai besok saja.''  Ujar Qilin.


'' Yakin...'' Ujar Luca memancing.


'' Tuan Luca, anda jangan meracuni Qilin.'' Ujar Rena dan Luca terbahak.


'' Baiklah.. jangan jadi gadis nakal, oke.. kalian akan bertemu besok. Tapi jika tidak kuat menahan rindu.. kakak bisa mencariku.'' Ujar Luca dan Rena melotot tidak percaya.


'' Luca..'' Teriak Qilin dan Rena bersamaan, Luca pun berlari keluar dengan puas.


'' Nona, semua barang untuk persiapan besok ada di sana.'' Ujar orang - orang yang membawakan barang Qilin, dna menunjuk ke sudut kamar Qilin.


'' Baik, terimakasih banyak.. maaf merepotkan kalian.'' Ujar Qilin dengan sangat ramah.


'' Ya, nona.. mari.'' Ujar orang itu senang dan Qilin pun mengangguk.


Hingga akhirnya malam hari pun tiba, Qilin diam diam berdiri di kolam renang dan berharap dia bisa melihat Justin dari sana ketika Justin tiba nanti.


'' Yah.. jauh, aku tidak bisa melihat pintu utama dari sini.'' Gumam Qilin kecewa.


" Lihat apa, kak?" Sebuah suara mengejutkan Qilin sampai Qilin hampir jatuh terduduk.


" Cio.. kamu mengejutkan kakak." Ujar Qilin sembari mengusap dadanya.


" Ma- mana ada.." Ujar Qilin mengelak.


" Iya, mana ada orang mengintip mengaku." Ujar Cio, sembari terkekeh.


" Ish, ada apa?" Ujar Qilin.


" Tidak ada apa - apa, mama hanya memintaku untuk mengecek keadaan kakak." Ujar Cio.


" Aku tidak apa apa." Ujar Qilin.


" Bagus kalau begitu.." Ujar Cio, tapi kemudian dia duduk di tepi kolam dan mencelupkan kakinya.


Qilin jadi bingung melihnya, dia pikir Cio akan pergi setelah dia mengatakan dirinya baik baik saja, tapi Cio malah duduk di kolam.


" Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan kakak sebelum kakak menikah, apakah boleh?" Tanya Cio tiba tiba.


Qilin pun akhirnya ikut duduk di tepian kolam dan mencelupkan kakinya ke air. Dia duduk dengan jarak selebar rentangan tangan.


" Sesingkat itu pertemuan kita, dan setelah kita jadi keluarga yang utuh.. kakak akan menikah." Ujar Cio.


" Tapi kakak tidak akan pernah lupa dengan kesadisanmu mengajari kakak bela diri, jika kakak tidak memiliki hati, sudah pasti kakak membunuh semua orang." ujar Qilin, dan Cio terkekeh.

__ADS_1


" Tapi nyatanya kakak memang membunuh banyak orang." Ujar Cio.


" Jika tidak?? Kakak yang di bunuh, dan mungkin keluarga kita juga justru menjadi lebih berantakan." Ujar Qilin.


" Tapi kakak sangat berterimakasih padamu, kamu adalah orang baik pertama yang menyambut kakak, walau caramu sedikit berbeda dari yang lain. Terimakasih Cio.." Ujar Qilin dengan tatapan tulus.


" Hahh... Kakak membuat mata ini berair." Ujar Cio menengadah ke atas, dan Qilin terkekeh.


" Jadi.. apakah papa akhirnya akan merelakan begitu saja kelompoknya bubar?" Tanya Qilin.


" Mustahil jika papa melakukan hal demikian. Papa pasti akan membangun ulang, karena sejauh ini.. keluarga kita hidup dengan hal itu." Ujar Cio.


" Tapi mungkin akan ada revisi, karena papa menunjuk aku sebagai pemimpin yang baru." Ujar Cio.


" Kamu?? Kenapa tidak Luca?" Tanya Qilin.


" Kakak hanya perlu mengurus perusahaan dan yang lainnya, karena dia sudah terkenal dimanapun. Beda dengan aku, aku selalu misterius sejak dulu, tidak banyak yang tahu diriku." Ujar Cio, dan Qilin mengangguk.


" Kak, sering - seringlah datang ke sana ( Swiss ). Karena setelah ini, kita semua akan sibuk dengan urusan kita masing masing. Dan aku.. sudah pasti akan semakin jarang muncul di muka publik." Ujar Cio.


" Kenapa tidak kamu saja yang datang kemari." Ujar Qilin memicingkan matanya, dan Cio terkekeh.


" Baiklah.. baiklah.. aku kalah." Ujar Cio dan Qilin terkekeh.


" Sudah malam, sebaiknya kakak beristirahat, karena besok kakak akan menjadi pusat perhatian." Ujar Cio.


" Hm.. " Ujar Qilin.


" Bolehkah aku minta peluk, kak.. " Ujar Cio, dan Qilin mengangguk.


Keduanya bangun dari posisi duduknya dan akhirnya mereka berpelukan, pelukan dua saudara yang terpisah dan akhirnya bersatu menjadi keluarga.


" Berbahagialah kak, kakak pantas mendapatkan seluruh kebahagiaan di muka bumi ini. Maafkah aku, papa dan kak Luca." Ujar Cio dari hati terdalamnya.


Mendengar itu, Qilin justru menjadi berkaca - kaca. Cio mengatakannya dengan suara yang sangat dalam.


" Siapapun yang mempersulit kakak, aku akan menyingkirkannya." Ujar Cio lagi.


" Terimakasih Cio.." Ujar Qilin, dan akhirnya pelukan itu terlepas.


" Aku pergi, beristirahatlah." Ujar Cio dan Qilin mengangguk.


Cio pun pergi dari kamar itu setelah mendapatkan palukan yang dia tunggu sejak lama, pelulan dari kakak perempuannya.


Qilin pun masuk ke dalam kamar dan menutup jendela kamar hotelnya lalu dia merebahkan dirinya di ranjang.


" Hidup barumu akan di mulai besok, Qilin. " Gumam Qilin.


' Aku sangat berterimakasih kepadamu, Tuhan. Engkau tidak pernah terlambat memberiku pertolongan, melindungiku dan membuat semua ini terjadi padaku.' Batin Qilin sembari menatap langit langit kamar hotel itu.


' Kau membolak balikan hidupku sampai aku merasa ini adalah mimpi. Tapi dari semua yang terjadi padaku, aku benar benar merasa berterimakasih, karena akhirnya aku bertemu dengan orang orang baik.' Batin Qilin.

__ADS_1


' Selelu berkati kami semua, Tuhan.' Batin Qilin lalu memejamkan matanya.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2