Pacar Idiotku Seorang MAFIA

Pacar Idiotku Seorang MAFIA
EPS. 21. Justin pergi, Qilin sakit.


__ADS_3

Fendy membawa Qilin ke rumah sakit dengan mobilnya, dan saat ini Qilin langsung di tangani dokter.


" Kenapa dia menangis di jalanan?" Gumam Fendy masih bingung dengan yang terjadi dengan Qilin.


Qilin di pindahkan ke ruang rawat inap, terlihat Qilin di infus, dan masih tidak sadarkan diri.


" Kamu kenapa Qilin." Gumam Fendy.


Ponsel Fendy berdering, dan ia pun keluar daru ruangan Qilin untuk mengangkat panggilannya.


" Halo, ya.. dia bersamaku, tolong handle sebisanya saja dengan anak anak shift siang, nanti beri mereka bonus." Ujar Fendy dan mengakhiri panggilan itu.


Fendy kembali masuk kedalam ruangan Qilin, dan Qilin masih belum sadar. Fendy duduk di sisi brankar Qilin dan menggenggam tangan Qilin. Fendy terkejut merasakan telapak tangan Qilin yang begitu kasar seperti tangan kuli.


" Kenapa dia seorang gadis tapi tanganya begitu kasar." Gumam Fendy.


Sementara itu di kediaman Arthur, Justin sudah sampai di sana. Dustin yang melihat sang kakak telah kembali pun langsung memeluk Justin.


" Kakak, astaga." Ujar Dustin.


Justin yang tidak ingat Dustin pun hanya diam dan justru bingung saat Dustin tiba tiba memeluknya.


" Kamu siapa?" Tanya Justin.


" Eh??" Dustin terkejut, dan melerai pelukannya.


" Aku Dustin, adik kembarmu." Ujar Dustin.


" Kakakmu hilang ingatan, nak." Ujar Sierra.


" Justin punya kembaran, mommy?" Tanya Justin pada Sierra.


Dustin tentu makin terkejut mendengar tutur kata Justin yang seperti anak kecil.


" Iya, Justin punya adik, Dustin namanya." Ujar Sierra, dan Justin mengangguk angguk.


" Wah, iya.. wajah kita sama.. hanya saja Justin punya luka." Ujar Justin.


" Istirahatlah, nak.. " Ujar Arthur.


" Ayo, mommy antar ke kamarmu." Ujar Sierra, dan Justin mengangguk.


Dustin menatap aneh kakaknya itu, sambil menatap Arthur.


" Dad, kenapa kakak jadi begitu??" Tanya Dustin.


" Gadis yang menyelamatkan kakakmu mengatakan bahwa kakakmu mengalami hilang ingatan, dan otaknya bermasalah." Ujar Arthur.


" Astaga.." Gumam Dustin.


" Kita akan bawa kakakmu ke luar negeri, untuk berobat." Ujar Arthur.


Di kamar, Justin melihat kamarnya yang begitu besarnya itu. Beda dengan kamarnya di rumah Qilin, ada foto dirinya juga yang begitu besar terpasang di dinding. Wajahnya sangat tampan, tanpa luka sedikitpun.


" Itu Justin?" Tanya Justin.


" Iya, sayang.. itu kamu." Ujar Sierra.

__ADS_1


" Ranjang Justin besar sekali, di rumah Qilin tidak sebesar di sini. Mommy, boleh tidak jika Qilin tinggal di sini dengan kita?" Ujar Justin.


' Apakah gadis itu sungguh memperlakukan Justin dengan sangat baik? Justin sepertinya sangat menyayangi gadis bernama Qilin itu.' Batin Sierra.


" Apakah Qilin baik?" Tanya Sierra.


" Qilin sangat baik, mom.. dia bekerja dengan sangat keras agar bisa membeli makanan untuk Justin. Qilin mengobati luka luka Justin, dan mengajak Justin jalan jalan." Ujar Justin sambil tersenyum.


Sierra menjadi merasa bersalah pada Qilin, dia sudah mengira bahwa Qilin adalah gadis jahat yang memanfaatkan Justin.


" Nanti mommy akan temui Qilin, dan bertanya padanya." Ujar Sierra.


" Sekarang, pergilah mandi.. Mommy akan siapkan baju untukmu." Ujar Sierra, dan Justin mengangguk.


Sierra memberi tahu letak kamar mandi Justin yang berada di kamarnya juga walk in closetnya, lalu Justin pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Sierra menyiapkan pakaian tidur untuk Justin, dan tak lama Justin pun keluar dari kamar mandi. Justin berganti pakaian, lalu kembali duduk di ranjang bersama Sierra.


" Tidurlah, kamu pasti lelah." Ujar Sierra, dan Justin mengangguk.


Sierra mencium kepala Justin, lalu mengusap usap kepala Justin dengan sayang.


" Qilin juga selalu mengusap usap kepala Justin, Justin suka." Ujar Justin lalu terlelap.


Sierra menghapus air matanya yang tiba tiba mengalir tanpa permisi itu.


' Rupanya gadis itu sungguh baik.' Batin Sierra.


Sierra pun bangun ketika Justin sudah terlelap dalam tidurnya, dan menemui Arthur yang saat ini sedang duduk dengan Dustin.


" Dad, apa kita bawa Qilin datang kemari?" Ujar Sierra tiba tiba.


" Kita salah sangka pada Qilin, dia tidak jahat atau memanfaatkan Justin. Dia justru menjaga Justin dengan sangat baik." Ujar Sierra.


" Astaga mom, kakak itu anti perempuan, jika nanti kakak mendapatkan ingatannya kembali, lalu gadis itu mau di apakan??" Ujar Dustin.


Sierra pun berpikir kembali, memang benar, Justin anti perempuan seperti Arthur.


" Daddy mu dulu juga bertemu mommy tidak apa apa." Ujar Sierra.


" Astaga, mom.. itu Daddy melakukannya dengan sadar, saat ini kakak bahkan tidak ingat siapa dirinya." Ujar Dustin.


" Dustin benar, sayang. Kita tidak tahu Justin akan bereaksi seperti apa jika dia mendapatkan ingatannya kembali." Ujar Arthur.


" Tapi mommy harus minta maaf padanya, mommy sudah menamparnya." Ujar Sierra.


" Kita akan temui dia nanti, saat ini kita harus segera membawa Justin ke luar negeri untuk berobat, sebelum kondisinya makin parah." Ujar Arthur


_______________


Ke esokan harinya..


Qilin baru sadar setelah semalaman dia kehilangan kesadaran, ia membuka mata dan bingung dengan tempat yang terlihat asing baginya.


' Dimana aku..' Batin Qilin.


Qilin mencoba bangun, lalu melihat ke sekelilingnya, ia pun yahu bahwa dirinya di rumah sakit karena terdapat monitor di sesenya, juga selang infus yang menancap di tangan nya.

__ADS_1


' Siapa yang membawaku kemari?' Batin Qilin.


Tiba tiba pintu terbuka dari luar, dan terlihat Fendy yang datang membawa kantong di tangan nya.


'' Kak Fendy?'' Ujar Qilin.


'' Kamu sudah sadar? Bagaimana kondisimu, apakah ada yang sakit?'' Tanya Fendy.


'' Tidak ada, kak.. terimakasi sudah membawaku ke rumah sakit.'' Ujar Qilin.


Fendy tersenyum dan menaruh kantong yang ia bawa di meja, lalu mengeluarkan isinya. Rupanya itu adalah makanan, berupa bubur ayam.


'' Aku beli ini untukmu, sebenarnya rumah sakit selalu menyediakan makanan untuk pasien, tapi orang bilang rasa makanan rumah sakit tidak enak, jadi aku beli dari luar.'' Ujar Fendy dan Qilin tersenyum.


'' Terimakasih, kak. Maaf aku sudah merepotkan kak Fendy.'' Ujar Qilin.


'' Stop mengatakan terimakasih, oke.. ayo makan makananmu.'' Ujar Fendy lalu memasangkan meja lipat di hadapan Qilin.


Qilin tersenyum, lalu ia membuka kotak bubur yang Fendy bawa. Qilin teringat dengan Justin yang setiap pagi makan bubur ayam yang dia beli dari tukang bubur keliling, Qilin pun menjadi sendu.


'' Kamu tidak suka bubur?'' Tanya Fendy karena melihat wajah sendu Qilin.


'' Eh, suka, kak.. aku makan, ya?'' Ujar Qilin sambil tersenyum.


Meski wajah Qilin tersenyum, tapi Fendy tahu Qilin tidak sedang baik baik saja, buktinya Qilin menangis di tengah hujan semalam.


Qilin hanya memakan beberapa sendok saja, lalu ia menutup kembali kotak bubur itu. Fendy pun mengambil kotak bubur dari meja kecil itu dan menyingkirkannya.


" Kamu butuh sesuatu?" Tanya Fendy mencoba membuat Qilin bercerita.


" Aku ingin pulang, kak." Ujar Qilin.


" Tapi kamu masih sakit." Ujar Fendy.


" Aku baik baik saja, tapi mungkin aku akan minta izin pada boss untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari." Ujar Qilin.


" Jika dokter mengatakan kamu boleh pulang, maka aku antar kamu pulang." Ujar Fendy, dan Qilin mengangguk.


Fendy memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Qilin, tapi ternyata Qilin masih belum boleh pulang karena masih sangat lemah.


" Aku baik baik saja, dok." Ujar Qilin.


" Satu hari lagi, maka kamu boleh pulang." Ujar Dokter.


Qilin menjadi sedih, tapi akhirnya ia tetap mengangguk.


" Baiklah." Ujar Qilin.


" Kamu butuh sesuatu? Aku akan ke cafe, nanti aku bawakan untukmu." Unar Fendy.


" Tidak kak, terimakasih. Tolong katakan pada boss bahwa aku izin sakit." Ujar Qilin.


" Jangan khawatir.." Ujar Fendy lalu mengusap kepala Qilin.


Fendy pun pergi, dan Qilin sendirian. Sendirian membuat Qilin jadi teringat dengan Justin yang sudah pulang pada keluarganya, tanpa terasa air mata Qilin kembali mengalir.


" Justin.." Gumam Qilin.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2